Minggu, 09 September 2012

Orang Paling Konyol Sedunia

Suatu malam saya dolan ke tempat seorang teman, dan saya mendapatinya sedang menonton televisi sambil tertawa terpingkal-pingkal.

“Huahahaha… hahahahaaaaaaaa… huahahaha… hahahahaaaaaa…!” dia terus tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.

Saya jadi tertarik. Apa yang membuatnya tertawa, pikir saya.

“Huahahahaha… hahahaaaaaaaa… huahahahaha… hahahaaaaaa…!” teman saya masih terus terpingkal-pingkal tak karuan.

Saya menengok ke arah televisi yang ditertawakannya, tapi tidak paham. Di layar televisi tampak seorang wanita sedang ngemeng-entah-apa, dan teman saya terus tertawa terpingkal-pingkal. “Huahahahaha… hahahaaaaaaaa… huahahahaha… hahahaaaaaa…!”

“Jadi, apa yang lucu, pal?” tanya saya akhirnya.

“Huahahahaha… hahahaaaaaaaa… huahahahahaaaaaa…!”

“Heh, apa sih yang lucu?”

Kali ini dia menunjuk-nunjuk si wanita di layar televisi. Tapi tetap tidak mampu menghentikan tawanya. “Huahahahaha… hahahaaaaaaaa… huahahahaha… hahahaaaaaa…!”

Saya masih belum paham. Si wanita di layar teve masih ngemeng-tidak-jelas.

“Huahahahahahahahaaaaaaaa… huahahahaha… hahahaaaaaa…!” sekarang teman saya mulai guling-guling di lantai sambil memegangi perutnya yang mungkin kaku.

Saya pun mendekati si teman dengan makin penasaran, “Tolong katakan apa yang lucu?”

“Huahahahahahahahaaaaaaaa… huahahahahahahahaaaaaa…! Itu… itu…” sambil nunjuk-nunjuk ke layar televisi. “Huahahahahahahahaaaaaaaa… huahahaha… hahahahaaaaaa…!”

Mungkin saya idiot. Atau teman saya yang mulai gila. Dia terus tertawa-tawa tak karuan, sementara saya tetap belum paham.

“Huahahahaha… hahahaaaaaaaa… huahahahaha… hahahaaaaaa… kekekekekeee…” tawanya semakin tak karuan. “Huahahahahaha… hahahaaaaaaaa… kikikikikikiiii… huahahahaha… hahahaaaaaa…!”

Akhirnya, dengan bingung, saya pun duduk dan menunggu teman saya menyelesaikan tawanya. Seperempat jam kemudian, dia sudah mulai meredakan tawanya, dan duduk di dekat saya sambil terengah-engah. Tapi masih cekikikan. Dengan letih dia mengambil gelas di meja, dan meminumnya.

Setelah dia tampak tenang, saya pun kembali bertanya, “Jadi, apa yang lucu tadi?”

Dia kembali meledak, “Huahahahaha… hahahaaaaaaaa… huahahahahahahahaaaaaa…!”

“Heh, apa yang lucu…?”

“Huahahahahahahahaaaaaaaa… huahahahaha… hahahaaaaaa…!” Kembali dia guling-guling di lantai. “Huahahahahaha… hahaaaaaaaa… huaha… hahahaha… hahaaaaaa…!”

Sekali lagi saya menunggunya menyelesaikan tawa.

Sekali lagi dia kembali mampu meredakan tawanya. Lalu minum lagi. Dan tampak tenang lagi. Saya menunggunya beberapa saat, dan mulai bertanya lagi, “Jadi, pal, please, apa yang lucu hingga membuatmu tertawa sampai guling-guling begitu?”

Dia sudah tampak akan tertawa dan guling-guling lagi, tapi saya segera memegangi lengannya. “Tolong jawab dulu! Apa yang lucu?”

“Uh… kamu lihat orang di teve tadi?” akhirnya dia bisa ngomong juga.

“Ya,” saya menjawab. “Tapi, apa yang lucu dari dia sampai membuatmu tertawa-tawa kayak tadi?”

“Dia lucu sekali! Maksudku, konyol sekali!”

“Di mana lucunya? Bagaimana konyolnya?”

“Orang itu menganggap dirinya mendengar suara langit!”

“Orang itu… apa?”

Teman saya pun menjelaskan, “Orang itu menyalah-nyalahkan orang lain yang dianggapnya berbeda dengannya. Dia tadi mengatakan bahwa dialah yang benar, dan orang yang berbeda dengannya pasti salah.”

“Oke, terus?”

“Terus, tadi dia diwawancarai reporter teve, kenapa dia berani menyimpulkan kalau dirinya pasti benar dan orang lain pasti salah. Dan orang itu menjawab bahwa dia mendengar suara langit!”

“Dia mendengar suara langit?” saya memastikan.

“Iya. Dia menyatakan bahwa yang dikatakannya adalah suara langit yang harus disampaikannya. Jadi dia merasa berhak untuk menyalah-nyalahkan orang lain. Kupikir itu konyol sekali. Makanya aku tertawa sampai guling-guling begitu.”

Lalu teman saya kembali tak mampu menahan diri. Dia kembali tertawa sambil guling-guling, “Huahahahaha… hahahaaaaaaaa… suara langit…??? Huahahahaha… hahahaaaaaa…! Hari gini…??? Huahahahaha… hahahaaaaaaaa… huahahaha… hahahahaaaaaa…!”

Saya ikut guling-guling.

 
;