Jumat, 04 April 2014

Prabowo Ngambek Gara-gara Megawati Kelamaan Mandi

Orang pertama yang perlu kita mintai maaf
adalah diri sendiri. Orang pertama yang
paling perlu dimaafkan adalah diri sendiri.
@noffret 


Ini serius. Nama Prabowo serta Megawati yang ada pada judul catatan ini memang Prabowo Subianto serta Megawati yang terkenal itu. Dan hanya gara-gara kelamaan menunggu Megawati mandi, Prabowo “ngambek” hingga hubungan keduanya menjadi renggang.

Kisah ini dimulai pada lebaran tahun lalu (2013). Ceritanya, Prabowo bersilaturrahmi ke rumah Megawati. Kebetulan, saat Prabowo datang, Megawati sedang mandi. Maka Prabowo pun menunggu. Tapi Megawati tidak juga selesai mandi.

Yang jadi masalah, waktu itu Megawati mandi di kamar mandi pribadi yang ada di kamar tidurnya. Akibatnya, orang rumah jadi enggan mengetuk pintu. Satu-satunya pilihan mereka hanya menunggu Megawati selesai, hingga ia keluar dari kamar dan siap menyambut tamu-tamunya.

Selama beberapa saat, Prabowo menyabarkan diri menunggu. Tetapi, setelah dipikirnya Megawati kelamaan mandi, Prabowo pun gusar, lalu memutuskan untuk pulang. Ia juga ngambek, karena mengira Megawati tidak mau menemuinya. Beberapa menit kemudian, Megawati selesai mandi, tapi Prabowo sudah pergi. Gara-gara insiden itu, hubungan keduanya renggang.

Kisah itu menunjukkan kepada kita, bahwa seterkenal apa pun seseorang, mereka tetap manusia biasa. Yang kadang egois, atau kadang terlalu sensitif.

Mungkin Megawati biasa mandi lama-lama, jadi dia tidak peduli apakah dirinya sedang ditunggu tamu atau tidak. Umumnya wanita memang seperti itu—suka mandi lama-lama—karena nyokap saya pun begitu. Atau bisa jadi Megawati sebenarnya tidak tahu kalau saat itu ada Prabowo yang sedang menunggunya di ruang tamu, jadi ia tetap asyik saja mandi lama-lama tanpa menyadari dia sedang ditunggu.

Sementara itu, Prabowo mungkin terlalu sensitif. Karena Megawati tidak juga selesai mandi, bisa jadi Prabowo berpikir kalau itu hanya “akal-akalan” Megawati saja yang tidak ingin menemuinya. Atau mungkin pula waktu itu Prabowo sedang buru-buru, jadi dia tidak mau buang-buang waktu hanya untuk menunggu Megawati selesai mandi. Apa pun kemungkinannya, hubungan kedua orang itu jadi renggang.

Sekali lagi, kisah itu menunjukkan kepada kita, bahwa seterkenal apa pun seseorang, mereka tetap manusia biasa. Yang kadang egois, atau kadang terlalu sensitif.

Ketika menyadari hubungan mereka renggang sejak insiden itu, kenapa tidak ada upaya dari mereka untuk berkomunikasi? Misalnya, mengapa Megawati tidak menghubungi Prabowo dan berkata baik-baik, “Pak Prabowo, maafkan saya. Kemarin waktu Pak Prabowo datang ke rumah, saya sedang mandi, dan saya sama sekali tidak tahu kalau Pak Prabowo sedang menunggu. Saya benar-benar menyesal.”

Dan kenapa juga Prabowo tidak mencoba menghubungi Megawati secara baik-baik dan berkata, misalnya, “Bu Mega, kemarin saya ke rumah Anda, tapi—menurut orang rumah—Anda sedang mandi. Saya sudah menunggu, tapi kebetulan waktu itu sedang buru-buru, jadi saya putuskan untuk pulang. Saya minta maaf, karena telah menjadi tamu yang kurang sabar.”

Jika kedua orang itu mau berkomunikasi secara baik-baik seperti di atas, mungkin hubungan mereka akan tetap sebaik semula. Tapi tidak—keduanya hanya diam, tidak ada yang mau mengalah, dan konflik kecil itu kemudian menjadi luka menganga. Tetapi, sekecil apa pun, luka tetap luka. Sebagaimana tubuh terluka mudah terinfeksi kuman dan bakteri, hubungan yang terluka juga sama.

Mungkin Megawati terlalu egois. Atau mungkin Prabowo terlalu sensitif. Yang jelas, keduanya ikut berperan atas terjadinya luka kecil dalam hubungan mereka. Dan karena luka kecil itu tidak segera diobati, kuman-kuman dan bakteri pun menghinggapi, hingga kemudian terjadi infeksi. Dalam konteks hubungan Megawati-Prabowo, infeksi yang terjadi adalah konflik politik yang sekarang terjadi.

Hanya karena luka kecil yang tidak segera ditutup dan diobati, hubungan yang semula baik menjadi buruk, seseorang yang semula dianggap teman berubah menjadi lawan. Kenyataan semacam itu tidak hanya terjadi di dunia politik, tapi juga dalam kehidupan kita sehari-hari—di dunia nyata, maupun di dunia maya.

Di Twitter, saya pernah mendapati seseorang marah-marah pada temannya, hanya karena mention-nya tidak dibalas. Itu masalah sepele, cuma mention yang tidak dibalas. Dan penyebab mention yang tidak dibalas pun bisa sangat beragam—karena sedang sibuk dan stres hingga tidak sempat membalas mention, atau karena terlalu banyaknya mention yang masuk hingga tidak sempat membalas satu per satu. Tetapi hanya karena masalah sesepele itu pun, dua orang yang semula berteman bisa berselisih.

Begitulah manusia—begitulah kita. Sering kali, hubungan baik antar manusia rusak justru karena hal-hal sepele semacam itu.

Suatu malam, saya pernah menelepon seorang teman, untuk menanyakan sesuatu yang waktu itu sedang sangat saya butuhkan. Kami sempat bercakap-cakap beberapa saat, kemudian hubungan itu terputus tiba-tiba. Saya mencoba meneleponnya kembali, tapi ponselnya mati. Saya coba lagi beberapa kali, tapi ponselnya tetap tidak bisa dihubungi. Waktu itu saya sedang bingung campur panik, jadi kenyataan itu terasa sangat mengesalkan hingga membuat saya memaki-maki dalam hati.

Ketika sedang mengalami hal semacam itu, naluri kekanakan saya muncul dengan segala sensitifitasnya yang kadang keterlaluan. Setelah beberapa kali mencoba menelepon dan tetap tidak bisa, saya pun menyimpulkan teman saya memang tidak mau menjelaskan sesuatu yang saya tanyakan kepadanya. Saya ngambek! Dan, yang memalukan, saya sempat berjanji dalam hati untuk membalas perbuatannya. Lain kali, pikir saya waktu itu, jika dia menanyakan sesuatu, saya tidak akan sudi menjawabnya!

Keesokan harinya, sambil menikmati kopi setelah bangun tidur, kepala saya sudah dingin, dan logika saya mulai bisa diajak bekerja. Saya pun berpikir, mungkin teman saya tidak bermaksud buruk. Mungkin dia tidak sengaja memutus percakapan kami. Mungkin baterai ponselnya kebetulan habis ketika kami sedang berkomunikasi. Ya, hal-hal semacam itu biasa terjadi, kan?

Kenyataannya memang begitu. Satu hari setelah kejadian itu, teman saya menelepon, dan berkata, “Sori, kemarin pas kamu nilpon, bateraiku pas habis. Nggak bisa nge-cas, karena lagi di jalan.”

Apakah saya marah mendengar penjelasan itu? Tentu saja tidak! Kami bahkan sempat ngobrol dan cekikikan di ponsel waktu itu, dan sampai sekarang hubungan kami baik-baik saja. Bahkan umpama dia menelepon ketika kepala saya masih panas pun, kemungkinan besar saya tidak akan marah, karena dia meminta maaf, dan menjelaskan masalahnya secara jujur.

Kebesaran hati untuk meminta maaf dan komunikasi yang jujur adalah pilar penting dalam hubungan yang baik antar manusia. Hal itu berlaku sejak zaman para filsuf agung yang hidup ribuan tahun lalu, dan tetap sama berlakunya bagi manusia-manusia modern yang hidup di zaman sekarang. Berurusan dengan manusia artinya berurusan dengan emosi dan logika.

Emosi dan logika, itulah dua faktor yang menggerakkan manusia. Orang tergerak untuk melakukan sesuatu, berbuat sesuatu, membangun sesuatu, atau bahkan merusak sesuatu, semuanya digerakkan oleh emosi dan logika. Dua faktor penting itu terus bekerja dalam kehidupan manusia—kadang beriringan, kadang sendiri-sendiri. Apa pun bentuknya, berurusan dengan manusia tetap saja berurusan dengan emosi dan logika.

Karenanya, kebesaran hati untuk meminta maaf dibutuhkan untuk meredam emosi manusia lain. Sementara komunikasi yang jujur dibutuhkan untuk menjawab logika manusia lain.

Jika masing-masing manusia mau berbesar hati untuk meminta maaf dan berkomunikasi secara jujur, tidak ada masalah di muka bumi yang tidak bisa diselesaikan. Yang menjadikan masalah berlarut-larut dan kemudian meruncing menjadi perselisihan atau bahkan permusuhan, karena manusia terlalu tinggi hati untuk meminta maaf, dan tidak mau jujur dalam berkomunikasi.

Megawati tidak mau meminta maaf pada Prabowo, mungkin karena berpikir, “Salah saya apa, ya? Saya kan lagi mandi, dan tidak tahu kalau dia ada di rumah saya. Kalau dia tidak sabar dan kemudian pulang, kenapa saya harus minta maaf kepadanya?”

Sementara Prabowo mungkin terlalu dikuasai sensitifitasnya, hingga tidak mau berpikir lain, dan tetap menganggap Megawati sengaja mandi lama-lama karena memang tidak mau menemuinya. Prabowo juga tentu tidak mau minta maaf, karena dia bisa saja berpikir, “Kenapa saya yang harus minta maaf? Kan dia yang kelamaan mandi, sampai saya harus menunggu terlalu lama!”

Secara fisik, manusia memang berubah—dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, hingga menua. Tetapi secara psikis, manusia tak pernah berubah—tetap dikuasai emosi dan logika. Tinggal faktor mana yang paling berperan, maka itulah dirinya. Dan kepada Pak Prabowo serta Ibu Megawati, tolong maafkan saya karena telah menulis catatan yang mungkin kurang ajar ini.

 
;