Senin, 25 April 2011

Ternyata Nenek Saya Orang Hebat

Pengetahuan adalah mata bagi hasrat dan pemandu bagi jiwa.
Will Durant

Hal yang paling menyedihkan dari kehidupan sekarang
adalah bahwa sains mengumpulkan pengetahuan lebih cepat
daripada masyarakat mengumpulkan kearifan.
Isaac Asimov


Pada waktu saya berumur 7 tahun, dan nenek saya masih hidup, saya pernah mendapati nenek menasihati ibu saya menyangkut sayur bayam. Jadi, ceritanya, waktu itu ibu saya memasak sayur bayam, dan berencana menghangatkan sayur bayam itu pada malam harinya untuk makan malam. Tentu saja tujuannya agar sayur itu hangat kembali saat dinikmati.

Nah, entah bagaimana ceritanya (saya sudah agak lupa), nenek mengetahui rencana itu, dan kemudian menasihati ibu saya, agar tidak memanaskan atau menghangatkan sayur bayam tersebut. “Dimakan saja dalam keadaan dingin,” ujar nenek waktu itu.

Ketika ibu saya bertanya “kenapa?”, nenek kemudian menjelaskan bahwa menghangatkan kembali sayur bayam itu merupakan sesuatu yang tidak elok atau tidak baik. “Ora ilok,” kata nenek saya yang orang Jawa.

Nenek saya bukan dokter, bukan ilmuwan, bahkan tidak pernah sekolah. Jadi dia mungkin kesulitan untuk dapat menjelaskan sesuatu secara meyakinkan. Bagi nenek, ‘ora ilok’ itu sudah sangat meyakinkan.

Tentu saja penjelasan itu sama sekali tidak akademis, juga terdengar tidak ilmiah. Tetapi untungnya ibu saya menerima penjelasan itu, dan tidak jadi menghangatkan sayur bayam tadi. Jadi, waktu itu kami pun menikmati makan malam dengan sayur bayam yang dingin.

Ketika itu saya masih berusia 7 tahun, dan saya tidak peduli apakah sayur bayam itu hangat, panas, atau dingin—karena saya belum kenal istilah ‘selera makan’. Saya juga tidak peduli apa alasan nenek sehingga melarang ibu saya menghangatkan sayur bayam itu.

Tetapi… empat belas tahun kemudian, ketika saya telah berusia 21 tahun, dan nenek saya telah lama meninggal dunia, saya membaca sebuah buku kesehatan yang ditulis Louis L. Hay, yang menyebutkan bahwa sayuran semacam bayam atau kol mengandung suatu zat yang disebut nitrat. Ketika dipanaskan, zat bernama nitrat itu akan berubah menjadi nitrit—dan zat ini dipercaya sebagai salah satu pencetus kanker.

Jadi, ketika bayam atau kol dibuat sayuran, dan di dalam proses tersebut tentu saja dipanaskan di atas kompor, maka zat nitrat di dalam bayam atau kol itu akan berubah menjadi nitrit—namun dalam kadar yang tidak berbahaya.

Tetapi, jika sayuran tersebut dipanaskan kembali (misalnya dihangatkan seperti yang akan dilakukan ibu saya di atas), maka jumlah zat nitrit tersebut akan semakin banyak, dan mulai membahayakan ketika dikonsumsi. Aturannya, menurut Louis L. Hay, semakin sering bayam dipanaskan, zat nitrit akan semakin terbentuk, dan kadarnya akan semakin berbahaya.

Ketika mendapati fakta itu, saya takjub, dan tiba-tiba saya teringat pada almarhumah nenek saya. Tentu saja penjelasan Louis L. Hay dalam buku itu sangat ilmiah dan akademis, berdasarkan perspektif medis tingkat tinggi, karena dia memang seorang ilmuwan. Tetapi inti penjelasannya sama saja dengan penjelasan nenek saya yang menyatakan bahwa menghangatkan sayur bayam itu ‘ora ilok’.

Louis L. Hay adalah ilmuwan wanita yang buku-buku karyanya dibaca jutaan wanita cerdas di seluruh dunia. Tetapi saya yakin nenek saya tidak pernah membaca bukunya, karena waktu itu bahkan mungkin Louis L. Hay masih ABG, dan belum menulis buku hebat seperti sekarang. Lalu dari mana nenek saya tahu akibat buruk dari sayur bayam yang dihangatkan…?

Sambil menulis catatan ini, saya membayangkan, kalau saja hari ini nenek saya masih hidup, dan saya bisa bertanya kepadanya, “Nek, dari mana Nenek tahu hal itu ora ilok?”

Maka saya membayangkan, nenek saya akan menjawab bahwa pengetahuan itu ia dapatkan dari ibunya. Kemudian, kalau ibu nenek saya masih hidup, dan saya bertanya hal yang sama kepadanya, saya pun membayangkan ia akan menjawab bahwa pengetahuan itu ia dapatkan dari ibunya lagi—dan begitu seterusnya.

Ada warisan pengetahuan yang diturunkan secara turun temurun, seperti tongkat estafet dari satu tangan ke tangan lain—hingga kemudian didengar oleh generasi kita. Seperti yang saya dengar dari nenek saya, pengetahuan tentang ‘ora ilok’ yang kedengarannya remeh dan sepele serta tidak akademis dan tidak ilmiah itu, juga merupakan pengetahuan yang telah diwariskan secara turun temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Hanya pengetahuan tentang ‘ora ilok’ saja, ada perjalanan panjang waktu yang telah ditempuh. Dan jika ini ditelusuri hingga ke masa lampau, saya membayangkan bahwa ratusan tahun yang lalu, ada seorang manusia yang ditemukan tewas karena seringnya mengkonsumsi sayur bayam yang dihangatkan. Mungkin waktu itu dunia kedokteran belum mengetahui zat nitrat di dalam sayur bayam, tapi fakta bahwa ada orang tewas karena hal itu telah menjadikan sayur bayam yang dihangatkan sebagai hal yang ‘ora ilok’.

Hanya percaya bahwa menghangatkan sayur bayam ‘ora ilok’ saja, ada ribuan orang yang selamat. Padahal mereka sama sekali tidak tahu secara pasti apa yang menyebabkan orang tewas karena sering mengkonsumsi sayur bayam yang dihangatkan. Mereka hanya percaya bahwa itu ‘ora ilok’, dan mereka tidak menuntut jawaban yang ilmiah atau penjelasan yang terdengar akademis. Hanya karena mereka percaya, mereka selamat.

Nah, kalau umpama sekarang saya menemui Louis L. Hay, dan bertanya kepadanya, “Miss Louis, bisakah Anda menjelaskan konstruksi teori Anda mengenai zat nitrat dalam bayam, sehingga Anda menyarankan agar orang tidak menghangatkan sayur bayam?”

Maka saya membayangkan, Louis L. Hay akan memaparkan penjelasan ‘tingkat tinggi’ yang terdengar sangat ilmiah dan akademis, tentang hipotesis dan penelitian-penelitian yang dilakukan para dokter pendahulunya, yang sekian puluh tahun lalu menemukan kasus orang tewas karena terserang kanker, dan kemudian berdasarkan penelitian medis yang panjang dan melelahkan, diketahui bahwa kanker itu ditimbulkan suatu zat bernama nitrit, yang merupakan mutasi zat bernama nitrat, yang terdapat dalam bayam, dan hal itu terjadi karena bayam tersebut dijadikan sayur yang sering dikonsumsi orang itu dengan cara dihangatkan… dan bla-bla-bla…

Intinya sama.

Penjelasan Louis L. Hay yang sangat rumit, dan penjelasan nenek saya yang cuma ‘ora ilok’ memiliki esensi yang sama. Louis L. Hay—dan para ilmuwan lain—mendapatkan fakta itu sebagai pengetahuan empiris yang didasarkan pada penelitian ilmiah, sedangkan nenek saya—dan para nenek lain—mendapatkan fakta itu sebagai keyakinan positif yang didasarkan kepercayaan pada para pendahulunya.

Nenek saya bukan dokter, bukan ilmuwan, bukan pakar kesehatan, sama seperti jutaan nenek sederhana lain di dunia ini. Tetapi, hari ini, tiba-tiba saya menyadari bahwa nenek saya tidak kalah hebat dibanding wanita hebat semacam Louis L. Hay yang sangat saya kagumi dan hormati.

Nah, omong-omong soal nenek, tadi sore saya juga mendapatkan pengalaman penting tentang seorang nenek.

Ceritanya, bocah lelaki tetangga saya menjemur pakaian di loteng rumahnya yang tidak beratap. Menjelang maghrib, nenek si bocah lelaki mendapati pakaian itu masih terdapat di tambang jemuran, dan dia panik bukan kepalang. Karena sudah tua, si nenek tidak bisa naik ke loteng yang tinggi itu untuk mengambil jemuran. Jadi dia pun berteriak memanggil-manggil cucunya (si bocah lelaki) agar segera mengambil semua jemurannya.

Si bocah lelaki menemui neneknya, dan menjawab dengan ogah-ogahan, “Lhah, Nek, apa salahnya sih kalau jemuran nggak diambil?”

Dan si nenek menjawab dengan jawaban khas nenek sederhana lain—sama seperti jawaban almarhumah nenek saya dulu, “Itu ora ilok…!”

Si bocah lelaki tertawa—menertawakan neneknya. Sementara si nenek terlihat semakin panik. Nah, kebetulan waktu itu saya sedang duduk di teras rumah. Jadi, saya pun berkata pada si bocah lelaki, “Hei, pal, percaya deh sama nenekmu! Ambil tuh, jemurannya!”

Saya percaya, nenek tetangga saya itu sama hebatnya dengan almarhumah nenek saya.

Hari ini, saya belum tahu ‘mengapa’ jemuran pakaian harus segera diambil bila hari telah sore. Tetapi, saya percaya bahwa itu ‘ora ilok’, dan saya selalu berusaha, bagaimana pun caranya, untuk selalu mengambil pakaian saya dari jemuran ketika senja telah tiba. Mungkin… bertahun-tahun mendatang saya baru tahu jawabannya.

Mengapa Cewek Cantik Pacaran dengan Cowok Jelek

Hei, guys, coba tebak jawaban pertanyaan-pertanyaan ini. Mengapa kita bisa jatuh cinta? Mengapa kita merasa senang ketika berdekatan dengan orang yang kita cintai? Mengapa fisik cewek memiliki daya tarik bagi cowok? Mengapa cinta pertama sulit dilupakan?

Oke, mungkin pertanyaan-pertanyaan di atas dapat dijawab dengan mudah, “Yeah, itu kan sudah dari sononya!”

Tetapi, kalau memang “sudah dari sononya”, mengapa itu bisa terjadi? Tentunya ada penjelasan yang rasional di baliknya, kan? Dan coba lihat pertanyaan-pertanyaan lain berikut ini.

~ Mengapa cewek memejamkan mata ketika berciuman?
~ Mengapa cowokmu suka curi-curi pandang ke arah cewek lain?
~ Mengapa cewek lebih cerewet dibanding cowok?
~ Mengapa cowok brengsek mudah mendapatkan pacar?
~ Mengapa cewek cantik pacaran dengan cowok jelek?
~ Mengapa cowok cenderung berselingkuh?
~ Mengapa cewek jarang ketahuan kalau sedang ngelaba?
~ Mengapa kepala kita miring ke kanan saat berciuman?
~ Mengapa hubungan yang terlalu dekat justru rentan bubaran?
~ Mengapa bokapmu merid sama nyokapmu?
~ Mengapa ada orang yang meyakini kekuatan pelet?
~ Mengapa ada ungkapan terkenal “cinta itu buta”?
~ Mengapa ada orang yang sulit jatuh cinta?
~ Mengapa ada orang yang bunuh diri karena cinta?
~ Mengapa cinta sejati sulit dicari?

Naah, jadi penasaran, kan...? Pertanyaan-pertanyaan itu, juga setumpuk pertanyaan lainnya, dikupas dan dibahas dalam buku ini. Asyiknya, masing-masing pertanyaan “sinting” itu dijawab serta dijelaskan dengan rasional, ilmiah, sekaligus asyik!



Karya nonfiksi Hoeda Manis yang paling kreatif. Cerdas, lucu, nakal, gila! A must read!
—Liana Savitri,
Penulis ‘Love Learning’

Penuh inspirasi dan wawasan, serta bikin penasaran. Begitu membuka halaman pertama, kita tidak bisa berhenti membacanya!
—Novita Eliza,
Fotomodel, Kontributor Majalah FACE


BUKU INI BISA DIDAPATKAN DI TOKO-TOKO BUKU
DI SELURUH INDONESIA,
ATAU DI TOKO BUKU ONLINE DI INTERNET

Who am I?



Setiap raja memiliki kemampuan dan kekuasaan mutlak dalam mengarahkan kerajaannya. Begitu pun dengan kita. Kita adalah raja bagi pikiran kita. Kita memiliki kemampuan dan kekuasaan untuk mengarahkan pikiran kita, karena pikiran adalah budak kita yang akan mau diperintah untuk berbuat apa pun.

Jika kita memerintahkan pikiran untuk berpikir negatif, kegagalan, ketakutan, kekhawatiran, dan kesedihan, maka pikiran pun akan patuh dan segera melakukannya. Sebaliknya, jika kita memerintahkan dan mengarahkan pikiran untuk berpikir positif tentang keberhasilan, keberanian, keyakinan dan kebahagiaan, maka pikiran pun akan langsung menjalankannya.

Ingatlah selalu, bahwa kita tidak tahu bagaimana sebenarnya hidup itu. Kita hanya tahu cara menafsirkan kehidupan bagi diri kita. Maka jika kita mempunyai bayangan atas sesuatu yang kuat, besar dan jelas, entah positif ataupun negatif, maka pikiran juga akan memberikan kepada kita suatu pembesaran atas bayangan sesuatu itu yang kuat, besar, dan jelas.

Orang selalu dapat membangun hidupnya dengan cara mengendalikan pikirannya, orang juga selalu dapat menghancurkan hidupnya dengan cara dikendalikan oleh pikirannya. Jika pikiran dikendalikan, maka dia adalah budak. Tetapi jika tidak, maka kitalah yang menjadi budaknya.


Houdini dan Pintu Tak Terkunci

Jika palu satu-satunya alat yang kita punya,
kita akan cenderung memandang setiap masalah sebagai paku.
—Abraham H. Maslow


Jauh sebelum mengenal David Copperfield, pesulap hebat itu, dunia terlebih dulu mengenal nama Harry Houdini, juga seorang pesulap yang luar biasa. Houdini merupakan pesulap terbesar di zamannya, juga seorang ahli kunci yang amat mengagumkan, sehingga dijuluki “The Master of Escape”.

Houdini sering kali mempertunjukkan sulapnya dengan cara dimasukkan ke dalam sebuah ruangan terkunci, dan dapat dipastikan akan keluar dari ruangan itu dengan menggunakan kunci yang dimilikinya sendiri, meskipun itu bukan kunci yang sebenarnya.

Karena keahliannya itu, Houdini pun sering kali mengatakan bahwa dia bisa meloloskan diri dari penjara manapun yang ada di dunia dengan waktu kurang dari satu jam. Maka tantangan itu pun kemudian disambut. Sebuah penjara kecil dibangun secara khusus untuk menjawab tantangan Houdini.

Ketika hari yang ditentukan telah tiba, orang-orang pun berduyun-duyun datang ke sana untuk menyaksikan momen sulap bersejarah tersebut. Media-media massa pun datang untuk meliputnya.

Dengan penuh percaya diri, Houdini masuk ke dalam penjara itu, dan kemudian pintu pun ditutup. Dia segera melepaskan jasnya, dan segera mempersiapkan koleksi anak kunci miliknya yang biasanya sanggup membuka kunci mana pun.

Menit demi menit berlalu, namun Houdini belum juga dapat membuka kunci pintu itu. Setelah melewati waktu 30 menit, Houdini mulai berkeringat. Sampai satu jam kemudian, Houdini tetap belum mampu membuka kunci pintu itu. Akhirnya, setelah dua jam, karena tetap juga tak sanggup membuka pintu yang mengurungnya, sementara aksinya diliput media dan disaksikan begitu banyak orang, Houdini pun tak sanggup lagi menopang dirinya. Dia jatuh pingsan.

Yang paling mengejutkan dari semuanya itu adalah, pintu itu sesungguhnya tidak terkunci. Ketika Houdini terjatuh karena pingsan, tubuhnya menabrak pintu, dan pintu itu pun langsung terbuka. Jadi...?

Jadi, yang terjadi adalah Houdini sendiri yang berpikir dan meyakini bahwa pintu itu terkunci—dan tepat seperti itulah kita biasanya ketika menghadapi begitu banyak masalah dan persoalan dalam hidup sehari-hari. Di antara banyaknya masalah sehari-hari, kadang-kadang suatu hal bukanlah masalah, tetapi kita menganggapnya masalah. Karena kita menganggapnya masalah, maka kita pun jadi pusing mencari-cari cara penyelesaiannya. Dan, tepat seperti Houdini, kita tidak juga bisa menyelesaikannya, karena sebenarnya itu memang bukan masalah yang perlu kita selesaikan.

Misalnya, hujan yang turun di pagi hari ketika kita akan berangkat kuliah atau bekerja. Hujan yang turun, sebenarnya, bukan masalah. Artinya, kita tidak perlu mencari-cari cara agar hujan tidak turun, tapi jalani saja rutinitas dan aktivitas kita tanpa harus terbebani oleh hujan yang turun. Daripada mencari-cari solusi agar hujan tidak turun, jauh lebih baik mengambil payung dan segera berangkat ke tempat kuliah atau tempat kerja.

Sabtu, 23 April 2011

Isaac Newton Kurang Gaul

Alam dan hukum alam tersembunyi di balik malam.
Tuhan berkata, biarlah Newton ada! Dan semuanya akan terang benderang.
—Dari Sebuah Papirus


Para sejarawan atau penulis profil Newton sering kali bersikap tidak adil. Mereka menggambarkan sosok Newton dengan nada “olok-olok”, karena pada kenyataannya Isaac Newton memang “kurang gaul”. Bahkan Stephen Hawking pun melakukan “olok-olok” semacam itu terhadap Newton. Ketika dia menulis ‘A Brief History of Time’, Hawking menggambarkan profil Newton dalam satu halamannya, dan nada “olok-olok”nya jelas terasa.

Kita tahu siapa Newton—inilah bocah jenius yang menemukan hukum gravitasi hanya gara-gara menyaksikan apel jatuh dari pohonnya. Ada ribuan atau bahkan jutaan orang yang pernah memelototi apel jatuh, tapi siapakah selain Newton yang terinspirasi oleh hal itu?

Dunia mengenal Isaac Newton sebagai orang hebat, bahkan Michael Hart menempatkannya sebagai orang kedua setelah Nabi Muhammad dalam “daftar 100 orang paling berpengaruh dalam sejarah”. Michael Hart adalah peneliti yang sangat cermat—dan buku yang disusunnya itu didasarkan pada penelitian yang sangat komprehensif. Karenanya, penempatan Newton di “ranking kedua” dengan jelas memperlihatkan sepenting apa peran Newton bagi dunia.

Namun, seperti yang telah disinggung di atas, Isaac Newton adalah tipe orang yang “kurang gaul”. Newton bukan pribadi yang murah senyum atau gampang bercanda, pendeknya dia bukan orang yang akan kita ajak menikmati kopi sambil ngobrol di kedai Starbucks. Orang yang sangat gelisah—itulah Newton.

Selama kuliah dan kemudian berhubungan dengan sesama ilmuwan, Newton dikenal sebagai orang yang sulit bergaul. Tidak jarang ia bahkan berdebat sengit dengan rekan sejawatnya atas beberapa hal menyangkut keilmuwan. Beberapa temannya bahkan menyebut Newton sebagai “orang yang suka bertengkar”.

Sebagai guru, Newton juga bukan pengajar yang asyik atau menyenangkan—banyak mahasiswanya yang tidak masuk kelas untuk menghadiri kuliah Newton. Dan ketika di kelas ada mahasiswa yang siap mengikuti kuliahnya, Newton akan lebih sering berbicara menghadap tembok daripada menghadapi para mahasiswanya.

Tetapi inilah orang yang telah membuka mata dunia atas rahasia-rahasia alam semesta yang sebelumnya tak terungkap, yang sebelumnya tak terlihat, yang sebelumnya tak terpahami. Lalu apa lagi yang kita harapkan dari seorang Isaac Newton...??? Tidakkah itu saja sudah cukup untuk menjadikan kita mengucapkan terima kasih kepadanya? Jadi mengapa harus berpikir seolah-olah Newton tidak boleh memiliki kekurangan apa pun?

Apakah kita mengharapkan Newton sebagai sosok gaul yang suka menghabiskan malamnya di kafe atau mojok dengan cewek di ruang karaoke? Apakah kita mengharapkan Newton seperti cowok-cowok funky yang menghabiskan hidupnya untuk nongkrong di bengkel demi untuk memodifikasi mobilnya? Oh, come on, yang benar saja!

Bahwa Newton kadang bertengkar dengan orang lain—itu fakta. Tapi siapakah laki-laki di dunia ini yang tidak pernah bertengkar seumur hidupnya...??? Bahwa Newton kadang berselisih dengan orang lain—itu fakta. Tapi siapakah orang di dunia ini yang tidak pernah berselisih dengan orang lain seumur hidupnya...???

Pada dasarnya, Isaac Newton memang kurang gaul, karena dia seorang introver. Karena hal itu pulalah yang menjadikannya lebih akrab dengan rahasia alam dan ilmu pengetahuan dibanding dengan orang lain. Seumur hidupnya, Newton hanya memiliki sedikit teman dekat, karena dia kurang bisa bergaul. Tetapi, alam semesta tahu, bahwa sosok kurang gaul ini telah menyalakan cahaya yang terangnya tidak padam hingga berabad-abad lamanya.

Dunia ini tidak sempurna—begitu pula manusia yang hidup di dalamnya. Sebagian dari mereka bisa merupakan orang yang sangat menyenangkan, tapi tidak tahu apa-apa. Sebagian lain adalah orang yang menyebalkan, tetapi kita tahu kita perlu belajar kepadanya. Sebagian kecil lagi mungkin perpaduan keduanya, tetapi kita tidak bisa mengenal apalagi mendekatinya.

Tidak ada yang sempurna—tidak ada guru yang sempurna, tidak ada murid yang sempurna, tidak ada kawan yang sempurna, tidak ada pasangan yang sempurna, tidak ada orangtua yang sempurna, tidak ada anak yang sempurna, tidak ada apa pun yang sempurna di bawah matahari—karena itulah esensi kehidupan dunia.

Karenanya, mengharapkan Isaac Newton bisa menemukan teori gravitasi sambil dia jalan-jalan di mall atau ikut kebut-kebutan di jalanan, itu sama halnya dengan mengharapkan orangtua yang mau duduk diam mendengarkan nasihat anaknya! Mungkin saja bisa terjadi—tapi itu kemungkinan yang nyaris mustahil, bahkan tak terbayangkan!

Para sejarawan suka mengolok-olok Newton—tapi kita di masa kini pun ternyata juga melakukan hal yang sama. Kita mengolok-olok Newton, atau setidaknya mengolok-olok orang yang bisa jadi akan sehebat Newton. Di novel-novel, di film-film, bahkan di dalam iklan-iklan tolol, orang yang memiliki sifat seperti Newton selalu menjadi bahan olok-olok—sosok kurang gaul, tidak keren, yang sebaiknya dijauhi dan dikucilkan.

Di novel, sinetron, film, ataupun iklan, orang-orang yang serius menuntut ilmu dan para kutubuku selalu digambarkan sebagai sosok yang konyol, cupu, menyebalkan, ketinggalan zaman—pendeknya bukan orang yang layak ditiru atau dijadikan kawan. Lalu dunia macam apa yang sesungguhnya kita harapkan?

Ketika Bill Gates masih kuliah, dia juga sering diolok-olok sebagai cowok kurang gaul, karena keseriusannya dalam melakukan penelitian dan kegilaannya dalam mencintai perangkat lunak. Tapi sekarang dunia melihat, bahwa cowok kurang gaul ini mencapai kesuksesan jutaan kali lipat dibanding mereka yang dulu mengolok-oloknya. Tanpa cowok “kurang gaul” ini, dunia mungkin masih akan berkutat di mesin ketik, dan internet mungkin hanya ada dalam dunia fiksi.

Mungkin sungguh hebat jika Isaac Newton memiliki kejeniusan sekaligus suka cengengesan. Tetapi, seperti yang dikatakan Homer pada 700 tahun sebelum Masehi, “Kau jelas tak bisa unggul seorang diri dalam segala hal, sebab dewata memberikan bakat berperang kepada seseorang, menari kepada yang lain, menulis lirik kepada yang lain lagi, dan Zeus yang bijaksana itu pun memberikan pikiran yang baik kepada yang lainnya.”

Dua puluh tujuh abad setelah Homer menyatakan kata-kata itu, Ralph Waldo Emerson yang bijaksana menyatakan, “Setiap orang yang kutemui memiliki kelebihannya sendiri, dan dari situlah aku belajar kepadanya.”

Jika Emerson yang arif, cerdas, dan bijaksana saja merasa perlu belajar pada orang lain, karena mengakui dan menyadari bahwa setiap orang memiliki kelebihannya sendiri-sendiri, apalagi kita...?

Biarkan Elvis Presley menggoyang dunia, biarkan Justin Bieber memukau kita, tapi biarkan pula Isaac Newton menekuni buku-bukunya!

Jangan Takut Berubah



Ada suatu wabah penyakit aneh yang pernah menjangkiti penduduk pribumi di Amerika Selatan yang sudah berlangsung sejak lama. Banyak ilmuwan yang kemudian dikirim ke sana untuk meneliti dan mempelajari asal-usul penyebab timbulnya wabah penyakit aneh itu, sekaligus berupaya mencari cara mengatasinya.

Akhirnya diketahui bahwa penyakit aneh yang mewabah itu berasal dari gigitan serangga yang hidup di tembok-tembok rumah penduduk. Untuk mengatasi hal itu, ada beberapa pilihan yang bisa diambil oleh para penduduk di sana untuk selamat dari wabah tersebut:

A
Memberantas serangga penyebab penyakit dengan insektisida, namun itu akan memberikan pengaruh tertentu pada penghuni rumah akibat efek racun insektisida;

B
Memberantas serangga dengan meruntuhkan tembok-tembok dan membangun kembali rumah mereka;

C
Pindah ke tempat lain yang lebih sehat dan bebas dari serangga tersebut; atau

D
Tetap tinggal di kampung itu dengan risiko kematian, sebagaimana yang sudah terjadi selama ini.

Ternyata, yang paling memprihatinkan, penduduk pribumi itu memilih cara terakhir, sehingga mereka banyak yang mati karena terkena wabah tersebut! Mengapa? Karena mereka tidak ingin meninggalkan zona kenyamanan yang telah mereka tinggali selama ini, meski kemudian zona itu menjadi tempat yang berbahaya.

Dalam hidup yang amat kompetitif seperti sekarang ini, kita sudah perlu memiliki keberanian untuk mulai keluar dari comfort zone atau zona kenyamanan yang biasa kita kenali, dan mulai keluar untuk mencari kesempatan dan peluang-peluang lain yang mungkin bisa diraih.

Perubahan tidak selamanya mendatangkan kekhawatiran, karena perubahan juga sering kali membawa kita pada tempat yang lebih baik, sekaligus kehidupan yang lebih menyenangkan. Karenanya, jangan pernah takut berubah jika perubahan adalah salah satu pilihan.


Momentum Potensi



Semasa hidupnya, Emily Dickinson menulis banyak puisi yang hebat. Tetapi selama itu dia tidak pernah mempublikasikan puisinya satu pun, karena dia pikir puisi-puisi karyanya tidak layak untuk dipublikasikan. Setelah dia meninggal dunia, orang kemudian menemukan puisi-puisi itu dan dunia pun mengenal kehebatan Emily Dickinson dalam menulis puisi.

Sementara itu, Charlie Barsotti sering menggambar kartun, dan semenjak kecil telah berkeinginan menjadi seorang kartunis profesional. Tetapi kemudian, saat menginjak dewasa, dia menganggap profesi kartunis bukanlah profesi yang bisa dibanggakan. Ia kemudian malah bekerja sebagai anggota staf di sebuah pusat rehabilitasi anak yang terganggu mentalnya.

Sampai kemudian, seorang kenalannya memaksanya untuk membawa gambar-gambar kartunnya kepada para editor majalah. Saat ini, gambar-gambar kartun Charlie telah dimuat di majalah Pageant, New Yorker, USA Today, dan lain-lain. Charlie pun dikenal sebagai seorang kartunis profesional.

Apa pelajaran yang bisa diambil dari dua orang di atas?

Jangan pernah meremehkan potensi atau impian kita sendiri.

“Kalau kau bisa memimpikannya, mulailah,” kata Rochelle Jones dalam The Big Switch. “Kalau kau bisa membayangkannya, teruskanlah. Komitmen dan bayangan (visi) akan membentuk momentumnya sendiri, yang mendatangkan akhir yang berhasil.”


Hukum Keberuntungan

Banyak orang yang menanti datangnya keberuntungan. Tetapi, lama-lama keberuntungan menjadi semacam mitos takhayul, karena orang yang menantikan keberuntungan biasanya hanya duduk santai sambil terus menanti-nanti datangnya keberuntungan itu.

Apakah sebenarnya ‘keberuntungan’ itu? Ia bukanlah hadiah dari langit yang dijatuhkan secara tiba-tiba; keberuntungan adalah sesuatu yang diperoleh karena adanya persiapan terlebih dulu. Berikut ini lima definisi ‘ilmiah’ menyangkut keberuntungan:

~ Kalau persiapan bertemu dengan peluang, maka itulah awal keberuntungan.

~ Keberuntungan yang baik mengikuti pertimbangan yang baik—jika hal itu diikuti pula dengan tindakan yang baik.

~ Semakin cerdas dan semakin keras kita bekerja, makin beruntunglah kita.

~ Keberuntungan menyukai orang yang tabah, khususnya mereka yang tahu perjuangan yang mereka hadapi.

~ Kalau kita menginginkan keberuntungan, kenalilah hal-hal yang disukai oleh keberuntungan. Keberuntungan menyukai inisiatif, tindakan, kegigihan, integritas, pengamatan yang teliti, kesehatan yang baik, pendidikan yang baik, rencana yang baik, hubungan yang baik, juga sasaran yang berharga.

Minggu, 17 April 2011

Bingung Mau Nulis Apa

Setiap penulis atau blogger sepertinya hampir bisa dipastikan pernah mengalami kondisi ini—bingung mau nulis apa.

Kita sudah punya niat mau menulis suatu artikel untuk blog, atau menuliskan suatu ide tertentu yang ada dalam benak, kita juga sudah duduk di depan layar komputer atau laptop, tapi seiring waktu berlalu, artikel atau tulisan itu tetap saja tidak mampu kita buat. Yang terjadi, kita malah sibuk melakukan hal lain yang sama sekali tak ada sangkut-paut dengan rencana penulisan kita.

Menurut Dyah Ayu Purnamasari a.k.a Itik Bali, kondisi semacam itu disebut Phgstragetagtdeius Syndrome. Saya tidak tahu dari mana cewek manis nan pintar ini menemukan istilah tersebut, tetapi saya suka istilah ini, karena Phgstragetagtdeius Syndrome sangat sulit dibaca, apalagi diucapkan. Tepat seperti itulah kondisi ketika “bingung mau nulis apa”—suatu kondisi yang sulit diungkapkan atau diceritakan.

Well, tidak selamanya orang “bingung mau nulis apa” karena tidak punya ide. Yang sering, kondisi itu justru terjadi karena kita memiliki ide terlalu banyak—sebegitu banyaknya, sampai-sampai kita kebingungan mau menulis ide yang mana dulu. Rasanya, uuuh, bingung!

Bahkan, menurut saya, kondisi tidak punya ide malah lebih bagus daripada kondisi punya terlalu banyak ide. Kenapa? Karena ketika tidak punya ide, maka jalan kita lurus terbentang dengan jelas—yakni berupaya mencari ide. Begitu ide tertemukan, maka pekerjaan selanjutnya juga jelas, yakni menuliskan ide itu. Setelah itu selesai. Makan jadi enak, tidur jadi nyenyak.

Sebaliknya, ketika memiliki terlalu banyak ide, maka kita akan sering kebingungan karena menghadapi banyak jalan sekaligus. Ketika berhadapan dengan laptop atau komputer, kita bukannya menghabiskan waktu untuk suatu ide tertentu, tetapi seringnya malah menghabiskan waktu untuk menimbang, memikirkan, merenungkan, dan memutuskan ide mana yang sebaiknya ditulis lebih dulu.

Jadinya malah kita tidak bisa segera menulis, karena terlalu banyak memikirkan, terlalu banyak menimbang, terlalu banyak ragu. Ketika kondisi semacam itu sudah terjadi, makan pun jadi tidak enak, tidur jadi tidak nyenyak. Jika ini terdengar mendramatisir, maka saya akan mengaku bahwa saya sering mengalami kondisi semacam itu.

Dalam hal ide, mungkin bisa dibilang saya belum pernah kehabisan ide untuk menulis. Bahkan, jika dikira-kira, tumpukan ide dalam otak saya saat ini sepertinya cukup mampu menghidupi blog ini hingga lima tahun ke depan—satu post per hari tanpa henti—dengan catatan saya terus sehat, dan memiliki waktu yang cukup, dan kiamat benar-benar tidak terjadi pada tahun 2012. :D

Selain itu, seperti yang pernah saya ceritakan di post terdahulu, inbox email saya bisa dikatakan mirip bank ide—karena di sana terkumpul usul, ide, dan pertanyaan-pertanyaan atas berbagai hal, yang dikirimkan teman-teman pembaca blog ini, yang dapat saya ubah menjadi tulisan atau posting.

Karenanya, dengan modal ide yang sangat berlimpah seperti itu, problem saya bukan kekurangan ide atau kebingungan mencari ide, tetapi justru kebingungan memilah dan memilih ide mana yang sebaiknya digarap dan ditulis lebih dulu.

Sejujurnya, saya sering duduk lama di depan komputer dengan niat menulis sesuatu, tetapi kemudian malah asyik melakukan hal-hal lain yang tidak ada sangkut-paut dengan rencana penulisan itu. Jika saya introspeksi, hal semacam itu terjadi, seringnya, karena saya kebingungan mau menulis ide yang mana dulu, jadinya malah tidak menulis apa pun.

Itu baru ide untuk posting di blog. Belum lagi ide untuk rencana penulisan naskah buku. Sebagai penulis, saya sudah menyiapkan setumpuk ide untuk penulisan buku-buku saya hingga beberapa tahun ke depan. Tetapi melimpahnya ide itu pun rasanya bukan menjadikan saya tenang, tetapi justru membuat sering gelisah. Hampir setiap malam saya sulit tidur karena memikirkan, “Apa umurku cukup untuk menuliskan semua ide itu…?”

Ketika saya sampai pada pemikiran semacam itu, biasanya mata benar-benar sulit dipejamkan, meski sebenarnya sudah sangat mengantuk, meski badan rasanya sudah sangat capek. Yang biasanya terjadi, saya bangun dari tempat tidur, pergi ke dapur untuk membuat teh, lalu duduk sambil merokok, kemudian bengong. Menghitung waktu, mengukur usia, menakar datangnya kiamat.

Dan, saya pikir, waktu itulah saya mengalami Phgstragetagtdeius Syndrome, sebagaimana yang disimpulkan Itik Bali dalam satu postingnya.

Lalu bagaimana mengatasi Phgstragetagtdeius Syndrome ini...??? Itu pula pertanyaan yang selama ini saya cari-cari jawabannya.

Ehmm....

Di Spanyol, ada seorang penulis drama bernama Lope de Vega. Ia hidup antara tahun 1562 sampai 1635—satu angkatan dengan Pedro Calderon de la Barca, yang namanya mungkin lebih populer di kalangan anak muda.

Bagi para penulis dan dramawan, Lope de Vega adalah penulis paling “dahsyat” yang pernah lahir di muka bumi. Dia memiliki jumlah karya yang sulit dinalar akal sehat. Bayangkan, seumur hidupnya, dia telah menulis lebih dari 2.200 (dua ribu dua ratus) naskah drama—jumlah yang luar biasa banyak itu diimbangi dengan kualitas yang tidak memalukan. Dalam hal produktivitas, bahkan Shakespeare sekali pun tak ada apa-apanya dibanding orang ini!

Nah, saya penasaran setengah mati, bagaimana cara Lope de Vega bisa menulis sebanyak itu? Karenanya, saya pernah menghabiskan waktu cukup lama untuk melacak sumber-sumber yang dapat menguak rahasia produktivitasnya. Hasilnya, berdasarkan sumber-sumber literatur yang dapat saya pelajari, berikut inilah tiga rahasia di balik produktivitas Lope de Vega yang luar biasa.

Pertama, Lope de Vega tidak pernah menghabiskan waktu untuk surfing internet, tidak pernah update status di Facebook atau Twitter dan semacamnya, tidak pernah mengirim dan mengecek email, tidak pernah sibuk ngurusin blog, pendeknya tidak pernah online! Ya karena waktu itu internet memang belum ada! :D

Kedua, Lope de Vega tidak pernah disibukkan urusan menerima dan mengirimkan SMS dan segala tetek-bengek menyangkut ponsel, apalagi ngurusin SMS “Ketik REG” dan semacamnya, karena waktu itu memang ponsel belum diciptakan! :D

Ketiga, dan ini rahasia paling “masuk akal”, Lope de Vega nyaris tidak pernah tidur! Seumur hidupnya, dia terus aktif menulis, membaca, dan menulis lagi, dan untuk menunjang kegiatan itu dia hanya tidur dalam jumlah yang sangat sedikit, dalam waktu yang amat minim. Jadi kita bisa membayangkan, jika untuk tidur yang bisa dibilang sangat penting saja dia jarang melakukannya, apalagi untuk kegiatan lain yang tidak lebih penting dibanding tidur...?

Setelah mengetahui ketiga rahasia di atas, saya merasa tercerahkan sekaligus bingung. Tercerahkan, karena saya jadi tahu resep apa yang dibutuhkan untuk bisa produktif. Tetapi juga bingung, karena saya merasa kesulitan untuk dapat melakukannya!

Hari gini, ketika internet sudah ada dalam genggaman tangan, dan akses dunia maya tinggal disentuh ujung jari, rasanya sulit untuk bisa menghindarkan diri dari aktivitas online. Seperti yang dibilang Saykoji, dari bangun tidur sampai mau tidur kembali, rasanya kita terus ingin terhubung dengan dunia maya, karena sepertinya internet sudah menjadi kebutuhan (bukan lagi sekadar gaya hidup) manusia sekarang.

Begitu pula ponsel. Piranti mungil yang sangat cerdas itu pun sekarang fungsinya tidak lagi hanya untuk telepon dan SMS, tapi juga untuk kebutuhan akses internet dan lain-lain. Karenanya, rasanya sulit untuk mengikuti gaya hidup Lope de Vega yang benar-benar “steril” dari internet dan ponsel—setidaknya bagi saya.

Nah, bagaimana dengan resep ketiga, yakni mengurangi tidur? Sepertinya inilah resep “paling masuk akal” yang dapat dilakukan—dan inilah yang sedang coba saya praktikkan. Dalam hal menulis, sepertinya saya tidak lagi berkejaran dengan deadline semata, tetapi juga dengan umur saya. Saya tidak ingin mati dalam keadaan bingung karena masih ada ide yang belum sempat saya tuliskan selama masih hidup.

Nah, waktu saya curhat masalah ini pada Abigail, sohib saya yang agak sinting, dia menjawab, “Yeah, santai aja, pal, nggak usah khawatir. Kalau pun kamu keburu mati sebelum sempat menuliskan semua idemu, tulis aja ntar di akhirat. Siapa tahu di sana ada penerbit yang mau nerbitin tulisanmu.”

Tentu saja Abigail ngawur—karena dia memang suka ngawur. Tetapi, bagi para pembaca blog ini, mohon maaf kalau post ini agak tidak jelas juntrungnya, karena saya juga menulis post ini dalam keadaan dihinggapi Phgstragetagtdeius Syndrome!

Emile Durkheim, DaVinci, Gatolotjo, Wikipedia



Mumpung ingat kalau bulan ini belum ada post soal buku, berikut ini saya posting beberapa email berisi pertanyaan seputar buku yang sudah ngantri. Untuk email teman-teman lain yang belum muncul, seperti biasa… tunggu di post tentang buku yang akan datang. :)

***

Da’, kamu pasti kenal Emile Durkheim kan, ya? Ada nggak buku yang secara khusus membahas tentang Emile Durkheim, tapi berbahasa Indonesia? Soalnya saya mencari kemana-mana—termasuk ke online bookstore—tapi tidak ada yang menyediakan. Apa memang buku yang saya cari itu tidak/belum ada? Saya perlu buku itu untuk keperluan kuliah.

Buku berbahasa Indonesia yang membahas tentang Emile Durkheim ada, kok. Yang terbaru adalah karya Hanneman Samuel, seorang sosiolog. Judul buku tersebut adalah Emile Durkheim: Riwayat, Pemikiran, dan Warisan Bapak Sosiologi Modern. Buku ini diterbitkan oleh LabSosio Universitas Indonesia, bekerjasama dengan Penerbit Kepik Ungu.

Buku ini berukuran kecil, tapi isinya padat. Kalau kesulitan mencari buku tersebut di toko-toko buku konvensional, coba langsung saja hubungi FISIP UI.


Apakah Leonardo DaVinci menulis buku? Kalau ya, apa judulnya, dan apakah ada penerbit di Indonesia yang menerbitkannya?

Sejauh yang saya tahu, Leonardo tidak pernah menulis buku secara khusus. Hanya saja, dia suka mendokumentasikan pemikiran-pemikirannya (dalam bentuk visual atau gambar), dan dokumentasi itu kemudian dikumpulkan serta dibentuk menjadi sebuah buku—ketika dia sudah meninggal. Dan itulah satu-satunya “buku” yang dihasilkan oleh Leonardo.

Buku hasil kodifikasi pemikiran Leonardo itu kemudian diberi judul Codex Leicester—tebalnya cuma 18 lembar—dan di dalam buku itu terdapat detail-detail catatan riset Leonardo DaVinci mengenai astronomi, air, fosil, batu, dan cahaya. Dalam sebuah acara lelang, buku ini kemudian dibeli oleh Bill Gates (ya, Bill Gates yang itu!) seharga Rp. 310 miliar.

Nah, Codex Leicester di atas kemudian dibuat “replika” bukunya, dalam kemasan yang lebih mungil dan cantik, full colour dan hard cover, plus komentar beberapa pakar atas hasil riset serta pemikiran Leonardo yang termuat dalam buku tersebut. Tetapi saya tidak tahu apakah buku replika tersebut dijual secara bebas atau tidak. Saya sendiri mendapatkan buku replika tersebut dari seorang teman di Prancis.


Sebenarnya apa sih serat Gatolotjo itu? Apakah itu semacam karya sastra zaman kuno? Kenapa kesannya kok “hebat” sekali? Saya sering mendengar Gatolotjo disebut-sebut, tapi tidak pernah paham apa maksudnya. Apakah ada bukunya?

Benar, serat Gatolotjo adalah karya sastra klasik yang masih tetap saja terkenal hingga sekarang. Kenapa kesannya kok “hebat” sekali? Karena karya tersebut tergolong kontroversial—sejak zaman dulu maupun sekarang—karena membahas hal-hal yang berhubungan dengan agama dan masalah-masalah teologis. Biasalah, karya-karya semacam itu pasti menjadi bahan pergunjingan dan perdebatan.

Apakah ada bukunya? Ada. Sebuah penerbit di Yogya telah menerbitkan karya klasik tersebut, hanya saja isinya telah disensor, dan bagian-bagian yang terlalu kontroversial telah dipangkas.


Dengar-dengar, Wikipedia sudah dibukukan, ya? Apakah ini benar? Kalau ya, apakah buku tersebut memuat semua materi yang ada di Wikipedia? Kira-kira setebal apa bukunya? Atau dibuat berjilid-jilid seperti umumnya ensiklopedia? Terus, apakah sudah ada edisi bahasa Indonesianya? Kalau ya, berapa harganya?

Maaf kalau pertanyaannya terlalu banyak. Selama ini saya sering menggunakan Wikipedia untuk membantu pekerjaan saya. Jadi, kalau memang benar Wikipedia telah dibukukan dan ada edisi Indonesianya, saya ingin mendapatkannya. Atau, mungkin kamu bisa kasih rekomendasi ensiklopedia apa yang bagus (yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia)?

Benar, Wikipedia sudah dibukukan—malah sudah cukup lama, lho. Pembukuan Wikipedia tidak mencakup semua materi yang ada dalam Wikipedia versi online, namun hanya mengambil materi-materi yang dianggap paling valid. Uniknya, versi buku Wikipedia ini tidak dibuat berjilid-jilid sebagaimana umumnya ensikopledia lain, tetapi digabung jadi satu. Jadi bukunya sangat tebal. Kalau saya berdiri di sampingnya, tinggi/ketebalan buku itu sama dengan lutut saya.

Sejauh yang saya tahu, buku Wikipedia edisi bahasa Indonesia belum ada. Tapi ensiklopedia lain yang bagus ada kok, yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Misalnya Ensiklopedia Britannica atau Oxford Ensiklopedia. Masing-masing ensiklopedia tersebut seharga 2 jutaan.


Senin, 11 April 2011

Mahatma Ghandi Suka Gulali

Orang tak dapat melihat bayangan dirinya di dalam air yang mengalir,
tapi ia dapat melihatnya pada air yang diam.
Konfusius


Mahatma Gandhi—siapa yang tidak kenal nama ini? Dalam catatan sejarah, Mahatma Gandhi bukan hanya negarawan India serta salah satu orang besar dunia, tetapi juga satu di antara sedikit manusia yang mampu menyadap rahasia alam semesta. Melalui dirinyalah kekuatan besar yang tak kasatmata mengalir… dan menciptakan perubahan besar yang kemudian tidak saja mengubah India, tetapi juga dunia.

Jika ada orang yang bisa melakukan perubahan besar dengan tidak melakukan apa-apa, Mahatma Gandhi-lah orangnya. Seperti yang kita tahu, Gandhi adalah pencipta gerakan Ahimsa. Ahimsa adalah diam—tenang, tidak melakukan atau meneriakkan apa pun. “Tanpa kekerasan,” kata orang-orang.

Melalui Ahimsa itulah Gandhi mengubah negaranya, membebaskan India dari penjajahan Inggris. Berbeda dengan bentuk demonstrasi lain yang biasanya penuh gerakan dan hiruk-pikuk serta teriakan-teriakan, Gandhi menggerakkan jutaan orang untuk diam, dalam rangka menuntut perubahan. Perhatikan—diam, untuk perubahan.

Dan jutaan orang patuh pada perintah Gandhi. Jutaan orang percaya kepada orang ini, dan mereka pun melakukan tepat seperti yang diminta Gandhi—demonstrasi dalam diam. Jutaan orang itu tidak meneriakkan apa-apa, tidak melakukan apa-apa, hanya diam.

Jadi begitulah. Ketika jutaan warga India melakukan ahimsa, dan diam tanpa suara serta gerakan apa-apa, sebuah perubahan besar terjadi. Sebagaimana matahari bersinar tanpa suara, angin bergerak tanpa berisik, bunga-bunga mekar tanpa berteriak, alam semesta mengubah banyak hal melalui diam. Gandhi tahu rahasia ini, dan dia menyadapnya, dan mengubah dunia.

Ketika jutaan orang hanya diam dan tidak melakukan apa-apa, pemerintahan Inggris yang waktu itu bercokol di India pun guncang. Sekuat apa pun sebuah rezim, ia tak ada apa-apanya di hadapan alam semesta yang diam, di hadapan rakyat yang tidak melakukan apa-apa.

Karena jutaan orang diam, maka roda ekonomi berhenti, sebab tidak ada aktivitas apa-apa. Karena jutaan orang diam, politik tak lagi berarti karena diam tak butuh politik apa pun. Dan polisi atau pun tentara tak bisa menangkap orang yang diam dan tenang—karena diam dan tenang bukanlah kejahatan. Di hadapan diam dan keheningan, raksasa sebesar dan sekuat apa pun akan tumbang.

Dalam diam, perubahan besar terjadi.

Karena kemampuannya menyadap rahasia-rahasia alam semesta, Gandhi tidak hanya mampu mengajak orang lain untuk diam dan tenang, dia bahkan mampu meminta binatang untuk juga diam. Dalam salah satu biografinya diceritakan, suatu hari Gandhi berjalan-jalan di sebuah padang bersama beberapa pengikutnya. Di tengah jalan, seekor ular merayap dan bersiap menyerang mereka, dan para pengikut Gandhi pun segera siaga untuk membunuhnya.

Tetapi Gandhi mencegah. Dia berdiri di hadapan ular itu, menggelengkan kepala dengan lembut, dan ular yang mengerikan itu pun diam tak bergerak dan tidak mengganggu.

Karena dikenal sebagai orang besar serta memiliki banyak keistimewaan, nama Gandhi pun dikenal sebagai pahlawan sekaligus orang besar, dan banyak orang yang mengagumi serta menghormatinya. Nah, yang mungkin masih jarang diketahui kebanyakan orang adalah, ternyata Gandhi suka makan gulali.

Bagaimana ceritanya, kok bisa-bisanya Mahatma Gandhi suka gulali?

Ceritanya begini. Ada seorang anak lelaki berusia lima tahun di India, yang sangat suka makan gulali. Karena seringnya makan gulali setiap hari, gigi anak lelaki ini pun rusak. Ibunya sudah berupaya menasihatinya dengan susah-payah agar dia tidak lagi makan gulali, atau menguranginya, tapi si anak lelaki tetap saja bandel dan terus makan gulali setiap hari. Gurunya di sekolah juga sudah berusaha memberikan pengertian yang macam-macam, tapi si anak lelaki tetap cinta gulali.

Sampai kemudian, karena frustrasi, ibu si anak itu berunding dengan guru si anak di sekolah, mencari cara agar si anak lelaki tidak lagi memakan gulali. Si guru mengajukan pertimbangannya. “Apakah anak Anda punya tokoh idola?” tanyanya pada si ibu anak lelaki tadi.

“Ya,” jawab si ibu, “anak saya sangat mengidolakan Mahatma Gandhi.”

“Kalau begitu, cobalah temui Tuan Gandhi, dan mintalah beliau agar menasihati anak Anda untuk tidak lagi makan gulali. Mungkin, kalau Tuan Gandhi yang menasihati, anak Anda akan patuh, karena nasihat itu disampaikan oleh tokoh idolanya.”

Si ibu pun menuruti pertimbangan itu, dan dia kemudian menemui Mahatma Gandhi. Si ibu menceritakan masalah anaknya, dan berharap Gandhi mau memberikan nasihatnya agar si anak tidak lagi makan gulali.

Mendengar cerita itu, Gandhi mengangguk, kemudian menjawab, “Tolong beri saya waktu tiga bulan, nanti saya akan menasihati anakmu.”

Si ibu pun pulang. Tiga bulan kemudian, Gandhi datang ke rumah si ibu, dan menemui si anak lelaki. Kepada anak laki-laki itu, Gandhi berkata, “Nak, berhentilah makan gulali.”

Hanya itu nasihat yang diberikan Gandhi. Dan si anak lelaki pun patuh, dia tidak pernah makan gulali lagi semenjak itu.

Tetapi si ibu jadi bingung. Dia tidak habis pikir, kenapa hanya untuk memberikan nasihat yang mudah seperti itu saja, Mahatma Gandhi sampai minta waktu tiga bulan. Didorong rasa penasarannya, si ibu ini kembali menemui Gandhi dan bertanya, “Tuan Gandhi, maafkan saya, kenapa Anda harus membutuhkan waktu sampai tiga bulan hanya untuk memberikan nasihat yang mudah seperti itu?”

Dengan jujur, Mahatma Gandhi menjawab, “Karena saya sendiri juga suka makan gulali. Itulah kenapa, saya meminta waktu tiga bulan, agar saya bisa belajar lebih dulu untuk berhenti makan gulali, sebelum menasihati anak Anda untuk melakukan hal yang sama.”

Pastinya kita sepakat, bahwa makan gulali adalah perkara yang remeh. Dan kalau umpama Mahatma Gandhi menasihati anak lelaki tadi agar berhenti makan gulali, meski dirinya sendiri juga ternyata makan gulali, dunia tidak akan menyalahkannya. Wong hanya makan gulali ini, apa salahnya? Tetapi Gandhi terlalu besar untuk melakukan ‘kejahatan’ semacam itu. Apa yang dinasihatkannya, sekecil apa pun, adalah apa yang juga dilakukannya.

Memberikan nasihat itu mudah, bahkan sekarang nasihat sudah menjadi barang obral—ia bisa didapatkan di radio, televisi, bahkan layanan SMS. Nasihat itu mudah, sekaligus murah. Terlalu banyak orang yang sangat pintar memberikan, bahkan meneriakkan, aneka macam nasihat. Tetapi yang sulit adalah melaksanakan apa yang dinasihatkannya itu. Lebih sulit lagi adalah melaksanakan nasihat yang keluar dari mulut kita sendiri.

Jika ada orang yang berani menasihati bahwa orang miskin adalah kekasih Tuhan, maka seharusnya dia tidak hidup dalam kekayaan, apalagi kemewahan. Jika ada orang yang menasihati bahwa kemiskinan adalah ujian Tuhan dalam kehidupan, maka seharusnya si pemberi nasihat menjadi orang pertama yang menjalani ujian itu. Sungguh mudah bicara kemiskinan jika hidup dalam kekayaan. Sungguh mudah menasihati orang miskin, jika tidak menjalani hidup sebagai orang miskin.

Gulali itu enak, dan menyenangkan—sama seperti kekayaan dan kemewahan. Karenanya, siapa pun yang suka makan gulali, tidak boleh menasihati orang lain agar tidak makan gulali. Sebagaimana Mahatma Gandhi, berhentilah makan gulali kalau ingin menasihati orang lain untuk tidak makan gulali.

Life: Destiny



Coba lihat rel kereta api yang biasa melintas di jalan raya. Rel kereta api itu begitu sejajar, lurus, dan tidak memiliki perbedaan di antara masing-masing dua lajurnya.

Sekarang bayangkan jika satu di antara dua lajur rel itu kita geser arahnya satu centi atau dua centi saja. Apa yang akan terlihat? Perubahan itu tentu tidak akan terlalu terlihat pada awalnya, tetapi jika kita mengikuti arah baru itu sejauh mungkin, kita akan menyaksikan perbedaannya akan semakin besar dan semakin besar, hingga tak ada lagi hubungannya dengan arah semula dari rel yang kita geser arahnya itu.

Dalam mengarungi kehidupan ini, mungkin kita sudah sampai pada titik kenyamanan berpikir. Ini dialami oleh begitu banyak orang. Mereka sudah merasa puas dengan hidupnya karena pikirannya tak pernah berubah. Hidup sudah berhenti, karena pikiran sudah berhenti. Maka orang-orang itu pun menjalani hidupnya dengan keadaan yang sama, hari demi hari, bahkan tahun demi tahun. Sekali lagi, tak ada perubahan dan tak ada perbedaan.

Tetapi cobalah kita geser sedikit saja cara berpikir kita menuju ke sesuatu yang lebih positif. Perubahan yang terlalu besar mungkin akan membuat kita menjadi tidak nyaman, karena itu kita geser sedikit saja. Meskipun pada awalnya mungkin tak terlihat ada perbedaan apa pun, namun jika perubahan pikiran yang sedikit itu terus diikuti, kita pun akan dapat menemukan kehidupan yang berbeda, hidup yang berbeda.

Bagaimana kita berpikir, begitulah kita hidup.


The Self

Kalau kita mengukur prestasi dan keberhasilan diri kita dengan orang lain, maka pikiran kita sedikit banyak akan teracuni oleh rasa iri yang bisa menimbulkan permusuhan yang tak perlu. Akibatnya, pikiran kita tak lagi terfokus pada tujuan, keyakinan menjadi berkurang, dan kinerja menjadi turun.

Karenanya, satu-satunya orang yang bisa kita ajak bersaing dengan sehat adalah diri kita sendiri. Selalulah bersaing dengan diri sendiri. Tantanglah diri kita untuk selalu bisa mengungguli setiap prestasi yang telah kita capai, dan ini akan menjadikan kita terus bertumbuh, terus maju, dan berkembang.

Enjoy!



Seorang pemuda pergi ke Jepang, untuk menemui seorang ahli pengobatan (sinshe). Dia bertanya pada sang Shinse, “Guru, saya ingin menjadi ahli yang terbaik. Perlu waktu berapa lama untuk belajar?”

“Sepuluh tahun,” jawab sang Sinshe.

“Tetapi, Guru, saya sangat rajin! Saya akan bekerja siang malam. Sekarang perlu waktu berapa lama?”

Sinshe menjawab dengan tenang tapi mengejutkan, “Dua puluh tahun!”

Hidup akan menjadi sedemikian keras kalau kita bersikeras untuk menganggapnya begitu. Padahal, penting sekali bagi kita untuk sesekali menerima apa saja dalam hidup ini, tanpa harus berpikir macam-macam.


Mendadak Tiba-tiba

Tidak ada yang tiba-tiba—apalagi mendadak tiba-tiba. Seperti posting ini.

Selasa, 05 April 2011

Socrates dan Cowok ABG

Kalau kau ingin belajar sebagaimana kau ingin
bernapas untuk hidup, kau akan tahu apa artinya belajar.
—Socrates, 330 tahun Sebelum Masehi


Seorang cowok ABG di Athena ingin menjadi orang yang cerdas dan bijaksana. Karenanya dia pun pergi menemui Socrates, sosok guru yang telah diakui kehebatannya oleh jutaan orang di Yunani. Jika aku bisa sehebat dia, pikir si cowok ABG, aku akan mudah memikat cewek-cewek.

Maka bertemulah cowok ABG itu dengan Socrates. Kepada sang filsuf itu, si cowok berkata, “Tuan Socrates, saya ingin mengetahui segala hal yang Anda ketahui.”

Socrates tersenyum. Lalu dia membawa cowok ABG itu ke tepi sungai. Dengan kepercayaan penuh, si cowok ABG mengikuti. Lalu mereka duduk-duduk di tepi sungai itu, sementara Socrates berkata, “Coba lihat baik-baik sungai ini. Apa yang kau lihat?”

Si cowok ABG menatap sungai di depannya. Dengan bingung dia menjawab, “Saya tidak melihat apa-apa.”

“Lihatlah lebih dekat lagi,” kata Socrates.

Dengan patuh, cowok itu kembali menatap sungai di depannya sambil mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat sesuatu yang dimaksud Socrates. Tetapi begitu si ABG merundukkan tubuhnya, seketika Socrates memegangi kepala cowok itu dan memasukkannya ke dalam air sungai.

Dengan panik, cowok ABG itu meronta-ronta ketika merasakan kepalanya terbenam dalam air, tapi Socrates tetap memeganginya dengan kuat hingga kepalanya tetap terendam. Ketika akhirnya cowok itu sudah hampir mati karena tak bisa bernapas, Socrates pun menarik kepalanya dari dalam air, dan membaringkannya di tepian sungai.

Dengan wajah merah dan terbatuk-batuk, cowok ABG itu memaki-maki, “Apa yang Anda lakukan? Oh, sialan! Anda ingin membunuh saya…?!”

Socrates tak menghiraukan omelan itu. Dengan tenang dia berkata, “Ketika kepalamu terbenam tadi, apa yang paling kau inginkan?”

“Oh, sialan, tentu saja bernapas!”

“Jangan pernah keliru menganggap hikmat itu mudah, Anak Muda,” ujar Socrates. “Kalau kau memang sungguh ingin belajar seperti kau ingin bernapas barusan, baru cari aku lagi, ya.”

Segala hal yang baik dan hebat di dunia ini semuanya diperoleh dengan proses, melalui jalan panjang, dan tidak ada, tidak ada, tidak ada, yang mudah. Bahkan orang-orang yang kita anggap genius pun mendapatkan kegeniusannya dengan susah-payah.

Tidak ada hal baik dan besar yang bisa diperoleh dengan instan. Kecerdasan, kehebatan, dan segala bentuk kemampuan yang dianggap kelebihan, semuanya diperoleh dengan kerja keras, proses perjuangan, perjalanan panjang yang melelahkan, seperti sebuah patung emas yang dipahat dengan proses perlahan-lahan, penuh kehati-hatian, hingga kemudian membentuk sosok yang bersinar dan istimewa.

Ketika Piyu membentuk group band Padi, dan album pertama mereka meledak hingga terjual lebih dari satu juta keping, orang-orang pun menyatakan, “Piyu memang genius.” Tetapi apakah memang seperti itu kenyataannya?

Piyu memang menjadi tokoh sentral dalam group band Padi, karena dialah yang paling banyak menciptakan lagu serta menciptakan aransemen musiknya. Tetapi Piyu akan marah jika ‘dituduh’ semua kehebatan yang dimilikinya itu muncul hanya karena ia seorang genius.

Bertahun-tahun sebelum membentuk group band Padi, Piyu hanya seorang ‘tukang angkut’ alat-alat musik dalam group band Dewa. Jika Dewa konser di suatu tempat, Piyu bersama para ‘tukang’ lain membantu mengangkat-angkat peralatan konser. Tapi Piyu tak pernah puas sampai di situ. Setelah dia mengerjakan tugasnya mengangkuti alat-alat musik untuk konser, dia akan mengamati para personil Dewa melakukan latihan, dan diam-diam dia belajar… terus belajar.

Piyu menjalani proses sebelum akhirnya menjadi besar. Dan ketika akhirnya proses itu mencapai muaranya, Piyu pun mendapatkan apa yang seharusnya didapatkannya. Dia menjadi besar—sebesar orang-orang yang dulu ia kagumi, yang kepada mereka dulu ia belajar.

Begitu pula Ahmad Dhani. Apakah Dhani muncul begitu saja dari dasar bumi dan kemudian tenar dan hebat secepat kilat? Hari ini, sekian juta anak muda di negeri ini mengagumi Dhani, dan menempatkannya sebagai ‘musisi paling cerdas di Indonesia’. Tetapi Dhani pun menjalani prosesnya terlebih dulu sebelum sebesar itu. Dia menjalani serangkaian perjalanan yang amat melelahkan sebelum akhirnya menjadi sosok pujaan.

Hari ini, Dhani tinggal di rumah mewah yang ia bangun dengan harga lima milyar, hasil dari kesuksesannya. Tetapi, bertahun-tahun yang lalu, ketika mengawali karir musiknya, dia harus terpaksa menginap di rumah neneknya di Jakarta, karena tak punya uang untuk bolak-balik ke rumah orangtuanya di Surabaya, juga tak punya biaya untuk menginap di hotel. Ketika pergi ke studio rekaman pun Dhani pernah harus jalan kaki karena tak punya uang lagi untuk naik angkot.

Tidak ada yang gratis di dunia ini. Dan segala hal yang baik dan besar tidak pernah dicapai dengan mudah apalagi instan. Tidak Socrates, tidak Piyu, tidak Ahmad Dhani, tidak juga kita. Siapa pun yang memimpikan kebesaran harus menjalani prosesnya terlebih dulu, sebagaimana Gatotkaca pun baru bisa terbang di udara setelah dibakar di kawah Candradimuka.

Jika ada orang yang berkata bahwa dia bisa hebat tanpa usaha, tanpa belajar, dan tanpa kerja keras, maka hanya ada dua kemungkinan. Dia bohong—atau dia sesungguhnya tidak sehebat yang digembar-gemborkan.

Tidak ada orang yang menjadi hebat secara mendadak, karena tidak ada kehebatan yang instan!

Jadi, laluilah proses itu—proses belajar, proses kerja keras, proses latihan, proses menjalani waktu-waktu yang mungkin membuat frustrasi, karena semua proses itu adalah ‘proses untuk menjadi’. Siapa pun yang ingin ‘menjadi’, harus melalui prosesnya terlebih dulu. Sebagaimana ulat yang bermetamorfosa menjadi kupu-kupu, segala keindahan berasal dari kegelapan kepompong.

Hari ini, ketika kita menyaksikan penampilan group band yang sangat memukau di atas panggung, maka ingatlah bahwa kehebatan mereka tidak muncul dalam satu malam, tetapi terbentuk dari sebuah proses perjuangan dan latihan yang tanpa kenal lelah. Ketika kita membaca buku hebat yang mengagumkan, maka ingatlah bahwa penulisnya tidak menulis buku itu dalam waktu satu malam, tapi dari proses berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Ketika kita bertemu dengan siapa pun yang hebat dan membuat kagum, maka ingatlah bahwa dia tidak mendapatkan kehebatannya dalam waktu satu malam, tapi melalui proses perjuangan dan kerja keras, belajar dan latihan, pengorbanan dan rasa frustrasi. Karena memang semuanya membutuhkan proses, semuanya membutuhkan harga. Dan… Tuhan tahu bagaimana memasang harga yang tepat untuk setiap barang-Nya.

Inner Wisdom

Meraih kebahagiaan hidup adalah dambaan semua orang, namun tidak setiap orang tahu di mana menemukannya, atau bagaimana mendapatkannya. Padahal, kebahagiaan dan apa saja yang diinginkan dalam hidup telah disediakan bagi masing-masing orang di dalam dirinya sendiri. Hanya saja tak dikenali dan diketahui, hingga keberadaannya bagaikan harta karun yang terpendam di dasar tanah. Kebanyakan orang mencari-cari sesuatu dalam hidupnya, tanpa menyadari bahwa yang dicari-carinya telah ia miliki di dalam dirinya sendiri.

Buku ini akan mengajak dan memandu kita untuk menemukan harta karun kebahagiaan yang selama ini tersembunyi di dalam diri sendiri—sebuah harta karun yang akan mengubah hidup kita, jika kita mulai menggunakannya.

Buku ini ditujukan untuk pria maupun wanita, tua ataupun muda, yang ingin menyaksikan kehidupan dengan jendela baru. Ditulis dengan bahasa yang sederhana, langkah-langkah kecil yang ditawarkan buku ini akan menjadi langkah-langkah besar dalam menjalani hidup dengan penuh kearifan, dan menikmati hidup dengan penuh kebahagiaan.


Salah satu tanda kehebatan sebuah buku adalah kemampuannya dalam mengajak pembaca untuk melihat hal-hal yang sebelumnya tak terlihat, atau melihat segala sesuatu dengan cara pandang yang baru. Buku ini mampu melakukan hal itu.
—Indra W. Gunawan,
Penulis “The 7 Laws of Life” dan “The 7 Laws of Love”

Inner Wisdom—pelajaran penting tentang hidup, yang ditulis seorang pembelajar sejati. Buku yang sangat direkomendasikan!
—Mirza Maulana,
Pendidik, Penulis “Spiritual Intelligence”


BUKU INI BISA DIDAPATKAN DI TOKO-TOKO BUKU
DI SELURUH INDONESIA,
ATAU DI TOKO BUKU ONLINE DI INTERNET

Kuasa Doa



Jauh bertahun-tahun lalu, sebelum vaksin antipolio ditemukan, seorang pemuda bernama James McCormick diserang polio. Ia lumpuh total dan sama sekali tak berdaya dan sangat menderita. Ia tidak dapat bergerak; ia tidak dapat menelan, ia tidak dapat bernapas. Ia harus tetap berada di dalam mesin paru-paru yang terbuat dari besi.

Menghadapi keadaan yang sama sekali tak punya harapan dan sangat menyengsarakan itu, ia pun rasanya ingin mati saja. Maka ia pun berdoa, “Tuhan, saya tidak berdaya sama sekali, hingga saya bahkan tidak bisa bunuh diri. Karena itu, Tuhan, ambillah hidup saya ini.”

Tetapi doa itu sepertinya tak terkabulkan. Lalu ia kembali berdoa, “Jika saya tidak bisa bunuh diri, tolonglah, ambillah penderitaan yang amat besar ini dari diri saya.”

Para dokter memberinya obat-obatan untuk mengurangi penderitaannya, tetapi ia menjadi tergantung pada obat-obatan itu. Maka sekali lagi ia berdoa, “Tuhan, ambillah kecanduan akan obat-obatan itu dari diri saya.”

Dan secara bertahap kecanduan itu pun berkurang. Lalu ia berdoa, “Berikanlah kekuatan agar saya dapat menelan lagi. Biarlah mereka mengeluarkan pipa ini dari tenggorokan saya, dan jarum-jarum ini dari tangan saya. Kalau saja saya dapat meneguk air, saya tidak akan meminta lebih banyak lagi.”

Dan ia pun kemudian dapat menelan, tetapi ia tidak sanggup berhenti berdoa memohon kebaikan. Maka ia pun kembali berdoa, “Tuhan, berikanlah saya kekuatan agar saya dapat bernapas sedikit dengan kekuatan sendiri. Izinkanlah saya keluar dari mesin paru-paru besi ini meski hanya sebentar saja.”

Hal itu pun terjadi. Setelah beberapa lama ia berdoa lagi, “Tuhan, saya bersyukur kepada-Mu karena semua kebaikan-Mu. Bolehkah saya minta satu kebaikan lagi? Biarkanlah saya meninggalkan tempat tidur ini untuk satu jam saja dan duduk di kursi roda, agar dapat memandang dunia di luar ruangan rumah sakit ini.”

Permintaan itu pun kembali dikabulkan. Kemudian dia minta diberikan kekuatan bagi tangannya untuk menggerakkan sendiri kursi rodanya. Sesudah itu kesanggupan dan kekuatan untuk berjalan dengan kruk. Dan akhirnya, setelah dua puluh tahun berjuang dan berdoa, James McCormick pun dapat berjalan dengan dua tongkat, dan ia bisa menikah dan punya anak, serta hidup seperti biasa.

Apa yang membuat semua itu bisa terjadi? Para dokter membantu. Tetapi di atas semua itu, doanya yang begitu tekun itu menjadikan semuanya bisa mewujud; doa yang tekun, doa yang tak pernah lelah diulangnya, doa yang begitu khusyuk dipanjatkannya.

Doa memang tidak mengubah Tuhan, ia mengubah yang memanjatkannya.


The Choice



Dwight D. Eisenhower, yang pernah menjabat sebagai Presiden Amerika, pernah bercerita, bahwa ketika dia sedang dalam keadaan gundah atau gelisah karena suatu hal, ibunya tercinta sering kali menasihati, “Tuhan yang mengocok kartu, tetapi cara memainkannya terserah kepadamu.”

Nasihat itu begitu filosofis, dan mengandung sebuah penerimaan.

Tuhan memang memberikan kebahagiaan dan kesedihan, tetapi bagaimana kita memandang dan menggunakan kebahagiaan atau kesedihan itu terserah pada kita. Tuhan juga memberikan kesuksesan dan kegagalan, tetapi bagaimana kita menggunakan kesuksesan dan kegagalan itu tetap ada di tangan kita.

Kita bisa menggunakan kesuksesan untuk menjadi besar kepala, angkuh dan takabur, atau menggunakannya untuk membantu orang lain. Kita bisa menggunakan kegagalan sebagai makam kematian, atau sebagai ujian yang akan memperteguh keyakinan.

“Tuhan yang mengocok kartu, tetapi cara memainkannya terserah kepadamu.”


Angin dan Matahari



Aesop adalah budak Yunani yang tinggal di Istana Croesus. Di antara semua budak yang dimilikinya, Raja Croesus sangat menyayangi Aesop, karena Aesop begitu pandai membuat kisah cerita yang amat menarik untuk didengar dan direnungkan.

Salah satu kisah yang pernah dituturkan oleh Aesop adalah kisah tentang Angin dan Matahari. Beginilah ceritanya....

Ketika menyaksikan seorang lelaki yang memakai jubah tebal, Angin dan Matahari saling berbisik-bisik. Mereka bertaruh untuk menentukan siapa yang lebih kuat, dan si angin berkata, “Aku akan membuktikan bahwa akulah yang terkuat. Aku akan memaksa lelaki itu melepaskan jubahnya yang tebal.”

Maka si Matahari pun pindah ke belakang awan, kemudian si Angin berhembus kencang hampir seperti badai. Tetapi, semakin keras dia berhembus, semakin erat pula lelaki itu mencengkeram jubah ke tubuhnya.

Akhirnya Angin pun menyerah, lalu Matahari muncul dari balik awan dan tersenyum ramah pada lelaki berjubah itu dengan sinarnya. Kini, lelaki berjubah itu menyeka alisnya dan menanggalkan jubahnya, dan mulai mengipasi diri dengan topinya.

Matahari kemudian berbisik kepada Angin, bahwa keramahan dan kelembutan lebih kuat dari pada kekuatan dan kemarahan.


Kurnia Tak Terlihat



Seorang petani tua berencana menjual tanah ladangnya yang sudah tak terawat. Ia sudah bosan dengan lingkungan tempat tinggalnya di desa yang terpencil, dan menginginkan bisa tinggal di daerah yang lebih menyenangkan, dengan suasana yang berbeda sebagaimana yang dibayangkannya. Maka ia pun pergi ke sebuah biro iklan, dan meminta mereka untuk mengiklankan tanahnya yang akan dijual itu melalui surat kabar.

Petugas dari biro iklan mengunjungi tanah pemukiman si petani itu, untuk memperoleh data-data buat iklannya. Satu minggu kemudian, iklan itu pun muncul dalam surat kabar dengan kata-kata yang menarik hati.

Dijual; tanah pemukiman dengan luas sekian hektar di daerah yang sejuk dekat pantai yang indah. Anda bisa membangun rumah besar di sini dengan taman yang alami, karena pohon-pohon besar masih terdapat di tanah ini. Anda juga bisa menjadikannya sebagai tempat berlibur, karena daerah ini masih bebas polusi, udaranya bersih, dan suasananya sangat tenang serta nyaman. Anda juga bisa membangun kandang-kandang untuk hewan kesayangan Anda, dan…

Besoknya, satu hari setelah iklan itu muncul di surat kabar, si petani buru-buru mendatangi biro iklannya dan meminta mereka untuk segera membatalkan iklan tersebut.

“Mengapa?” tanya petugas di biro iklan.

“Karena,” jawab si petani dengan gugup, “itulah tempat yang selama ini saya bayangkan bisa saya miliki!”


Circle of Life



Kapan hidup ini akan menjadi lebih sederhana? Tidak akan pernah! Karena itu, hentikan saja keinginan untuk menunggu hidup menjadi lebih sederhana. Mengapa? Karena setiap kali kehidupan menawarkan kemudahan, kita pun meremehkan dan menginginkan yang lebih sukar. “Ah, kalau cuma begini, anak kecil juga bisa! Kalau cuma seperti ini, sambil mata terpejam pun saya sanggup menyelesaikannya!”

Kehidupan menawarkan kesederhanaan, tapi kita menginginkan yang luar biasa.

Ketika hidup terasa lebih baik, penghasilan dari pekerjaan telah memberikan kenyamanan, dan perasaan kita telah tenteram sejenak, kita pun menginginkan untuk menikah, dan cakrawala pemikiran kita lalu berubah, radius keinginan kita bertambah. Kita mulai memikirkan rumah dan kendaraan keluarga.

Saat rumah dan kendaraan telah dimiliki, kita menginginkan rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih bagus, hidup yang lebih mewah. Saat semua itu pun tercapai, pikiran kita tak juga tenang, karena ada hal-hal lain yang menuntut kita untuk juga mencapainya. Dan itu seolah tak pernah selesai, tak pernah berakhir.

Hidup tak akan pernah menjadi lebih sederhana. Kehidupan baru akan menjadi sederhana, kalau kita mau menyederhanakan terlebih dulu pikiran kita.


Aturan Hidup yang Tersembunyi



Dunia dan bumi yang kita tinggali ini adil sekaligus lugas dan keras. Karena kita tidak mungkin mengalahkannya, mengapa kita tidak bergabung saja dengannya? Marilah bersikap adil sekaligus lugas dan keras dalam menghadapi setiap tantangan hidup, sebagaimana cara kehidupan menghadapi kita.

Tidak perlu berusaha mencari cara untuk ‘menipu’ atau mengecoh kehidupan. Ia telah ada dan telah menjalani hidupnya selama lebih dari empat milyar tahun sebelum kita terlahir ke bumi ini. Karenanya, kalau kita ingin menguasainya, kita harus menaati peraturannya terlebih dulu. Ketahui hukum-hukumnya, patuhi aturan-aturannya.

Kehidupan ini, dunia ini, bumi yang kita tinggali ini, tidak akan mengendus-endus keperihan dan kesusahan kita, ataupun mendengarkan keluh-kesah kita, bahkan yang paling menghibakan sekalipun. Ia terus bergerak. Kalau kita bergabung dengannya, kita harus bersepakat dengannya. Kalau tidak, ia akan terus bergerak tanpa kita.


Change!



Mahasiswa biologi belajar tentang hukum seleksi alam—adaptasi terhadap perubahan. Seekor kumbang hijau yang berada di atas tanah cokelat harus berganti warna kalau tak ingin celaka. Mungkin bisa saja dia berpendapat, “Lho, tanahnya seharusnya hijau, biasanya hijau, kok!” Kalau dia tetap ngotot, dia sendiri yang akan kalah. Seleksi alam memberlakukan hukum yang brutal; beradaptasi atau punah!

Kehidupan terus berputar dan segalanya terus berubah. Kalau kita terus ngotot mempertahankan pikiran-pikiran lama, paradigma-paradigma lama, maka kita akan digilas atau setidaknya ditinggalkan oleh laju roda kehidupan. “Bahkan seandainya kau berada di atas jalan yang benar,” kata Oliver Wendell Holmes, “kau akan terlindas kalau hanya duduk-duduk di sana.”

Kalau kita menentang hidup, hiduplah yang akan selalu menang!


Psikologi Tikus

Pesan transformasi dan bagaimana kita semua bisa hidup dengan hati,
bukan hanya dengan pikiran, adalah pesan penting
untuk belajar dari hidupku sendiri.
Judith Light


Para psikolog pernah melakukan eksperimen dengan tikus untuk menguji tingkat ‘intelektual’ mereka dalam mencari makanan. Beberapa ekor tikus dimasukkan ke dalam sangkar yang dilapisi pasir di dasarnya. Makanan mereka dikubur dalam pasir, semakin hari semakin dalam. Tikus-tikus itu pun mulai menggali, setiap hari, sampai mendapatkan makanannya.

Sampai suatu hari, makanan mereka tak lagi dikuburkan dalam pasir, tapi diletakkan di permukaan, tepat di depan hidung mereka. Tikus-tikus itu pun makan dengan lahap, tapi mereka tetap menggali ke dalam pasir setiap hari. Mereka menggali, tanpa ada tujuan untuk mencari makan, tanpa tahu apa sebenarnya tujuan mereka menggali. Mereka terus menggali, menggali, menggali sampai ajalnya….

Jumat, 01 April 2011

Batman, Sang Manusia

Ada bahaya khusus dalam sebuah perang yang dikomando Tuhan.
Bagaimana kalau Tuhan ternyata harus kalah?
—Garry Willis


Bruce Wayne itu mirip dengan Siddharta Gautama—setidaknya itulah kesan saya ketika menyaksikan film ‘Batman Begins’.

Siddharta Gautama adalah pangeran di kerajaannya, Bruce Wayne dianggap pangeran di Gotham City, karena anak tunggal konglomerat paling kaya di sana. Siddharta Gautama dijauhkan dari segala macam keburukan dunia, Bruce Wayne hidup dalam kemewahan orangtuanya yang laksana surga.

Siddharta Gautama mulai menyelami arti kehidupan ketika menyaksikan orang berusia tua, orang sakit, dan orang yang mati. Bruce Wayne terjun ke dunia hitam untuk menyelami kejahatan dan untuk mengetahui mengapa orang menjadi jahat, setelah mengalami trauma atas pembunuhan orangtuanya.

Siddharta Gautama memperoleh pencerahan—enlightenment—dan kemudian ia menjadi sang Buddha. Bruce Wayne memperoleh pemahaman tentang cara mengalahkan kejahatan—yakni dengan menciptakan simbol—dan ia berubah menjadi Batman.

Ketika usianya beranjak dewasa, Bruce Wayne tetap belum mampu melupakan trauma atas kematian orangtuanya yang dibunuh perampok. Ia bertanya-tanya, mengapa ada orang yang sampai membunuh hanya karena keinginan mendapatkan uang yang tak seberapa? Dengan segala kenaifannya sebagai bocah kaya raya, Bruce Wayne tidak bisa memahami mengapa ada orang yang menjadi jahat.

Karena kegelisahannya itu, dia pun mencoba menyelami kejahatan—menjadi pencuri, perampok, menjadi orang jahat—demi untuk bisa menyelami kejahatan dan menemukan jawaban mengapa orang bisa menjadi jahat. Sampai kemudian dia tertangkap di Cina karena perampokan yang dilakukannya, dan dijebloskan ke penjara. Lucunya, barang yang dirampoknya ternyata adalah produksi Wayne Enterprise—perusahaan miliknya sendiri.

Di penjara itulah titik awal perubahan hidup Bruce Wayne. Ketika dia dikurung dalam sel isolasi karena perkelahian antar napi, seseorang bernama Ra’s Al Ghul menemuinya. Ra’s Al Ghul mengenal siapa Bruce Wayne, dan dia tahu bahwa Bruce bukanlah penjahat atau orang jahat. Kepada Bruce Wayne, Ra’s Al Ghul menawarkan cara untuk menghancurkan kejahatan.

Bruce Wayne tertarik. Dan dengan kekuasaan Ra’s Al Ghul, Bruce pun dibebaskan dari penjara. Sejak itulah Bruce bergabung dengan Ra’s Al Ghul, dan berlatih segala macam ilmu bela diri, demi tujuan untuk membasmi kejahatan sebagaimana yang telah ia bicarakan dengan Ra’s Al Ghul sebelumnya.

Tetapi di dalam tujuan itulah terjadi perbedaan visi yang amat penting—antara Bruce Wayne dengan Ra’s Al Ghul—suatu perbedaan yang bahkan mengubah mereka menjadi musuh yang saling mematikan.

Bagi Ra’s Al Ghul, menghancurkan kejahatan artinya menghancurkan semua hal yang berhubungan dengan kejahatan itu—manusianya, kota tempat tinggalnya, lingkungannya, peradabannya, serta seluruh hal yang ada di sekelilingnya—untuk kemudian dibangun visi yang baru, kehidupan yang baru.

Sementara bagi Bruce Wayne, menghancurkan kejahatan artinya menghancurkan kejahatan itu sendiri, tanpa harus menghancurkan manusianya. Dalam visi Bruce Wayne, kemanusiaan dan kejahatan adalah dua hal yang berbeda—kejahatan memang harus dihancurkan, tetapi kemanusiaan harus tetap diselamatkan.

Pada waktu itu, Gotham City telah menjadi kota yang sangat korup, kotor, buas, sekaligus menjijikkan. Kota ini diperintah pejabat yang korup, penguasa yang korup, polisi yang korup, dan masyarakatnya saling tikam karena kelaparan akibat pemerintah mereka hanya mau memperkaya diri sendiri. Sementara itu, para penjahat beroperasi dengan lancar, bahkan pemimpin mafia bertingkah bak raja di sana, karena semua pejabat dan polisi dan hakim dan pengadilan di Gotham City telah dibelinya.

Ra’s Al Ghul ingin menghancurkan Gotham City, karena menurutnya kota ini tidak bisa lagi diselamatkan. Dan dia yakin dapat melakukan hal itu, karena dia pemimpin Pasukan Kegelapan—sebuah organisasi yang menganggap keberadaan mereka sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Bagi Ra’s Al Ghul, satu-satunya cara memperbaiki kerusakan di Gotham City adalah dengan menghancur-leburkan semuannya, dengan harapan tumbuh tunas baru yang lebih baik.

Seperti yang dikatakan Ra’s Al Ghul sendiri, “Pasukan Kegelapan sudah ribuan tahun memerangi kebejatan manusia. Kami menghancurkan Roma. Kami mengisi kapal dengan tikus pes. Kami membakar London. Setiap peradaban mencapai puncak maksiat, kami seimbangkan lagi.”

Tetapi Bruce Wayne tidak bisa menerima visi semacam itu. Jika Gotham City memang telah rusak parah, selalu ada cara untuk membenahinya tanpa harus menghancurkan masyarakat dan peradabannya. Perangi orang-orang yang jahat, tapi biarkan orang-orang baik tetap selamat. “Gotham masih bisa diselamatkan,” kata Bruce Wayne. “Beri waktu. Di sini masih banyak warga yang baik.”

Di dalam komunitas penggemar filsafat, ada anekdot yang menyatakan, “Orang yang menganggap dirinya wakil Tuhan, sama konyolnya dengan orang yang menganggap dirinya wakil setan.”

Ra’s Al Ghul beserta pasukannya menganggap diri mereka wakil Tuhan—tanpa mau sedetik pun merenungkan bahwa jangan-jangan mereka wakil setan. Mereka terlalu percaya diri, seolah Tuhan hanya milik mereka, seolah Tuhan benar-benar mengutus mereka.

Bruce Wayne tidak mau terjebak dalam kekonyolan seperti itu. Dia ingin tetap menjadi manusia—tidak mengklaim diri sebagai wakil Tuhan, juga tidak ingin menjadi setan. Ketika dia menjadi Batman dan memerangi kejahatan yang terjadi di Gotham, dia berdiri sebagai manusia—tidak merasa dirinya suci, pun tidak menilai dirinya sekotor kejahatan yang diperanginya.

Di balik jubah Batman yang hitam, Bruce Wayne tetaplah manusia—dan ia ingin tetap menjadi manusia.

Dan peperangan itu pun dimulai. Ra’s Al Ghul, sang “wakil Tuhan”, bertarung dengan Batman, sang manusia, di dalam kereta api yang melaju cepat membawa senjata kimia mematikan. Ini perang yang amat menentukan—karena Ra’s Al Ghul berperang atas nama Tuhan. Dan seperti yang dikhawatirkan Garry Willis, “Bagaimana kalau Tuhan ternyata harus kalah?”

Batman, dengan segala kedaifannya sebagai manusia, berhasil mengalahkan Ra’s Al Ghul, sang pemimpin Pasukan Kegelapan, orang yang mengklaim dirinya sebagai wakil Tuhan. Ketika kereta api itu terus melaju menuju maut, dan Batman telah terbang ke langit, Ra’s Al Ghul memejamkan matanya, dan menjemput kematiannya. Mungkin dia meyakini sesaat lagi akan sampai di surga.

Tetapi kemudian kereta api itu meledak, hancur… dan nyala api yang panas berkobar menghanguskannya.

26 Tip Dasar Menulis (3)



Posting ini lanjutan dari post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, bacalah terlebih dulu posting sebelumnya.

#17
Ketika sedang menulis sesuatu, yang perlu kita lakukan hanyalah menuliskannya terlebih dulu. Jadi teruslah menulis, tidak usah hiraukan mana susunan kata yang benar dan mana kalimat yang salah. Tulis saja dulu, keluarkan semua yang ingin kita tuliskan. Nanti, setelah semuanya sudah dituliskan, barulah lakukan editing. Di saat mengedit, kita bisa membetulkan mana yang salah dan keliru, menyempurnakan susunan kata atau kalimat yang belum jelas, memberikan huruf besar dan tanda baca di tempat yang tepat—dan lain sebagainya.

#18
Jangan malas mengedit dan merevisi. Setelah sebuah tulisan selesai, bacalah kembali, kemudian edit dan revisilah sampai tulisan itu sempurna menurutmu. Hilangkan bagian-bagian yang tidak penting, pangkas yang terlalu bertele-tele, buatlah tulisanmu seringkas dan semenarik mungkin.

#19
Lakukanlah pengendapan, khususnya jika tulisan itu tidak diburu deadline. Kalau hari ini kita telah menyelesaikan sebuah tulisan, simpanlah dulu. Besok, atau beberapa hari kemudian, cobalah buka tulisan itu dan bacalah kembali. Pengendapan tulisan akan menjadikan pikiran kita lebih jernih, dan penilaian lebih objektif. Tulisan yang “hebat” hari ini bisa saja menjadi “konyol” beberapa hari yang akan datang. Karenanya, lakukanlah pengendapan.

#20
Kalau sewaktu-waktu menemukan ide yang menarik, segeralah tulis. Kalau sewaktu-waktu menemukan kata-kata atau kalimat yang bagus, tulislah. Gunakan kertas, ponsel, iPod, atau apa pun untuk menulis. Ide yang bagus atau kalimat yang hebat sering kali datang di waktu yang tidak tepat. Kalau kita malas menuliskannya, kita akan kehilangan sesuatu yang berharga.

#21
Menulis sesuatu yang sederhana sama sekali bukan masalah, bukan aib, juga bukan kejahatan. Karenanya, tidak perlu malu atau takut menulis hal-hal sederhana atau dengan bahasa yang sederhana. Yang penting kita menulis, itu intinya. Semua tulisan yang hebat berawal dari tulisan sederhana. Penulis yang hebat pun berawal dari penulis pemula.

#22
Menulislah dengan jujur. Jujur pada dirimu sendiri, jujur atas tulisanmu, juga jujur kepada orang lain (pembacamu). Ketika kita menulis dengan kejujuran, kita akan menulis dengan cinta. Dan ketika kita menulis dengan cinta, maka hukum alam paling mutlak akan terjadi—cinta akan menarik cinta. Tulisan yang ditulis dengan cinta—sepahit apa pun isinya—akan mendatangkan cinta yang sama dari para pembacanya. Agar pembaca menyukai tulisanmu, terlebih dulu kau harus mencintai tulisanmu—dan proses menulismu.

#23
Kalau ingin mendalami ilmu kepenulisan, silakan beli dan baca buku-buku teori kepenulisan. Tetapi tidak usah terikat atau terbebani dengan semua teori yang tertulis di buku-buku itu. Buku teori menulis memang baik untuk dipelajari, tetapi lebih baik lagi adalah praktik menulisnya. Seperti belajar berenang, kita tetap saja tidak akan dapat berenang meski sudah membaca ratusan buku teori berenang. Untuk dapat berenang dengan baik, kita harus terjun ke kolam renang—dan belajar sambil jalan.

#24
Teruslah belajar, jangan pernah puas dengan hasil tulisanmu. Teruslah berusaha agar bisa menulis lebih baik lagi, lebih baik lagi, dan lebih baik lagi. Teruslah bertumbuh, jangan berhenti dan mati.

#25
Sekali lagi, cintailah apa yang kautulis. Ketika kita menulis, kita mengalirkan emosi ke dalam tulisan. Pembaca kita akan dapat merasakan emosi yang kita rasakan dalam tulisan itu. Kalau kita menyukai apa yang kita tulis, kita pun bisa berharap pembaca akan ikut menyukainya.

#26
Membaca post ini saja tidak akan bisa membuatmu menulis dengan baik. Karenanya, mulailah menulis sekarang juga!


26 Tip Dasar Menulis (2)



Posting ini lanjutan dari post sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, bacalah terlebih dulu posting sebelumnya.

#8
Menulislah apa saja yang memang kauinginkan, yang memang kausukai. Jangan batasi tulisanmu. Apa yang ingin kautulis, tulislah. Tulislah pengalamanmu hari ini, tulislah renungan atau kenanganmu, tulislah pikiran atau khayalanmu yang liar sekali pun, tulislah kata-kata mutiara favoritmu, tulislah puisi, atau apa pun yang memang kauinginkan. Ringankan tugasmu dalam menulis. Dalam tahap belajar, yang penting bukan hasil belajarnya, tetapi proses belajarnya.

#9
Mulailah belajar menulis dengan baik dan benar. Ketika membaca buku atau novel, jangan hanya menyimak isinya atau menikmati jalan ceritanya, tetapi perhatikan dan cermati pula susunan kata-katanya, atau tiap-tiap suku katanya. Setelah itu, terapkan dalam tulisanmu.

#10
Kalau kebetulan punya waktu luang, bacalah KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dari sana, kita akan tahu mana suku kata yang benar, dan mana suku kata yang salah. KBBI akan menunjukkan kepada kita bahwa menulis lobang itu salah, karena yang benar adalah lubang. Dan… mana yang benar, resiko atau risiko? Ayo mulai akrab dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

#11
Ketika menyaksikan film dari luar negeri, cermati teks yang ada di layar film. Ini akan mempercepat pemahaman kita terhadap penulisan suku kata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Karenanya pula, jangan membeli DVD bajakan, karena teks dalam DVD bajakan sering kali ngawur dan asal-asalan. Bagaimana saya tahu? Karena saya suka membeli DVD bajakan! :D

#12
Jangan pernah membubuhkan tanda berupa titik-titik dalam jumlah banyak di setiap tulisanmu, apa pun alasannya, karena itu tanda kesalahan yang jelas sekali. Kalau kita menulis, “Dia kemudian menciumku…………” itu SALAH. Bukan soal menciumnya itu yang salah, tapi tanda titik-titiknya. Penggunaan titik-titik hanya boleh digunakan dengan takaran minimal tiga titik, dan maksimal empat titik. Semakin banyak tanda titik yang kita buat, semakin tampak kesalahannya.

#13
Mulailah belajar menulis dengan tidak menggunakan kalimat pembuka yang sudah kuno, misalnya, “Pada zaman dahulu kala…” atau, “Pada suatu ketika…” atau, “Di malam yang sunyi ini…”. Kalau kita masih kelas satu SD dan baru belajar mengarang, guru kita akan tersenyum. Tetapi kalau kita sudah kuliah dan masih menulis dengan kalimat pembuka seperti itu, para pembaca akan manyun.

#14
Kalau “keluyuran” di internet, jangan hanya membuka Facebook atau nonton film di YouTube, tapi buka juga situs penyedia artikel, atau blog-blog bagus, dan pelajari serta cermatilah bagaimana para penulis blog itu menyuguhkan tulisan yang bagus, sehingga memikat para pembacanya. Jika menemukan blog yang menurutmu bagus, jangan segan memberikan komentar. Menulis komentar di blog yang bagus secara tak langsung akan melatihmu menulis dengan sama bagusnya.

#15
Menulislah dengan baik dan benar—tetapi jangan kaku. Artinya, menulislah dengan luwes, sehingga enak dibaca. Meski menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tulisanmu tidak perlu mirip teks pidato Pak Camat atau laporan akuntansi.

#16
Menulislah apa yang memang ingin kautulis, apa yang memang kausukai, apa yang memang kaupahami. Jangan menulis hanya karena sekadar tren, atau karena suatu topik sedang menjadi isu. Pendeknya, menulislah sesuai keinginanmu sendiri, dan jangan hanya ikut-ikutan. Menulis sesuatu yang tidak kausukai akan membuat tulisanmu tidak tulus, sekaligus “ngambang”. Sementara menulis hanya karena tren atau ikut-ikutan akan membuatmu belajar menjadi beo.


26 Tip Dasar Menulis (1)



Sebenarnya, menulis dengan baik tidak sesulit yang dibayangkan orang. Berikut ini saya tuliskan 26 (dua puluh enam) tip dasar menulis dengan baik. Ini tip dasar. Artinya, kalau kita sanggup melakukan 26 langkah berikut ini, maka kemampuan menulis yang baik akan segera menjadi milik kita.

Saya telah berusaha menuliskan langkah-langkah berikut ini seurut mungkin, sehingga bisa diikuti atau dipraktikkan secara sistematis. Tetapi kalian tidak dilarang kalau berimprovisasi atau mengambil langkah-langkah yang menurut kalian paling mudah terlebih dulu.

Oh ya, kalau masing-masing tip berikut ini dirasa terlalu singkat, jangan khawatir, nanti sambil jalan saya akan menuliskan masing-masing tip berikut ini secara panjang lebar di post-post yang akan datang. Yuk, mulai…


#1
Pahamilah bahwa menulis adalah proses. Karena ia merupakan proses, jangan pernah dirisaukan oleh hasilnya, tetapi nikmatilah prosesnya. Uang, popularitas, dan hal lain semacamnya, hanyalah efek samping atau hadiah yang akan kita dapatkan dari keasyikan menulis. Nikmati prosesmu!

#2
Membacalah. Membaca adalah makanan pokok sekaligus santapan wajib bagi penulis. Jangan pernah percaya pada siapa pun yang menyatakan bahwa kita dapat menulis tanpa membaca. Berharap dapat menulis dengan baik tanpa membaca, itu sama mustahilnya dengan berharap kenyang tanpa makan, berharap hidup tanpa dilahirkan.

#3
Jangan batasi bacaanmu, membacalah sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya. Jadilah orang yang terbuka, agar isi tulisanmu juga tidak sempit. Tulisan seseorang akan mencerminkan pikiran dan wawasan penulisnya. Jadi, bacalah novel, buku ringan sampai berat, majalah sampai buku agama. Semakin banyak bacaanmu, semakin berisi tulisanmu. Semua penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Semua penulis yang hebat adalah pembaca yang hebat.

#4
Ketika telah memutuskan untuk menulis, katakanlah pada diri sendiri bahwa kita AKAN menulis, dan bukan INGIN menulis. Kemudian, jangan tunda rencana itu. Menulislah. Selama kita masih mencari waktu yang tepat untuk menulis, kita tidak akan pernah menemukannya. “Waktu yang tepat” tidak pernah datang, tetapi diciptakan.

#5
Cintailah bahasa Indonesia. Untuk dapat mencintai bahasa Indonesia, mulailah kurangi menulis bahasa gaul, bahasa prokem, bahasa alay, atau singkatan-singkatan yang tidak wajar. Menulis kalimat yang penuh singkatan tidak jelas boleh saja dilakukan jika tulisan itu akan dibaca sendiri, tetapi hal semacam itu akan menyulitkan dan menyusahkan orang lain (pembaca kita). LBh dR tu, mNLs kt2 yG pnH sNktn gA jLs & kCAu bSaR kcILnyA, bnr2 sgt TIDAK KEREN DAN TIDAK INTELEK!

#6
Buatlah blog. Dengan memiliki blog, kita akan terpacu untuk rajin menulis, karena tentunya kita ingin blog terus ter-update dengan posting baru. Dengan memiliki blog, kita pun tentunya malu kalau blog archive hanya memiliki satu post dalam waktu tiga bulan. Blog akan membuatmu rajin menulis! Kalau belum pede membuat blog, tulislah diary, baik di buku atau di komputer, kemudian disiplinlah menulis.

#7
Jangan hiraukan komentar orang. Tidak usah pedulikan bagaimana respon atau penilaian orang lain atas tulisanmu. Lebih dari itu, tidak usah berpikir apakah tulisanmu (di blog) akan dibaca orang lain atau tidak. Yang penting menulis, dan terus menulis. Jika tulisanmu semakin baik, para pembaca akan berdatangan sendiri.


Esensi Cinta



Cinta tak ada kaitannya dengan yang ingin kaudapatkan, tetapi berhubungan dengan yang ingin kauberikan, apa saja. Yang akan kauterima sebagai balasan bisa bermacam-macam, tetapi itu sama sekali tidak berhubungan dengan yang kauberikan. Kau memberi karena cinta, dan tidak bisa tidak memberi. Apabila kau sangat beruntung, mungkin kau akan balik dicintai. Itu indah sekali, tetapi tidak selalu harus begitu.”
—Katherine Hepburn


Cinta akan muncul ketika kita menyadari bahwa manfaat suatu hubungan bukanlah apa yang akan kita terima dari orang lain, melainkan sebaliknya. Kita memerlukan orang lain karena kita lemah, dan orang lain membutuhkan kita untuk melengkapi hidup mereka dengan memadukan kekuatan-kekuatan kita dengan kelemahan-kelemahan mereka.

Proses untuk menciptakan suatu hubungan timbal balik yang sehat dan saling menguntungkan ini menyingkapkan suatu kesadaran bahwa cinta paling baik bila diekspresikan ketika kita mengisi tempat yang kosong pada hidup orang lain, dan dengan cara itulah kita mengembangkan nilai dalam hidup kita sendiri.

Walaupun cinta mungkin tidak dibalas oleh orang yang menerimanya, hidup kita tidak akan tetap sama apabila kita memiliki komitmen untuk mengisi kekosongan pada orang lain. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Karl Menninger, “Cinta selalu dapat menjadi obat, baik bagi yang memberi maupun bagi yang menerimanya.”


 
;