Minggu, 18 Juli 2010

Conversation with Self (4)



“Well… konduktor yang kau inginkan, pal.”

“Thanks, brother. Aku bisa mulai menikmati kopiku?”

“Sure.”




“Lumayan?”

“Kau meledekku, bro. Kau tahu, apapun yang dihasilkan oleh tanganmu selalu terasa istimewa. Begitu pula kopi ini.”

“Aku tersanjung. Kau tak keberatan kalau kita mengobrol sambil aku bersandar—seperti ini…?”

“Apapun. Nah, ayolah, aku sudah tak sabar mendengarmu bercerita lagi. Oh, sialan, kenapa kau tersenyum begitu?”

“Hahaha, kudengar kau tadi senang kalau melihatku tersenyum?”

“Yeah, tapi bukan senyum yang seperti itu! Dan… tolong katakan, kenapa kau tersenyum seperti itu? Kau tahu, aku jadi merasa seperti badut!”

“Tolong ambilkan rokokku.”




“Nah… kau mau menjelaskan, sekarang, kenapa kau jadi suka tersenyum seperti itu?”

“Ini masih berhubungan dengan topik pembicaraan kita, pal. You know, aku tak bisa membayangkan apa jadinya aku tanpa kau. Hanya denganmu aku bisa membicarakan semua ini, hanya kau yang pernah mendengarku membahas semua ini. Ini… semua ini pastilah akan membuatku gila jika memendamnya sendirian, dan aku bersyukur karena kau ada di sini, mendengarku…”

“Oh, my brother, kau tahu aku selalu ada untukmu, kan?”

“Dan aku sangat berterima kasih.”

“Kau membuatku terharu.”

“Oh yeah, begitu pula aku. Kau tahu, Napoleon Hill juga melakukan apa yang sekarang kita lakukan.”

“Really…?”

“Ya, dia menceritakannya dalam salah satu bukunya.”

“Siapa yang dia panggil?”

“Abraham Lincoln, Theodore Roosevelt, Mahatma Ghandi, Franklin Delano Roosevelt…”

“Oh, bro, kau bercanda, kan?”

“Tidak, dia benar-benar melakukannya—dan aku percaya.”

“Apa… apa yang terjadi kemudian…?”

“Hill tidak menceritakannya secara detail. Dia hanya menceritakan fakta itu. Yang jelas, dia kemudian ketakutan sendiri dan menghentikan prosesi itu.”

“Aku bisa membayangkannya. Aku tak akan menyalahkannya kalau dia ketakutan. Nah, kenapa kau tidak ketakutan melihatku sekarang…?”

“Jangan bercanda, pal. Aku justru akan ketakutan jika tak bisa lagi melihatmu, bertemu denganmu…”

“Bro, ada satu hal yang sepertinya perlu kita luruskan. Atau setidaknya yang perlu aku tahu. Kenapa kau perlu—atau merasa perlu—berbicara denganku?”

“Kau keberatan?”

“No, no, bukan itu maksudku. Hanya saja, buatlah aku nyaman. You know, aku telah menemanimu sejak lama, kapan pun, tentunya aku layak untuk tahu alasannya, kan?”

“Seharusnya kau tahu sejak awal—dan alasan itu sudah berkali-kali kukatakan. Aku tak bisa membicarakan apa yang kita bicarakan dengan orang lain. Itulah kenapa aku perlu kau, karena kupikir aku hanya bisa membicarakannya denganmu. Ini semacam transisi antara kewarasan dan kegilaan, dan kehadiranmu adalah upayaku untuk mencegah kegilaan masuk ke dalam kewarasanku.”

“Kenapa aku?”

“Karena tidak ada yang lebih tepat yang mampu memahami diriku sendiri selain aku. Itulah kenapa kau.”

“Jadi, siapakah aku?”

“Jawabannya ada dalam pertanyaanmu.”


 
;