Kamis, 21 Januari 2010

Jejak-jejak Keheningan

Ketika Darwin menyatakan kita keturunan binatang, kita marah. Kita marah bukan karena tuduhan itu, tapi karena kebinatangan kita dipersoalkan.

....

Bumi yang mengelilingi matahari ataukah matahari yang mengelilingi bumi? Manusia meributkannya meski mereka bukan pemiliknya. Tuhan hanya diam meski Dialah penciptanya.

....

Manusia menjadi sakit karena pikirannya sendiri. Ketika melihat gelas berisi setengah air, dia menyebutnya setengah kosong, dan bukan setengah penuh. Ketika bajunya terkena noda, dia meributkan noda yang kecil itu daripada bagian lainnya yang lebih besar, yang masih bersih. Ketika melihat cat rumah yang mengelupas, dia dipusingkan hal itu dan melupakan bagian dinding yang masih luas, yang catnya tetap sempurna. Ketika melihat sesuatu sedikit keropos, dia memfokuskan pandangannya pada yang keropos itu, dan tak mau melihat bagian lainnya yang lebih besar yang tetap utuh. Ketika melihat sesuatu yang cacat, dia lebih mempersoalkan kecacatan yang kecil itu daripada menyaksikan kesempurnaannya yang lebih besar. Ketika mendapatkan sedikit kegagalan, dia mengingat-ingatnya terus tanpa menghiraukan sekian banyak keberhasilan yang pernah diraihnya. Manusia menjadi sakit karena disakiti oleh pikirannya sendiri.

....

Kejujuran seseorang lebih banyak terdapat dalam sesuatu yang tidak diucapkannya, daripada yang diucapkannya. Yang ada di belakang dari yang ia ucapkan lebih banyak daripada segala yang telah ia ucapkan.

....

Apabila kita mengatakan bahwa kita tidak melakukan sesuatu karena segala macam alasan yang dapat kita katakan, maka faktanya hanyalah bahwa kita tidak melakukannya.

....

Ada seribu satu macam dalih dan alasan untuk tidak melakukan sesuatu. Namun dunia hanya membayar apa yang telah kita lakukan, bukannya dalih atau alasan yang kita kemukakan.

....

Ketika matahari menyinari siang, bintang-bintang telah berada di langit, tetapi tidak kelihatan. Gelapnya malam memang dibutuhkan—untuk melahirkan bintang.

Dirimu, Sahabatmu

Apakah kita ingin tahu siapa sahabat sejati kita? Dia adalah yang datang saat kita tengah menderita, bukan mereka yang berkerumun mengelilingi saat kita bahagia.

....

Cap yang kita tempelkan di kening sahabat kita adalah cap yang sama, yang juga menempel di kening kita.

....

Dunia tidak sempurna—begitu pun orang-orang dalam hidup kita, termasuk diri kita. Mengapa menuntut suatu kesempurnaan yang kita sendiri tidak mampu memberikannya? Semua yang ideal hanya ada dalam pikiran. Di dunia nyata, kesempurnaan hanyalah pendapat setiap kepala.

....

Diri sendiri adalah sahabat terbaik. Orang bisa menganggap dirinya sendiri sebagai musuhnya, atau sebagai sahabatnya. Orang bijak memilih yang kedua.

....

Kenyataan paling benar dan kebenaran tak terbantahkan menyangkut sahabatmu adalah; dia bukan dirimu.

....

Sahabat adalah cermin paling jujur untuk melihat sekaligus menilai seperti apakah diri kita sendiri.

....

Ada tiga jenis sahabat yang bisa kita kenali dalam hidup. Yang pertama adalah sahabat yang dekat saat kita bahagia, tapi kemudian menjauh saat kita berduka. Yang kedua adalah sahabat yang dekat saat kita bahagia, dan tetap dekat saat kita berduka. Dan yang ketiga adalah sahabat yang dekat saat kita bahagia, dan semakin dekat saat kita berduka. Sahabat yang pertama hanyalah kawan. Sahabat yang kedua sebatas sahabat. Sedang sahabat yang ketiga adalah saudara.

....

Jika kita bersahabat karena mencari keuntungan, kita akan dirugikan.
Jika kita bersahabat karena numpang nampang, kita akan kehilangan muka.
Jika kita bersahabat karena mencari kesempatan, kita akan disempitkan.
Jika kita bersahabat karena mencari persahabatan, kita akan mendapat persahabatan.

Jumat, 15 Januari 2010

Syahadah Hidup



Puncak dari segala pengetahuan adalah ketidaktahuan. Karenanya, dibutuhkan kearifan seluas samudera dan kebijaksanaan setinggi langit untuk dapat dengan rendah hati mengatakan, “Aku tidak tahu...”

Hidup ini adil, dan orang-orang yang hidup di dalamnya pun cenderung bersikap adil, disadari ataupun tidak. Tangan yang biasa terulur memberi akan memperoleh lebih banyak tangan yang memberi, tangan yang biasa bersembunyi juga akan sulit menemukan tangan lain—karena tangan yang lain pun juga bersembunyi.

Semua pendapat adalah benar—bagi yang meyakininya. Dan semua kebenaran adalah relatif—tak ada kebenaran mutlak. Tak perlu membuang waktu hanya untuk meyakinkan sebuah pendapat.

Yang paling mengerikan dari sebuah kebenaran adalah; dia belum tentu benar.

Fakta paling menakutkan dari sebuah kenyataan bukanlah kenyataan itu sendiri, tetapi ketika orang takut menghadapi kenyataan.

Alangkah bodohnya manusia—ketika ia telah merasa cukup pintar dan berhenti belajar.

Esensi hidup dan segala yang ada di dalam kehidupan adalah proses pembelajaran. Bila kehidupan dilepaskan dari proses pembelajaran, maka hidup hanyalah lari panjang menuju akhir yang tak jelas dimana garis finish-nya. Bila agama dilepaskan dari proses pembelajaran, maka agama hanyalah bentuk baru berhala dengan berbagai versi dan bermacam nama. Bila cinta dilepaskan dari proses pembelajaran, maka cinta hanyalah perbudakan dan pembodohan menuju fanatik buta yang menyesatkan.

Hakikat dari inti pembelajaran bukanlah memasukkan sesuatu dari luar ke dalam, melainkan mengeluarkan sesuatu yang tersimpan di dalam untuk dapat keluar. Pendidikan, Education, Educo, bukanlah ‘memasukkan’, tetapi ‘mengeluarkan’.

Alangkah lucunya hidup, dan alangkah lucunya mereka yang tak sanggup menertawakannya.

Makanan yang paling nikmat adalah makanan yang dihasilkan dari keringatku sendiri.

Di saat aku miskin, aku jujur dan terbuka. Begitu pula di saat aku kaya. Menurutku, itu bagian dari kejujuran dan jiwa besar. Tetapi ternyata, kejujuran dan jiwa besar tidak populer dalam kehidupan—khususnya lingkungan kehidupanku. Jadi, aku pun mulai belajar untuk menjadi munafik berhati kerdil.

Aku bersilaturrahmi kepadamu, namun kau berburuk sangka karena kemiskinanku. Aku meminta kepadamu, dan kau tak memberi. Aku berhutang kepadamu, dan kau pergi menjauh. Maka aku pun mencuri darimu. Dan begitulah cara kita menciptakan penjahat, sekaligus kejahatannya.

Seringkali aku merasa pintar, namun lebih sering aku merasa bodoh. Dan anehnya, aku jadi pintar ketika merasa bodoh, dan menjadi bodoh ketika aku merasa pintar.

Kau mengatakan bahwa milikmu adalah hebat, besar, agung dan mulia—sempurna tanpa cacat cela. Mengapa kau menjadi marah ketika orang lain juga mengatakan hal yang sama tentang milik mereka...?

Mengapa ada surga dan neraka? Jawabannya begitu sederhana—karena Tuhan menciptakan manusia.

Orang-orang merasa dirinya benar—itu tidak masalah. Masalahnya adalah ketika mereka menganggap orang yang lainnya salah.

Batas segala batas adalah dalam pikiran manusia. Begitu pun batas hitam dan putih, benar dan salah.

Di hadapan manusia, kebenaran lebih sering menumpahkan darah.

Anak-anak kecil bertanya—dan mereka menganggap itu sebagai ciri orang pintar. Orang-orang dewasa memilih bungkam—dan sok tahu—karena bagi mereka, bertanya adalah simbol kebodohan. Aku lebih menyukai menjadi anak kecil.

Jenius adalah kemampuan membuat sesuatu yang sulit dipahami menjadi mudah dimengerti—dan bukan sebaliknya.

Ada dua jenis manusia di dunia; yang pertama adalah pemain, dan yang kedua adalah penonton. Yang pertama lebih banyak jatuh dan tergelincir, tapi mereka mencetak nilai. Sedang yang kedua lebih banyak bersuara, tapi mereka tak menghasilkan apa-apa.

Hidup adalah soal pilihan—dan manusia diberikan hak untuk memilihnya. Bahkan, manusia pun boleh tidak memilih—dan begitulah kebanyakan dari kita.

Jika hidup hanyalah lahir, tumbuh, besar, dewasa, menikah, berketurunan dan kemudian mati—apa bedanya kita dengan binatang...?

Aku mencintai pekerjaanku, dan karena itulah aku mengerjakannya. Aku tak peduli apakah pekerjaanku membuatku kaya atau miskin. Aku hanya tahu bahwa aku mencintai pekerjaanku, dan karena itulah aku tetap mengerjakannya.

Ada dua jalan dalam hidup ini. Yang pertama adalah jalan yang mudah—yang tak memberikan apa-apa, dan yang kedua adalah jalan yang sukar—yang menjanjikan sesuatu untuk diraih. Kita diberi kebebasan untuk memilih, namun anehnya, lebih banyak dari kita yang memilih jalan pertama.

Manusia dibentuk oleh keyakinannya. Keyakinannya dibentuk oleh pengalamannya. Pengalamannya dibentuk oleh kehidupannya. Jika begitu rumusannya, mengapa kita tidak saling bercermin?

Orang bodoh meributkan dan mengomentari segala hal—orang pintar hanya diam.


Hidup adalah Kesempatan Berbuat Baik



Kehidupan adalah kesempatan untuk berbuat baik. Ini bukan sekadar doktrin agama, tetapi pernahkah kau membayangkan; apa sih tujuan hidup ini selain hanya untuk membuat kehidupan kita berarti bagi diri sendiri dan bermakna bagi orang lain?

Ada sebuah pepatah lama tentang hal ini yang rasanya perlu kita cetak besar-besar dan dibingkai untuk kita tempelkan di dinding kamar tidur kita, atau kita gantungkan di dekat cermin agar kita bisa membacanya setiap hari. Pepatah lama itu berbunyi seperti ini...

“Saya akan melewati jalan ini hanya sekali. Karenanya, setiap perbuatan baik yang dapat saya lakukan atau kebaikan apapun yang bisa saya perlihatkan kepada siapapun, biarlah saya melakukannya sekarang. Jangan biarkan saya menunda, juga jangan biarkan saya mengabaikannya, karena saya tidak akan melewati jalan ini lagi.”

Saya memang tidak yakin bahwa semua orang yang bahagia adalah orang yang murah hati. Tetapi saya begitu meyakini bahwa orang yang murah hati pastilah bahagia.

Kita harus selalu mengingat bahwa kita tidak harus bahagia terlebih dulu untuk menjadi murah hati, tetapi kemurah-hatian kita akan menghasilkan kebahagiaan, pada orang lain dan juga pada diri kita sendiri. Apabila kita mampu memberikan sedikit saja dari yang kita miliki kepada seseorang yang membutuhkannya, maka kita tidak akan hanya memperoleh kebahagiaan, tetapi juga kesadaran bahwa hidup tidak menjadi jauh lebih baik daripada kepuasan di dalam hati yang kita alami.

Hidup ini memang tidak selamanya diukur hanya berdasarkan lamanya, melainkan juga berdasarkan besarnya sumbangan yang kita berikan kepada kehidupan.


Menabur Kasih Menuai Cinta



Apakah kita masih ingat bahwa satu-satunya milik kita yang tidak akan berkurang sedikit pun meski kita memberikannya kepada orang lain adalah cinta? Apakah kita masih ingat bahwa satu-satunya milik kita yang pasti tidak akan ditolak oleh orang lain adalah ketika kita memberikan cinta? Apakah kita masih ingat bahwa energi yang terbesar adalah energi cinta yang seolah sanggup menggerakkan segalanya? Dan...apakah kita masih ingat bahwa hanya dengan cinta saja kita bisa memperoleh semua yang kita inginkan?

Jika Kekayaan, Kesuksesan dan Cinta datang mengetuk pintu rumahmu, yang manakah yang akan kau persilakan masuk?

Jika kau memilih Kekayaan, kau hanya akan memperoleh Kekayaan. Kesuksesan dan Cinta tetap di depan pintu atau bahkan segera pergi. Jika kau memilih Kesuksesan, kau pun hanya akan memperoleh Kesuksesan karena belum tentu Kekayaan dan Cinta mau mengikuti. Tetapi jika kau memilih Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan pun akan ikut masuk ke dalam rumahmu, karena Cinta merangkum semuanya, Cinta merengkuh segalanya.

Dr. Yusuf Qardhawi mengatakan, “Seandainya cinta dan kasih sayang telah berpengaruh dalam kehidupan, maka manusia tak lagi memerlukan keadilan dan undang-undang.”

Ada suatu perasaan tersembunyi yang selalu dirasakan dalam lubuk hati kita ketika kita berbuat baik kepada orang lain, sekecil apapun kebaikan itu. Ada suatu perasaan nyaman yang membahagiakan setiap kali kita mengulurkan tangan pada siapapun yang membutuhkan.

Kebaikan yang diberikan kepada orang lain adalah obat penenang terbaik yang dapat kita gunakan. Tidak ada obat komersial yang mampu menghasilkan efek menenangkan seperti yang diperoleh dengan melakukan hal-hal kecil untuk orang lain.

Berpikir benar tentang orang lain juga menyingkirkan rasa frustrasi dan stres. Kalau kita mau mempertimbangkannya secara cermat, penyebab utama stres adalah perasaan negatif terhadap orang lain. Jadi, berpikirlah positif terhadap orang lain, dan rasakanlah betapa indahnya dunia ini.

Setiap kali kita mengerutkan muka, biasanya kita pun akan menghadapi kerutan muka sebagai timbal-baliknya. Setiap kali kita berteriak karena kemarahan, hampir bisa dipastikan kita pun akan mendengar teriakan kemarahan yang menanggapinya. Setiap kali kita mengeluh, maka keluh-kesah yang sama pula yang akan kita dapatkan. Setiap kali kita mengutuk dan mencaci-maki, biasanya kebencian dan caci-makilah yang juga akan kita dapatkan. Dan kalau kita memberikan senyuman...? Benar, kita pun akan memperoleh senyuman balasan.

Kehidupan di luar kita memberikan tepat sama seperti yang kita keluarkan dari dalam kita. Berikanlah ketulusan dan kita akan mendapatkan persahabatan, ulurkanlah pertolongan dan kita akan mendapatkan bantuan, taburkanlah berkat dan kita akan memperoleh rahmat, sebarkanlah kasih sayang dan kita akan menuai cinta.

Tuhan memang tidak perlu menerima, tapi manusia perlu memberi.


Hukum Hidup

Meskipun sudah lama berlalu, nama Marilyn Monroe tetap dikenang hingga hari ini. Artis sensasional itu bukan hanya terkenal saat hidupnya, tapi juga setelah kematiannya.

Marilyn Monroe tewas karena bunuh diri pada suatu Minggu pagi. Ketika pelayan rumahnya menemukan tubuhnya yang telah tak bernyawa di pagi hari itu, ia melihat gagang telepon di dekat tempat tidurnya menjuntai ke bawah. Pada detik-detik terakhir sebelum kematiannya yang tragis, tampaknya Marilyn Monroe telah berusaha menghubungi seseorang. Tetapi rupanya upaya terakhir itu gagal dan ia menyerah, lalu mengatasi hidupnya sendirian.

Sebagai manusia, kita hidup dengan naluri saling membutuhkan, namun saat ini kita hidup di sebuah zaman ketika perbuatan ramah dan ungkapan membesarkan hati menjadi sesuatu yang teramat mahal sekaligus langka. Mungkin kita harus belajar kembali untuk bersikap ramah, dan belajar kembali menebarkan harapan ketika banyak orang lain sibuk mengeluh dan putus asa.

Kata Albert Einstein, “Orang diciptakan bagi sesamanya, tidak hanya bagi mereka yang senyum dan kesejahteraannya menjadi gantungan kebahagiaan kita, tetapi juga bagi mereka yang tidak kita kenal, yang nasibnya terhubung dengan kita melalui ikatan simpati.”

....
....

Lebih dari dua ratus tahun yang lalu, filsuf Epictetus menyatakan bahwa kita akan menuai apa yang kita tanam, dan nasib mengharuskan kita membayar kembali perbuatan jahat yang telah kita perbuat. “Pada akhirnya nanti,” kata Epictetus, “setiap orang harus menebus hukuman atas perbuatan-perbuatannya yang salah. Jika orang selalu ingat akan hukum ini, ia pasti tidak akan marah kepada siapa pun, tidak akan dendam, tidak akan mencerca, tidak akan menyalahkan, tidak akan melukai hati, tidak akan benci, kepada siapa pun.”

Begitulah hukum kehidupan ini. Setiap orang akan menuai apa yang telah ditanamnya. Siapa yang memberi akan diberi, siapa yang merenggut akan direnggut. Siapa yang mengasihi akan dikasihi, siapa yang mencaci-maki akan dibalas caci-maki. Siapa yang setia akan dibalas cinta, siapa berkhianat akan dikhianati. Siapa menyebar kebaikan akan menuai kebaikan, siapa menabur kejahatan akan menuai kejahatan. Siapa pun tak ada yang bisa lepas dari hukum kehidupan ini, karena siapa yang menabur... dialah yang akan menuai.

Kehidupan ini tidak buta, dan Tuhan Maha Mengetahui.

Kuasa Kebiasaan

Saya pernah membaca berita tentang seorang anak lelaki yang masuk penjara karena kedapatan mencuri. Ternyata, anak lelaki itu seorang pecandu putaw, dan dia mencuri karena butuh uang untuk bisa membeli putaw yang biasa dikonsumsinya. Ketika dia kemudian dimasukkan ke penjara, dia pun tak bisa lagi menikmati putaw. Dan akibatnya, pada suatu malam tubuh anak lelaki itu menggigil seperti kedinginan. Dia sakaw! Tubuhnya sudah meminta pasokan putaw yang biasa dikonsumsinya.

Petugas penjara yang berjaga mengira si anak lelaki hanya terkena demam biasa. Maka dia pun memberikan obat pereda demam. Tetapi tak lama setelah itu, tubuh si anak lelaki kembali menggigil, kali ini lebih hebat. Petugas jaga menjadi panik. Dia membawa tahanan itu ke rumah sakit, tapi jiwanya tak sempat tertolong. Dia mati dalam keadaan menjadi tahanan karena mencuri untuk membeli putaw, demi kebiasaannya.

Kebiasaan bisa menjadi budak yang paling baik, juga bisa menjadi tuan yang paling buruk!

Begitu besarnya pengaruh kebiasaan dalam hidup manusia, sampai Stephen R. Covey, salah seorang pemikir modern Amerika, menulis sebuah buku yang besar sekaligus tebal hanya untuk mengajarkan tentang kebiasaan. Buku itu, The 7 Habits of Highly Effective People, menjadi salah satu buku terlaris di dunia, dan dibaca jutaan orang di berbagai negara. Apa yang diajarkan Covey dalam buku itu adalah tujuh kebiasaan yang ia sebut sebagai kebiasaan yang efektif.

Dalam bukunya yang fenomenal itu, Stephen Covey menulis, “Kebiasaan adalah faktor yang sangat kuat dalam hidup kita. Karena sifatnya yang konsisten, kebiasaan sering merupakan pola yang tidak disadari. Kebiasaan tak henti-hentinya, setiap hari, mengungkapkan karakter kita dan menghasilkan keefektifan atau ketidakefektifan.”

Kebiasaan itu seperti kabel. Kita menenun seuntai demi seuntai setiap hari dan segera kebiasaan itu tidak dapat diputuskan. Kalau kita membiasakan diri membaca buku satu jam setiap hari, maka kita pun akan merasa ada yang kurang sebelum kita membaca buku hari ini. Begitu pun, kalau kita membiasakan nonton televisi setiap hari, kita pun akan merasa ada yang kurang sebelum nonton televisi hari ini. Kita bisa memutuskan untuk menentukan kebiasaan kita, atau membiarkan kebiasaan menentukan kita.

Nah, jauh-jauh hari sebelum Stephen Covey menulis bukunya yang hebat mengenai kebiasaan yang baik dan efektif itu, negaranya sendiri, Amerika, pernah dilanda sebuah kebiasaan buruk dan tidak satu pun kekuatan pemerintah di sana yang mampu mencegah kebiasaan itu.

Pada awal tahun 1900-an, Amerika dilanda kebiasaan para warganya yang tak bisa lepas dari minuman keras. Setiap hari, berton-ton minuman keras diproduksi, dan ada sekian juta orang yang mengkonsumsinya, kemudian mabuk di berbagai tempat, berserakan di berbagai penjuru negara.

Pemerintah dan para pemimpin masyarakat di sana melihat bahaya besar yang ditimbulkan kebiasaan mabuk itu, baik bagi individu, keluarga, maupun masyarakat. Maka dikeluarkanlah undang-undang yang melarang minuman keras dan mabuk-mabukan. Begitu peraturan dan undang-undang itu resmi dijalankan, para pecandu minuman keras di sana bukannya berkurang tapi malah bertambah banyak. Perdagangan dan usaha memproduksi minuman keras semakin merebak, meskipun secara sembunyi-sembunyi, dan jenis minuman keras yang diproduksi pun semakin beraneka macam.

Pemerintah Amerika pun merasa kalah. Mereka merasa tidak mampu dan sangat lemah melaksanakan undang-undang pelarangan minuman keras itu. Perlu diingat bahwa undang-undang pelarangan itu bukan datang dari seorang raja atau penguasa yang sewenang-wenang yang gemar memaksa rakyatnya dengan kekuasaan dan kekuatan semata-mata, melainkan lahir melalui Dewan Perwakilan Rakyat di negara demokrasi dan konstitusional, penuh hak kemerdekaan membuat peraturan-peraturan yang berguna, untuk mendatangkan manfaat dan menolak bahaya bagi rakyatnya. Tetapi mereka kalah ketika berhadapan dengan minuman keras. Peraturan dibuat, dan mabuk jalan terus. Undang-undang dilahirkan, dan orang-orang terus saja mabuk-mabukan.

Kemudian sekitar tahun 1918, publik Amerika kembali gerah dan mengecam habis-habisan perilaku mabuk dan minuman keras. Efek yang ditimbulkan kebiasaan mabuk itu sudah tak bisa ditoleransi lagi. Akibat mabuk dan minuman keras, ada begitu banyak orang yang terbunuh, ada sekian banyak pengrusakan, pemerkosaan, kecelakaan di jalan, dan berbagai kerusuhan lain yang benar-benar sangat meresahkan warga masyarakat. Publik Amerika mengecam habis-habisan perilaku mabuk, dan mereka kemudian melakukan demonstrasi agar dibuat sebuah undang-undang yang tegas menyangkut kebiasaan buruk itu.

Maka pada tahun 1919, pemerintah Amerika pun mengeluarkan undang-undang yang memuat larangan meminum minuman keras. Agar undang-undang itu dipatuhi dan dilaksanakan masyarakat, seluruh potensi negara pun dikerahkan. Polisi melakukan razia dan operasi di hampir seluruh bagian negara untuk mencari dan menghancurkan pabrik-pabrik minuman keras, sekaligus menangkapi orang-orangnya. Angkatan Laut disiapkan menjaga pantai, untuk mencegah adanya penyelundupan minuman keras, dan Angkatan Udara menjaga kemungkinan penyelundupan dari udara. Media informasi dimanfaatkan secara optimal menentang minuman keras, terutama surat-surat kabar, majalah, buku-buku, selebaran, pamflet-pamflet, bioskop, simposium, seminar, dan sebagainya.

Seluruh biaya yang dikeluarkan untuk keperluan propaganda melawan mabuk dan minuman keras itu mencapai lebih dari enam puluh juta dolar. Itu angka yang sangat besar, khususnya pada tahun 1919. Mereka pun masih mengeluarkan sepuluh juta dolar lagi untuk menerbitkan buku-buku, pamflet dan selebaran, yang menjelaskan bahaya akibat mabuk dan minuman keras. Biaya-biaya lain untuk melaksanakan undang-undang pelarangan minuman keras itu, dalam waktu 14 tahun, tidak terhitung lagi jumlahnya. Tetapi apakah semua upaya dan usaha yang memakan biaya sangat besar itu kemudian berhasil?

Tidak!

Semua usaha yang telah ditempuh itu bahkan tidak menolong sedikit pun selain hanya untuk waktu sementara, bahkan kemudian rakyat Amerika semakin akrab dengan minuman keras. Pemerintah di sana bisa saja mengeluarkan undang-undang pelarangan; para polisi bisa saja berkeliaran di jalan-jalan; seminar dan simposium bisa saja diadakan untuk memberikan penyuluhan; buku, pamflet dan selebaran anti minuman keras bisa saja diterbitkan dan diedarkan, tetapi sekian juta orang yang biasa mabuk tetap saja mabuk di rumah-rumah mereka, dan mereka merasa aman.

Antiklimaksnya terjadi pada tahun 1933 ketika pemerintah Amerika kemudian menghapuskan undang-undang pelarangan minuman keras, dan membolehkan lagi minuman keras dikonsumsi dengan leluasa. Pabrik-pabrik minuman keras boleh beroperasi secara legal, dan para konsumennya kembali bisa mabuk dan berkeliaran di jalan-jalan.

Lihat, begitu sulitnya menghapus sebuah kebiasaan, bahkan sampai kekuatan negara sebesar Amerika pun kalah olehnya. Barangkali Amerika bisa menghancurkan negara-negara lain yang ia anggap musuh dengan rudal-rudal mereka, namun tidak ada satu rudal sehebat apa pun yang sanggup menghancurkan sebuah kebiasaan yang telah terpatri sedemikian kuat.

Kebiasaan adalah faktor terbesar yang membawa manusia pada apa yang kelak akan diperolehnya. Kebiasaan yang baik akan membawa kebaikan pada pemiliknya, demikian pula kebiasaan buruk. Saya tidak berani menyebutkan apa saja kebiasaan yang baik dan apa saja kebiasaan yang buruk, karena bisa saja penilaian kita berbeda terhadap satu kebiasaan.

Kebiasaan itu menyangkut ego setiap orang, dan ego sedemikian peka, hingga jika orang lain yang menilai dan menjatuhkan vonis, kita biasanya menjadi marah dan tak terima. Tetapi jika kita sendiri yang mau menilai dengan sepenuh objektivitas dan kejernihan, ego kita tentunya bisa menerima karena itu nasihat yang datang dari diri sendiri.

Jadi, ayo lihat lagi kebiasaan kita.

Kuantar Koran Pagi



Tadi sore, sewaktu bersih-bersih rumah, tanpa sengaja saya menemukan sehelai kertas berisi puisi yang pernah saya tulis bertahun-tahun yang lalu. Saya langsung ingat kalau puisi di kertas itu dulu saya tulis untuk mengikuti lomba menulis puisi yang diselenggarakan Badan Seni Mahasiswa Indonesia (BSMI), pada tahun 2001.

Waktu itu saya masih semester awal di kampus tempat saya berkuliah, dan keikutsertaan saya dalam lomba menulis puisi itu untuk mewakili kampus saya dalam acara tersebut. Di luar dugaan, ternyata puisi yang saya tulis itu berhasil menjadi juara pertamanya. Sebagai kenang-kenangan, khususnya bagi diri saya pribadi, berikut ini saya posting di sini puisinya...


Kuantar Koran Pagi

Selamat pagi, kuantar koran hari ini.
Ada berita tentang kehidupan, tentang kematian, juga tentang ketidakjelasan antara hidup dan mati. Ada pula tentang harga hidup yang sedemikian murah sampai dibuang di tempat sampah. Juga tentang perjuangan hidup yang begitu berat, tentang maling-maling sekarat di pintu besi penjara yang berkarat...

Selamat pagi, kuantar koran hari ini.
Ada laporan tentang skandal para pejabat, tentang jerit suara rakyat, juga tentang orang-orang pintar yang cuma bisa omong besar. Ada juga tentang pembangunan yang melindas ribuan napas, tentang hukum yang dipasarkan dalam bursa jual-beli, serta tentang buronan yang tak pernah dicari oleh polisi...

Selamat pagi, kuantar koran hari ini.
Ada kolom tentang pendidikan yang membelenggu, tentang keadilan yang menyakiti dan tentang kebijaksanaan yang menghancurkan. Ada pula tentang kejahatan yang dirias menjadi kepahlawanan, tentang kebiadaban yang menjadi peradaban, juga tentang kekotoran yang menjadi suci dan haram menjadi halal demi pembangunan...

Selamat pagi, kuantar koran hari ini.
Ada iklan tentang prostitusi, pelacuran, panti pijat, pemerkosaan, incest, pornografi, kumpul kebo, aborsi, juga foto-foto iblis berwajah bidadari. Ada juga pariwara tentang mode yang membinatangkan manusia, tentang kondom yang menjadi budaya, juga tentang berita-berita artis yang hanya bikin pusing kepala...

Selamat pagi, kuantar koran hari ini.
Ada yang mau beli...?


Sabtu, 09 Januari 2010

Merayakan Kejujuran



Dalam suatu perjalanan menuju rumah seorang kawan, sepeda motor yang saya kendarai tiba-tiba mati dan saya tak bisa menghidupkannya kembali. Bensin di tangki masih ada, dan ketika busi saya cek, busi itu pun nampak bersih. Namun mesin motor tetap tak mau hidup kembali. Saya tak terlalu paham mesin motor, karenanya satu-satunya jalan yang paling mudah yang bisa saya lakukan adalah mencari bengkel terdekat dan memberikan motor saya untuk dibetulkan.

Maka saya pun menuntun sepeda motor saya, dan beberapa meter kemudian saya menemukan sebuah bengkel, dan saya pun memasukkan motor saya pada bengkel itu. Si petugas bengkel menerima motor saya, dan saya menjelaskan apa masalahnya. Dia seorang ahli. Dia segera tahu apa masalah motor itu, dan sambil saya duduk di bangku di bengkel tersebut, dia pun mulai membongkar motor saya. Hanya dalam waktu sesaat dia sudah bisa menyimpulkan apa masalahnya.

“CDI motornya sudah mati, Mas,” katanya pada saya, melaporkan masalah yang terjadi pada motor saya.

Jadi CDI-nya yang membuat masalah. Saya sedikit tahu bahwa jika CDI mati maka mesin pun akan mati. Dan memang tidak aneh kalau sekarang CDI-nya mati. Semenjak keluar dari dealernya, motor itu telah saya gunakan selama lebih dari lima tahun. Maka saya pun segera menyetujui untuk mengganti CDI motor saya dengan CDI yang baru.

Petugas bengkel itu berkata, “Kami nggak menyediakan CDI baru, Mas, situ bisa membelinya di toko onderdil motor.” Orang itu juga menyebutkan bagaimana cara memilih CDI yang baik, karena menurutnya ada banyak CDI palsu dengan mutu yang rendah yang dijual di pasaran, dan dia memberikan perincian ciri-ciri agar saya tidak salah pilih.

Nah, saya tahu bahwa di dekat tempat itu tak ada toko onderdil sepeda motor. Saya tak mungkin pergi jauh hanya untuk membeli sebuah CDI. Lebih dari itu, saya juga jadi ragu-ragu kalau nantinya saya salah pilih dan mendapatkan CDI yang palsu.

Si petugas bengkel seperti tahu apa yang saya pikirkan, lalu dia menyarankan, “Kalau situ mau meninggalkan motor di sini, nanti saya bisa membelikan. Besok situ bisa kesini lagi dan mungkin motornya sudah beres. Tapi kalau sekarang saya tidak bisa karena harus menyervis banyak motor.”

Saya melihat kalau di bengkel itu memang banyak motor yang menunggu untuk diservis. Akhirnya saya pun menyetujui sarannya. Saya meninggalkan motor saya di sana, kemudian saya menelepon seorang kawan untuk menjemput saya di bengkel itu.

Keesokan harinya, seperti yang ia janjikan, saya kembali datang ke bengkel itu, dan mendapati motor saya sudah beres seperti yang kemarin ia katakan. Apakah CDI-nya sudah diganti?

Petugas di bengkel itu menggeleng dan tersenyum. “Tadi malam saya mencoba memperbaiki, dan kelihatannya CDI-nya masih cukup bagus. Jadi nggak perlu diganti yang baru.”

Saya menanyakan, “Apakah bisa dipakai cukup lama?” Dia mengangguk dengan yakin.

Lalu saya pun menanyakan ongkosnya, dan dia menyebutkan sejumlah ongkos yang wajar. Saya pun membayarnya, mengucapkan terima kasih, kemudian pergi dari bengkel itu.

Ketika saya mengendarai motor saya meninggalkan bengkel itulah saya mulai menyadari ada yang telah berbeda dengan motor saya ini. Motor saya terasa lebih enak dan suaranya lebih halus, sama persis seperti jika saya baru menyervisnya. Apakah orang di bengkel itu juga telah menyervis motor saya? Dan ketika sampai di rumah, saya pun mendapati beberapa lubang sekrup di bodi motor yang tadinya kosong kini telah terisi. Orang di bengkel itu pasti telah mencarikan sekrup yang pas untuk mengisinya.

Saya merasa terkejut namun senang dengan hal ini. Saya tidak membayar biaya servis, uang yang tadi saya bayarkan saya kira wajar untuk biaya reparasi sebuah CDI, namun rupanya orang itu juga telah menyervis mesin motor saya, dan mencarikan sekrup-sekrup yang hilang dari bodi motor saya. Lebih dari itu, saya kemudian berpikir; bukankah, kalau orang itu mau, dia bisa saja mengatakan bahwa dia telah mengganti CDI saya dengan yang baru dan saya tak akan pernah tahu?

Saya tersentuh oleh kejujuran orang di bengkel tadi, sekaligus senang dengan pelayanannya yang benar-benar menyenangkan hati. Selama bertahun-tahun memakai sepeda motor, saya telah menyervis mesin motor saya di banyak bengkel servis, namun baru kali ini saya memperoleh pelayanan yang begitu jujur dan menyenangkan seperti ini. Maka sejak itulah, saya pun menggunakan bengkel itu untuk menangani seluruh keperluan motor saya, dan saya selalu merasa tenang jika orang itu yang mengurusinya.

Di bengkelnya, setiap kali saya datang untuk servis motor, saya tak pernah mendapati bengkel itu sepi. Semenjak dibuka jam delapan pagi, selalu saja sudah ada orang yang antri menunggu untuk menyervis motor mereka. Dengan pelayanan yang begitu menyenangkan seperti yang telah saya peroleh, tak heran jika bengkelnya begitu ramai seperti ini. Dan ketika saya duduk-duduk dengan beberapa orang yang juga menunggu motornya diservis, saya terkadang bertanya kepada mereka, mengapa membawa motornya ke bengkel ini. Dan jawaban mereka ternyata sama seperti alasan saya menggunakan bengkel ini. Yakni karena kejujuran orangnya!

Bengkel ini tidak menetapkan tarif yang lebih murah; tarifnya sama dengan bengkel-bengkel lain. Cara kerja mereka juga sama, dengan alat-alat yang sama, dengan waktu servis yang tak jauh berbeda. Tetapi orang lebih memilih bengkel ini karena orang yang bekerja di bengkel ini menambahkan kejujuran pada pekerjaannya!

Jika ada bumbu penyedap untuk membuat sebuah hasil kerja menjadi lebih disukai, maka bumbu itu adalah kejujuran. Tidak ada orang yang tak menyukai kejujuran. Tidak ada orang yang membenci kejujuran. Semua orang menyukai orang yang jujur, dan kejujuran tak pernah membawakan kesusahan bagi pemiliknya. Saya tidak pernah mendengar ada orang yang jatuh miskin karena hidup jujur. Saya tidak pernah mendengar ada orang yang usahanya bangkrut karena sikap yang jujur. Saya pun tidak pernah mendengar ada toko yang sepi pembeli karena penjualnya jujur. Kejujuran selalu membawakan kebaikan bagi pemiliknya, dan kebalikannya akan membawa hasil yang sebaliknya.

Di bengkel motor yang sekarang menjadi langganan saya, kejujuran telah membawakan banyak pelanggan setia karena kejujuran si pemilik bengkel. Siapa yang tak suka berurusan dengan orang yang jujur, orang yang kita tahu tak akan merugikan kita? Saya suka berurusan dengan orang semacam itu, dan saya pun merasa tenang setiap kali berurusan dengannya. Di dunia ketika kejujuran sudah menjadi sesuatu yang asing dan orang lebih senang saling memanipulasi demi keuntungan pribadi, menemukan orang yang jujur adalah sebuah karunia.

Saat ini kita mungkin sudah tak asing lagi dengan slogan yang mengatakan, “Siapa yang jujur akan hancur”. Padahal kebalikannyalah yang benar. Kekuasaan yang dibangun di atas kejahatan membawa kehancuran bagi penguasanya. Kekayaan yang dibangun atas dasar korupsi menyeret pemiliknya ke penjara. Hubungan yang dijalin dengan manipulasi menyebabkan perpecahan dan permusuhan. Bisnis maupun usaha yang dijalankan dengan tidak jujur akan mengundang kebangkrutan. Bahkan mengerjakan soal ujian dengan cara yang tidak jujur pun akan meninggalkan rasa tidak nyaman bagi para pelakunya meski tidak ada orang yang tahu ketidakjujurannya!

Jadi, bukankah yang tidak jujur itulah yang akan hancur? Ketika satu kali orang dibohongi, mungkin kebohongan itu tak terungkap. Dua kali, mungkin masih belum terungkap. Tapi jika kebohongan itu sudah dilakukan berkali-kali, mungkinkah ada kebohongan yang abadi? Orang selalu tahu jika dia dimanipulasi, dan ketika dia tahu, dia pun akan menjauhkan diri. Tidak ada yang menyukai orang yang tidak jujur. Semua orang hanya menyukai orang yang jujur.

Kau tentu sudah pernah mendengar cerita tentang anak gembala yang suka iseng membohongi orang-orang desa. Sambil menggembalakan kambing-kambingnya, si gembala ini iseng berteriak-teriak minta tolong. “Toloooong, ada serigala!”

Orang-orang desa pun berlarian menuju ke tempatnya untuk membantu si gembala mengusir serigala yang datang itu. Tapi ternyata tidak ada serigala. Di waktu lain, si gembala ini iseng lagi dan berteriak minta tolong lagi. Orang-orang desa kembali berdatangan dan dengan tulus ingin membantu si gembala mengusir serigala. Tapi sekali lagi serigala tidak ada. Di hari lain, serigala benar-benar datang, dan si gembala ini pun panik luar biasa dan berteriak-teriak minta tolong. Namun kali ini, tidak ada orang yang mau datang menolong. Sudah dua kali mereka dibohongi, dan rasanya sudah cukup. Mereka tak ingin dibohongi untuk ketiga kalinya. Maka serigala itu pun bisa dengan mudah memangsa kambing-kambing si gembala, sementara si gembala hanya bisa menyaksikannya sambil gemetaran dan ketakutan.

Bahkan untuk kebohongan yang ‘setaraf’ iseng pun, orang tak ingin terus dibohongi. Apalagi untuk kebohongan yang lebih serius, kebohongan yang lebih sungguh-sungguh yang jelas-jelas dapat merugikan. Tidak ada orang yang suka dibohongi, dan tidak ada yang senang ketika dimanipulasi. Seperti yang dikatakan oleh pepatah bijak, “Aku marah bukan karena kau telah membohongiku, tetapi karena mulai sekarang aku jadi tak bisa lagi mempercayaimu.”

Jadi, jika dibutuhkan satu formula yang pasti mengantarkan orang kepada kesuksesan, maka formula itu adalah kejujuran. Kesuksesan memang membutuhkan kerja keras, motivasi yang tak pernah mati, pembelajaran yang tanpa henti, ambisi yang menyala-nyala dan semangat yang tak pernah padam, namun di atas itu semua, kesuksesan membutuhkan kejujuran.

Kesuksesan pada usaha atau bisnis, kesuksesan dalam hubungan dengan orang lain, kesuksesan dalam kekuasaan atau pengaruh, bahkan kesuksesan dalam usaha bengkel servis motor, semuanya harus dibangun di atas dasar fondasi kejujuran. Tanpa itu, bangunan kesuksesan sekuat dan setinggi apapun hanyalah seperti istana di atas pasir. Hebat, megah, mewah, namun keropos. Sekali angin berhembus, sekali ombak berdebur, sekali gelombang menerjang, bangunan itu akan hancur seketika.

Kesuksesan dan segala pencapaian yang dibangun tidak di atas fondasi kejujuran hanya akan membawa petaka bagi pemiliknya. Hidup tanpa kejujuran adalah hidup yang hanya akan menyongsong kehancuran.

Jadi, marilah kita merayakan kejujuran. Marilah kita merayakan sesuatu yang telah dianggap asing di sebuah peradaban yang lebih mengagungkan manipulasi ini. Marilah kita merayakan kejujuran karena hanya dengan kejujuran inilah kita bisa membangun sebuah kehidupan yang lebih baik, hubungan yang lebih baik, kesuksesan yang lebih baik; sebuah dunia yang lebih baik. Marilah kita merayakan kejujuran...


Post yang Kutulis sambil Mengunyah Dark Chocolate Kesukaanku



Ada pintu yang tak dapat kutemukan kuncinya. Ada pertanyaan yang tak bisa kutemukan jawabannya.

Tetapi, di saat-saat semacam itulah, aku kembali menyadari bahwa aku masih tinggal di dunia.

Hmmm…

Apakah Tuhan menyediakan dark chocolate di surga?

Teman yang Baik



Banyak pakar pengembangan diri yang mengatakan bahwa hanya ada satu perbedaan antara siapa kita saat ini dan orang seperti apa kita lima tahun yang akan datang dari buku yang kita baca dan orang-orang yang mengelilingi kita.

Dengan siapa kita menghabiskan waktu itulah yang paling mempengaruhi sikap dan diri kita. Kalau kita bergaul dengan orang positif yang selalu berpikir positif, kita akan mendengarkan dari mereka bahwa hidup ini memang berat, tapi kita pasti akan bisa menjalaninya; bahwa untuk bisa sukses itu memang sulit, tapi kita akan selalu bisa meraihnya; bahwa kehidupan ini sungguh indah dan kita harus menghayatinya.

Tetapi kalau kita bergaul dengan orang negatif yang biasa berpikir negatif, maka kita akan sering mendengar bahwa hidup ini berat, jadi kita tak perlu susah-susah menjalaninya, santai saja; bahwa sukses itu sulit bahkan mustahil, sukses hanya untuk orang-orang tertentu saja, jadi kita tak usah susah-payah mengejarnya; bahwa kehidupan ini buruk, nasib kita jelek, Tuhan tidak adil, dan hal buruk lainnya.

Henry Ford, sang pencipta mobil itu, menasihatkan, “Teman terbaik saya adalah orang yang membantu mengeluarkan segi terbaik saya.”

Pepatah lama Swedia menyatakan, “Kau harus segera memilih teman-temanmu selagi hari masih terang.” Sementara Peribahasa Cina kuno menyebutkan, “Hidup itu sebagian kita yang menentukan, dan sebagian lagi ditentukan oleh teman-teman dan sahabat-sahabat yang kita pilih.”

Kita tumbuh menjadi gemuk atau kurus, sehat atau sakit, melalui pilihan makanan yang kita pilih untuk dimakan. Kita berkembang menjadi individu yang lebih mandiri dengan cara memilih buku-buku dan bahan-bahan bacaan yang kita pilih untuk dibaca. Kita membentuk kehidupan dan gaya hidup kita tidak hanya karena perilaku pribadi kita semata-mata, tetapi juga karena pengaruh dari orang-orang yang telah kita pilih sebagai teman-teman atau sahabat kita.

Kita memiliki hak untuk memilih apapun untuk hidup kita, sekaligus kita pun memiliki tanggung jawab untuk setiap pilihan yang kita ambil itu. George Eliot menegaskan, “Prinsip perkembangan yang paling kuat terletak dalam pilihan manusia itu sendiri.” Karenanya, ambillah dan pilihlah dengan bijak.

Saya ingin menegaskan bahwa saya bukan sedang mengajari agar kita pilah-pilih dalam berkawan. Saya hanya sedang mengajukan fakta bahwa kehadiran dan sosok seorang kawan apalagi sahabat dalam hidup kita akan memiliki pengaruh yang begitu besar dalam kehidupan pribadi kita. Dengan siapa kita berkawan, dengan siapa kita banyak melewatkan waktu, itu akan memberikan pengaruh yang besar dalam hidup kita.

Jika kita berdekatan dengan pembuat minyak wangi, maka kita pun akan terkena harum wanginya. Jika kita berdekatan dengan pandai besi, maka kita pun akan terkena aroma serbuk besi. Begitu pun, kau tentu tahu bagaimana kulit kambing yang salah memilih kawan, kan? Ketika ia berkawan dengan kayu dan menjadi bedug, ia dipukul berkali-kali setiap hari. Tetapi ketika ia berkawan dengan buku, menjadi sampul kitab suci, orang bahkan menciumnya setiap kali akan mengambil dan meletakkannya kembali.

Kulit kambing tidak salah, ia hanya salah dalam memilih kawan. Dan...begitu pula dengan kita.


Introspeksi, Retrospeksi



Seperti yang telah saya tulis pada posting sebelumnya, berbuat salah itu manusiawi. Tetapi jangan lupa, bahwa kesalahan sekecil apapun, jika itu tidak diperbaiki, maka lama-lama kesalahan itu pun akan menumpuk dan menjadi sebuah kesalahan besar.

Imam Al-Ghozali mengatakan bahwa hati manusia itu seperti kaca yang bening, dan setiap dosa atau kesalahan yang kita perbuat adalah seperti kotoran yang mengotorinya. Jika kita berbuat salah, maka sebuah noda akan mengotori kaca bening hati kita. Mungkin pada mulanya kesalahan itu kecil saja dan kotoran yang melekat di hati itu juga mungkin hanya kecil saja. Tetapi jika itu tidak dibersihkan, tidak dilap, maka sedikit demi sedikit kaca yang pada mulanya bening itu pun akan menjadi buram dan kotor.

Bayangkan kaca jendela rumah kita. Suatu pagi, seekor burung meninggalkan kotoran di kaca itu dan kita melihatnya. Tetapi kita berpikir, “Ah, nggak apa-apa, itu kan kotoran yang nggak terlalu terlihat.” Dan kemudan kita malas membersihkannya. Besoknya, burung itu meninggalkan lagi kotorannya di kaca yang sama. Kita masih malas membersihkannya. Besoknya kotoran datang lagi. Juga besoknya lagi dan besoknya lagi. Apa yang terjadi kemudian? Kotoran menjadi menumpuk dan kita menjadi sulit untuk membersihkannya, kan?

Karenanya, luangkanlah waktu untuk selalu melakukan instrospeksi, mawas diri, kemudian berusaha memperbaiki setiap kesalahan yang kita perbuat sehari-hari, baik yang telah disadari maupun yang belum disadari. Orang yang baik bukanlah orang yang tak pernah berbuat salah. Orang yang baik adalah orang yang apabila berbuat salah, ia segera menyadarinya, memperbaiki kesalahannya, memohon ampun dan maaf atas kesalahannya.

Mungkin di antara kita ada yang berpikir, “Tetapi dosa dan kesalahanku sudah terlalu banyak! Rasanya sudah sulit bagiku untuk memperbaikinya lagi!”

Tak pernah ada waktu terlambat untuk memperbaiki diri. Selama napas belum sampai di tenggorokan, kita selalu memiliki kesempatan untuk melakukannya. Kau tentu pernah mendengar kisah tentang seseorang yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, kemudian ingin bertaubat. Orang ini datang kepada orang pintar di kampungnya dan menanyakan apakah dia masih bisa bertaubat setelah membunuh begitu banyak orang. Si orang pintar menjawab bahwa dia sudah terlambat untuk bertaubat, karena sudah terlalu banyak orang yang telah dibunuhnya. Si pembunuh tidak suka dengan jawaban itu, maka si orang pintar itu pun dibunuhnya, menggenapkan jumlah korban pembunuhannya menjadi seratus orang.

Kemudian, si pembunuh yang memang ingin bertaubat ini mencari orang lain yang sekiranya mampu memberikan jawaban yang memuaskan untuknya. Di suatu tempat yang jauh, dia menemukan orang alim yang dicarinya, kemudian menanyakan hal yang sama, “Apakah setelah saya membunuh seratus orang, saya masih punya kesempatan untuk bertaubat dan dosa saya akan diampuni?”

Orang alim yang kali ini ditemuinya menjawab, “Bahkan seumpama dosa-dosamu memenuhi isi dunia ini, selalu ada ampunan jika kau memang mau bertaubat dan memperbaiki diri...”


Berbuat Salah itu Manusiawi



Bayangkan ilustrasi berikut ini.

Selembar kertas bersih seputih salju berbicara pada dirinya sendiri, “Aku tercipta dengan kemurnian, karena itu selamanya aku akan tetap murni. Lebih baik aku dibakar dan hangus menjadi abu daripada menderita karena tersentuh kegelapan atau didekati oleh sesuatu yang kotor.”

Tinta dalam botol mendengar kata-kata itu, dan ia tertawa dalam hatinya yang hitam, namun tidak mendekatinya. Pensil-pensil beraneka warna pun mendengarnya, namun mereka pun tak pernah mendekatinya.

Dan selembar kertas bersih seputih salju itu pun selamanya tetap putih murni, putih dan murni, tetapi...kosong.

Ada dua jenis manusia di dunia ini, yaitu orang yang salah karena berbuat sesuatu, dan orang yang tak pernah salah karena tak pernah melakukan apa-apa. Menurutmu, di antara dua jenis manusia itu, yang manakah yang lebih baik? Kalau saya diijinkan memilih, saya memilih yang pertama, yakni orang yang salah karena memang berbuat sesuatu.

Sebagai manusia, kita tidak pernah bisa lepas dari kesalahan, kekhilafan, dosa maupun kekeliruan. Dan itu sah, manusiawi. Tidak ada manusia yang sempurna, begitupun tak ada manusia yang bisa bebas dari salah dan dosa. Yang menjadi salah satu tanda bahwa kita manusia dan bukannya malaikat adalah bahwa kita terkadang berbuat salah.

Tetapi bukan berarti bahwa kemudian kita bebas untuk berbuat salah. Kesalahan bukanlah kesengajaan, itu hanyalah ‘bumbu’ dari perilaku manusia.

Apa yang ingin saya sampaikan melalui catatan ini adalah bahwa kita tak perlu berkecil hati jika merasa telah berbuat salah. Selalu ada waktu dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Manusia tidaklah dikutuk karena kesalahannya, manusia selalu diberi kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya, memperkecil kesalahannya, menghapus dosa-dosanya.

Kota saya, Pekalongan, terkenal sebagai salah satu penghasil batik tulis berkualitas tinggi. Batik itu digarap oleh orang-orang yang ulet dan sabar hingga bisa menghasilkan karya batik yang benar-benar bagus. Mula-mula sebuah kain digambar dengan pensil, lalu pembatik akan mengikuti gambar itu dengan larutan malam (bahan semacam lilin untuk membatik) dengan cantingnya. Terkadang pembatik ini mengalami kesalahan dengan membatik tidak tepat pada gambar dasarnya. Tetapi bukannya menghilangkan kesalahan itu, si pembatik biasanya akan berusaha untuk memberikan suatu garis atau gambar lain agar kesalahan itu tertutupi. Hasilnya, ketika batik itu telah benar-benar jadi, kesalahan tadi sama sekali tak terlihat.

Dalam mengarungi kehidupan ini, kita terkadang melakukan beberapa kesalahan, kekeliruan dan kekhilafan. Kita tidak perlu berputus asa dan menangisi kesalahan itu atau mencoba menarik kembali kesalahan yang telah kita lakukan, tetapi kita bisa menutupinya dengan kebaikan yang bisa kita usahakan. Kalau kebaikan yang kita tutupkan pada kesalahan itu lebih banyak, tentu hasilnya pun akan sama seperti batik di atas; kesalahan akan tertutupi, bahkan tak terlihat sama sekali.

Tekadang, ada orang-orang yang masih terus menyesali kesalahannya beberapa tahun yang lalu. Menyesal karena telah berbuat salah itu wajar, tetapi jika kita hanya berhenti pada tahap itu, semata-mata hanya terus menyesalinya, kita tidak pernah beranjak dari kesalahan tersebut. Kesalahan itu sudah terjadi, kita tidak bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaikinya, atau untuk tidak melakukannya. Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah mencoba untuk memperbaiki kesalahan itu dengan tidak lagi melakukannya, dan menambah perbuatan baik kita.

Kalau Tuhan saja selalu memberikan maaf dan ampunan kepada hamba-hamba-Nya yang berbuat salah dan dosa, mengapa kita tak bisa memaafkan diri sendiri?


Kamis, 07 Januari 2010

Kearifan Memandang Hidup



Ada seorang Raja yang meminta nasihat kepada seorang arif tentang bagaimana menghadapi hidup dengan bijak. Sang Arif tersenyum dan bertanya, “Baginda, jika Anda merasa sangat kehausan dan Anda hampir mati karena rasa haus, apa yang sekiranya akan Baginda lakukan untuk bisa mendapatkan segelas air?”

Sang Raja menjawab dengan pasti, “Aku akan rela memberikan setengah dari kerajaan dan kekuasaanku untuk segelas air itu!”

Sang Arif kembali tersenyum dan bertanya lagi, “Baginda, jika air yang telah Anda minum itu tertahan dalam tubuh Anda, dan Anda tak bisa buang air kecil karenanya, apa sekiranya yang sanggup Anda berikan supaya air itu bisa keluar lagi dari tubuh Anda?”

Sekali lagi sang Raja menjawab dengan penuh pasti, “Aku akan memberikan setengah dari kerajaanku yang tersisa.”

Si orang Arif pun menyimpulkan, “Jadi, kerajaan dan seluruh kekuasaan Anda tidak lebih dari nilai segelas air dan nikmat buang air kecil, kan?”

Seperti yang telah saya tulis pada posting sebelumnya, untuk mencapai kemajuan hidup, kita memang perlu melihat ke luar. Tetapi untuk mendapatkan ketenteraman dan kedamaian hidup, kita perlu melihat ke dalam. Tuhan telah memberikan segala-galanya bagi kita untuk kita syukuri dan kita nikmati. Dan dengan segala karunia itu kita bisa bahagia dalam hidup kalau saja kita tidak mengingkarinya.

Seringkali, dan yang paling ironis, orang baru menyadari besarnya arti sesuatu ketika dia tidak lagi memiliki hal itu. Apakah kau pernah mendengar kisah tentang Eddie Rickenbaker? Ini adalah kisah tentang orang yang terapung-apung di atas lautan selama hampir satu bulan namun akhirnya selamat kembali ke daratan.

Eddie Rickenbaker bersama beberapa kawannya selamat dari kapal yang mereka tumpangi ketika kapal itu tenggelam. Mereka menyelamatkan diri dengan sebuah papan rakit, dan dengan rakit itulah kemudian mereka terkatung-katung tak tentu arah di atas lautan luas selama dua puluh satu hari. Selama dua puluh satu hari itu, mereka tidak makan karena tak ada makanan, dan hanya minum jika hujan turun. Tak bisa lagi dibayangkan bagaimana susahnya mereka saat itu. Lapar, haus, letih, lelah, frustrasi, semuanya bercampur menjadi satu. Tetapi akhirnya mereka selamat ketika tertolong oleh kapal lain, dan mereka pun kembali bisa bernapas wajar setelah diberi makan dan minum.

Ketika sampai kembali ke daratan, Eddie Rickenbaker diwawancarai tentang hikmah apa yang ia peroleh selama terkatung-katung di atas lautan selama dua puluh satu hari itu. Eddie Rickenbaker mengatakan, “Pelajaran paling berharga yang dapat saya petik dari pengalaman tersebut adalah; jika Anda dapat mempunyai cukup air tawar untuk diminum dan mempunyai makanan untuk dimakan, Anda tidak perlu mengeluh atau menuntut sesuatu yang lain.”

Jika kita mempunyai cukup air tawar untuk diminum dan mempunyai makanan untuk dimakan, kita tidak perlu mengeluh. Apakah kau setuju? Saya setuju, meski saya belum pernah terkatung-katung di atas lautan selama dua puluh satu hari tanpa punya makanan dan air untuk diminum!


Karunia Hidup

Kita sering kali menjadi orang manja, yang begitu gampang mengeluh ketika menghadapi sedikit kesulitan. Ketika hidup tampak sedikit buruk, kita langsung memilih ambruk dan menyatakan Tuhan tak sayang lagi. Ketika kenyataan tak sesuai dengan harapan, kita langsung apatis dan memilih mengkambinghitamkan nasib dan takdir. Ketika tubuh sedikit merasakan sakit, kita langsung berteriak mengaduh dengan keyakinan bahwa kita begitu menderita. Ketika apa yang kita inginkan tak juga tercapai dalam hidup, kita langsung mengeluh dan sama sekali melupakan segala hal yang telah kita peroleh.

Rasanya kita perlu malu pada Helen Keller. Orang yang disebut sebagai sastrawan hebat yang dikagumi di seluruh dunia ini menderita tuli, bisu, sekaligus buta. Tetapi dia masih sanggup dengan tulus menyatakan dalam tulisannya, “Begitu banyak yang telah diberikan Tuhan kepada saya. Saya tidak punya waktu untuk menyesali apa yang tidak saya miliki.”

Jika kita selalu hanya memfokuskan pikiran kepada kekurangan-kekurangan kita, maka selamanya hidup kita akan menjadi gersang tanpa rasa syukur. Sudah saatnya kita juga mulai melihat apa yang telah dikaruniakan Tuhan dalam hidup kita, agar mata kita juga terbuka bahwa di balik semua kekurangan yang kita miliki, kita juga memiliki berkat dan karunia yang tak kalah besar yang wajib disyukuri.

Karunia hidup, umpamanya. Pernahkah kita memikirkan dan merenungkan bahwa hidup ini adalah karunia yang perlu bahkan wajib disyukuri? Mengapa baru mengingat besarnya arti hidup ketika seseorang yang terdekat dengan kita telah mati? Hidup yang kita nikmati ini adalah sebuah karunia agung, dan setiap napas yang kita hirup, udara yang kita nikmati, adalah berkat agung yang tentunya perlu disyukuri.

Saya pernah mendengar ada orang yang harus mengeluarkan uang jutaan rupiah per bulan ‘hanya’ untuk cuci darah karena aliran darah dalam tubuhnya terkontaminasi, tak bersih lagi, dan itu mengakibatkan penyakit bagi dirinya. Hanya untuk mendapatkan aliran darah yang bersih, dia perlu mengeluarkan uang jutaan per bulan, dan itu berlangsung sampai berbulan-bulan lamanya, sampai penyakitnya kemudian tertanggulangi. Bukankah sebuah karunia yang teramat besar jika hari ini kita masih bisa menikmati kesehatan tubuh dengan darah bersih yang mengalirinya?

Ada juga orang lain yang memerlukan dana sampai puluhan juta hanya untuk memperbaiki kinerja jantungnya. Jantung adalah denyut hidup; tanda kehidupan. Jika denyut jantung berhenti, maka kehidupan pun berhenti. Dan orang yang terserang penyakit jantung harus menghabiskan uang sampai puluhan juta hanya untuk memperbaiki kinerja jantungnya, demi untuk menyelamatkan kehidupannya. Bukankah kita perlu mensyukuri jantung sehat kita? Rasanya, kita perlu mengucap syukur setiap kali nadi kita berdenyut dan jantung kita berdetak!

Kita pun mungkin juga pernah mendengar ada orang yang sampai menghabiskan biaya tak terhitung jumlahnya hanya karena tidak bisa buang angin. Apakah ini sepele? Barangkali buang angin hanyalah persoalan sepele bagi kita yang tak pernah merasakan masalah dengan hal itu. Tetapi ada orang-orang yang sampai menghabiskan biaya jutaan rupiah hanya untuk bisa buang angin! Ketika pertama kali mendengar berita itu, saya terkejut. Tetapi saya lebih terkejut lagi ketika menyadari bahwa selama ini saya tidak pernah membayangkan bahwa ternyata buang angin adalah nikmat yang perlu disyukuri!

Apabila kita terus-menerus berfokus pada hal-hal yang tidak kita miliki, maka selamanya kita terus mendhalimi hidup kita sendiri. Memang baik untuk bercita-cita. Memang baik untuk berkeinginan. Memang baik untuk menginginkan hal-hal yang belum kita miliki. Memang baik untuk merencanakan membangun hidup yang lebih baik. Tetapi di atas semua itu, jangan pernah melupakan untuk mensyukuri segala hal yang telah kita miliki, segala hal yang telah kita nikmati.

Untuk mencapai kemajuan hidup, kita memang perlu melihat ke luar. Tetapi untuk mendapatkan kedamaian hidup, kita perlu melihat ke dalam.

Kearifan Hidup

Dalam hidup ini kadang-kadang kita harus memilih,
antara menyenangkan hati Tuhan dan menyenangkan hati manusia.
Untuk kepentingan jangka panjang, lebih baik menyenangkan hati Tuhan.
Ia lebih mampu untuk mengingat.
Harry Kemelman


Suatu malam, saya bersama Heri, seorang teman, pergi berbelanja ke sebuah swalayan. Kami sama-sama suka membaca, karenanya kami pun menghabiskan banyak waktu di counter buku untuk memilih buku-buku yang kami inginkan.

Saat akan membayar di kasir, kebetulan uang Heri tidak cukup. Dia membawa kartu ATM, sehingga tidak membawa uang cash dalam jumlah banyak. Maka ketika nominal belanja dihitung, Heri pun langsung tahu uangnya kurang, namun hanya kurang seribu rupiah. Heri tentu tidak mungkin berlari ke boks ATM hanya untuk mengambil uang seribu rupiah, karenanya dia kemudian meminjam kepada saya.

“Pinjami aku seribu,” katanya waktu itu.

Saya pun langsung memberikannya, dan sama sekali tak merisaukannya. Saling pinjam semacam itu sudah menjadi hal biasa dalam hubungan persahabatan, dan kami saling percaya. Maka Heri pun kemudian membayar belanjanya, dan saya pun membayar belanja saya.

Tiga bulan kemudian, peristiwa itu sudah terlupa, dan saya benar-benar lupa pernah meminjami Heri uang seribu rupiah itu.

Sampai suatu malam, Heri mengetuk pintu rumah saya di larut malam. Ketika saya membukakan pintu untuknya, dia segera nyerocos, “Sori, aku baru ingat kalau aku masih punya utang sama kamu!”

Nah, saya benar-benar sudah lupa pada hutang itu. Ketika kemudian kami duduk di ruang tamu, Heri pun menjelaskannya. “Tiga bulan lalu, kalau tidak salah, aku pernah pinjam uang seribu sama kamu, waktu kita belanja buku di swalayan, ingat?”

Sekarang saya baru mulai mengingatnya. Tetapi, saya pikir, mengapa saya harus mengingat-ingatnya, toh saya sudah mengikhlaskannya?

Heri kembali berkata, “Sori. Aku benar-benar baru ingat malam ini, jadi baru sekarang aku akan membayar utang itu!”

Saya terkejut, “Lupakan saja, Her. Aku bahkan sudah mengikhlaskannya!”

“Tapi kamu harus menerima pembayaran uang ini.” Heri bersikeras sambil mengangsurkan uangnya. “Aku tidak minta waktu itu, aku hanya pinjam, jadi sekarang aku harus mengembalikannya. Jumlah uang ini memang tidak seberapa, tapi aku takut uang seribu perak ini akan menjadi ganjalan bagiku di alam kubur!”

Kejadian itu telah lama berlalu, namun hingga hari ini saya tak pernah bisa melupakannya.

Heri sahabat saya itu bukan ustadz, juga bukan pendeta. Dia orang biasa, dengan pekerjaan biasa dan dengan hidup yang biasa. Namun ia memegang kejujuran di atas segala-galanya, dan dia bahkan sampai tidak bisa tidur karena baru ingat kalau dia masih punya utang sejumlah seribu rupiah! Memang, seperti kata Heri tadi, uang seribu rupiah bukan jumlah yang besar, tetapi siapa yang akan sanggup menerima ganjalannya di alam kubur ketika ia dipermasalahkan?

Hidup ini terkadang memberikan kesempatan, waktu, atau saat-saat tertentu bagi kita untuk mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Kesempatan semacam itu tentu saja tidak hanya terdapat dalam kehidupan para pejabat yang biasa mengurusi banyak proyek penuh uang, namun juga dalam kehidupan kita sehari-hari. Ada banyak kesempatan yang terkadang hadir dalam hidup kita, yang memberi saat-saat untuk mengambil sesuatu yang bukan hak kita.

Dalam salah satu bukunya, Slilit Sang Kiai, Emha Ainun Nadjib menceritakan tentang seorang kiai yang baru pulang dari suatu acara kenduri, dan merasakan ada daging yang terselip di sela-sela giginya. Karena merasa tidak nyaman dengan slilit itu, sang kiai itu pun mengambil potongan kayu kecil dari pagar rumah orang yang dilewatinya, untuk mengambil slilit yang terdapat di sela giginya.

Ketika kemudian sang kiai ini meninggal dunia, dia merasa sedih karena tidak sempat meminta maaf dari pemilik pagar yang potongan kayu kecilnya ia ambil itu.

Kalau sepotong kayu kecil untuk tusuk gigi saja kemudian mengganggu dan menjadi ‘slilit’ di alam kubur, apalagi yang lebih besar dari itu...?

Kehidupan ini memberikan kebebasan sebebas-bebasnya untuk kita mengambil apa pun dan mendapatkan apa pun yang kita butuhkan, yang kita perlukan, yang kita inginkan, bahkan yang kita angankan dan impikan. Tetapi kita juga memiliki ‘aturan main’ soal bagaimana cara mengambilnya. Aturan main itu bisa iman, hati nurani, akal sehat, ataupun agama yang kita yakini. Namun, yang jelas, apabila kita mengambil apa saja dan mengambil semuanya, maka kedua tangan kita sendiri yang akan kerepotan membawanya.

Kehidupan ini diberikan kepada kita untuk dinikmati dan dihayati, namun juga ada aturan yang jelas soal bagaimana cara menikmati dan menghayatinya. Kehidupan perlu dihadapi tidak hanya sekadar dengan keinginan dan harapan atau impian, namun juga dengan kearifan dan kebijaksanaan.

Lalu bagaimana bersikap bijak dalam menghadapi hidup?

Epictetus, seorang filsuf besar, punya nasihat yang bagus sekali untuk direnungkan. Katanya, “Ingatlah, di dalam kehidupan ini kau perlu bersikap seperti dalam sebuah pesta. Jika sesuatu ditawarkan kepadamu, ulurkanlah tanganmu dan ambillah sepotong dengan sopan. Kemudian teruskanlah hal itu kepada orang di sebelahmu, jangan ditahan. Atau, jika ia belum sampai kepadamu, maka jangan perlihatkan betapa kau sudah tidak sabar untuk mengambilnya. Tunggulah sampai hal itu tiba di hadapanmu. Begitu pulalah hendaknya sikapmu terhadap anak-anak, istri, pekerjaan, dan kekayaan.”

Kalau memang kehidupan adalah pesta di mana banyak makanan disediakan untuk diambil, maka kita memang berhak untuk mengambil yang mana pun. Tetapi, kalau kita mengambil semuanya, kita justru akan sakit perut!

Hidup ini Indah



Ya, hidup ini indah, hanya saja kita seringkali tak punya waktu untuk menikmati keindahannya. Blaise Pascal, seorang filsuf dan ahli matematika Perancis, pernah berkata, “Masa lalu dan kini adalah sarana kita; masa depan kita yang satu dan satu-satunya adalah tujuan kita. Jadi, kita tidak pernah berhasil hidup, tetapi selalu mengharap untuk hidup, dan karena kita senantiasa merencanakan untuk berbahagia suatu hari, tidak dapat tidak, kita pun tidak pernah menjadi bahagia.”

Kita memang telah melewati masa lalu dan tengah menuju masa depan. Tetapi itu bukan berarti kita harus melupakan hari ini. Hari yang tengah kita jalani ini juga punya hak untuk dihayati. Kita memang pernah merasakan kebahagiaan di masa lalu dan mengharapkan kebahagiaan yang lebih besar di masa depan, tetapi itu pun tak berarti bahwa kita harus kehilangan kebahagiaan hari ini. Setiap hari menyuguhkan kebahagiaannya masing-masing, dan kita wajib menikmati serta mensyukurinya.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa kehidupan adalah persoalan yang tak pernah terselesaikan. Saya setuju dengan pepatah itu. Karena tujuan alam dan kehidupan kita ini memang bukan memanjakan kita, melainkan mendesak kita agar terus bertumbuh.

Alam dan kehidupan, dengan caranya sendiri, mengajarkan pertumbuhan kepada kita dengan begitu banyak masalah dan persoalan yang dihadapkannya. Pertumbuhan menyuruh kita agar belajar lebih tekun. Pertumbuhan menghimbau kita agar bekerja lebih keras. Pertumbuhan mengajarkan kita bahwa hidup akan lebih mudah dijalani jika kita terus bertumbuh dan berkembang.

Masalah yang datang harus dipahami sebagai alat penempa kepribadian kita. Masalah yang kuat dan tegar akan melahirkan manusia yang kuat dan tegar, sebagaimana masalah yang biasa-biasa saja juga hanya akan melahirkan manusia biasa-biasa saja. Dan disela-sela menghadapi masalah untuk pertumbuhan itu, jangan pernah melupakan hak kita untuk berbahagia dalam hidup. Masalah yang datang bukan untuk melemparkan kita ke jurang penderitaan tanpa usai, kehidupan yang memaksa kita agar terus bertumbuh bukanlah buldozer yang menghancurkan setiap tawa riang kita. Sebesar apapun tantangan hidup yang harus kita hadapi, seberat apapun beban hidup yang harus kita jalani, lakukanlah dengan senyuman dan kesadaran penuh bahwa betapapun juga, hidup ini indah.

Pakar psikoanalisa terkenal, Sigmund Freud, mengatakan bahwa tugas utama manusia adalah menanggung kehidupan. Sekilas, pernyataan tersebut terdengar heroik, dan memang demikian. Lebih jauh lagi, pernyataan itu bukannya tanpa kebenaran yang mendalam. Akan tetapi jika pernyataan itu merupakan keseluruhan deskripsinya, maka kehidupan kita ini akan nampak benar-benar suram.

Saya lebih menyukai untuk mengambil sikap bahwa tugas utama manusia adalah memahami dan menguasai kehidupan. Dan dengan semua kesusahan serta kesulitannya, manusia dapat melakukan itu jika ia mau berdoa dan berpikir dan bekerja dan belajar dan percaya. Saya pikir itu benar. Bahkan mutlak benar.


Lambatkanlah Sejenak Langkahmu



Ada sebuah cerita yang setiap kali saya membaca atau mendengarnya, selalu membuat saya—mau tak mau—tersenyum dan sedikit tertegun. Ceritanya tentang seorang lelaki yang sedang berbaring-baring santai di atas kursi di tepian pantai. Kemudian seorang lelaki lain yang kelihatan sedang terburu-buru melewatinya. Entah karena sebal atau terkesan, lelaki kedua menegur, “Anda kelihatan santai sekali. Tidak bekerja?”

“Kerja? Buat apa?” tanya lelaki pertama, masih dengan santainya.

“Dengan bekerja, Anda bisa memperoleh uang.” Lelaki kedua menjelaskan.

“Uang? Untuk apa?”

“Dengan uang, Anda bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup Anda.”

“Lalu?”

“Anda juga bisa menabung untuk menjamin masa depan Anda.”

“Lalu...?”

“Lalu Anda pun bisa santai menikmati angin pantai.”

“Lho, Anda pikir saya ini sekarang sedang apa?”

Terburu-buru seakan sudah menjadi semacam budaya kehidupan orang-orang modern, khususnya yang tinggal di kota-kota besar. Mereka yang tinggal di daerah yang biasa dilanda macet, terkadang sampai berangkat kerja semenjak subuh untuk menghindari kemacetan agar tak terlambat masuk kantor. Akibat tekanan keterburu-buruan semacam inilah, kita kemudian menjadi merasa asing dengan sesuatu yang bernama ketenangan. Dalam mengatasi banyak hal, banyak masalah dan banyak persoalan, kita menginginkan untuk menyelesaikannya secara terburu-buru, sekaligus, secara cepat.

Kehidupan ini mirip dengan jam pasir. Seperti yang kita ketahui, di bagian atas jam pasir terdapat ribuan butir pasir. Satu demi satu butir-butir pasir tersebut bergerak melewati bagian leher yang sempit di bagian tengah. Kita tidak bisa memaksa memasukkan pasir lebih dari satu butir melewati leher yang sempit itu tanpa merusak jam itu sendiri.

Kita juga sama halnya dengan jam pasir tersebut. Bila kita bangun di pagi hari, kita dihadapkan pada setumpuk tugas yang harus kita selesaikan hari itu. Tugas yang jumlahnya begitu banyak itu harus kita selesaikan dengan tenang satu persatu, bergantian secara teratur dan pelan-pelan, seperti halnya butir-butir pasir dalam jam pasir yang satu demi satu melewati bagian leher sempit. Kita harus berbuat seperti itu, karena kalau tidak, maka berarti kita merusak struktur tubuh atau mental kita sendiri.

Pernahkah kau melambatkan sedikit laju hidupmu untuk sekedar menikmati atau menghayati kehidupan di sekelilingmu? Terkadang saya merasa takjub saat menyaksikan betapa berbedanya dunia di sekeliling saya ketika saya melambatkan kecepatan laju kehidupan saya. Ada semacam pergeseran paradigma yang riil, tanpa pandangan yang terhalang; semuanya jadi nampak lebih jelas.

Ketika tengah terburu-buru, saya seringkali tidak pernah menghiraukan apalagi menyadari betapa indah bunga-bunga yang tumbuh di sekeliling rumah saya. Saya juga jarang menyaksikan keindahan bulan di malam hari di tengah-tengah bintang-gemintang yang tersebar di atas langit. Ketika saya melambatkan langkah hidup saya, saya mulai menyadari betapa hidup ini indah. Bahkan mendengar kicauan burung yang beterbangan di ranting-ranting pohon pun terdengar merdu di telinga, seperti nyanyian alam yang sengaja dipersembahkan untuk mengingatkan bahwa hidup ini indah.

Filsuf dan sastrawan Ralp Waldo Emerson mengatakan, “Jika bintang-bintang di langit hanya muncul sekali dalam seribu tahun, betapa manusia akan terpesona dan terkagum-kagum. Betapa manusia akan mengabadikan pengalaman itu untuk generasi-generasi selanjutnya. Namun setiap malam keindahan itu dikirimkan kepada kita, dan sesuatu yang mudah kita peroleh, betapapun nilainya, kurang kita hargai.”

Ketika saya mulai menyadari hal itu, ketika saya mulai menyadari bahwa kehidupan bukanlah sesuatu yang hanya sudah sebagaimana mestinya, saya jadi ingat tentang suatu nasihat bahwa sesibuk apapun menjalani kehidupan, “Ingatlah untuk sejenak mencium harum bunga mawar...”


Socrates’s Wisdom

Jika kita dapat menilai secara arif dan jernih, segala sesuatu yang terjadi dalam hidup—pahit ataupun manis—selalu ada hikmahnya, manfaatnya, pelajarannya, dan itulah inti dari hidup ini. Kehidupan adalah proses pembelajaran yang tanpa henti.

Socrates punya nasihat yang unik tapi bijaksana. Katanya, “Silakan kawin jika itu yang kauinginkan. Apabila kau mendapatkan seorang istri yang baik, kau akan bahagia; dan seandainya kau mendapat istri yang buruk, kau akan menjadi ahli filsafat!”

Nasihat itu dialami sendiri oleh Socrates. Ketika berusia 50 tahun, Socrates menikah dengan Xanthippe yang terkenal sebagai wanita jahat dan cerewet. Socrates juga bukan suami yang ideal. Ia selalu pergi setiap pagi tanpa membawa hasil, dan sering pulang larut malam jika ada acara yang harus dihadiri.

Suatu hari, Socrates tengah berdiskusi dengan seorang teman di rumahnya. Mereka berdiskusi siang malam sampai membuat Xanthippe muak, marah, dan mengusir mereka keluar rumah.

Di luar rumah, Socrates dan temannya mencari dua kursi, dan kembali melanjutkan acara diskusi mereka sampai larut malam. Xanthippe kehilangan kesabaran. Ia mengambil seember air dan mengguyur mereka. Socrates basah, tetapi dia tersenyum dan mengatakan pada temannya, “Kau tahu, Kawan, setelah guntur menyambar, biasanya hujan akan segera turun.”

Setelah memahami dan menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup selalu ada hikmahnya, maka langkah berikutnya untuk dapat hidup dengan tenang dan bahagia adalah menghadapi segala sesuatu yang terjadi dengan senyuman, dan jiwa yang besar.

Apabila roda kehidupan berhenti, putarlah kembali dan lanjutkan hidupmu. Jika dunia bersikap dingin, nyalakanlah api supaya hangat. Jika kehidupan memberikan jeruk yang masam, buatlah jus segar agar tetap bisa dinikmati. Kita tidak bisa memerintahkan kehidupan agar selalu berjalan sesuai yang kita harapkan. Kita tak bisa berpesan pada kehidupan agar hanya memberikan hal-hal yang kita inginkan. Yang bisa kita lakukan, dan satu-satunya yang bisa kita lakukan, hanyalah ‘berimprovisasi’ dengannya.

Dengan itu, kita bisa tetap menikmati setiap rasa yang diberikan hidup untuk kita. Manis bisa kita nikmati, pahit bisa menyembuhkan, asam bisa menyegarkan, dan getir bisa melembutkan. Jika kita selalu menghadapi hidup dengan jiwa yang besar, kehidupan akan seperti permen yang ramai rasanya, namun tetap nikmat terasa.

Hikmah Di Balik Masalah

“Setiap masalah mengandung benih pemecahannya sendiri.” Pernyataan penting itu diucapkan oleh Stanley Arnold, seorang pemikir terkemuka, ketika menekankan pentingnya kenyataan bahwa pemecahan setiap masalah ada di dalam masalahnya itu sendiri.

Hampir selalu orang mengasumsikan masalah itu buruk. Padahal sebaliknya, bisa saja suatu masalah mungkin, dan biasanya, memang baik.

Apabila Tuhan ingin memberi kita sesuatu yang berharga, bagaimana kira-kira Dia akan melakukannya? Apakah Tuhan akan membungkusnya dalam kemasan mewah dan menyerahkannya kepada kita di atas nampan emas? Tidak. Tuhan terlalu bijaksana untuk melakukan itu. Lebih mungkin Tuhan akan membenamkannya pada inti dari masalah yang sulit dan besar, dan menyaksikan dengan penuh harap untuk melihat apakah kita mempunyai ketabahan untuk memecahkan masalah tersebut dan menemukan pada intinya yang mungkin disebut mutiara berharga.

Segala sesuatu ada hikmahnya. Begitu pun dengan masalah, kegagalan, ataupun kekalahan. Saya percaya itu sebagai salah satu aturan main dalam hidup ini, dan begitulah cara Tuhan memberikan pelajaran-pelajaran penting kepada hamba-hamba-Nya melalui jalan kehidupan.

Ada kisah menarik menyangkut hal ini, tentang seorang Raja yang mempunyai penasihat bijak. Penasihat itu selalu mendampingi kemana pun sang Raja pergi, dan nasihat yang selalu diberikannya adalah, “Segala sesuatu pasti ada hikmahnya.”

Suatu hari, Raja itu pergi berburu, dan terjadi suatu kecelakaan kecil. Tanpa sengaja, ia menjatuhkan anak panahnya dan mengenai kakinya sendiri hingga menimbulkan sedikit luka. Sang Raja meminta pendapat penasihatnya mengenai kecelakaan kecil itu, dan sang Penasihat mengatakan, “Segala sesuatu pasti ada hikmahnya, Baginda.”

Mendengar jawaban tersebut, sang Raja yang masih kesakitan akibat terluka itu menjadi marah, dan ia langsung memerintahkan pengawalnya agar memenjarakan sang Penasihat yang bijak. Setelah si Bijak dipenjara, sang Raja datang kepadanya dan bertanya, “Sekarang, apa yang kaupikirkan?”

Sekali lagi Penasihat yang bijak itu menjawab, “Segala sesuatu pasti ada hikmahnya.”

Beberapa hari kemudian, sang Raja kembali pergi berburu, namun kali ini tidak ditemani penasihatnya yang masih terkurung dalam penjara. Dalam perjalanan berburu itu, sang Raja tersesat masuk ke dalam hutan yang dihuni oleh para kanibal, dan ia beserta para pengawalnya ditangkap dan dibawa ke tempat mereka. Para kanibal itu biasa memakan daging manusia sebagai santapan sehari-hari, dan mereka merencanakan untuk memasak hasil tangkapannya kali ini.

Sebelum dimasukkan ke dalam kuali besar untuk dimasak, beberapa orang kanibal itu memeriksa tubuh sang Raja secara teliti untuk memastikan tubuh itu benar-benar sehat dan sempurna untuk disantap, sebagaimana tradisi orang kanibal. Ketika mereka menemukan sebuah luka kecil di bagian kaki sang Raja, mereka pun segera melepaskan sang Raja, karena menurut mereka luka itu merupakan cacat. Sang Raja pun terbebas dari kematian yang mengerikan karena luka kecil itu. Detik itu pula ia sadar pada pesan yang biasa disampaikan oleh penasihatnya yang bijak, bahwa segala sesuatu yang terjadi selalu dan pasti ada hikmahnya.

Hadapilah dengan Tabah



Salah satu peristiwa kematian yang sangat terkenal dalam sejarah adalah peristiwa kematian filsuf Socrates.

Socrates dipenjarakan akibat tuduhan palsu yang diajukan oleh beberapa orang Athena yang tidak menyukainya. Proses pengadilan kemudian menjatuhkan hukuman mati terhadap Socrates. Ketika hukuman mati itu akan dilaksanakan, seorang petugas penjaga penjara merasa bersimpati atas nasib Socrates. Ia tahu betul bahwa Socrates harus menghadapi hukuman mati ini hanya karena fitnah dari orang-orang yang tak menyukainya. Maka si penjaga penjara ini kemudian menjenguknya dan membawakan minuman untuk Socrates.

Socrates menerima minuman itu, lalu menatap mata si penjaga penjara. Si penjaga penjara mengatakan, “Hadapilah dengan tabah apa yang harus terjadi.”

Hadapilah dengan tabah apa yang harus terjadi. Kata-kata itu diucapkan 339 tahun sebelum Masehi. Tetapi meski demikian, dunia yang penuh kesedihan, ketakutan dan kekhawatiran ini selalu membutuhkan kata-kata itu. “Hadapilah dengan tabah apa yang harus terjadi.”

Untuk setiap kerisauan, untuk setiap kedukaan, untuk setiap ketakutan, untuk setiap keresahan, untuk setiap kekhawatiran dan kesedihan, kata-kata penuh tawakal itu tetap berguna hingga hari ini sebagai obat peringan rasa sakit. “Hadapilah dengan tabah apa yang harus terjadi.”

Kapal kehidupan yang kita tumpangi ini tidak selamanya berlayar di atas lautan yang tenang. Sesekali ombak besar menerjang, terkadang gelombang bergulung dan badai topan menghempaskan perahu kehidupan kita. Tetapi satu-satunya jalan yang bisa kita lakukan hanyalah menghadapinya. Menghadapi apapun yang terjadi dengan hati yang tabah, karena itu lebih baik daripada kita harus terjun dari kapal dan menenggelamkan diri ke dalam lautan.

Tentu saja, dibutuhkan hati yang tenang untuk selalu menghadapi segalanya dengan tabah. Dan setelah itu, dibutuhkan pikiran yang jernih untuk memperbaiki apa yang bisa diperbaiki dan mengambil hikmahnya. Tuhan tak pernah memberikan cobaan hidup tanpa manfaat atau hikmah di baliknya. Selalu ada pelajaran tersembunyi, selalu ada kebenaran yang terpendam untuk digali. Masalah-masalah yang datang dalam hidup ini pun, ringan ataupun berat, selalu akan memberikan manfaatnya dalam perjalanan hidup kita.


Hidup yang Positif

Kesempatan selalu mendekati orang
yang mempunyai sikap mental positif.
Helen Rowland


Dulu, waktu masih kecil, saya sangat takut pada cabai. Saya selalu menangis kepedasan setiap kali tanpa sengaja memakan cabai. Akibatnya, saya selalu berupaya agar makanan apa pun yang saya makan tidak mengandung cabai. Ayah saya menasihati, “Kamu tidak perlu takut pada cabai. Meski terasa pedas, cabai akan membuatmu cepat besar.”

Sampai hari ini, saya belum tahu apakah memang ada hubungan antara cabai dengan cepat besar. Tetapi, setiap kali saya mencoba membangun suatu hubungan dengan seseorang dan ternyata gagal, atau ketika saya berencana berbuat sesuatu untuk hidup dan ternyata hasilnya sia-sia, atau ketika niat baik saya disalahtafsirkan hingga membuat saya bersedih karenanya, saya selalu teringat pada nasihat ayah saya sekian tahun yang lalu, “Kamu tidak perlu takut pada cabai. Meski terasa pedas, cabai akan membuatmu cepat besar.”

Kekalahan, kejatuhan, kegagalan, atau juga penolakan yang kita alami, memang terasa menyakitkan, namun saya juga meyakini bahwa semua itu akan membuat pengalaman semakin bertambah, pikiran semakin matang, hati semakin terbuka, jiwa semakin besar.

Di saat-saat tertentu, kita terkadang merasa begitu nelangsa. Mungkin perasaan nelangsa itu muncul karena diakibatkan oleh bisnis yang bangkrut, usaha yang gagal, kehilangan sesuatu yang berharga, atau merasa ditinggalkan. Di saat-saat seperti itulah terkadang kita kemudian terjebak untuk mengasihani diri sendiri. Kita bahkan terkadang sampai kehilangan kepercayaan diri, optimisme menurun, atau bahkan hilang sama sekali.

Akan sangat menolong jika pada waktu menghadapi saat-saat seperti itu kita membuka mata dan hati untuk menyadari bahwa kita tidak semalang yang kita bayangkan, tidak senelangsa yang kita rasakan. Kita masih memiliki sesuatu, bahkan banyak hal, yang tetap membuat diri kita berharga.

Kita masih memiliki rumah untuk berteduh, keluarga yang menyayangi, sahabat yang setia, akal yang sehat, tubuh yang kuat dan tidak sakit, kita masih memiliki harapan, juga masih memiliki hari esok yang lebih cerah. Di atas semuanya itu, kita masih memiliki Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dan, terakhir, ingatlah selalu nasihat yang mungkin tidak ilmiah tetapi bagus ini, “Jangan pernah takut pada cabai—karena meski pedas, cabai akan membuatmu cepat besar.”

Kadang-kadang, hidup yang kita jalani terasa menjadi ‘pedas’ dengan adanya kekalahan, kegagalan, penolakan, ataupun kemunduran. Tetapi jika kita tidak takut untuk merasakannya, rasa pedas kehidupan itu akan membuat jiwa dan pribadi kita pun tumbuh membesar. 

Nasihat untuk Diriku Sendiri



Tuhan akan selalu memberikan apapun yang kita minta, karena itu telah menjadi salah satu jaminan-Nya. Tetapi, apa yang diberikan Tuhan tidak selalu sama persis dengan apa yang kita minta. Tuhan selalu tahu apa yang terbaik untuk kita, bahkan sebelum kita memintanya, meski terkadang kita sendiri tak tahu dimana segi terbaik dari apa yang telah diberikan-Nya.

Mintalah selalu apa yang kita inginkan dalam doa-doa, tetapi selalu bersedialah untuk menerima dengan lapang hati apapun yang diberikan Tuhan dalam hidup kita. Suatu saat kita pun akan menyadari bahwa apa yang diberikan-Nya itu ternyata lebih baik, bahkan teramat sangat lebih baik, daripada apa yang telah kita minta.


Kontemplasi



Siapakah Tuhan, dan siapakah manusia? Pertanyaan ini (selalu) akan membawa manusia kepada Tuhan, atau menjadikannya merasa menjadi Tuhan, atau memanusiakan Tuhan dan menuhankan manusia, atau menganggap semuanya Tuhan, atau menganggap tak ada Tuhan, atau kita tetap bertanya-tanya siapakah Tuhan dan siapakah manusia...

Keyakinan yang kita yakini sebagai kebenaran yang kita sebut sebagai agama itu, telah menumpahkan darah manusia di muka bumi ini—lebih banyak dari hal lain apapun yang dapat disebutkan. Pertanyaan yang menggelisahkan nurani kita adalah; jikalau agama adalah sesuatu yang benar sebagaimana yang kita yakini, mengapa ia justru menciptakan peperangan dan banjir darah secara kolosal? Apabila Tuhan memang benar ada, mengapa manusia harus terus-menerus menyatakan keberadaan-Nya dengan permusuhan, peperangan, dan pertikaian yang tak pernah selesai...?

Terkadang aku berpikir kalau Tuhan tidak ada, tapi kemudian Tuhan menertawakanku...


Unspeakable


Sepasang cincin, yang disebut sebagai Cincin Keabadian, dibawa keluar dari Persia dan diterbangkan ke Indonesia. Sepasang cincin itu kemudian bersemayam dalam sebuah toko barang antik yang menyerupai museum di Bandung, bernama Ambrosia Etnika. Sepasang cincin itu telah menyimpan sejarah kelam selama ratusan tahun yang lalu, dan kini menunggu sejarah baru yang akan diguratkan untuknya.

Dua orang lelaki yang tak saling kenal, satu dari Jakarta dan satu dari Semarang, datang ke Ambrosia Etnika untuk mencari hadiah Valentine buat kekasih mereka. Kedua-duanya berminat pada cincin itu, dan dua lelaki itu pun membeli sepasang cincin itu untuk hadiah Valentine kekasih mereka. Sebuah cincin dibawa ke Jakarta, sebuah lagi dibawa ke Semarang. Dan pada malam yang sama, dipisahkan oleh jarak berkilo-kilo meter jauhnya, dua orang perempuan yang tak saling kenal mengenakan cincin yang sama di masing-masing jari mereka.

Ratusan tahun yang lalu, sepasang cincin itu telah menciptakan sejarah yang penuh darah di Persia, dan kini sepasang cincin itu kembali mengulang sejarah yang sama. Sejarah tentang cinta, ambisi, nafsu...dan sisi-sisi gelap manusia...


Kebaikan Hati



Dulu, pada waktu saya masih duduk di bangku SMA, seorang kakak kelas saya meminta tolong untuk menuliskan sebuah surat cinta buat gadis pujaannya, karena dia tak punya keberanian untuk mengungkapkannya secara langsung. Waktu itu pun belum musim ponsel atau SMS seperti sekarang. Karena saya merasa cukup bisa merangkai kata-kata yang indah, saya pun bersedia menolongnya. Ketika surat itu selesai saya tuliskan, saya berikan kepadanya. Tak berselang lama, saya pun tahu kalau dia telah pacaran dengan orang yang dicintainya.

Tujuh tahun setelah itu, saya sudah lupa sama sekali tentang hal itu, bahkan saya sama sekali tak tahu lagi bagaimana keadaan mereka karena selepas dari SMA, kami sama sekali tak pernah ketemu lagi. Sampai suatu malam, seorang lelaki datang ke rumah saya. Dia kakak kelas saya yang dulu pernah minta tolong dibuatkan surat cinta itu. Malam itu dia kembali mengucapkan terima kasih karena saya dulu pernah menolongnya, dan dia mengaku sangat bahagia dalam hubungannya dengan kekasihnya. Malam itu pula dia telah membawa selembar kartu undangan pernikahan mereka.

Saya mengucapkan selamat kepadanya, dan kakak kelas saya ini dengan tersenyum mengatakan bahwa mungkin pernikahan ini takkan pernah terjadi kalau saya dulu tak pernah membantunya menuliskan surat cinta.

Malam itu, saya jadi teringat pada apa yang pernah diucapkan oleh Sidney Smith, “Jika engkau membuat seseorang bahagia hari ini, maka engkau juga membuat dia bahagia dua puluh tahun lagi, saat dia mengenang peristiwa itu.”


 
;