Rabu, 28 April 2010

Nikmatilah Hari Indah



Kita tidak tahu bagaimana hari esok. Yang bisa kita lakukan
ialah berbuat sebaik-baiknya dan berbahagia hari ini.

Dulu, ketika masih kuliah, hampir setiap hari saya harus masuk kampus untuk mengikuti kegiatan kuliah. Setiap kali memasuki pintu gerbang kampus, saya selalu bertemu dengan penjaga pintu gerbang yang memberikan tiket tanda parkir kendaraan. Jika kita masuk ke dalam kampus dan membawa kendaraan, kita harus mendapatkan tiket tanda parkir, dan begitu keluar nanti kita harus menunjukkan dan mengembalikan tiket tanda parkir itu.

Nah, ada dua ribu lebih orang yang setiap hari keluar masuk di kampus itu, dari pagi sampai sore hari, dan si penjaga gerbang ini harus tetap stand by di sana untuk melayani setiap orang yang keluar masuk itu. Saya membayangkan pekerjaan yang dilakukannya itu benar-benar membosankan; berada di dekat pintu gerbang kampus dan memberikan atau menerima tiket parkir dari orang-orang yang keluar masuk, dari pagi sampai sore, tanpa pernah ada variasi apapun. Tetapi si penjaga gerbang di kampus saya ini tidak tampak bosan dengan aktivitasnya. Setiap kali saya masuk kampus dan menerima tiket tanda parkir darinya, saya melihat dia tampak begitu bahagia, dan terkadang saya mendengarnya bersiul atau bernyanyi-nyanyi kecil dengan riang.

Saya pernah bertanya kepadanya mengapa setiap hari dia selalu tampak begitu bahagia seperti itu, dan si penjaga gerbang itu pun tersenyum, lalu menjawab, “Saya bahagia, karena saya belum pernah menikmati hari ini sebelumnya.”

Saya bahagia, karena saya belum pernah menikmati hari ini sebelumnya. Alangkah indahnya kata-kata itu. Dan bukankah memang begitu kenyataannya? Setiap hari baru yang kita jalani adalah hari baru yang diberikan Tuhan untuk kita nikmati hari ini. Tetapi, berapa banyakkah dari kita yang menyadari kenyataan penting ini?

Lebih banyak dari kita yang menjalani setiap hari dengan keresahan yang sama, dengan kebingungan yang sama, dengan keterburu-buruan yang sama, hingga tak punya waktu sedetik pun untuk menyadari bahwa hari ini adalah hari yang benar-benar baru bagi kita. Berapa banyakkah hari yang telah kita lalui? Dan...masih berapakah jumlah hari yang kelak dapat kita jalani?

Setiap malam datang dan ketika kita memejamkan mata untuk tidur, satu hari yang kita jalani hari ini telah lewat, dan waktu kita sehari telah habis. Pagi hari, saat kita terbangun dari tidur dan menyaksikan matahari yang terbit, itu adalah hari baru, sebuah hari yang benar-benar baru yang diberikan Tuhan kepada kita, sebagai bukti bahwa Tuhan masih menginginkan kita menikmati karunia-Nya.

Adakah di antara kita yang bisa menghitung berapa jumlah hari yang telah kita lalui sejak pertama kali kita dilahirkan di dunia ini? Mungkin ada cukup banyak yang bisa menghitungnya dengan menggunakan dasar tanggal lahir dan jumlah waktu dalam tiap tahun. Tetapi, adakah di antara kita yang bisa menghitung berapa jumlah hari yang akan kita jalani mulai besok pagi...?

Saya tidak mampu menghitungnya, dan saya pun yakin tidak ada satu pun orang yang mampu melakukannya. Mungkin kita bisa saja berpikir dengan menghitung tingkat probabilitas usia kita; kemungkinan berapa lama kita akan hidup dan berapa panjang umur yang sekiranya akan kita peroleh. Tetapi, siapa yang dapat menjamin kepastiannya bahwa besok pagi kita masih ada di dunia ini?

Memang ada orang-orang yang bisa hidup sampai usia seratus tahun, sembilan puluh tahun, delapan puluh tahun, atau ukuran standar yang konon enam puluh tahun. Tapi jangan lupa bahwa ada begitu banyak orang yang meninggal dunia ketika mereka masih jauh dari usia itu. Ada kawan-kawan saya yang telah meninggal ketika berusia tujuh belas tahun, atau dua puluh tahun, seorang yang lain meninggal saat berusia tiga puluh tahun, ketika ia tampak begitu sehat dan segar, ketika ia baru merasa telah berhasil membangun kehidupannya, bahkan ketika ia baru saja menikah dengan seseorang yang dicintainya.

Sekali lagi, siapa yang dapat menjamin bahwa kita masih dapat melanjutkan hari esok saat kita malam nanti beranjak tidur...?

Mungkin ada yang berpikir bahwa tubuh kita masih sehat, bahwa seluruh organ tubuh tak ada yang sakit dan semuanya tampak beres dan teratur. Tetapi kematian tak pernah melihat apakah kita sehat atau sakit, kan? Ada orang yang sudah bertahun-tahun terkapar tak berdaya dengan tubuh yang habis digerogoti penyakit namun Tuhan masih memberikan usia hidup kepadanya. Sebaliknya, ada begitu banyak orang yang tampak begitu sehat, segar, bergairah dan penuh vitalitas namun tiba-tiba dikabarkan baru saja meninggal dunia. Sebagaimana kita tak pernah dapat menghitung berapa jumlah hari yang akan bisa kita lewati mulai besok pagi, kematian tak pernah memandang kondisi kita ketika ia datang menemui.

Karenanya, setiap membuka mata dari lelapnya tidur, bersyukur dan berbahagialah untuk karunia keindahan dan nikmat hari ini. Ada begitu banyak orang yang telah meninggal semalam saat kita masih tertidur, dan apabila hari ini kita masih dapat membuka mata, itu artinya Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk melihat kehidupan, dan kita masih memiliki satu hari lagi kesempatan untuk berbahagia dan berbuat yang terbaik untuk kehidupan.


Senin, 26 April 2010

Dari Atlantis sampai Hercules

Mungkin kita sudah tak asing dengan nama Dan Brown—penulis yang selalu mengguncang dunia setiap kali novelnya terbit. Nah, bagaimana dengan nama Andy McDermott? Pernah mendengar nama ini?

Andy McDermott adalah penulis novel dengan genre tak jauh beda dengan Dan Brown, namun memiliki karakteristiknya sendiri. Sama seperti novel-novel Dan Brown, novel-novel Andy McDermott juga tergolong “buku yang tak bisa diletakkan” begitu kita mulai membaca lembaran-lembarannya. Saya tak bermaksud membandingkan Dan Brown dengan Andy McDermott—karena mereka tentu memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri. Yang ingin saya tuliskan di sini adalah keasyikan saat membaca dua novel yang ditulis Andy McDermott.

Pertama kali mengenal Andy McDermott saat tanpa sengaja saya menemukan novel terjemahan berjudul The Hunt for Atlantis. Sewaktu menemukan novel itu di salah satu rak toko buku, saya mencium bau petualangan yang asyik, dan ternyata memang demikian. The Hunt for Atlantis menyuguhkan aksi petualangan yang bukan hanya mengasyikkan, tapi juga penuh ketegangan yang nyaris tanpa jeda. Andy McDermott benar-benar tahu bagaimana membuat adrenalin pembaca terus-menerus berpacu dengan ketegangan kisah yang ditulisnya.

Tak perlu disebutkan lagi, saya benar-benar puas membaca novel itu, dan berharap Andy McDermott masih menulis novel lain. Harapan saya terkabul—penulis cerdas itu kembali menulis novel lain, kali ini berjudul The Tomb of Hercules. Sebagaimana novel yang terdahulu, novel kedua ini pun sangat bagus—seru, penuh ketegangan, sekaligus menyuguhkan petualangan yang asyik dinikmati. Alur ceritanya sangat cepat, dan plotnya juga tak terduga.

Kalau The Hunt for Atlantis menceritakan kisah petualangan dan pencarian Atlantis, The Tomb of Hercules mengisahkan pencarian makam tokoh legendaris Yunani, Hercules. Uniknya, petualangan-petualangan itu memiliki tokoh utama yang sama, yakni Eddie Chase, seorang mantan anggota SAS, dan Dr. Nina Wilde, seorang arkeolog yang tergila-gila pada situs-situs bersejarah. Kedua tokoh utama inilah yang akan mengajak kita mengikuti aksi-aksi petualangan mereka yang mendebarkan.

Selama membacanya, saya sangat menyukai Eddie Chase. Tokoh ini begitu hidup, dan memiliki karakteristik yang benar-benar unik—baik hati tapi kasar, arogan tapi sangat jagoan. Karakternya mirip James Bond, hanya si Eddie Chase ini punya selera humor yang aneh. Sekali kita memahami selera humornya, dijamin akan terus terpingkal-pingkal menikmati celetukan-celetukannya.

Sama pula seperti James Bond yang suka menghancurkan apa pun tanpa pikir panjang, Eddie Chase juga sangat ‘hobi’ meledakkan dan menghancurkan segala sesuatu dalam upaya mengalahkan musuh-musuhnya. Maka jadilah petualangan-petualangannya—dari The Hunt for Atlantis sampai The Tomb of Hercules—berisi adegan-adegan berbahaya penuh ledakan, tabrakan, baku hantam, perang senjata, sampai kejar-kejaran menantang maut, yang semuanya mampu menahan pembaca untuk tetap duduk dan meneruskan membaca kisahnya.

Saya sendiri juga merasa ‘ditahan’ untuk tidak ke mana-mana selagi menikmati dua novel itu. Sewaktu membacanya, saya benar-benar tenggelam dalam aksi petualangan yang saya baca—tak jauh beda saat menyaksikan aksi menegangkan di layar film. Inilah salah satu kehebatan novel-novel Andy McDermott—dia bisa mengisahkan jalan cerita yang ditulisnya dengan sangat filmis, sehingga pembaca mampu membayangkan secara visual. Deretan kata-kata dalam novel itu mampu menghadirkan bangunan bentuk gambar-gambar yang dapat dibayangkan pembaca.

Terlepas apakah Atlantis benar-benar ada atau makam Hercules benar-benar nyata, yang jelas Andy McDermott adalah penulis novel yang bagus, yang karya-karyanya layak dibaca dan dikoleksi. Kisah-kisah yang ditulisnya tidak hanya memberi pengalaman membaca yang mengasyikkan, tetapi juga menyuguhkan hiburan yang berbeda. Andy McDermott mampu menggabungkan aksi petualangan menegangkan dengan selera humor yang membuat pembaca terpingkal-pingkal. Ini nilai lebih yang jarang dimiliki penulis lain dalam genre ini.

Kalau kita kebetulan juga penyuka novel petualangan dan suka menikmati kisah-kisah penuh aksi yang menegangkan, saya merekomendasikan dua novel ini. The Hunt for Atlantis dan The Tomb of Hercules akan memberikan apa pun yang kita inginkan dari novel-novel petualangan. Dan saya pun berharap, semoga Andy McDermott masih akan menulis novel-novel lain, agar saya bisa kembali menikmati bacaan yang bagus, menghibur, serta memberi pengalaman membaca yang menyenangkan.

Trauma Attachment (Lanjutan Lagi)



Di post sebelumnya, seperti yang sudah kau baca, email plus attachment yang saya kirimkan kepada Ratna ternyata sampai ke tujuan dengan selamat. Beberapa saat setelah email itu saya kirimkan, Ratna menelepon saya dan memberitahu, “Da’, emailmu udah nyampai nih.”

“Bener…?” Saya memastikan. “Attachment-nya juga nyampai?”

“Iya,” Ratna memberitahu. “Aku udah membuka emailmu, dan semuanya nyampai dengan utuh. Termasuk attachment-nya.”

Sekarang saya bertanya-tanya, mengapa email yang ini bisa sampai dengan selamat—sementara email-email saya terdahulu tidak sampai? Ketika saya mencoba mengutarakan hal itu pada Ratna, dia menjelaskan dengan suara seperti orang yang baru memperoleh pencerahan.

“Ada beberapa kemungkinan, Da’,” katanya memulai ceramahnya. “Kemungkinan pertama, kamu sebenarnya belum melampirkan file attachment dalam emailmu, tetapi kamu merasa udah melampirkannya. Atau, bisa jadi kamu kurang sempurna dalam mengirim emailmu—hingga akibatnya tuh email nggak nyampai. Untuk memastikan hal ini, coba cek boks surat-surat yang terkirim—lihat apakah emailmu itu terdata di sana beserta file attachment-nya. Jika ternyata emailmu nggak tercantum di boks surat terkirim, artinya memang kamu belum mengirimkan email itu secara sempurna.”

Saya paham maksud Ratna. Penyedia layanan email seperti Gmail atau Yahoo! memiliki fasilitas penyimpanan email yang keluar, dan fasilitas ini bekerja secara otomatis. Artinya, setiap kali kau mengirim email, maka email yang kau kirim itu akan masuk dalam kotak tersendiri (kotak email terkirim). Karenanya, saya pun segera membuka kotak email terkirim itu untuk memastikan. Dan di situ, sebagaimana yang sudah saya duga, email-email saya tercantum dengan jelas sebagai email yang telah terkirim—lengkap dengan masing-masing attachment-nya. Artinya, saya sudah mengirimkan email-email itu dengan baik—sesuai prosedur pengiriman email yang sempurna.

Ketika hal itu saya katakan pada Ratna, dia menjawab, “Oke, kalau begitu kita harus meninjau kemungkinan kedua.” Dia kembali berceramah, “Kemungkinan kedua, orang-orang atau pihak-pihak yang kamu kirimi email itu berbohong. Mereka sebenarnya udah menerima emailmu—lengkap dengan attachment-nya—tapi berbohong dengan menyatakan kalau emailmu nggak nyampai atau nggak mereka terima.”

Saya ragu-ragu dengan kemungkinan kedua ini—karena sepertinya itu tidak mungkin. Buat apa orang-orang itu berbohong? Setiap kali saya mengirim email dan kemudian dinyatakan tidak sampai oleh orang yang dituju, saya akan melakukan pengiriman ulang melalui pos atau jasa kurir, hingga kiriman dokumen itu dinyatakan diterima oleh orang yang dituju. Jadi buat apa orang-orang ini berbohong? Lebih dari itu, file-file yang saya kirimkan lewat email tersebut tergolong file-file penting yang butuh diterima secara cepat oleh orang-orang yang menerimanya. Jadi mereka sama sekali tak punya alasan untuk berbohong dengan menyatakan kalau email saya tidak sampai atau belum mereka terima.

“Kalau begitu, tinggal ada satu kemungkinan lagi,” ujar Ratna. “Kemungkinan ketiga, dan ini kemungkinan terakhir, adalah karena email-emailmu masuk ke dalam boks spam.”

Ya, ini dia. SPAM…!!! Tiba-tiba saya seperti memperoleh pencerahan yang luar biasa. Spam! Mengapa saya tak pernah terpikir hal ini…??? Layanan penyedia email semacam Yahoo! atau Gmail dilengkapi dengan penyaring pesan, yakni suatu fitur yang bertugas menyaring email-email yang masuk. Apabila suatu email dicurigai sebagai email sampah atau email yang tidak diinginkan oleh penerimanya, secara otomatis email itu akan dimasukkan ke dalam boks spam.

Jadi kemungkinan besar hal semacam itulah yang menimpa email-email saya selama ini. Email-email beserta attachment yang saya kirimkan itu masuk ke dalam boks spam si penerimanya, sehingga orang yang saya tuju tidak menerima email itu meski saya sudah jelas-jelas mengirimkannya!

You know, ternyata memang ada penyedia layanan email yang terlalu ‘ketat’ dalam menyaring email yang masuk, sehingga sedikit saja sebuah email dianggap asing, email itu langsung dilempar ke keranjang spam. Parahnya lagi, email yang masuk ke dalam kotak spam akan terhapus setelah melewati waktu 30 hari. Akibatnya terkadang si penerima email sama sekali tak tahu kalau sesungguhnya dia telah menerima email penting—hanya karena penyedia layanan email yang digunakannya terlalu sensitif!

Ketika saya mengetahui kenyataan ini, saya pun sedikit demi sedikit dapat mengobati rasa trauma saya terhadap attachment—dan saya pun mulai berani lagi berkirim email dan attachment. Biasanya, setelah saya mengirimkan sebuah email kepada seseorang, saya akan menelepon atau berkirim SMS untuk mengabarkan bahwa saya telah mengirimkan email kepadanya. Jika kemudian orang tersebut menyatakan bahwa email saya belum masuk, saya pun akan berceramah kepadanya, “Hai orang-orang yang beriman, ketahuilah bahwa sesungguhnya email itu bisa saja ada di kotak spam. Jadi cobalah cek kotak spam di emailmu.”

Dan…keajaiban pun terjadi. Semua orang yang menyatakan email saya belum masuk itu kemudian menemukan email saya di kotak spam! Apakah ini tidak ajaib…???

Jadi, hai orang-orang yang beriman, cobalah luangkan waktumu sebentar untuk mengecek kotak spam di emailmu. Siapa tahu di sana ada email penting namun tak pernah kau lihat—siapa tahu di antara email-email yang masuk dalam kotak spam itu ternyata ada satu email penting yang akan mengubah hidupmu. Well, siapa tahu…?


Trauma Attachment (Lanjutan)



Di post sebelumnya saya sudah bercerita soal kejengkelan dan kebingungan saya karena email-email yang saya kirim bersama attachment seringkali tidak sampai ke orang yang saya tuju. Karena sudah sering mengalami kejadian semacam itu, saya pun mengalami trauma terhadap attachment. Saya tak percaya lagi pada attachment, karenanya saya lebih memilih mengirimkan berkas-berkas penting melalui jasa kurir, dalam bentuk print out. Trauma saya ini mungkin tak akan pernah terobati kalau saja tidak ada editor yang keras kepala, bernama Ratna Yulianty.

Malam itu sudah pukul sepuluh ketika ponsel saya berdering dan di layarnya tampak nama Ratna Yulianty, editor penerbit yang selama ini cukup banyak menerbitkan buku saya. Ketika saya menerimanya, Ratna menyatakan kalau naskah terbaru saya akan segera diterbitkan, karenanya dia meminta agar saya segera mengirimkan file atau soft copy naskahnya.

“Oke,” jawab saya. “Besok CD file naskahnya akan kukirim lewat jasa kurir seperti biasa.”

Ratna menjawab, “Kalau bisa malam ini juga, Da’. Kami ingin menerbitkan naskah ini secepatnya, jadi aku akan mulai bekerja sekarang juga.”

“Malam ini? Jasa kurir mana yang masih buka jam sepuluh malam begini?”

“Halah! Internet kan tidak kenal jam kerja. Kirimkan file naskahmu lewat email.”

“Pakai attachment?” saya memastikan.

“Ya iyalah.”

Saya ragu-ragu. “Uh, aku…aku nggak bisa ngirim email pakai attachment.”

Di luar dugaan saya, Ratna tertawa ngakak mendengar jawaban saya yang jujur. “Lutuu…lutuu…!” katanya di sela-sela tawa ngakaknya.

“Hei, aku nggak bercanda!” ujar saya sungguh-sungguh. “Aku benar-benar nggak tahu cara mengirim attachment!”

Masih dengan tawa yang terdengar, Ratna menyahut, “Jadi, kamu hidup pada jaman apa sebenarnya? Atau jangan-jangan kamu lagi mabuk sekarang? Haloooww, attachment, Hoeda Manis. Attachment…!”

“Iye, attachment—I know. Yang kumaksud juga itu. Tapi aku selalu gagal kalau berkirim attachment—aku nggak tahu apa sebabnya. Jadinya aku seperti trauma kalau makai attachment.”

Akhirnya, dengan malu-malu, saya pun bercerita kepadanya mengenai email-email (plus attachment) yang selama ini saya kirim namun tak pernah sampai. Akhirnya pula, dengan nada memahami, si Ratna berujar, “Hm…jadi itu rupanya yang membuatmu selama ini lebih suka mengirimkan file naskahmu lewat CD dengan jasa kurir?”

“Iya,” saya menjawab dengan patuh, seperti seorang anak nakal yang baru ketahuan bolos sekolah.

“Oke, gini aja,” kata Ratna selanjutnya. “Sekarang kamu kirimkan file naskahmu—sekarang juga—dan aku akan menunggu di sini. Kita lihat apakah emailmu sampai atau nggak. Kalau ternyata emailmu nggak nyampai, aku akan menilponmu lagi, dan kita bisa cari akar masalahnya. Gimana?”

Sepertinya saya tidak punya alasan untuk menolak usulan itu. Di antara semua ide brillian yang pernah saya dengar di muka bumi ini, ide dari si Ratna ini sepertinya termasuk ide yang jenius—setidaknya begitulah menurut otak saya yang idiot. Jadi saya pun segera membuka internet, sign in ke email, dan bersiap-siap mengirimkan file naskah yang diminta Ratna.

Dengan sangat hati-hati, saya memasukkan alamat tujuan di kolom pengiriman, menulis email basa-basi di kotak email, dan kemudian melampirkan file naskah lewat attachment. Proses pelampiran berjalan beberapa detik, dan kemudian mesin email menyatakan kalau email dan lampiran tersebut sudah siap dikirimkan. Dengan hati berdebar-debar, saya pun mengarahkan kursor dan meng-klik tombol ‘Send’.

Hanya dibutuhkan waktu satu detik sebelum kemudian muncul pemberitahuan bahwa email saya telah sukses terkirim. Pemberitahuan ini sudah biasa saya lihat dalam setiap pengiriman email yang saya lakukan—jadi saya tak terpengaruh. Saya tetap merasa ragu apakah email itu sampai dengan selamat. Dan saya pun berdebar menantikan pemberitahuan dari Ratna…

Ketika akhirnya Ratna menelepon lagi, jawabannya benar-benar tak terduga. Email itu TERKIRIM…!!! Kok bisa…???

Saya akan melanjutkan catatan ini di post berikutnya.


Trauma Attachment



Jenny, seorang pembaca rutin blog ini, mengirimkan sebuah email ke saya dengan isi yang menggelitik. Isi emailnya kira-kira seperti ini, “Kalau aku membaca posting-postingmu di blog, sepertinya kamu orang yang serius banget ya. Benar nggak? Kalau boleh tahu, pernah nggak kamu mengalami hal-hal yang mungkin lucu, bodoh, konyol atau aneh?”

Mungkin saya memang terkesan serius ya? Well, saya menyadari kalau kebanyakan post di blog ini memang terkesan serius. Itulah mengapa saya terkadang juga menyelipkan post-post yang ringan, lucu atau menggelitik dengan tujuan untuk mengurangi ketegangan dan membuat pembaca blog ini bisa tersenyum. Nah, post ini saya tulis untuk menjawab pertanyaan di atas, “Apakah saya pernah mengalami hal-hal yang mungkin lucu, bodoh, konyol atau aneh?”

Seserius apapun seseorang, pastilah dia tidak akan terbebas dari kemungkinan seperti itu—begitu pula saya. Ada cukup banyak hal bodoh, lucu, aneh, bahkan konyol yang terkadang menimpa diri dan hidup saya. Salah satunya, yang membuat saya benar-benar merasa konyol, adalah attachment. Saya pernah mengalami sesuatu yang saya sebut sebagai “trauma attachment”.

Siapapun yang telah terbiasa berkomunikasi lewat email pastilah sudah akrab dengan fitur atau salah satu fasilitas email yang disebut attachment. Ini semacam lampiran dalam surat. Melalui attachment, kita bisa melampirkan file-file tertentu yang akan diikutkan bersama surat atau email yang kita kirim. Nah, saya pernah mengalami trauma dengan attachment sehingga sekian waktu lamanya saya tak pernah lagi berkirim email dengan memanfaatkan attachment.

Trauma ini bermula dan berawal dari beberapa email (plus attachment) yang saya kirimkan ke beberapa orang—yang dinyatakan tidak sampai oleh orang yang saya tuju. Jadi, suatu waktu saya berkirim email plus dokumen dalam attachment ke seseorang. Ketika saya mengkonfirmasi kiriman tersebut, orang yang saya tuju menyatakan kalau dia belum menerima email itu. Saya coba kirim kembali—tetapi hasilnya sama saja. Email plus attachment itu tidak sampai! Akhirnya, karena dongkol, saya pun mengirimkan materi dokumen tersebut lewat jasa kurir.

Di lain waktu, saya berkirim naskah ke suatu penerbit via email. Naskah itu saya lampirkan dalam attachment—sebagaimana yang diminta oleh si penerbit bersangkutan. Beberapa waktu setelah itu, saya mengkonfirmasi kiriman naskah tersebut, tetapi penerbit itu menyatakan kalau email yang saya maksudkan belum mereka terima. Karena merasa sudah membuang banyak waktu, akhirnya saya pun mengirimkan naskahnya lewat jasa kurir dalam bentuk print out.

Kejadian semacam di atas itu terjadi pada saya berulang-ulang kali sampai saya kemudian terjangkiti “penyakit tidak percaya pada email”. Anehnya, jika saya perhatikan, email-email yang tidak dilampiri attachment biasanya akan sampai pada alamat tujuan. Tetapi email-email yang dilampiri attachment dinyatakan tidak sampai. Saya sudah berulangkali berkirim email ke berbagai orang, dan email-email ini dinyatakan sampai atau diterima. Tapi email-email yang dilampiri attachment seringkali tidak sampai di alamat yang dituju.

Ketika menyadari kenyataan itu, saya bertanya-tanya dalam hati, apanya yang salah? Sejauh yang saya tahu, saya telah melakukan semua prosedur pengiriman attachment secara baik dan benar. Jika kemudian email tersebut tidak sampai berikut attachment-nya, dimana letak kesalahan saya?

Karena penasaran, saya pernah meminta seorang kawan yang bisa dikatakan pakar dalam bidang internet, dan memintanya untuk mendemontrasikan cara pengiriman attachment yang benar—sesuai dengan standar seorang pakar. Oke, ini konyol—dan teman saya pun menganggap permintaan saya sebagai hal yang aneh. Tetapi saya benar-benar butuh pengetahuan ini, agar saya dapat mengirim email dan attachment dengan baik—agar kiriman itu benar-benar sampai ke alamat yang dituju.

Ketika teman saya yang pakar itu memperlihatkan caranya, saya lihat caranya SAMA PERSIS dengan yang saya lakukan selama ini. Jadi, apa yang terjadi dengan email-email saya? Mengapa email-email itu bisa tidak sampai atau tidak diterima oleh orang yang dituju?

Jawabannya baru terungkap beberapa waktu kemudian—dan jawabannya benar-benar tak pernah saya sangka. Saya akan menuliskannya di post berikutnya.


Kamis, 22 April 2010

Nyalang Jiwa Curt Cobain

Di balik setiap kejeniusan dan karya besar,
selalu ada kegelisahan.

Jangan pernah menyangka semua orang ingin populer dan terkenal. Jangan pernah sedetik pun beranggapan setiap orang ingin menjadi artis atau selebritas. Manusia memang dilengkapi dengan ego, insting, atau naluri untuk narsis—membanggakan dan memuji diri—tetapi tidak setiap orang senang jika menjadi terkenal atau dikenal banyak orang. Kalau hari ini kau ingin menjadi orang terkenal—itu sah dan wajar. Tetapi jika ada orang yang justru tidak ingin terkenal—itu pun sah dan wajar.

Mungkin kita bertanya-tanya, apa ada orang yang seperti itu? Apa ada orang yang justru tidak ingin terkenal atau dikenal? Jawabannya ADA—bahkan cukup banyak. Curt Cobain adalah salah satu orang yang sama sekali tidak ingin terkenal, tidak ingin dikenal, dan popularitas yang dimilikinya justru menjadikannya stres, frustrasi, bahkan kemudian mengakhiri hidupnya sendiri. Kesalahan terbesar yang pernah dilakukan Curt Cobain dalam hidupnya adalah menjadi terkenal. Padahal mungkin saja dia masih hidup hingga hari ini kalau saja ia tidak terkenal.

Curt Cobain adalah korban dari takdir yang tragis. Dia adalah jiwa yang nyalang, hati yang gelisah. Sebagai anak muda, waktu itu, Curt Cobain belum dapat memahami apa sebenarnya yang terjadi dengan dirinya. Saya membayangkan saat itu dia merasakan batinnya tak pernah tenang, hatinya terus gelisah, dan jiwanya terus nyalang tanpa ketenteraman. Sampai akhirnya dia menemukan cara untuk menyalurkan semua kegelisahan jiwanya itu melalui lagu, dan musik—tetapi itu ternyata menjadi kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Ketika Curt Cobain mengarang lagu, dia sama sekali tidak menginginkan dirinya menjadi artis, penyanyi, dan kemudian terkenal. Dia hanya ingin menyalurkan kegelisahannya, dia hanya ingin mengeluarkan keresahan batinnya. Saat menyanyikan lagu-lagunya, Curt Cobain hanya merasa telah menemukan jalan yang dapat menyalurkan semua kegelisahan batinnya, bersama group band yang dibentuknya sendiri, Nirvana.

Tetapi "sialnya", lagu-lagunya kemudian digemari di seluruh dunia, musik yang diusungnya bahkan menciptakan genre baru, bahkan Nirvana menjadi group musik paling berpengaruh sepanjang masa. Curt Cobain yang seharusnya menjadi tenang karena telah menemukan kedamaian hati pun kemudian menjadi lebih stres, lebih frustrasi, dan jiwanya semakin nyalang dan gelisah. Popularitas itu telah menjadi kutukan yang amat gelap bagi Curt Cobain—juga bagi orang-orang terdekatnya.

“Kegilaan” Curt Cobain sudah terkenal bagi para penggemarnya. Selain hobi membuat lirik lagu yang susah dipahami, dia juga suka bertingkah aneh di atas panggung—dari merusak alat-alat musik, mengenakan kostum baby doll, sampai terang-terangan menantang Axl Rose berkelahi di muka umum. Lebih parah lagi, Curt Cobain bahkan pernah mengajak istrinya, Courtney Love, untuk mengisap heroin bersama, selagi Courtney mengandung bayi mereka.

Tetapi semua “kegilaan” itu terus-menerus dimaklumi oleh banyak orang, waktu itu, karena mereka meyakini Curt seorang jenius. Orang-orang jenius selalu aneh—bahkan gila—dan mereka pun dapat memaafkan jika Curt Cobain juga begitu. Yang tidak mereka tahu, sesungguhnya, Curt Cobain hanyalah ingin terlepas dari semua atribut popularitasnya.

Sampai kemudian, karena sudah tak tahan lagi menanggung kegelisahan batinnya yang makin menekan, Curt Cobain pun mengakhiri hidupnya sendiri. Sebenarnya, Curt sudah mencoba bunuh diri beberapa kali namun gagal. Dia pernah menelan lima puluh butir obat tidur dan menenggak sampanye—kombinasi yang mematikan—namun nyawanya berhasil tertolong saat dilarikan ke rumah sakit.

Tetapi hasrat ingin mengakhiri hidup itu begitu kuat dalam diri Curt, hingga akhirnya tubuhnya ditemukan telah mati di halaman rumahnya sendiri. Ia berhasil bunuh diri dengan menembakkan revolver ke dagunya, dan meninggalkan catatan bunuh diri untuk sahabat khayalannya yang ia sebut ‘Boddah’. Dalam surat terakhirnya itu pula, Curt Cobain dengan jujur dan jelas menyatakan bahwa dia sudah tak tahan lagi menjadi pusat perhatian karena terkenal.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan Curt Cobain…? Ulasan-ulasan, berita, bahkan buku biografinya, tidak pernah jelas menguraikan latar belakang kejiwaannya hingga ia seperti itu. Karenanya, saya mengasumsikan (sekali lagi, mengasumsikan) bahwa Curt Cobain sebenarnya mengalami gangguan kejiwaan yang disebut ‘manik depresif’. Gangguan kejiwaan ini tidak banyak dikenal orang, karena—anehnya—manik depresif menghinggapi orang-orang tertentu secara eksklusif. Yang sering mengidap gangguan manic depresif adalah para penulis dan para pemikir, juga para jenius.

Ciri paling khas yang biasa dirasakan pengidap manik depresif adalah naik-turunnya emosi secara tidak jelas atau tiba-tiba, kegelisahan yang tak terpahami, serta hasrat dan keinginan untuk bunuh diri. Diperlukan konsultasi intensif dengan psikiater untuk mengetahui apakah seseorang mengidap gangguan ini atau tidak—karenanya, sangat jarang pengidap gangguan ini yang menyadari masalahnya. Begitu pula Curt Cobain. Dia pasti tak pernah terpikir untuk menghubungi psikiater atau psikoanalis untuk mengkonsultasikan kegelisahan jiwanya, sehingga dia mencari cara dan jalan sendiri untuk menyelesaikan kegelisahan yang dirasakannya.

Ada cukup banyak tokoh terkenal, pemikir, penulis-penulis terkenal, hingga orang-orang yang dianggap jenius dalam bidangnya, yang diprediksi mengalami gangguan kejiwaan ini. Sidney Sheldon, misalnya, dalam memoar yang ditulisnya mengakui dirinya juga mengidap manik depresif. Dalam perjalanan hidupnya, dia juga pernah berniat bunuh diri—namun gagal. Untuk kasus ini, Sidney Sheldon termasuk “beruntung” karena dia menyalurkan kegelisahan batinnya lewat tulisan dan novel. Sehingga meski namanya dikenal di seluruh dunia, dia tidak menjadi tertekan gara-gara terkenal atau karena menjadi pusat perhatian.

Curt Cobain mengambil jalan yang “keliru”—tanpa pernah disadarinya. Dia menyalurkan kegelisahan jiwanya dengan mengarang lagu—akibatnya dirinya ikut terkenal dan dikenal bersama lagu-lagunya, karena dia juga tampil menyanyikan lagu-lagunya. Akibatnya pula, keinginan untuk terlepas dari perasaan tertekan justru mengakibatkan perasaan tertekan yang makin dalam karena keterkenalannya. Ketika dia tak sanggup lagi menahan kegelisahannya, bunuh diri pun dipilih untuk menyelesaikan semuanya.

Tetapi, meski begitu, dunia patut berterima kasih atas “kekeliruan” Curt Cobain—karena setidaknya orang jenius yang gelisah itu telah meninggalkan warisan kejeniusannya. Dan di hari-hari ini, saat kita mendengarkan suaranya menyanyikan Smells Like Teen Spirit, ingatlah selalu bahwa di balik setiap karya besar—selalu ada kegelisahan besar.

Malam Tanpa Akhir

Sekarang aku tahu bagaimana sensasi kenikmatan yang ditimbulkan dari membunuh seseorang. Sekarang aku bisa merasakan bahwa membunuh itu mendatangkan rasa kepuasan, suatu sensasi kenikmatan, suatu perasaan berkuasa yang tak terkalahkan. Dan lebih kuat dari candu apa pun, kenikmatan membunuh itu seketika menguasaiku, dan aku sudah ingin melanjutkan pembunuhan berikutnya...



Mereka berencana menikmati malam tahun baru dalam suasana berbeda dari biasanya—tanpa kebisingan, tanpa suara hingar-bingar terompet dan kembang api. Mereka merencanakan menikmati malam tahun baru di villa milik kawan mereka—sebuah villa di dataran tinggi yang hening dan dingin. Mereka mengangankan menikmati malam tahun baru yang tenang, sepi, dan damai.

Maka mereka pun berangkat dari Jakarta ke Jawa Tengah, menuju tempat villa itu berada, namun maut yang amat mengerikan telah menunggu kedatangan mereka di sana.

Bertahun-tahun yang lalu, pemilik asli villa itu melakukan bunuh diri di villa tersebut, dan orang-orang yang tahu sejarah itu pun meyakini villa itu menjadi tempat yang angker. Pemilik setelahnya mencoba menjual villa itu namun tak pernah laku—berita keangkerannya membuat siapa pun takut memilikinya.

Dan sekarang ada delapan mahasiswa dari Jakarta yang nekat memasuki villa itu, ingin menikmati malam tahun baru di sana.

Malam yang diangankan indah dan damai dalam keheningan itu berubah menjadi malam paling mengerikan yang belum pernah mereka bayangkan. Satu per satu tewas terbunuh dengan kejam, sementara mereka semua terkunci dalam villa itu secara misterius tanpa bisa keluar.

Dan sementara mereka panik serta ketakutan untuk dapat menyelamatkan diri, maut yang mengerikan itu terus bergerak membantai mereka satu per satu...


Membaca novel ini seperti menyelami karakter seorang pembunuh. Dengan alur cerita dan plot yang cerdas, Malam Tanpa Akhir menyeret kita tanpa henti dari halaman pertamanya. Sebuah novel dengan akhir yang penuh kejutan—dan tak terduga…
Reza A. Novianto, Peresensi Buku

Hoeda Manis memadukan thriller dan slasher dalam alur cerita yang memikat serta ending yang tak terbayangkan—hingga pembaca yang berpengalaman sekali pun akan terkecoh dan salah duga di akhir cerita.
Xaverius Very, Penulis & Penggila Thriller


BUKU INI BISA DIDAPATKAN DI TOKO-TOKO BUKU
DI SELURUH INDONESIA,
ATAU DI TOKO BUKU ONLINE DI INTERNET

Hei Peggy Melati Sukma, Ayo Membaca (3)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Kita semua tahu bahwa buku adalah jendela ilmu, bahkan dianggap serta diyakini sebagai media dalam upaya mencerdaskan bangsa. Pemerintah tahu hal ini. Tetapi apakah mereka peduli? Mereka memang peduli—tetapi lebih peduli pada pajaknya! Mereka mengenakan pajak untuk pembelian kertas—bahan baku utama buku—serta mengenakan pajak lagi terhadap siapa pun yang membeli buku, serta pajak untuk penerbit buku dan toko-toko buku. Belum cukup, pemerintah masih juga memungut pajak atas royalti si penulis buku.

Karena dibelit pajak dari awal proses pembuatannya sampai purna jualnya, maka buku yang menjadi jembatan ilmu pengetahuan itu pun menjadi jembatan yang luar biasa mahal. Masyarakat masih pikir-pikir jika akan membeli buku—karena dalam ukuran mereka harga buku masih tergolong mahal.

Sekarang bayangkan jika gurita pajak yang membelit buku dilepaskan dan dihilangkan. Bayangkan jika pemerintah mau berbesar hati untuk menyadari bahwa hal paling penting dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat adalah dengan menjadikan buku semurah mungkin—dan itu artinya seluruh pajak yang berhubungan dengan buku harus dilenyapkan. Maka harga buku pun akan menjadi turun secara drastis, ukurannya menjadi relatif murah, dan masyarakat tidak akan segan-segan untuk membelinya.

Sekali lagi, persoalan rendahnya minat baca masyarakat adalah persoalan yang terkunci dalam lingkaran setan. Dan selama lingkaran ini tidak diputus atau diterobos, maka sampai kapan pun persoalan ini tidak akan pernah selesai—tak peduli Peggy Melati Sukma terus menciptakan dan menyarankan tips-tips apa pun.

Dalam cara berpikir dan sudut pandang yang praktis, bayangkan hal ini. Jika kertas untuk pembuatan buku dapat diperoleh tanpa pajak, penerbit akan dapat meningkatkan produksinya. Jika penulis buku tidak dikenai pajak, mereka akan semakin produktif, dan jumlah buku yang terbit akan terus meningkat naik. Jika proses penerbitan dan penjualan buku tidak dikenai pajak, maka harga buku akan dapat ditekan semurah mungkin sehingga terjangkau oleh masyarakat. Jika buku dapat diperoleh dengan harga yang murah, maka masyakarat pun tidak akan segan mengeluarkan uangnya untuk membeli buku dan menikmatinya. Dan…

Dan jika masyarakat telah akrab dengan buku, maka minat baca masyarakat tidak akan menjadi persoalan lagi, ilmu pengetahuan pun akan meningkat secara drastis, masyakarat akan semakin cerdas, dan bangsa akan semakin maju!

Bukankah begitu logika mudahnya? Semua tips yang diberikan Peggy Melati Sukma atau oleh tokoh mana pun selamanya tetap tidak akan berguna selama satu unsur dalam masalah ini tidak dilibatkan—yakni kesadaran pemerintah. Buku-buku bermutu bisa saja terus diterbitkan, distribusi buku bisa saja terus diluaskan, sosialisasi buku bisa saja terus diupayakan, komunitas atau relawan dan aktivis bisa saja terus mengajak masyarakat untuk membaca, dan keluarga serta anak-anak dan orang tua bisa saja terus disadarkan akan pentingnya arti membaca. Tetapi selama pemerintah tidak ikut sadar, maka impian meningkatkan minat baca masyarakat selamanya hanya akan jadi utopia.

Karenanya, sedari awal saya sudah menyatakan bahwa jangan-jangan pemerintah kita memang tidak ingin rakyatnya menjadi cerdas, dan memang sengaja menginginkan rakyatnya terus bodoh dan semakin bodoh. Yang dilakukan pemerintah bukannya memangkas pajak-pajak yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, tetapi malah terkesan semakin menyulitkan proses mengalirnya ilmu pengetahuan. Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar lagi masalah ini, karena kalian tentu sudah dapat melihat contoh-contohnya sendiri.

Sekarang, sebagai penutup catatan ini, marilah kita bertanya pada hati nurani kita sendiri. Jika Tuhan yang Maha Kuasa memerintahkan manusia untuk belajar dan menuntut ilmu, sejak dari ayunan hingga liang lahat kematian—siapakah kira-kira yang berani menentang dan mempersulit perintah agung itu…?

Hei Peggy Melati Sukma, Ayo Membaca (2)

Posting ini lanjutan post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Hanya saja, Peggy Melati Sukma mungkin kurang membaca realitas, sehingga tips dan saran yang diberikannya kurang menyentuh realitas masyarakat yang dimaksudkannya.

Sesungguhnya, yang menjadi inti persoalan rendahnya minat baca masyarakat tidak semata-mata urusan para penerbit, penulis, aktivis dan relawan serta masyarakat saja. Pemerintah juga ikut bertanggung jawab dalam masalah ini. Dan selama pemerintah tidak diikutkan dalam persoalan ini, maka sampai kiamat pun rendahnya minat baca masyarakat Indonesia akan tetap menjadi lingkaran setan.

Sekarang mari kita bertanya kepada pemerintah kita. Apakah mereka menginginkan rakyatnya semakin cerdas, ataukah memang menginginkan rakyatnya tetap bodoh dan semakin bodoh? Kita curiga kalau sebenarnya pemerintah memang tidak mengharapkan rakyatnya menjadi pintar dan makin cerdas. Kita curiga kalau sebenarnya pemerintah memang menginginkan rakyatnya tetap bodoh dan terus bodoh. Buktinya, persoalan rendahnya minat baca masyarakat tetap menjadi masalah besar hingga detik ini—meski telah diributkan dan dipersoalkan sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Saya tidak ingin mengajak kalian untuk berpikir rumit. Mari kita berpikir dan melihat masalah ini dari sudut pandang yang mudah saja. Maju-mundurnya peradaban suatu bangsa dapat diukur dari tinggi-rendahnya minat baca masyarakatnya. Ini mudah, simpel, gampang dipahami.

Kalau pemerintah kita memang menginginkan rakyatnya semakin pintar dan cerdas, maka tentunya mereka akan berupaya untuk dapat meningkatkan minat baca rakyatnya. Karena mereka pihak yang memiliki kekuasaan, maka mereka pun dapat ikut membantu hal ini dengan cara yang sangat mudah—yakni dengan menghilangkan semua pajak yang berhubungan dengan informasi, wawasan, dan ilmu pengetahuan, yang akan mencerdaskan rakyatnya.

Itu cara yang mudah—siapa pun tahu! Hilangkan pajak untuk semua hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, agar masyarakat semakin mudah memperolehnya, agar rakyat semakin mudah dalam meningkatkan kecerdasan mereka.

Tetapi, sekali lagi, apakah pemerintah kita melakukan hal yang mudah semacam itu? Jawabannya tidak! Selama bertahun-tahun para aktivis telah berteriak hingga serak menyangkut hal ini, tetapi pemerintah sepertinya terus saja menulikan telinganya.

Lihatlah koran atau surat kabar. Dalam ukuran yang sederhana, koran adalah sarana yang murah sekaligus mudah dijangkau dalam hal memperkaya wawasan masyarakat. Tetapi dalam realitas, berapa banyakkah yang mengkonsumsi koran? Berapa banyakkah yang berlangganan majalah? Berapa banyakkah yang mau meluangkan uangnya untuk membeli bacaan yang ‘murah’ itu? Sedikit—sangat sedikit!

Mengapa? Jawabannya mengacu pada realitas! Masyarakat kita berpikir bahwa bacaan semacam koran atau tabloid tergolong mahal. Mahal atau murahnya sesuatu memang relatif—tetapi jika mayoritas masyarakat menilai sesuatu sebagai mahal, maka artinya memang perlu ada peninjauan ulang atas hal itu.

Sekarang bayangkan jika pemerintah mau menghilangkan pajak untuk koran atau surat kabar. Jika kertas yang ditujukan untuk mencetak surat kabar dapat diperoleh tanpa adanya beban pajak, dan jika penjualan surat kabar dibebaskan dari beban pajak, maka harga surat kabar akan dapat ditekan semurah mungkin. Dalam jangka pendek, mungkin negara akan mengalami ‘kerugian’ karena tidak adanya pemasukan pajak dari sektor ini. Tetapi dalam jangka panjang, setelah masyarakat menjadi semakin cerdas, bukankah negara ini pula yang akan memperoleh keuntungannya?

Itu baru dari koran atau surat kabar. Belum lagi kalau pemerintah mau berbesar hati membebaskan pajak untuk produk lain yang juga berhubungan dengan ilmu pengetahuan, seperti buku misalnya.

Lanjut ke sini.

Hei Peggy Melati Sukma, Ayo Membaca (1)

Saya mencari consolation, hiburan hidup dari buku-buku.
Saya membaca buku-buku. Saya meninggalkan alam ini, alam jasmaniah.
Saya punya pikiran, saya punya mind terbang, meninggalkan
alam kemiskinan ini, masuk di dalam world of the mind;
berjumpa dengan orang-orang besar, dan bicara dengan orang-
orang besar, bertukar pikiran dengan orang-orang besar.
—Soekarno


Dua tahun yang lalu, artis Peggy Melati Sukma diundang dalam seminar peringatan Hari Kunjung Perpustakaan, Bulan Gemar Membaca, Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan 2008, di Aula Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, dalam kapasitas sebagai Duta Pendidikan Kesetaraan Depdiknas. Dan di dalam acara itulah Peggy Melati Sukma memberikan lima tips untuk dapat menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia.

Lima tips yang disodorkan oleh Peggy itu adalah; peningkatkan produksi buku yang bermutu, pendistribusian buku yang merata ke seluruh pelosok, sosialisasi yang menarik agar masyarakat membaca buku, menggandeng komunitas atau relawan untuk sosialisasi, dan mengajak keluarga untuk membiasakan membaca buku di rumah bagi anak dan orang tua.

Dari kelima tips tersebut, tidak ada yang salah—tapi juga tidak ada yang baru. Sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu sebelum Peggy Melati Sukma berbicara seperti itu, sudah ada berpuluh-puluh orang yang telah menyuarakan pesan-pesan itu, dan mereka berharap tips-tips itu bisa mendatangkan keajaiban, tetapi tetap saja minat baca masyarakat Indonesia tetap rendah, tetap saja orang Indonesia malas membaca.

Ayo kita lihat dan cermati lima tips di atas. Pertama, peningkatkan produksi buku yang bermutu. Hal ini sudah dilakukan oleh berbagai penerbit di Indonesia. Penerbit-penerbit di Indonesia pada masa kini berlomba-lomba menerbitkan buku-buku bagus karena menyadari dunia penerbitan semakin ketat persaingannya, dan konsumen buku juga semakin cerdas. Hari ini, menerbitkan buku yang tidak bermutu sama saja bunuh diri dan mengundang rugi.

Kemudian tips kedua, pendistribusian buku yang merata ke seluruh pelosok. Ini juga sudah dilakukan oleh berbagai penerbit di Indonesia. Pada saat ini juga telah bermunculan distributor-distributor profesional yang dapat ‘menyebarkan’ dan mendistribusikan buku secara merata ke seluruh wilayah Nusantara. Belum lagi distribusi dan promosi serta layanan jual lewat internet, yang memungkinkan orang di pelosok mana pun dapat membeli buku dengan cara yang mudah sekaligus praktis.

Tips ketiga, sosialisasi yang menarik agar masyarakat membaca buku. Bukankah ini juga sudah dilaksanakan di berbagai tempat dan dalam berbagai bentuk? Launching buku, bedah buku, bazar buku, pameran buku, talk show penulis, seminar, dan setumpuk acara lain yang bertujuan untuk mensosialisasikan buku dan aktivitas membaca telah dilakukan berbagai penerbit.

Lalu tips keempat, menggandeng komunitas atau relawan untuk sosialisasi. Tak jauh beda dengan penjelasan untuk tips ketiga—jawabannya, sudah dilakukan! Jauh-jauh hari sebelum Peggy Melati Sukma memberikan tips ini, penulis terkenal Gola Gong sudah sibuk membangun dan memelihara Rumah Baca-nya, beberapa penerbit di Yogya membuat Mobil Baca yang ditujukan untuk memberikan fasilitas bacaan gratis bagi masyarakat di pelosok-pelosok desa, dan tak terhitung banyaknya tokoh-tokoh relawan yang bersedia menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengajak masyarakat agar mencintai aktivitas membaca. Ratusan atau bahkan ribuan perpustakaan umum dibangun di berbagai tempat, dan semuanya disediakan secara gratis. Kurang apa lagi...?

Terakhir, tips kelima, mengajak keluarga untuk membiasakan membaca buku di rumah bagi anak dan orang tua.

Nah, sekarang mari kita membaca masyarakat negeri kita. Di antara semua tips, saran, panduan atau resep apa pun yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca sepertinya sudah dilakukan. Tetapi seberapa efektifkah semuanya itu? Menurut saya, sampai kapan pun minat baca masyarakat negeri ini akan terus rendah—karena sesungguhnya persoalan ini tak jauh beda dengan lingkaran setan. Untuk bisa keluar dari lingkaran ini, kita harus memotong, memutus atau menerobos lingkaran setan ini terlebih dulu. Bagaimana caranya? Menurut saya, caranya mudah. Yakni dengan melihat realitas!

Yang disuarakan Peggy Melati Sukma di atas tak jauh beda dengan yang disuarakan para birokrat selama puluhan tahun menyangkut minat baca masyarakat. Mereka bicara dalam tataran teori, tetapi tidak mau melihat realitas masyarakat yang tengah dibicarakannya. Buktinya, tips-tips dan saran mengenai peningkatan minat baca selalu saja berputar dan berkutat di antara lima tips yang telah saya sebutkan di atas—yang saya kutip dari ucapan Peggy Melati Sukma.

Saya tidak bermaksud menyatakan bahwa tips-tips dari Peggy itu salah. Saya juga percaya Peggy Melati Sukma adalah perempuan cerdas. Dia artis yang berbakat, penulis buku, pembicara di seminar, menjadi Duta Pendidikan, Duta Teknologi, bahkan menjadi duta Indonesia yang berbicara di PBB saat membahas UU Perlindungan Perempuan di New York tahun 2006. Melihat portofolionya yang hebat seperti itu, tentunya Peggy Melati Sukma pun bukan perempuan sembarangan, dan begitu pula tips-tips yang diberikannya dalam upaya meningkatkan minat baca.

Lanjut ke sini.

Taman Diri Kita



Sukses mengajarkan keseimbangan, baik dalam kerja, termasuk juga keseimbangan dalam membagi waktu.

John C. Maxwell, seorang pemimpin dan penulis buku-buku laris serta dikenal sebagai orang yang sangat sukses, menulis sesuatu yang mengharukan menyangkut hal ini. “Beberapa tahun yang lalu,” tulisnya, “saya sadar bahwa semua sukses di dunia akan menjadi hampa bila orang-orang yang paling dekat dengan kita tidak mengasihi atau menghormati kita. Ketika saya sampai ke sisa hidup saya, saya tidak menginginkan anak dan istri saya mengatakan bahwa saya seorang pengarang, pembicara, pemilik perusahaan, atau pemimpin yang handal. Kerinduan saya adalah supaya anak-anak berpendapat saya adalah ayah yang baik, sedangkan istri saya mengatakan saya seorang suami yang baik. Itulah yang berarti. Itulah ukuran sukses yang sejati…”

Ketika telah sampai di dekat ajalnya, tidak ada satu orang pun yang pernah berharap kalau saja ia lebih banyak melewatkan waktu di kantornya.

Saya seringkali memperhatikan diri saya sendiri. Apabila semalam suntuk sampai pagi saya tidak tidur sama sekali dan hanya menghabiskan waktu di depan komputer untuk mengerjakan pekerjaan demi pekerjaan, maka keesokan harinya saya akan mendapati tubuh yang terasa lelah dan wajah yang tampak begitu kuyu. Tetapi bukan hanya itu, saya pun menjadi sulit untuk merasa bahagia hari itu, dan sepanjang hari itu saya akan menjadi sulit untuk tersenyum!

Dulu, saya tidak pernah memahami mengapa kalau semalam suntuk saya tidak tidur kemudian kesokan harinya saya jadi sulit tersenyum. Tetapi itu rupanya pengaruh dari kelelahan fisik, dan kelelahan itu ikut mempengaruhi seluruh otot di wajah saya.

Ada sekitar delapan puluh otot pada wajah, dan otot-otot ini terjalin seperti ulir, entah untuk menjaga pasokan darah yang tetap pada saat tubuh mengalami ayunan yang kasar, atau mengubah pasokan darah ke otak dan juga, sampai tingkatan tertentu, fungsi otak. Dalam makalahnya yang terkenal, fisikawan terkenal Perancis, Israel Waynbaum menetapkan teori bahwa rona wajah benar-benar mengubah perasaan.

Rona wajah mempengaruhi perasaan, dan perasaan juga mempengaruhi rona wajah. Tubuh kita tidak bekerja secara sendiri-sendiri. Ia adalah satu struktur yang saling berkait dan apabila satu bagian merasa lelah, maka bagian yang lain akan ikut menjadi lelah. Begitu pula sebaliknya. Karena itu pula, jika kita telah bekerja dengan benar, juga telah beristirahat secara cukup, biasakanlah untuk menampilkan wajah yang gembira selama bekerja, karena dengan cara ini kita pun akan lebih mudah melawan stres, dan pekerjaan yang kita tangani setiap hari akan lebih menyenangkan dihadapi.

Selain Israel Waynbaum, peneliti lain kemudian menemukan fakta yang sama. Dr. Paul Ekman, Profesor psikiatri Universitas California, menyatakan, “Kita tahu bahwa kalau kita emosi, itu akan terlihat pada wajah. Kini kita melihatnya juga dengan cara lain. Kita akan menjadi seperti apa yang kita tampilkan pada wajah. Kalau kita tertawa dalam penderitaan, maka kita tidak merasa menderita di dalam. Kalau wajah terlihat menyedihkan, kita pun akan merasakannya juga di dalam.”

Apa yang bisa diambil sebagai intisari dari hasil penelitian itu?

Hanya ini; biasakanlah untuk memasang wajah yang gembira, karena dengan cara ini kita akan memperoleh kegembiraan di dalam hati. Setiap pagi saat bercermin, selalulah nyatakan, “Saya berbahagia hari ini,” kemudian tersenyumlah, tersenyum lebar sampai gigi-gigimu kelihatan. Dengan cara ‘sugesti kebahagiaan’ semacam ini, kita bisa berharap dapat menjalani hari dengan rasa bahagia yang sama, dan dapat menghadapi pekerjaan dengan lebih baik, tidak mudah terkena stres dan kelelahan yang terlalu berat.

Pujangga Inggris, William Shakespearre, menyatakannya dengan amat puitis, “Tubuh kita adalah taman kita...kemauan kita adalah ahli pertamanannya.”


Istirah Sejenak



Segala sesuatu yang kita pikirkan mempengaruhi reaksi kimia tubuh kita dalam waktu singkat. Misalnya, jika kita tengah duduk termenung sendirian dan kemudian muncul suara yang amat keras dan mengejutkan secara tiba-tiba, maka secara otomatis suatu gelombang keterkejutan mengalir ke seluruh sistem tubuh kita. Pikiran pun memproduksi reaksi seketika dalam tubuh kita.

Eksperimen ilmiah telah mendemonstrasikan berbagai cara luar biasa untuk membunuh kelinci percobaan, salah satunya adalah ini:

Gangguan emosional dalam diri kita akan menyebabkan timbulnya toksin (racun) yang sangat kuat dan mematikan. Pada saat sampel darah dari orang yang sedang mengalami ketakutan atau kemarahan yang intens disuntikkan ke tubuh kelinci percobaan, binatang ini pun mati dalam waktu kurang dari dua menit. Sekarang bayangkan apa yang bisa dilakukan toksin ini pada tubuh kita. Toksin yang dihasilkan oleh ketakutan, kemarahan, frustrasi, dan stres, tidak hanya mematikan kelinci percobaan, tetapi juga kita, dengan cara yang sama.

Di dalam kesibukan hidup sehari-hari, tidak jarang tekanan pekerjaan dan keinginan membangun hidup membuat kita menjadi stres dan pikiran menjadi berat. Terkadang, ketika kita sampai pada tahap semacam itu, emosi kita menjadi labil dan kita pun menjadi mudah meledak hanya karena persoalan-persoalan kecil, kita menjadi mudah panik hanya karena masalah-masalah sepele. Di saat-saat seperti itulah kita membutuhkan istirahat dan rekreasi yang sehat untuk menyegarkan kembali pikiran kita, sekaligus menyegarkan kembali tubuh kita.

Refresing dibutuhkan bukan saja untuk menyegarkan kembali pikiran kita yang telah kusut, tetapi juga dibutuhkan untuk melahirkan ide-ide baru dan pikiran-pikiran baru yang cemerlang. Banyak orang besar yang telah merasakan manfaat dari refresing ini. Penulis Jerman yang terkenal, Goethe, membiasakan diri untuk berjalan-jalan sampai jauh untuk merangsang otak jeniusnya. Filsuf besar Jerman, Nietzche, mengaku bahwa semua ide besarnya muncul dalam benaknya selagi ia berjalan-jalan sambil berpikir tentang hal-hal yang tak ada sangkut pautnya dengan soal-soal filsafat.

Jangan menganggap waktu istirahat atau refresing sebagai membuang-buang waktu atau menghabiskan energi, karena istirahat dan refresing bisa membantu kita untuk meluangkan waktu dan berpikir secara jernih serta menghasilkan energi baru. Seperti baterai ponsel kita yang selalu perlu di-charge, baterai di dalam diri kita pun perlu kembali diisi agar energinya tak pernah habis, dan salah satu cara pengisiannya adalah dengan istirahat dan refresing.

Kau tentu sudah hafal dengan pepatah yang menyatakan ‘mensana in cor porisano’, atau jiwa yang sehat terdapat dalam tubuh yang sehat. Ini salah satu nasihat tertua di dunia, dan sampai sekarang nasihat itu tetap berlaku. Filsuf Perancis, Jean Jacques Rousseau menyatakan, “Ketika sedang lemah, badan memegang komando. Tetapi kalau kuat, badan akan patuh.”

Karena itulah, betapa pun sibuknya kita bekerja keras dalam upaya menuju kesuksesan dan memperbaiki hidup, jangan pernah melupakan kesehatan kita. Tubuh kita tak jauh beda dengan mesin yang juga membutuhkan bahan bakar dan pelumas agar tetap bisa beroperasi. Makanan yang tepat dan minuman yang sehat adalah bensin bagi mesin, dan istirahat yang tak berlebihan adalah oli yang akan membuat lancar operasi mesin. Jauh lebih baik kita beristirahat dengan keinginan kita sendiri, daripada kita dipaksa beristirahat oleh sakit.

Mungkin orang bisa saja mengatakan, “Pekerjaan saya amat banyak. Saya tak punya waktu untuk istirahat.” Justru karena pekerjaan yang amat banyak itulah, kita perlu istirahat agar kualitas kinerja kita tetap dapat dipertahankan.

Abraham Lincoln pernah ditanya orang, “Apa yang akan Anda lakukan jika punya waktu delapan jam untuk menebang pohon?”

Abraham Lincoln menjawab, “Saya akan menggunakan empat jam pertamanya untuk mengasah gergaji.”

Istirahat adalah saat mengasah gergaji. Mungkin gergaji yang tumpul dapat tetap digunakan untuk menebang pohon, namun itu akan membuang lebih banyak waktu dan tenaga. Tubuh yang letih pun mungkin masih dapat dipaksa untuk bekerja, namun itu hanya akan memboroskan hidup kita.


Minggu, 18 April 2010

Lakukanlah Sekarang



Kritikus seni dari Inggris, John Ruskin, menyuruh salah seorang pembantunya agar membuatkan hiasan batu pualam dengan ukiran kata TODAY. Begitu batu pualam ukiran itu telah selesai dibuat, ia memajangnya di meja kerjanya. Setiap saat, setiap waktu, John Ruskin mengakui, dia merasa selalu diingatkan oleh batu ukiran itu, bahwa Today; Hari ini; saat sekarang; adalah saat dimana segalanya harus dimulai, dilakukan dan dikerjakan.

Kapankah saat yang paling tepat untuk memulai sesuatu? Hari ini. Kapan waktu yang paling baik untuk mulai mewujudkan impian? Hari ini. Kapan saat yang paling tepat untuk membangun bisnis? Hari ini. Kapan waktu yang paling baik untuk mengerjakan segala sesuatu yang harus dikerjakan? Hari ini.

Hari ini adalah satu-satunya waktu yang jelas masih kita miliki. Kemarin sudah menjadi sejarah. Besok masih belum jelas. Hari inilah yang masih kita punyai. Jadi, mengapa masih juga menanti?

Mungkin waktu terbaik untuk menanam sebatang pohon kelapa adalah 20 tahun yang lalu, sedangkan waktu terbaik kedua untuk melakukannya adalah… sekarang juga!

Sekarang adalah saat yang terbaik untuk melakukan segala sesuatu. Bila kita menunggu ‘waktu yang tepat’, kita akan terus menunggu. Semua keputusan besar dibuat tanpa informasi lengkap. Semuanya diputuskan tanpa menunggu ‘waktu yang tepat’. ‘Sekarang’ adalah semboyan bagi kebesaran, satu-satunya saat untuk berbuat. Sejarah tidak pernah merayakan orang yang selalu menunggu-nunggu datangnya ‘waktu yang tepat’.

Jarum jam kehidupan hanya berputar sekali, dan tidak seorang pun yang punya kekuatan untuk mengatakan kapan jarum jam kehidupan itu akan berhenti; pada saat dini, ataukah masih lama. Maka hari ini, lakukanlah yang perlu dilakukan, kejarlah dengan penuh hasrat. Jangan tunda sampai besok, karena besok mungkin tangan yang kita miliki sudah tak bisa digerakkan lagi.

Pengalaman orang-orang besar yang tertulis dalam buku biografi mereka mengajarkan bahwa jika kita menunggu saat yang sempurna ketika semuanya aman untuk melakukan sesuatu, maka pasti saat itu tidak akan pernah tiba. Gunung tidak akan didaki, perlombaan tidak pernah dimenangkan, dan kebahagiaan tidak pernah dicapai.

Jika kita ingin melakukan sesuatu yang benar dan berharga bagi hidup kita, lakukanlah sekarang juga, karena jika kita menunggu ‘waktu yang sempurna’, maka waktu yang sempurna itu hanya ada dalam angan-angan kita. Ingatlah selalu bahwa saat yang tepat adalah sekarang, tempat yang tepat adalah di sini, dan waktu yang tepat adalah hari ini.

‘Sekarang’ adalah kata ajaib untuk sukses. ‘Besok’, ‘Minggu depan’, ‘Nanti’, ‘Suatu waktu’, ‘Suatu hari’, semuanya hanyalah sinonim untuk kata kegagalan, yang berarti ‘Tidak pernah’. Karenanya, ‘Suatu hari nanti’ biasanya hanya berarti ‘Tidak pernah sama sekali’. Mungkin ini terkesan sinis, tetapi banyak mimpi yang bagus, banyak cita-cita yang luhur dan banyak obsesi yang mulia, yang tidak pernah terwujud karena kita mengatakan, “Saya akan memulainya suatu hari nanti,” ketika seharusnya mengatakan, “Saya akan memulainya sekarang juga.”

Anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar atau sekolah menengah biasanya akan mengatakan, “Nanti bila aku telah dewasa.” Lalu bila saat dewasa telah tiba dan ia mengetahui bahwa ternyata ada begitu banyak hal yang harus dikerjakan, dia pun menunda lagi dan mengatakan, “Nanti bila aku sudah menikah.” Tetapi setelah menikah ia menyadari bahwa waktunya jadi semakin sempit karena beban tanggung jawab yang lebih besar. Maka dia pun menunda sekali lagi, “Nanti bila aku sudah pensiun.” Dan ketika masa pensiun datang, ketika usianya telah beranjak tua dan kekuatan fisiknya sudah amat terbatas, dia pun baru akan menyadari bahwa ada sekian puluh tahun yang telah hilang dan terbuang dari hidupnya dan dia tak bisa mengambilnya kembali. Di saat-saat semacam itulah biasanya penyesalan baru mulai datang dan ia mulai sadar ketika mengangankan, “Kalau saja aku dulu telah melakukannya...”

Seorang teman baik saya terbaring di rumah sakit karena terserang kanker. Saat saya datang menjenguknya, dia berkata, “Mengejutkan! Setiap hari kita bisa menjalani hidup dengan biasa, sampai kemudian suatu kata kecil dari dokter—‘kanker’—langsung mengubah segala-galanya dengan drastis. Kemudian kita menyadari, seperti belum pernah sebelumnya kita menyadari, bahwa kehidupan ini serius, dan bahwa kematian hanya terpisah sedegup jantung saja dari kita. Mendadak banyak hal yang tadinya tampak sangat penting hanya sehari yang lalu menjadi tak begitu penting lagi…”

Hidup kita ini memiliki batas waktu. Kapan kita ingin memberikan yang terbaik untuk hidup kita yang singkat dan yang bisa selesai sewaktu-waktu ini? Apakah menunggu dokter mengatakan, “Anda hanya punya sisa waktu satu bulan lagi”?

Seratus lima puluh tahun yang lalu, John Greenleaf Whittier menulis kalimat yang mengusik pikiran berikut ini, “Untuk semua kata-kata sedih yang disampaikan oleh lidah dan pena, yang paling menyedihkan adalah ini, ‘Seharusnya itu telah terjadi’.”

Kau paham maksud kata-kata itu? Benar, itu adalah kata-kata yang menyedihkan yang menggambarkan bagaimana akhir dari orang yang biasa menunda-nunda segala sesuatu dalam hidupnya, hingga ketika waktu mengantarkannya pada saat yang telah terlambat, orang itu pun hanya bisa memandang jauh ke masa lalu dan menggumamkan kata-kata itu, “Seharusnya itu telah terjadi...”

Jika kau memiliki niat baik untuk hal-hal baik, lakukanlah sekarang juga. Jika kau memiliki suatu rencana dan tujuan yang kau pikir akan membantu hidupmu atau orang lain, lakukanlah sekarang juga. Jika kau punya impian untuk mengerjakan sesuatu yang besar, mulailah sekarang juga. Di waktu apapun, dalam usia berapapun, waktu sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk mulai mengerjakan sesuatu yang kau pikir layak untuk dikerjakan. Lakukanlah sekarang, daripada harus menyesal saat kelak kita menengok ke masa lalu dan menggumam lirih, “Seharusnya itu sudah terjadi...”

Pepatah Inggris menyatakan, “Don’t put off until tomorrow what you can do today.” Jangan tunda sampai besok apa-apa yang bisa kau kerjakan hari ini. Karena, sampai hari ini, belum ada yang memberikan jaminan pasti bahwa besok pagi kita masih ada di dunia ini…


Kamis, 15 April 2010

Melepas Jaket si Swalayan

Kehilangan kekayaan masih dapat dicari kembali,
kehilangan kepercayaan sulit didapatkan kembali.
Erich Watson


Saya memiliki seorang sohib bernama Very. Dia seorang pembaca buku yang luar biasa, sekaligus penulis yang sepertinya tak pernah kenal waktu berhenti. Tetapi bukan itu yang ingin saya kisahkan mengenai dirinya. Ada satu hal unik mengenai cowok satu ini, yang sepertinya layak untuk saya ceritakan di sini. Very tidak pernah sudi melepaskan jaketnya ketika memasuki swalayan, mall ataupun department store yang mengharuskan pengunjung melepas jaket di pintu masuk!

Suatu malam, beberapa tahun yang lalu, saya bersama Very memasuki sebuah toko buku terkenal yang ada di sebuah komplek swalayan besar. Dari rumah, kami memang telah berencana untuk membeli buku-buku baru. Karenanya, kami pun langsung menuju ke toko buku tersebut dan tak menghiraukan deretan toko lainnya di swalayan tersebut. Waktu itu saya mengenakan celana jins dan kemeja kasual, sementara Very mengenakan celana jins dengan jaket yang menutupi kaos dalamnya.

Di pintu masuk toko buku itu, seorang petugas menghentikan kami, dan dia meminta agar Very menitipkan jaketnya di tempat penitipan barang. Di luar dugaan, Very menolak. Pada mulanya dia menolak dengan kata-kata yang halus, dilengkapi alasan-alasan tertentu mengapa dia tak mau melepaskan jaketnya. Tetapi karena petugas itu tetap meminta agar Very melepaskan jaketnya, Very pun jadi berang. Dengan nada yang menantang, dia berkata pada si petugas, “Begini saja. Saya ingin tetap mengenakan jaket saya—apakah saya diizinkan masuk, atau tidak?”

Si petugas tetap menghadapi Very dengan ramah—karena pastinya ia dituntut begitu. Petugas itu menyatakan bahwa aturan melepas jaket sudah menjadi aturan umum, termasuk di toko buku itu, karenanya Very harus mematuhi peraturan tersebut jika memang ingin masuk ke situ.

Very memahami maksud petugas itu adalah ia tetap dilarang masuk jika tidak mau melepaskan jaketnya. Dengan suara yang diusahakan sedatar mungkin, Very berkata, “Saya ke sini dengan tujuan membeli buku di toko ini—dan tidak setitik pun ada niat untuk mencuri atau semacamnya. Saya berencana menghabiskan setidaknya tiga juta di toko ini. Tapi rupanya peraturan konyol di sini lebih suka memaksa saya pergi, daripada mendapatkan transaksi senilai tiga juta!”

Saya tahu benar karakter sohib saya satu ini—jadi saya diam saja dan membiarkan dia mengeluarkan amarahnya. Setelah berkata seperti itu, dan membuat si petugas kebingungan, Very menarik saya pergi dari pintu toko buku. “Aku tidak sudi memasuki toko yang tidak percaya pada pelanggannya!” serunya dengan nada muak.

Itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Nah, malam kemarin, hal semacam itu kembali terulang. Malam kemarin, saya bersama Very memasuki sebuah mall untuk membeli ponsel baru. Kami sama-sama menyukai ponsel itu, karena ada satu teknologi terbaru dalam ponsel tersebut yang sama-sama kami butuhkan. Waktu itu saya mengenakan celana jins dan kemeja kasual seperti biasa, sedang Very mengenakan celana jins dan jaket katun bertudung kepala.

Ketika akan memasuki komplek stand penjualan ponsel, seorang petugas menghentikan kami, dan meminta Very untuk melepaskan jaketnya. “Silakan titipkan jaket Anda di sana,” kata si petugas dengan ramah sambil menunjuk tempat penitipan barang.

Seperti yang sudah saya duga, Very menolak. “Jaket seperti ini harus dititipkan?!” katanya dengan nada tak percaya. Si petugas mencoba memberikan penjelasan sesopan mungkin bahwa itu peraturan di sana—tapi Very tak mau mendengar.

Akhirnya, setelah si petugas nyata-nyata tak bisa mengizinkan kami masuk jika Very tak mau melepaskan jaketnya, Very pun berkata dengan marah, “Kami ke sini untuk membeli ponsel di sana itu. Jika hanya untuk masuk ke sana saya harus melepaskan jaket, saya akan beli ponsel di tempat lain saja yang tak punya aturan konyol semacam ini!”

Kami pun pergi dari sana, dan stand penjual ponsel itu kehilangan transaksi bernilai jutaan rupiah hanya karena peraturan konyol yang mengharuskan pengunjung melepaskan jaketnya.

Oke, sampai di sini kita mungkin bertanya-tanya, apa salahnya sih melepaskan jaket? Sekadar melepas jaket saja dan menitipkannya—seberapa beratnya? Kalau kita memang bertanya-tanya seperti itu, sekarang saya akan menuliskan jawaban Very, dan mengapa dia sampai tidak sudi melepaskan jaketnya hanya demi mematuhi peraturan itu.

“Kalau kau memasuki sebuah toko atau komplek swalayan, dan kemudian kau diminta melepaskan jaketmu,” kata Very, “maka itu berarti secara tak langsung toko atau komplek swalayan itu tidak percaya kepadamu. Mereka memiliki sistem pengamanan yang canggih, mereka menempatkan satpam atau sekuriti dimana-mana, mereka memasang kamera pengintai di berbagai sudut—pendeknya mereka telah mengamankan kompleknya dari kemungkinan tindak pencurian. Karenanya, kalau kemudian kau masuk ke sana dan kau diminta melepaskan jaketmu, maka secara tidak langsung toko atau swalayan itu sedang berkata kepadamu, ‘Hei pal, aku tidak mempercayaimu di sini. Jadi kalau kau mau masuk ke sini, tolong lepaskan jaketmu—karena kami curiga kau akan mencuri atau melakukan kejahatan di sini!’”

Interpretasi tersebut mungkin terdengar berlebihan—tapi saya tidak punya alasan untuk menentang interpretasi itu. Alasan apa lagi yang dipakai oleh toko, mall atau swalayan yang memberlakukan aturan itu selain kecurigaan kepada pengunjungnya? Ketika mereka meminta pengunjung melepaskan jaketnya, mereka sesungguhnya sedang menyatakan tingkat kepercayaannya. Mereka tidak percaya kepadamu—itulah mengapa mereka memintamu untuk melepaskan jaketmu.

Seperti kata Very tadi, mereka telah memiliki lapis pengamanan yang sangat lengkap—dari satpam atau sekuriti, kamera pengintai, bahkan sampai tata letak penyusunan barang-barang yang dipajang yang kesemuanya mendukung tingkat pengamanan dan keamanannya. Karenanya, jika setelah menyiapkan semua itu mereka tetap juga meminta pengunjung untuk melepaskan jaketnya, itu sama saja menudingkan jari ke muka pengunjung dengan tatapan kecurigaan.

Pencegahan memang selalu lebih baik daripada pengobatan—mungkin itulah yang menjadi dasar aturan melepaskan jaket di swalayan, toko atau mall tertentu. Tetapi, para direksi atau komisaris dan pemilik tempat yang memberlakukan aturan itu sepertinya sudah perlu meninjau kembali kebijakannya dalam hal satu itu, karena bisa jadi ada jutaan transaksi yang pergi dan hilang hanya gara-gara peraturan yang dilandasi dengan kecurigaan semacam itu.

Jerawatmu itu, Revalina

Kecantikan adalah kebijaksanaan seorang wanita.
—Peribahasa Cina


Dear Revalina S. Temat,

Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja aku melihat foto-fotomu di sebuah web selebritas. Kau cantik seperti biasa, dan aku suka melihatmu. Di beberapa foto, aku sempat melihat ada noda kemerahan mirip jerawat di pipimu—dan sepertinya itu memang jerawat, ya? Atau noda alergi kulit? It’s okay, Revalina, kecantikanmu sama sekali tak ternoda oleh adanya jerawat itu.

Saat melihat foto-foto itu, dan saat melihat jerawat di pipimu, aku jadi seperti tersadarkan bahwa kecantikan perempuan sama sekali tak dipengaruhi apakah dia berjerawat atau tidak—karena perempuan sama sekali tak diukur dari jerawatnya atau dari sudut pandang yang sempit sekecil jerawat. Jerawatmu itu, Revalina, menyadarkanku bahwa perempuan tetaplah manusia normal biasa—yang secantik apa pun terkadang tetap berjerawat.

Aku telah mengenalmu sebelum melihat jerawat di pipimu, Revalina. Lewat film yang kaubintangi, atau lewat berita tentangmu yang kubaca di koran dan majalah. Aku menyukaimu—jujur kukatakan. Dan aku tetap menyukaimu meski kau memiliki jerawat kemerahan di pipimu. Aku tetap menghormatimu, karena aku tahu bahwa kemanusiaanmu tidak terletak pada kecantikanmu semata-mata, tidak tergantung pada apakah kau berjerawat atau tidak. Kau tetap Revalina S. Temat meski kau berjerawat.

Saat melihat foto-foto itu, dan melihatmu, dan jerawatmu, aku jadi teringat pada kawan-kawan perempuanku yang sepertinya akan mengalami eksekusi mati hanya karena sebuah jerawat yang muncul di kulit pipi. Ya, ya, seharusnya mereka melihat jerawatmu, Revalina—maksudku, melihat foto-fotomu.

Well, sepertinya aku tidak pernah memperhatikan apalagi memperhitungkan jerawat seseorang hanya untuk menjadi temannya, sahabatnya, atau bahkan kekasihnya. Saat berpapasan dengan seorang perempuan, aku pun sama sekali tidak sempat memperhatikan apakah wajahnya berjerawat atau tidak, apakah di pipinya terdapat noda alergi atau tidak. Kalau kemudian aku memperhatikan jerawatmu, Revalina, itu justru karena aku memiliki perhatian lebih untukmu. Dan penilaianku kepadamu sama sekali tidak turun hanya karena jerawat itu.

Dear Revalina S. Temat,

Saat aku menuliskan catatan ini, aku jadi teringat pada diriku sendiri yang terkadang panik hanya karena hal-hal kecil. Ketika melihat fotomu yang berjerawat itu, mau tak mau aku pun jadi tersenyum malu. Tidak jarang, aku begitu merisaukan apa kata orang atas penampilanku—padahal aku sama sekali bukan siapa-siapa. Setidaknya, aku bukanlah artis sepertimu. Kalau kau yang artis saja bisa tersenyum santai dengan jerawat itu, seharusnya aku pun begitu.

Ah, jerawatmu itu, Revalina. Jerawatmu itu telah memberikan banyak pelajaran penting bagiku tentang apa arti menjadi manusia. Tentang pentingnya untuk tidak merisaukan hal-hal tak penting. Tentang sikap santai dalam menghadapi sesuatu yang kecil. Tentang keberanian untuk tetap tersenyum dan bukannya merisaukan kenyataan remeh dan sepele. Ya, seperti jerawat, atau warna kulit, atau hal-hal lainnya yang fisikal. Sekarang, entah mengapa, aku jadi tahu bahwa jerawat dan ‘ketidaksempurnaan’ fisikal adalah hal kecil—bahkan untuk seorang artis terkenal sekalipun.

Kau tetaplah Revalina S. Temat meski berjerawat, sama seperti Whoopi Goldberg tetap artis hebat meski berkulit hitam, sama seperti Oprah Winfrey tetap presenter hebat meski tidak langsing. Sekarang aku menyadari bahwa kecantikan dan keindahan fisik mungkin memang penting—tetapi ada yang lebih penting dibanding hanya sekadar kecantikan dan keindahan fisik. Seseorang menjadi hebat atau tidak, sama sekali tak dipengaruhi apakah ia berjerawat atau tidak. Dan jerawatmu itu, Revalina, telah memberitahuku hal penting itu.

Terima kasih, Revalina. Terima kasih karena telah memiliki jerawat di pipimu.

Kumbang dan Pohon Besar



Bagaimanapun juga, kue donat selalu berlubang di tengahnya. Dan satu-satunya cara menikmati kue donat adalah dengan memakan kuenya, dan tidak menghiraukan lubang di tengahnya.

Ada perilaku yang ‘aneh’ dari manusia namun seringkali kita tidak menyadarinya, yakni kebiasaan merisaukan hal-hal kecil. Seorang kawan saya pernah bermuram durja selama seharian hanya karena dia berpapasan dengan seseorang yang dikenalnya, kemudian dia menyapanya, tapi orang yang ia sapa itu tidak membalas sapaannya. Hanya karena hal ‘kecil’ itu, kawan saya ini tak bisa tersenyum selama sehari penuh. Apakah ini masuk akal? Ataukah tak masuk akal? Ataukah mungkin kau juga pernah mengalaminya?

Memang, manusia seringkali kalah bukan ketika menghadapi petaka atau tragedi-tragedi besar, manusia justru seringkali kalah ketika berhadapan dengan hal-hal yang kecil dan sepele. Kita seringkali bisa tabah ketika orang terdekat kita meninggal dunia. Kita selalu mampu berbesar hati ketika menghadapi ujian hidup yang begitu besar seperti tertimpa kecelakaan atau bencana alam—banjir dan kebakaran. Tetapi ketika berhadapan dengan hal-hal kecil dan sepele, kita seringkali kalah dan hancur.

Ada orang yang sampai menangis berhari-hari hanya karena ucapan yang sedikit tidak enak yang diucapkan orang kepadanya. Ada pula yang sampai bersedih selama berminggu-minggu karena seseorang tidak memberi ucapan selamat pada hari ulang tahunnya. Sekali lagi, apakah ini masuk akal? Ataukah tidak masuk akal?

Kita selalu bisa menganggap sesuatu sebagai hal yang besar, dan kita menjadi hancur karenanya, namun kita juga selalu bisa menganggap sesuatu sebagai hal yang kecil dan kita bisa tegar menghadapinya. Tetapi, jika kita menginginkan kehidupan yang tenteram dan bahagia, sudah saatnya untuk menempatkan setiap masalah dan persoalan pada porsinya yang sepantasnya. Jangan besar-besarkan masalah kecil, dan lupakan saja persoalan-persoalan sepele jika itu hanya akan mengganggu ketenteraman hati kita.

Ada analogi yang bagus sekali untuk mengilustrasikan hal ini.

Di hutan Colorado Amerika, ada sebuah pohon yang mulai tumbuh ketika Columbus mendarat di sana. Selama empat ratus tahun, pohon itu terus bertumbuh dan hidup, menjadi sosok yang begitu besar, bahkan amat besar. Selama masa hidupnya yang panjang itu, pohon raksasa tersebut telah disambar petir belasan kali dan diserang badai serta salju longsor beribu-ribu kali. Hal itu terjadi selama empat abad, tetapi pohon itu tetap hidup dan berdiri dengan megah.

Akan tetapi akhirnya pohon raksasa itu roboh dan tumbang menggeletak rata dengan tanah setelah diserbu oleh serombongan kumbang, sosok makhluk yang badannya begitu kecil, apalagi jika dibandingkan dengan pohon raksasa tersebut. Serangga-serangga kecil itu melubangi batangnya sedikit demi sedikit sampai akhirnya pohon raksasa itu kehilangan kekuatannya. Pohon yang begitu perkasa, yang tidak mempan disambar petir, tidak goyah diserang badai, tidak lapuk dimakan usia, akhirnya roboh dan hancur hanya karena diserang kumbang-kumbang yang kecil.

Bukankah sebagian besar dari kita juga tak berbeda dengan pohon raksasa di tengah hutan itu? Kita begitu teguh ketika dihantam badai yang besar. Kita begitu tabah ketika ditinggal mati orang-orang terdekat. Kita masih kuat ketika harus berpisah dengan orang-orang yang kita cintai. Namun seringkali kita menjadi stres sampai berhari-hari hanya karena persoalan kecil dan sepele yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Mengapa kita harus kalah oleh kumbang-kumbang kecil...??? Hidup kita ini terlalu besar untuk dirobohkan oleh persoalan-persoalan kecil, remeh dan sepele...!


Jumat, 09 April 2010

Menulis: Dari Buku, Novel, sampai Blog (2)

Di posting sebelumnya, saya sudah menuliskan bahwa alasan saya menulis di blog adalah karena blog memberikan kebebasan yang nyaris tak terbatas untuk menulis apa pun, dengan cara apa pun, dengan gaya seperti apa pun.

Nah, alasan kedua yang membuat saya menulis di blog adalah karena blog mengajarkan saya tentang kedisiplinan—khususnya kedisiplinan dalam menulis. Melalui blog, saya dituntut untuk terus menulis, dan itu artinya saya pun dituntut untuk terus belajar agar dapat menyuguhkan tulisan yang lebih baik, lebih bagus, dan lebih berisi.

Blog itu seperti koran harian yang terbit setiap hari, dan dibaca setiap hari. Karenanya, saya pun dituntut untuk dapat menulis setiap hari, agar pembaca tidak kecewa saat mengunjungi blog ini. Bagi penulis seperti saya, blog adalah guru paling baik dalam hal disiplin.

Selain melatih kedisiplinan dalam menulis, blog juga mengajarkan kepada saya tentang perlunya rajin mencatat. Dulu, waktu belum memiliki blog, saya malas mencatat sesuatu, meski itu hal yang saya anggap penting. Setiap kali menemukan hal penting dan ingin mencatatnya, saya selalu saja berpikir, “Ah, buat apa? Toh nanti juga akan tertulis dalam buku saya?” Dengan blog, saya jadi rajin mencatat, karena sekarang saya punya alasan yang kuat dalam melakukannya—yakni untuk para pembaca blog saya.

Alasan ketiga mengapa saya menulis di blog, karena blog memberikan sarana yang cepat dalam mengkomunikasikan pemikiran saya kepada para pembaca, sekaligus mendapatkan respon yang sama cepatnya. Ketika menulis buku, saya harus menghabiskan banyak waktu terlebih dulu untuk mempelajari objek yang akan ditulis, saya harus meluangkan banyak pikiran untuk riset yang panjang, juga harus menyediakan banyak energi terlebih dulu untuk mengumpulkan bahan-bahan penulisan. Mengapa? Karena buku ditulis dan disuguhkan (diterbitkan) dalam bentuk yang utuh.

Penulisan buku membutuhkan waktu yang lama, proses yang panjang, untuk bisa sampai ke tangan pembaca. Secepat apa pun sebuah buku ditulis dan diterbitkan, jangka waktunya mencapai hitungan bulan. Proses menulisnya saja terkadang memakan waktu berbulan-bulan, belum lagi proses penerbitannya.

Dengan blog, saya bisa menulis dan menyampaikan pemikiran saya dengan cepat kepada para pembaca, karena blog selalu siap menerbitkannya. Prosesnya tidak lagi menggunakan hitungan bulan, melainkan detik. Saat ini selesai ditulis, saat ini pula bisa langsung diterbitkan. Distribusi tulisan melalui blog juga dapat menjangkau orang di wilayah mana pun—juga dalam hitungan detik. Pembaca saya di Kalimantan, misalnya, bisa langsung membaca tulisan saya yang terbit detik ini. Blog—dan internet—adalah keajaiban dalam penerbitan tulisan.

Melalui blog pula, saya dapat memperoleh respon yang cepat dari para pembaca. Seperti yang barusan saya katakan, blog dan internet adalah keajaiban dalam penerbitan tulisan. Detik ini saya memposting tulisan baru di blog melalui komputer di rumah, dan beberapa menit kemudian seorang pembaca di Sulawesi atau Sumatera bisa langsung mengirimkan email yang berisi respon atas tulisan yang baru saja dibacanya. Hal semacam ini tidak akan saya dapatkan dari penerbitan buku atau artikel yang dimuat di media massa. Blog telah mendekatkan saya dengan para pembaca saya.

Di atas semua alasan-alasan itu, blog telah mengajarkan saya tentang pentingnya arti berbagi. Melalui blog, saya memiliki sarana untuk berbagi dengan sesama saya. Bukan berbagi uang atau makanan, melainkan berbagi ilmu, pengetahuan dan pengalaman—sesuatu yang nilainya jauh lebih tinggi dari uang dan makanan. Jacques-Yves Cousteau, seorang penjelajah dan pembuat film, menyatakan, “Jika seseorang karena alasan apa pun berpeluang menjalani kehidupan yang luar biasa, ia tak berhak menyimpannya untuk diri sendiri.”

Mungkin saya tidak menjalani kehidupan yang luar biasa, mungkin pula saya hanya lelaki yang biasa-biasa saja. Tetapi, dengan adanya blog, saya dapat berbagi sesuatu yang “biasa-biasa saja” itu kepada sesama saya—dan bagi saya itu pengalaman luar biasa.

Melalui blog, tangan kita seperti bersentuhan melalui kata-kata, mata kita seperti saling bertatap melalui layar komputer—dan saya pun berharap, pikiran kita juga saling mengerti, hati kita saling memahami, meski dalam diam. Saya tidak mengenal setiap pembaca saya, sebagaimana saya pun tidak tahu sejauh apa jarak antara saya dengan kalian. Tetapi, melalui blog ini, saya merasa dekat dengan siapa pun yang tengah membaca kata-kata ini.

Terima kasih telah mengunjungi blog ini.

Menulis: Dari Buku, Novel, sampai Blog (1)

Ada cukup banyak email dari pembaca buku saya yang menanyakan mengapa saya juga menulis novel. Pada awalnya, saya memang tidak merencanakan untuk menulis novel, dan hanya ingin menulis buku-buku nonfiksi—khususnya buku-buku psikologi dan pembelajaran. Tetapi, seiring proses kreatif—dalam menulis—yang saya jalani, saya pun sampai pada keputusan untuk juga menulis novel.

Saya menulis novel, sesungguhnya, dengan tujuan untuk dapat mengeluarkan sesuatu yang tidak mungkin saya tuliskan dalam buku-buku nonfiksi. Melalui novel, saya seperti menemukan sarana yang hampir tak terbatas untuk mengeluarkan pikiran apa pun, menuliskan apa pun, bahkan seliar dan segila apa pun. Keleluasaan semacam itu tidak saya dapatkan ketika menulis buku-buku nonfiksi.

Ketika menulis buku nonfiksi, kreativitas saya terbatas—atau setidaknya dibatasi oleh kaidah-kaidah penulisan buku nonfiksi. Saya tidak bebas berkreasi atau berimprovisasi. Sebaliknya, ketika menulis novel, saya justru harus mampu menulis sekreatif mungkin, dan novel selalu mampu memberikan ruang untuk improvisasi seluas bahkan seliar apa pun. Penerbit buku mungkin akan berpikir-pikir untuk menerbitkan buku nonfiksi yang ‘aneh’—tetapi mereka pasti akan bersuka cita jika menerima naskah novel yang ditulis dengan cara yang lain dari yang lain.

Saya pernah punya ide—yang menurut saya ide brillian—dalam penulisan buku nonfiksi. Dalam ide saya waktu itu, saya ingin menulis sebuah buku psikologi yang ditulis dengan cara seperti novel; ada jalan cerita, ada tokoh, dialog, dan juga setting cerita. Saya membayangkan buku psikologi semacam itu akan menjadi buku yang unik sekaligus asyik dibaca dan dipelajari. Tetapi, ketika akan mulai menulisnya, saya terbentur pada pertanyaan besar—siapa yang akan mau menerbitkannya…???

Saya ragu akan ada penerbit yang cukup gila untuk menerbitkan buku yang didasari ide gila semacam itu—karena cara penulisan semacam itu pastinya akan dianggap kurang lazim dalam buku nonfiksi.

Melalui novel, saya bukan hanya leluasa mengeksplorasi kreativitas dan berimprovisasi, tetapi juga dapat menyatakan sesuatu yang tidak mungkin saya tuliskan dalam buku-buku nonfiksi. Melalui tokoh-tokoh yang saya ciptakan dalam novel, saya bisa berbicara apa saja, menyuarakan apa saja, bahkan menyemburkan caci-maki—dan pembaca novel akan memaklumi bahkan menikmatinya. Keleluasaan semacam itu tentu tidak akan saya dapatkan ketika menulis buku nonfiksi.

Yang lebih penting dari itu, melalui novel-lah saya dapat menuliskan tema-tema tertentu yang tidak mungkin saya tuliskan dalam buku nonfiksi. Jadi, alasan besar saya menulis novel adalah untuk mengeluarkan dan menyalurkan segala sesuatu dalam benak dan pikiran serta hati saya, yang tidak mungkin saya keluarkan melalui buku-buku nonfiksi. Menulis novel adalah sarana pelepasan ide yang tak tertampung dalam buku-buku nonfiksi.

Nah, kemudian soal blog. Apakah menulis novel dan buku nonfiksi belum juga cukup bagi saya hingga harus menulis di media lain, termasuk blog?

Sebenarnya, selain menulis novel dan buku nonfiksi, saya juga terkadang menulis artikel lepas di media massa. Tetapi ternyata semua itu masih belum cukup—hingga saya pun juga menulis di blog. Mengapa harus menulis di blog? Ada cukup banyak jawaban untuk pertanyaan itu.

Pertama, blog memberikan kebebasan yang nyaris tak terbatas kepada saya untuk menulis apa pun, dengan cara apa pun, dengan gaya apa pun. Di blog tidak ada editor, tidak ada dewan redaksi, tidak ada komisaris penerbitan. Blog adalah sarana penuh kemerdekaan dan kebebasan bagi para penulis untuk menyuarakan apa saja, untuk menulis apa saja, bahkan untuk meneriakkan apa saja. Melalui blog, saya bisa menulis sesuatu yang pasti akan diedit atau disensor jika mengirimkannya kepada penerbit atau media massa.

Sebagai penulis, dan juga sebagai pembelajar, pemikiran-pemikiran saya terkadang berbenturan dengan pihak penerbit buku atau redaksi media massa. Ketika hal semacam itu terjadi, maka blog adalah jalan keluar terbaik untuk menuliskan pemikiran itu. Di blog, saya memang tidak mendapatkan royalti atau menerima honorarium penulisan, tetapi di sini saya memiliki kemerdekaan dan kebebasan berpikir yang nilainya tak dapat diukur dengan uang.

Karenanya, maklumi sajalah kalau kau mendapati tulisan saya di blog ini terkesan ‘naik-turun’—kadang lembut dan menyentuh, tapi terkadang juga meledak-ledak dan emosional. Itu adalah bagian dari kesenangan saya menulis di blog.

Nah, alasan kedua….

Ehm, posting ini sepertinya sudah cukup panjang. Jadi saya akan lanjutkan catatan ini di posting berikutnya saja.

Lanjut ke sini.

Mawar Tidurku

Hei, kau, lembut napas yang pernah dekat denganku. Tadi malam kau hadir dalam tidurku, tersenyum di mimpiku, dan kita bercakap-cakap seperti dulu.

Kenapa datang malam tadi?

Perjalanan tahun demi tahun telah membawaku sedemikian jauh—meninggalkan apa pun yang berlalu, juga meninggalkan bayang-bayang kenanganmu. Kau mawar rahasiaku, keindahan yang kupendam dalam-dalam di lubuk hati terdalamku, kenapa kauingatkan lagi batinku kepadamu…?

Berapa lamakah tahun yang telah berlalu? Sepuluh? Atau lebih lama dari itu? Sekarang aku jadi ingat kembali tentang pesan yang kautitipkan pada seseorang untukku bertahun-tahun yang lalu. Tetapi pesan itu terlupakan—dan tak tersampaikan. Seseorang yang kautitipi pesan itu bahkan baru teringat kepadamu setelah… ya Tuhan, setelah aku tak mampu lagi menemukanmu, setelah titian kecil yang kita bangun telah runtuh diterjang waktu.

....
....

Hei, kau, binar putih yang pernah lekat di ingatanku. Tadi malam kau memelukku dalam mimpi, dan aku mendengar ucapan lembutmu seperti dulu.

Di manakah kau sekarang…? Bagaimana kabarmu, keadaanmu, hidupmu—hatimu? Aku ingin… oh Tuhan, tiba-tiba sekarang aku ingin kembali melihatmu, seperti dulu. Tiba-tiba aku ingin menjumpaimu, mendengarkan lagi suaramu, menikmati senyumanmu, seperti dulu, seperti yang pernah kauberikan kepadaku, seperti saat kau dan aku tak percaya waktu akan berlalu.

Aku tak tahu apakah jarakku denganmu saat ini dekat atau jauh. Aku bahkan tak tahu di manakah ‘dekat’ atau ‘jauh’ itu. Yang kutahu, kau begitu dekat denganku malam tadi, saat kita berbincang, bercanda, dan aku menikmati suara tawamu, binar matamu—seperti dulu. Masih ingat saat dulu kita duduk berdampingan, malu-malu, dan saling curi pandang? Ya, ya, seperti itulah… seperti itulah yang tetap terlekat di ingatanku saat aku terbangun dari tidurku—dan menyadari bahwa semuanya hanya ada di mimpiku.

....
....

Hei, kau, mawar jernih yang pernah menjadi hasratku. Tolong, tolong jangan datang lagi dalam mimpiku—atau datanglah bila itu keabadianmu.

Kerempeng itu Keren

Yang penting adalah bagaimana dirimu,
bukan bagaimana wujud penampilanmu.
—Valeria Mazza


“Kerempeng…? Mana keren…?!”
Slogan yang terdengar menyindir atau bahkan mencemooh dan merendahkan itu selalu tengar mengiringi iklan sebuah produk susu di televisi. Dan setiap kali melihat atau mendengar slogan yang aneh itu, jidat saya selalu berkerut.

Jika tujuan iklan itu adalah merayu dan mengharapkan agar pemirsa televisi mengkonsumsi produk susu itu, saya meragukan hasilnya akan efektif. Mengapa? Karena iklan itu bukan merayu, tetapi menyindir. Bukan membenarkan, tetapi justru merendahkan. Kalau mau menggunakan istilah psikologi, iklan itu bukannya mengelus ego calon konsumennya, tetapi justru melukai ego calon konsumennya!

Tidak ada orang yang mau tergerak hatinya jika egonya dilukai—tidak ada orang yang cukup idiot untuk memenuhi permintaanmu jika kau meminta dengan cara yang merendahkannya.

Tetapi hal semacam itulah yang dilakukan iklan susu itu. Iklan itu dibuat tentunya dengan tujuan agar orang—pemirsa televisi—mau mengkonsumsi susu itu. Tetapi iklan itu ditawarkan dengan cara yang menjengkelkan, melukai ego, serta merendahkan kalangan tertentu yang kebetulan bertubuh kurus atau kerempeng. Lebih parah lagi, iklan itu nyata-nyata mendefinisikan istilah “keren” dengan pandangan yang amat sangat naif.

Sekarang kita bertanya-tanya, seperti apa sebenarnya yang disebut “keren” itu…??? Siapa atau sosok seperti apa yang layak dan pantas dianggap “keren” itu…??? Apakah sosok bertubuh macho itu yang keren? Apakah orang bertubuh tinggi-besar itu yang keren? Jika ya, maka berarti semua orang yang tidak macho dan tidak tinggi-besar tidak bisa disebut keren. Tetapi, jika kenyataannya seperti itu, alangkah naifnya definisi keren itu!

Tanyakanlah pada artis Vira Yuniar, seperti apa sosok yang keren—dan Vira Yuniar akan menjawab bahwa cowok keren adalah cowok yang kerempeng. Pernyataan itu diungkapkannya kepada Majalah Film beberapa tahun yang lalu ketika dia ditanya ingin punya pacar seperti apa. “Aku suka cowok yang kurus-tinggi,” kata Vira Yuniar, “karena seperti itulah yang keren.”

Kalau penilaian Vira Yuniar dianggap terlalu personal, sekarang kita lihat Jimmy Ray. Siapa pun yang sudah merasa cukup gaul sejak sepuluh tahun yang lalu seharusnya mengenal Jimmy Ray.

Kurang-lebih satu dasawarsa yang lalu, cowok kerempeng itu mengguncangkan dunia ketika ia menyanyikan lagu-lagunya. Jutaan cewek menggilainya, dan dimana pun Jimmy Ray muncul, ada beribu-ribu cewek yang rela berdesakan penuh keringat hanya untuk melihatnya. Dan Jimmy Ray, yang bertubuh kurus-kering ini, disebut sebagai cowok yang “maha keren”—bahkan beberapa majalah menjulukinya sebagai “Cowok Paling Keren Sedunia”.

Kalau Jimmy Ray dianggap terlalu jauh, sekarang lihatlah penyair Chairil Anwar. Meskipun kita tidak dapat menyaksikan sosoknya hari ini, tetapi buku-buku sejarah dan buku-buku sastra telah menggambarkan seperti apa sosok penyair legendaris itu. Dia kurus-kering—kerempeng! Tetapi siapa yang berani menyatakan Chairil Anwar tidak keren…??? Orang gila mana yang cukup bodoh untuk menyebut Chairil Anwar, “Kerempeng…? Mana keren…?!”

Jadi, di manakah sebenarnya letak definisi keren itu? Sekarang kita tahu, bahwa letaknya ada dalam ruang lingkup subjektivitas—dan tidak ada satu pihak pun yang layak menghukum siapa pun sebagai “tidak keren”, tak peduli seperti apa pun orang itu.

Mungkin seseorang kurus-kering dan kerempeng, dan bagi produk susu itu sama sekali tak bisa disebut keren. Tetapi, bagi orangtuanya dan bagi pacarnya, dia belum tentu tidak keren—karena itu penilaian personal yang relatif. Yang tidak keren bagi produk susu itu, bisa jadi “amat-sangat-keren” bagi orang lain.

Karena istilah “keren” tak jauh beda dengan istilah “cantik” atau “tampan”, maka tentunya siapa pun dapat menyebut seseorang sebagai “keren”—tak peduli seperti apa pun orang yang dituju. Tetapi hal ini menjadi masalah ketika disuarakan dalam bentuk kata negatif (menggunakan kata “tidak”), apalagi jika dijadikan slogan bagi iklan suatu produk. Menyebut seseorang atau suatu golongan dengan istilah “tidak keren” sama halnya menyebut seseorang atau suatu golongan sebagai “tidak cantik” atau “tidak tampan”—dan sekali lagi, itu melukai ego mereka.

Mungkin ada perempuan-perempuan yang sadar diri mereka tidak cantik. Mungkin ada banyak lelaki yang menyadari kalau dirinya tidak tampan. TETAPI MEREKA SAMA SEKALI TIDAK INGIN ADA SATU ORANG PUN DI DUNIA INI YANG MENGATAKAN HAL ITU. Begitu pun, mungkin ada cukup banyak cowok yang kerempeng, dan mereka sadar diri mereka tidak keren, tetapi mereka sama sekali tidak ingin siapa pun merendahkan mereka hanya karena itu!

Karenanya, jidat saya selalu berkerut setiap kali mendengar ucapan bodoh itu muncul dalam iklan susu itu. Lebih parah lagi, kata-kata itu diucapkan dengan nada yang jelas-jelas mencemooh.

Jika saya memang kurus-kering dan kerempeng, dan jika saya memang ingin memiliki tubuh yang kekar, maka saya tidak akan mengkonsumsi sesuatu yang jelas-jelas merendahkan harkat dan martabat sesama saya hanya karena rupa fisik mereka. Karenanya pula, jika iklan itu merasa berhak untuk mengatakan bahwa kerempeng itu tidak keren, maka saya pun akan merasa berhak untuk berteriak kepada siapa pun, bahwa KEREMPENG ITU KEREN…!!!

Senin, 05 April 2010

Kalau Kau Cinta Zaskia Mecca

Saya masih harus banyak belajar, karena saya banyak kekurangan.
Zaskia Mecca


Zaskia Mecca mulai populer sejak membintangi suatu serial di televisi, dan kemudian membintangi sebuah film yang sepertinya memang pas dengan sosoknya—cantik, lembut, dan alim. Untuk mengokohkan image itu, Zaskia pun mengenakan jilbab dalam kesehariannya. Masyarakat pun mencintainya. Bagi para penggemar dan pemujanya, Zaskia Mecca laksana bidadari yang turun dari surga—respresentasi dari kesempurnaan seorang perempuan.

Tetapi image bidadari yang sempurna itu kemudian rusak—atau setidaknya terdistorsi—gara-gara munculnya foto-foto Zaskia yang sedang merokok. Masyarakat umum, khususnya para penggemar dan pemujanya, seperti tidak percaya kalau perempuan sempurna itu ternyata seorang perokok. Ketidakpercayaan itu kemudian berubah menjadi rasa tidak rela—semacam rasa kekecewaan karena kepercayaan mereka dilukai, suatu rasa patah hati karena sosok yang mereka sayangi ternyata tidak “semulia” yang mereka bayangkan.

Beberapa waktu lamanya, Zaskia menghilang ketika ribut-ribut soal foto-fotonya yang sedang merokok itu menjadi polemik di media massa. Ketika akhirnya muncul kembali ke hadapan publik, Zaskia pun dengan rendah hati menyatakan, “Saya khilaf. Saya bukan manusia yang sempurna. Mungkin ini kelemahan saya. Tapi saya bukan perokok.”

Terlepas apakah Zaskia Mecca seorang perokok atau bukan, seharusnya kita mampu menempatkan sosok Zaskia sesuai proporsinya yang adil. Zaskia Mecca bukan hanya seorang artis—dia juga seorang manusia biasa. Kalau mau lebih tepat lagi, Zaskia Mecca adalah manusia yang berprofesi sebagai artis.

Kalau kebetulan dia mendapat peran-peran sebagai wanita alim atau perempuan yang religius, itu hanyalah tuntutan peran dalam profesinya. Tetapi sebagai manusia, Zaskia tetaplah perempuan biasa, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kalau kita dapat mengagumi dan mencintai kelebihannya, mengapa kita tidak bisa menerima dan memaklumi kekurangannya…?

Profesi artis memang rawan dengan cinta palsu. Masyarakat sering kali tak bisa memilah secara bijak antara diri sebagai pribadi dan diri sebagai artis. Akibatnya, artis dituntut untuk menjadi manusia setengah dewa, atau manusia setengah bidadari. Ketika image itu berhasil terciptakan, cinta masyarakat pun menggebu kepadanya. Dan ketika image itu ternoda, masyarakat pun merasa terluka dan patah hati.

Kenyataan berlandaskan ‘cinta palsu’ itu pula yang kemudian dimanfaatkan oleh beberapa artis untuk menciptakan image-image tertentu yang mereka harap dapat mengundang simpati atau bahkan cinta masyarakat, hingga artis mantan bom sex pun dapat malih-rupa menjadi sosok seorang ustadzah.

Semuanya hanya image—kesan yang diciptakan untuk mendatangkan cinta palsu dan fanatisme manusia terhadap kesempurnaan pujaannya. Saya tidak bermaksud menyatakan bahwa Zaskia Mecca hanya bertujuan mengundang simpati masyarakat dengan penampilan jilbabnya. Yang saya maksudkan di sini adalah bahwa sudah saatnya kita dapat menempatkan penilaian kita secara adil dan proporsional—termasuk rasa kekaguman, simpati, atau bahkan cinta kepada sosok seorang artis.

Jika kita mencintai segala kelebihannya, marilah kita belajar untuk juga dapat menerima dan memaklumi kekurangan yang mungkin dimilikinya.

Saya bukan penggemar apalagi pemuja Zaskia Mecca. Tetapi, andaikata saya menjadi kekasihnya dan kemudian mengetahui dia seorang perokok, saya membayangkan akan berkata kepadanya, “Dulu, waktu pertama kali mengenalmu dan kemudian jatuh cinta kepadamu, aku tidak tahu kalau kau seorang perokok. Tetapi aku mencintaimu bukan karena kau perokok atau bukan perokok. Aku mencintaimu karena kau adalah kau.”

Jadi, ketika penggemar Zaskia kemudian merasa terluka dan kecewa gara-gara mengetahui ternyata Zaskia merokok, seharusnya mereka bertanya pada diri mereka sendiri, apa sesungguhnya yang mereka cintai dari sosok Zaskia Mecca? Apakah mereka mencintai diri Zaskia Mecca seutuhnya sebagai manusia, ataukah hanya mencintai image tokoh-tokoh film yang diperankannya…?

 
;