Rabu, 21 Juli 2010

“Penyakit Aneh” para Kutu Buku (1)

Buku adalah harta karun yang ditinggalkan oleh para jenius besar
bagi umat manusia, yang diwariskan dari generasi ke generasi,
sebagai hadiah bagi mereka yang belum terlahirkan.
Joseph Addison


Para kutu buku memiliki “penyakit aneh”, atau semacam “gangguan mental” yang sulit disembuhkan. Saya tidak tahu apakah penyakit aneh ini memang menghinggapi semua kutu buku, ataukah hanya sebagiannya. Namun, sejauh yang saya tahu, para kutu buku yang saya kenal memang mengidap penyakit aneh atau gangguan mental satu ini.

Penyakit aneh atau gangguan mental yang saya maksudkan adalah semacam perasaan cinta yang amat kuat, hingga sampai pada tahap obsesif yang tak dapat dipahami akal sehat. Kalau ada kutu buku yang kebetulan membaca catatan ini, saya jamin dia pasti senyum-senyum. Namun, kalau kau kebetulan bukan kutu buku, maka saya ucapkan, “Selamat datang di dunia para kutu”.

Salah satu kutu buku hebat yang terkenal di negeri ini adalah Mohamad Hatta, wakil presiden pertama Indonesia. Siapa pun tahu, Bung Hatta adalah pelahap buku yang amat rakus. Kemana pun dia pergi ke sebuah negara, tempat pertama yang akan dicari dan dikunjunginya adalah toko buku. “Buku adalah temanku,” kata Bung Hatta, “selama aku memiliki buku, aku dapat tinggal di mana saja.”

Sebegitu cintanya Bung Hatta pada buku, sampai-sampai ada sebuah anekdot yang sering digunakan oleh Soekarno untuk mengolok-olok Bung Hatta. Tidak ada yang tahu apakah anekdot ini fakta atau hanya karangan Bung Karno sendiri, tetapi yang jelas presiden pertama Indonesia itu sering mengolok-olok wakilnya dengan kisah berikut ini.

“Suatu sore,” begitu cerita Bung Karno, “Hatta berada di sebuah angkutan umum dalam suatu perjalanan. Hanya ada dua penumpang—Hatta dan seorang gadis cantik yang tak dikenalnya. Di suatu tempat yang sepi, ban kendaraan pecah. Si sopir melepas ban yang pecah itu, kemudian pergi untuk menambalnya ke tempat terdekat. Hatta dan si gadis cantik tetap menunggu di dalam kendaraan. Dua jam kemudian, si sopir kembali—dan dia mendapati si gadis cantik tertidur lelap dalam jarak yang begitu jauh dari Hatta yang sedang asyik membaca buku!”

Tidak pernah jelas apakah kisah di atas itu memang benar-benar terjadi, ataukah hanya rekaan Bung Karno untuk mengolok-olok sahabatnya. Hanya saja, ada satu kisah yang benar-benar nyata, yang juga menunjukkan bagaimana kecintaan Bung Hatta yang luar biasa terhadap buku. Kisah ini terdapat dalam buku Bung Hatta: Pribadinya dalam Kenangan (1980).

Hari itu, salah satu keponakan Bung Hatta datang ke rumahnya. Si keponakan ini bernama Hasyim Ning. Di rumah Bung Hatta, Ning meminjam salah satu untuk dibacanya. Bung Hatta mengizinkan, dan Ning pun membaca buku itu dengan asyik.

Ketika kemudian buku tersebut dikembalikan, Bung Hatta melihat salah satu halaman buku itu ada yang terlipat. “Kau yang melipat halaman buku ini?” tanya Bung Hatta pada si keponakan.

“Iya,” jawab Ning. “Tadi, itu sengaja saya lipat untuk menandai halaman yang saya baca.”

Bagi “orang biasa”, mungkin jawaban Hasyim Ning di atas akan diterima dengan biasa, dengan lapang dada. Melipat halaman buku yang sedang dibaca adalah suatu hal yang amat wajar. Tetapi tidak bagi seorang kutu buku sejati seperti Bung Hatta. Begitu mendengar jawaban itu, Bung Hatta benar-benar marah. Dia bahkan meminta keponakannya untuk mengganti buku itu, karena Ning telah “memperlakukan buku itu dengan cara yang tidak semestinya”.

Melihat kemarahan Bung Hatta, Ning pun tak berani menolak. Ia segera pergi mencari buku yang dapat digunakannya untuk mengganti buku milik pamannya. Seharian penuh Ning berkeliling Jakarta, keluar masuk toko-toko buku hanya untuk mencari buku yang sama seperti milik pamannya yang telah ia “rusak”, tetapi tak satu pun toko buku yang menyediakannya. Yang tidak Ning tahu, buku yang dicari-carinya itu memang tidak tersedia di Indonesia, karena Bung Hatta membelinya di Belanda.

Sore hari, dengan tubuh letih setelah kepanasan dan pergi kesana-kemari, Ning kembali ke rumah pamannya dengan tangan hampa. Buku yang dicarinya tidak dapat ditemukannya, dan ia pun sudah bersiap menerima kemarahan pamannya.

Tetapi Bung Hatta hanya tersenyum. Baginya, keponakannya telah mendapatkan hukuman atas kesalahannya. Ketika Ning akhirnya kembali dan tak berhasil menemukan buku pengganti, Bung Hatta berkata, “Perlakukanlah bukumu sebagaimana kau memperlakukan benda-benda sakral.”

Apakah orang yang mengidap “penyakit aneh” semacam itu hanya Bung Hatta? Tidak, karena ternyata para kutu buku lainnya pun mengidap penyakit yang sama—baik di zaman dulu, ataupun di zaman sekarang.

Muhidin M. Dahlan, salah satu pendiri penerbit Indonesia Buku, memiliki semacam “penyakit aneh” atau “gangguan mental” karena kecintaannya yang amat besar kepada buku. Di rumahnya, dia mengoleksi banyak buku. Dia lebih suka buku-buku tebal, yang dapat berdiri kukuh karena disangga hardcover. Nah, kalau sedang iseng, dia suka menumpuk buku-bukunya yang tebal itu hingga berdiri menjulang, kemudian dipandanginya sendiri dengan takjub.

Bila merasa kurang cukup dengan memandanginya saja, dia pun akan memotret tumpukan buku-buku itu dari berbagai sudut. Setelah itu dia akan memandangi tumpukan buku-buku itu kembali, sambil berdecak-decak sendiri seperti orang gila.

Selain Muhidin M. Dahlan, masih banyak orang lain yang juga mengidap “penyakit aneh” serupa, karena kecintaan mereka yang luar biasa terhadap buku. Hanya saja, karena post ini sepertinya sudah cukup panjang, sebaiknya saya lanjutkan di post berikutnya.

Lanjut ke sini.

 
;