Senin, 25 Juli 2011

Wanita yang Ingin Membesarkan Payudara

Ketergesa-gesaan dan kedangkalan adalah penyakit batin abad 20.
—Alexander Solzhenitsyn


Ini kisah yang terjadi di Yahoo! Answer beberapa tahun yang lalu. Seperti kita tahu, Yahoo! Answer adalah tempat berkumpul untuk saling bertanya-jawab, berbagi ilmu dan pengetahuan. Melalui Yahoo! Answer, kita dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ingin kita tahu jawabannya, dan melalui forum itu pula kita dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang ada, sesuai pengetahuan dan kemampuan kita.

Nah, suatu hari, ada seorang anggota forum yang mengajukan pertanyaan tentang cara membesarkan payudara. Tentu saja orang yang mengajukan pertanyaan tersebut seorang wanita. Berdasarkan memori saya, berikut inilah pertanyaan yang dia tulis waktu itu:

Ada yang tahu nggak, gimana cara membesarkan payudara yang aman? Soalnya saya merasa payudara saya kurang besar, atau kurang sesuai dengan perkembangan usia saya.

Coba lihat dan perhatikan pertanyaan di atas. Dengan sepenuh objektivitas, kita tentunya dapat menilai bahwa pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang wajar, netral, sah, bahkan manusiawi. Seorang wanita yang merasa payudaranya kurang besar ingin membesarkan payudaranya. Itu normal—ditinjau dari sudut pandang apa pun.

Atas pertanyaan tersebut, teman-teman di Yahoo! Answer pun kemudian mulai memberikan jawabannya. Jawaban yang diberikan tentu jawaban-jawaban yang relevan dengan pertanyaan di atas—mulai cara yang alami semisal senam, sampai penggunaan obat-obatan tertentu, bahkan ada yang menawarkan cara operasi plastik dan penggunaan silikon.

Sampai di situ, semuanya berjalan normal—dan manusiawi. Apa pun jawabannya, semuanya relevan dengan pertanyaan di atas.

Tapi kemudian muncul seseorang—kita sebut saja—bernama X. Si X ini sudah dikenal sebagai “biang kerok” di sana. Bukannya memberikan jawaban yang relevan atas pertanyaan tadi, si X justru mengajukan tuduhan-tuduhan tak berdasar dengan dalih agama, dan berkhotbah macam-macam dengan menyitir ayat-ayat suci dan hadist Nabi.

Menurut X, wanita di atas yang ingin membesarkan payudaranya itu adalah wanita yang tidak taat dalam beragama, tidak mensyukuri pemberian Tuhan, dan bla-bla-bla, dan X pun kemudian memuntahkan nasihat-nasihat tentang ajaran agama, tentang perlunya kita mengetahui perjalanan hidup tokoh-tokoh teladan yang tidak pernah mempersoalkan bentuk tubuh, tentang ancaman neraka bagi para wanita yang… bla-bla-bla…

Omigoooooddd, selalu ada orang-orang seperti ini di mana-mana, bahkan di forum netral seperti Yahoo! Answer sekalipun. Orang-orang seperti itu memiliki ciri khas yang sama, yakni tidak bisa membedakan konteks. Akibatnya, di mana pun dia muncul, selalu saja “salah alamat”, dan membuat orang-orang lain di sekelilingnya jadi ilfil.

Sampai di sini, saya perlu menegaskan bahwa saya tidak anti agama. Lihatlah konteksnya. Yang saya maksudkan di sini adalah, wanita yang ingin membesarkan payudara bukanlah wanita yang bisa langsung dicap sebagai wanita rusak yang tidak menjalankan ajaran agamanya. Bahwa wanita yang ingin membesarkan payudara tidak secara otomatis dapat divonis sebagai wanita yang tidak mensyukuri pemberian Tuhan. Sekali lagi, lihatlah konteksnya.

Ini kisah manusia yang sangat manusiawi. Wanita yang ingin membesarkan payudara itu normal. Netral. Sah. Tidak ada yang salah di sini—karena itu sangat manusiawi. Jadi kenapa wanita yang normal seperti itu langsung dituduh sebagai wanita rusak, sehingga langsung dimuntahi ceramah-ceramah agama segala macam?

Keinginan untuk cantik adalah keinginan normal setiap wanita, dan keinginan semacam itu adalah hal wajar, dan manusiawi. Karenanya, ketika seorang wanita merasa ingin membesarkan payudaranya, itu bukan dilandasi karena tidak mau menjalankan agamanya atau karena ingin menentang kehendak Tuhan, tetapi semata-mata karena ingin bisa tampil (lebih) cantik. Apa salahnya…???

Jangankan naluri untuk cantik, bahkan naluri untuk narsis pun sesuatu yang manusiawi. Dan, sekali lagi, itu sah! Kecantikan selalu berhubungan dengan naluri narsis. Jika naluri narsis fisikal dianggap sebagai penentangan terhadap ajaran agama, maka narsis psikologis berupa kesukaan menyemburkan nasihat-nasihat agama juga merupakan penentangan terhadap ajaran agama.

Endapkan fakta itu sejenak.

Jika kita mau jujur pada diri sendiri, kita akan sampai pada kesadaran bahwa kepuasan yang kita rasakan setelah menyemburkan nasihat-nasihat itu adalah sebentuk narsis psikologis, sebentuk upaya kita dalam menunjukkan kepada orang lain bahwa kita adalah orang yang (lebih) tahu ajaran agama. Intinya, sama-sama narsis!

Orang yang sangat suka menasihati orang lain berdasarkan ajaran agama biasanya berdalih bahwa agama mengajarkan kita saling menasihati. Of course! Agama memang mengajarkan kita saling nasihat-menasihati di dalam kebaikan. Tapi lihatlah konteksnya. Artinya, tidak semua nasihat yang baik harus berupa ayat-ayat suci.

Sebagaimana contoh di atas tadi. Wanita yang ingin membesarkan payudaranya sama sekali tidak bertujuan untuk menentang ajaran agama. Karenanya, jika kita memberikan jawaban yang baik untuknya atas hal yang berhubungan (relevan) dengan pertanyaannya, maka itu pun sudah merupakan “nasihat-menasihati dalam hal kebaikan”. Untuk kesejuta kalinya, lihatlah konteksnya!

Ehmm, saya sendiri bukan orang yang narsis. Saya bahkan benci kamera. Tetapi, meski begitu, saya tetap manusia yang manusiawi. Saya ingin kulit saya lebih mulus, saya ingin lebih tampan, saya ingin perut saya selalu rata, dan lain-lain. Apakah karena keinginan-keinginan yang manusiawi itu kemudian menjadikan saya sebagai penentang kehendak Tuhan dan pendusta agama…??? Oh, come on, yang benar saja!

Jadi, marilah kita tempatkan ajaran agama sesuai proporsinya. Yaitu di dalam diri kita, dan bukan di luar kita. Agama adalah representasi hidup manusia, dan bukan sarana unjuk diri di hadapan orang lain. Fungsi penting dan mendasar agama bagi manusia adalah untuk memperbaiki diri, dan bukan senjata untuk memaksakan sesuatu kepada orang lain.

Di sekeliling kita, tidak sedikit orang yang dijauhi bahkan dikucilkan dari pergaulan karena kesalahan dalam memahami persoalan ini. Orang-orang semacam itu biasanya sangat hobi menyemburkan nasihat dan petuah-petuah agama tanpa melihat konteksnya. Akibatnya, orang-orang di sekelilingnya pun jadi tidak nyaman, dan kemudian memilih untuk menjauh dari orang bersangkutan.

George Bernard Shaw, penulis terkenal Inggris kelahiran Irlandia, juga pernah mengalami hal semacam itu ketika dulu masih kuliah. Karena baru kenal agama, dia pun jadi “genit”—persis seperti bocah yang baru bisa pencak silat. Kemana-mana penginnya pamer jurus.

Jadi, kemana pun Bernard Shaw ikut ngumpul dengan teman-temannya di kampus, selalu saja keluar petuah-petuah agama dari mulutnya. Tujuan Bernard Shaw mungkin baik, yakni untuk menyebarkan kebaikan pada teman-temannya. Tetapi, teman-temannya justru menjauh darinya. Perlahan namun pasti, setiap kali Bernard Shaw muncul, teman-temannya akan menyingkir satu per satu.

Ketika sadar dia mulai tidak punya kawan, Bernard Shaw menemui dosennya untuk mengadukan permasalahannya.

Untungnya, si dosen orang yang bijak. Dia menyatakan pada Bernard Shaw yang waktu itu masih remaja, “Bernard, tujuanmu mungkin baik, tapi teman-temanmu jadi tidak nyaman, karena kau sering mengeluarkan nasihat dan petuah agama secara tidak relevan. Hal itu, mungkin tanpa kausadari, menjadikan mereka merasa lebih rendah darimu, dan itulah kenapa mereka lebih memilih menjauh darimu.”

Untungnya, Bernard Shaw orang yang berjiwa besar. Dia mematuhi saran dosennya, dan sejak itu dia mulai belajar untuk menahan mulutnya, dan tidak sembarangan lagi menyemburkan petuah-petuah agama secara tidak relevan seperti sebelumnya.

Ketika dia mampu melakukan hal itu, dia tidak hanya menyelamatkan persahabatannya dengan teman-temannya, tetapi juga menyelamatkan dirinya sendiri. Kelak, ketika dia akhirnya menjadi penulis besar dunia, Bernard Shaw menyadari bahwa petuah dan nasihat yang murahan itu memuakkan. Hasilnya, dia pun mampu menulis dengan objektif, tulisan-tulisannya sangat jernih… dan selanjutnya adalah sejarah.

In the end, agama adalah sekumpulan nilai luhur. Dan nilai luhur itu akan berubah menjadi barang murahan jika kita mengobralkannya di pinggir-pinggir jalan.

 
;