Jumat, 05 Maret 2010

Bertengkar dengan Damai



Segala sesuatu yang bisa diajarkan, bisa diajarkan dengan jelas. Segala sesuatu yang bisa dikatakan, bisa dikatakan dengan jelas. Ada begitu banyak pertengkaran yang terjadi hanya karena kesalahpahaman semata; karena orang tak mau mendengarkan secara jujur dan seksama, karena orang berbicara dengan mengkorupsi kebenaran yang seharusnya dikatakan.

Woodrow Wilson mengatakan, “Jika kau datang kepada saya dengan tangan terkepal, maka saya bisa menjanjikan kepalan yang lebih kuat. Tetapi jika kau datang kepada saya dan berkata, ‘Marilah kita duduk dan berunding bersama, dan jika kita saling berbeda pendapat, marilah kita memahami apa yang menyebabkannya’, maka kita akan mendapatkan bahwa perbedaan itu sendiri sebenarnya adalah sedikit, dan apa-apa yang kita setujui bersama adalah lebih banyak. Maka jika kita mempunyai kesabaran dan kejujuran serta keinginan untuk tetap rukun bersama, persatuan pun akan tercapai.”

Di dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita tak bisa menghindarkan diri dari pertengkaran. Mengapa pertengkaran sampai terjadi? Jawabannya begitu gamblang, yakni karena masing-masing dari orang yang bertengkar merasa dirinya benar dan tak ada yang mau mengalah.

Bayangkan ilustrasi berikut ini.

Dua orang lelaki terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni. Sebut saja namanya Arif dan Rahman. Kedua orang ini tidak biasa bertengkar, dan selama terdampar di pulau itu pun mereka tetap akur tanpa ada sedikit pun perselisihan. Karena merasa tak ada yang dapat dikerjakan di sana, suatu hari Arif mengajukan usul pada Rahman, “Kita bertengkar yuk, seperti orang-orang di kampung kita.”

Rahman menjawab dengan bingung, “Tapi kita tidak punya sesuatu yang dapat dipertengkarkan.”

Arif tampak berpikir sebentar, lalu menawarkan sebuah ide, “Kita cari saja sebuah benda yang terdampar di pantai, lalu aku akan berkata ‘ini milikku’, dan kamu akan menjawab, ‘bukan, itu punyaku’. Itu pasti bisa menjadi awal yang baik untuk bertengkar.”

Maka, setelah menemukan sebuah botol kosong dan menaruhnya di pasir di depan mereka, Arif pun berkata dengan gaya seorang yang mengajak bertengkar, “Ini botolku!”

Rahman pun menyahut, tetapi dengan suara yang lembut, “Menurutku, itu punyaku.”

Lalu Arif menjawab, “Benar? Ini milikmu? Kalau begitu ambil sajalah.”

Tidak mungkin terjadi suatu pertengkaran di antara dua orang jika salah satunya tidak mau diajak bertengkar. Maka, ketika menghadapi seseorang yang mengajak kita untuk meributkan sesuatu, biarkanlah orang itu merasa benar sampai situasi panas mereda. Setelah itu, kita pun dapat menyelesaikan masalahnya dengan lebih rasional.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tak pernah bisa steril dari masalah yang menyangkut orang lain, dan itu tidak jarang mengakibatkan perselisihan, keributan, pertengkaran bahkan permusuhan. Ada begitu banyak persaudaraan yang menjadi pecah karena pertengkaran, ada begitu banyak sahabat berpisah karena perselisihan, bahkan ada begitu banyak keluarga hancur dan suami-istri bercerai karena perbedaan pendapat yang menyulut pertengkaran dan permusuhan. Masalah di dunia ini sudah sedemikian banyak dan tumpukan berkas kasus sengketa sudah menggunung di meja-meja pengadilan di manapun. Rasanya kita tidak perlu menambahinya, kan?

Jika masing-masing dari orang yang bertengkar tidak saling mengkorupsi kebenaran dan mau kembali mendengarkan suara hatinya, bukankah tidak ada pertengkaran yang tak selesai dan tidak ada perselisihan yang tak akan usai? Seringkali pertengkaran berlarut-larut dan menjadi sebuah bara dendam yang menyala karena orang tak mau menerima kebenaran yang lain—ia bahkan mengkorupsinya demi ego dan kepentingannya sendiri—dan kemudian menulikan telinganya dari suara hatinya, bahkan melupakan suara kebenaran yang diyakininya.

Jika keyakinan kepada kebenaran yang objektif menjadi dasar dari penyelesaian setiap pertengkaran atau perselisihan, bukan mustahil pertengkaran itu justru akan melahirkan tali ikatan persaudaraan.

Ada kisah yang mungkin terdengar konyol tetapi bagus sekali menyangkut hal ini. Kisahnya dimulai ketika seorang laki-laki membeli sebidang tanah dari seseorang, dan ketika tanah itu mulai digarap, dia menemukan sebongkah emas di dalam tanah itu. Si laki-laki ini kemudian mendatangi penjual tanah tersebut dan mengatakan kepadanya, “Aku menemukan emas ini di tanah yang kau jual kepadaku. Aku membeli tanahmu, tapi tidak termasuk emas ini. Jadi, ambillah emas ini karena ini hakmu.”

Si penjual tanah tidak terima dan menjawab, “Bagaimana mungkin? Aku menjual tanah itu berikut dengan apa yang ada di dalamnya! Jadi emas itu milikmu!”

Maka mereka pun bertengkar karena pendirian masing-masing yang berbeda, dan tak ada yang mau mengalah. Karena tidak tercapai kata kesepakatan, kedua orang ini pun meminta keputusan hukum pada seorang hakim. Oleh hakim keduanya ditanyai, “Apakah di antara kalian ada yang memiliki anak?”

Si pembeli tanah yang mungkin menyadari maksud pertanyaan itu, segera saja menjawab dan menunjuk si penjual tanah, “Dia punya seorang anak perempuan, Pak Hakim. Dia bisa memberikan emas itu pada anak perempuannya!”

Si penjual tanah juga tahu kalau si pembeli tanahnya punya seorang anak lelaki, maka dia pun berseru, “Tapi dia juga punya anak laki-laki, Pak Hakim. Dia bisa memberikan emas itu pada anak lelakinya!”

Sang Hakim memutuskan, “Kalau begitu, nikahkanlah kedua anak kalian, dan pergunakanlah emas ini untuk perbelanjaannya.”

Kedua orang itu pun menerima putusan tersebut dengan senang hati, dan pertengkaran yang terjadi itu justru menjadi awal dari sebuah hubungan persaudaraan yang erat. Bukankah lebih indah menyelesaikan perselisihan dan pertengkaran dengan cara yang semacam itu...?


 
;