Kamis, 16 Mei 2013

Percakapan Orang Terkenal dan Tidak Terkenal yang Membahas Orang Terkenal dan Tidak Terkenal

Di sebuah pertemuan, yang menghidangkan keranjang-keranjang anggur di atas meja....

Seorang bocah yang biasa main sinetron bercerita pada saya, “Da’, minggu lalu kan aku ketemu Ariel, terus kami ngobrol-ngobrol—soal musik, buku, lain-lain. Eh, ternyata Ariel kenal kamu, lho.”

“Hmm...” saya menggumam sambil memungut beberapa butir anggur di atas meja. Lalu mengunyahnya dengan nikmat.

“Kok kamu nggak terkejut?”

Saya masih mengunyah anggur. “Kenapa aku harus terkejut?”

“Uhm... maksudku, kamu nggak terkejut mendengar Ariel kenal kamu?”

Saya menelan anggur dalam mulut, lalu menjawab, “Lha iya, kenapa aku harus terkejut?”

Bocah itu menatap saya, memastikan saya tidak mabuk anggur. “Kamu serius, nggak terkejut?”

“Oh, demi Tuhan, kenapa aku harus terkejut kalau Ariel—atau bocah lain—mengenalku?”

“Jadi, kamu kenal Ariel?”

Saya memungut anggur lagi di meja, dan menjawab, “Kenal.”

“Kamu kenal Ariel?” Dia memastikan.

“Iya, kenal.”

Dia memastikan lagi. “Kamu sungguh-sungguh kenal Ariel?”

Saya menatapnya dengan jengkel. “Oh, sialan, memangnya siapa yang tidak kenal bocah itu? Anak SD yang baru bisa nyanyi juga kenal Ariel.”

“Uhm... maksudku, kalian kenal secara pribadi, gitu?”

“Nggak!”

“Lalu kenapa kamu nggak terkejut kalau Ariel kenal kamu?”

“Oh, hell, memangnya kenapa aku harus terkejut?” Saya menelan anggur dalam mulut. “Dikenal Ariel atau tidak, apa bedanya bagiku? Atau, dikenal aku atau tidak, apa bedanya buat Ariel? Kalau dasarnya tolol, dikenal Ariel atau tidak, aku tetap saja tolol. Dan kalau dasarnya hebat, dikenal aku atau tidak, Ariel tetap hebat. Jadi, pertanyaan sialan kita, kenapa aku harus terkejut kalau Ariel mengenalku?”

“Uhm... iya juga, ya.”

“Kamu sendiri, yang biasa nyangkruk dengan Ariel, emang kamu jadi ngerasa lebih hebat, gitu?”

“Uhm... nggak juga, sih.”

“Nah!” Saya memungut anggur lagi di meja.

 
;