Kamis, 12 Agustus 2010

Mengapa Titi Kamal Tidak Menikah dengan Saya

Kebahagiaan berakar dalam batin,
dan ia tumbuh di atas ketenteraman jiwa.
Kurt Kauffman


Apakah hidup ini adil? Menurut saya, hidup ini memang adil. Semakin memikirkan dan merenungkannya, saya semakin yakin hidup ini memang adil.

Lalu apa buktinya kalau hidup ini adil?

Barangkali saya subjektif, dan catatan ini pun mungkin akan terkesan sangat personal. Tetapi, keyakinan seseorang atas apakah hidup ini adil atau tidak, memang selalu dilandasi pada pemikirannya yang personal—bahwa penilaian seseorang atas adil atau tidaknya hidup ini pun tak pernah dapat disebut objektif.

Jadi, maafkan kalau alasan saya menyebut hidup ini adil juga terkesan subjektif dan personal. Namun, sesubjektif dan sepersonal apa pun, setiap orang punya hak untuk menilai dunia dan hidupnya sendiri sebagai adil atau tidak—dan berikut ini alasan mengapa saya menganggap hidup ini adil.

Saya punya beberapa alasan untuk meyakini hidup ini adil, dan salah satu alasannya adalah ini: Titi Kamal tidak menikah dengan saya!

Tidak, ini tidak bercanda. Ini benar-benar serius, dan Titi Kamal yang saya maksud di sini memang Titi Kamal yang artis terkenal itu.

Jadi, mengapa saya harus menganggap hidup ini adil karena Titi Kamal tidak menikah dengan saya? Berikut ini jawabannya. Namun, seperti yang telah saya katakan di atas, ini adalah jawaban personal.

Well, saya sangat mencintai belajar, dan sangat menikmati proses pembelajaran. Saya menganggap buku sebagai pasangan terbaik di dunia, dan belajar adalah aktivitas paling menyenangkan di muka bumi—setidaknya sampai saat ini. Di samping itu, saya juga jatuh cinta pada Titi Kamal. Benar, saya jatuh cinta pada Titi Kamal. Dan inilah awal mula persoalannya…

Karena sangat jatuh cinta kepadanya, saya sampai selalu membeli koran, tabloid, atau majalah apa pun yang kebetulan memuat Titi Kamal, entah sebagai sampulnya ataupun sekadar memberitakannya. Saya juga menonton hampir semua film yang diperankan Titi Kamal—bukan untuk menikmati filmnya, tetapi lebih pada menikmati pesonanya.

Lebih dari itu, setiap kali saya terhubung dengan internet, saya selalu saja tergoda untuk mencari informasi terbaru mengenai perempuan itu, dan aktivitas searching Titi Kamal di internet biasanya sampai menghabiskan waktu yang tak sedikit. Ini hanyalah sebagian kecil dari ‘kesibukan’ lain yang saya lakukan gara-gara kecintaan saya kepadanya. Pendeknya, saya tergila-gila kepadanya.

Sekarang kita lihat, betapa beratnya ‘beban’ yang harus saya tanggung gara-gara saya jatuh cinta kepada Titi Kamal. Padahal, Titi Kamal sama sekali tidak mengenal saya! Saya hanyalah satu di antara sekian juta laki-laki lain yang mungkin sama-sama tergila-gila kepadanya, yang juga sama-sama tidak dikenalinya. Tetapi, bahkan sebegitu pun, perasaan jatuh cinta kepadanya telah melahirkan beban yang cukup berat—khususnya bagi saya. Hingga ketika akhirnya Titi Kamal tidak menikah dengan saya, dan memilih Christian Sugiono untuk menjadi suaminya, maka saya pun sampai pada kesimpulan bahwa hidup ini memang adil.

Bagaimana hidup ini tidak adil? Coba bayangkan kalau umpama, entah bagaimana caranya, Titi Kamal menikah dengan saya! Bayangkan apa yang sekiranya akan terjadi kalau saya menjadi suami Titi Kamal, dan menghabiskan hidup bersamanya.

Saya membayangkan, saya pasti tidak akan sempat melakukan hal lain apa pun dalam hidup ini kalau kenyataan semacam itu benar-benar terjadi. Dari bangun tidur sampai tidur kembali, bahkan ketika tidur sekali pun, saya pasti akan sibuk sekali mengekspresikan cinta kepadanya, menyatakan ketakjuban atas pesona-pesonanya, dan saya pasti tak lagi memiliki waktu sedetik pun untuk melakukan hal lainnya. Jangankan sudah hidup bersama sebagai suami-istri, bahkan sekadar menjadi pengagumnya saja saya sudah repot terpusat kepadanya.

Saya tidak bisa lagi membayangkan apa yang akan terjadi kalau saya menikah dengan Titi Kamal, atau Titi Kamal menikah dengan saya. Kalau kenyataan semacam itu benar-benar terjadi, saya pasti tak sempat lagi membaca buku, tak punya waktu lagi untuk belajar, tak punya waktu lagi untuk menulis, tak punya waktu lagi untuk merenung.

Jika saya menikah dengan Titi Kamal, maka seluruh hidup saya akan terpusat kepadanya, semua pikiran saya akan tercurah kepadanya, semua perasaan cinta saya akan mengalir kepadanya, seluruh diri dan hidup saya akan tergenggam di telapak tangannya, karena saya telah sangat jatuh cinta kepadanya.

Tidak, saya tidak ingin kenyataan semacam itu terjadi—dan saya benar-benar bersyukur karena kenyataan itu tidak terjadi. Secinta dan setergila-gila apa pun kepada Titi Kamal, saya tetap mensyukuri kenyataan bahwa saya tidak menikah dengannya. 

Jadi, ketika akhirnya Titi Kamal menikah dengan Christian Sugiono, saya pun sampai pada kesimpulan bahwa hidup ini memang adil, meskipun saya harus berterus-terang bahwa berita perkawinan mereka membuat saya patah hati karenanya.

Ya, ya, menganggap hidup telah berlaku adil tidak selamanya membuat kita secara otomatis berbahagia. Ada kalanya keadilan hidup ditunjukkan dengan perasaan patah hati, dan rasa terluka.

 
;