Selasa, 24 Februari 2015

Penulis, Penerbit, dan Promosi Buku (2)

Posting ini lanjutan posting sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah post sebelumnya terlebih dulu.

***

Untuk mendapat gambaran lebih jelas, kira-kira seperti inilah yang terjadi di toko-toko buku besar di mana pun: Ketika ada buku baru masuk ke gudang mereka, toko buku memberikan jangka waktu satu bulan untuk masing-masing buku tersebut mejeng di rak paling depan atau paling mudah dilihat pengunjung—biasanya diberi tanda “Buku Baru”.

Baca: Media Online Paling Memuakkan

Di bagian “Buku Baru” tersebut, semua buku (per judul) mendapat jatah yang sama; satu bulan. Dan nasibnya akan ditentukan oleh pembeli. Bisa jadi, dalam satu bulan itu terjadi penjualan besar, sehingga pihak toko menambah tumpukan buku dengan judul yang sama di rak tersebut. Artinya, dalam sebulan, buku itu terus terjual. Tetapi, bisa jadi pula, dalam sebulan hanya ada sedikit penjualan, atau bahkan tidak ada penjualan sama sekali. Apa yang kemudian terjadi?

Jika jatah waktu satu bulan habis, maka buku-buku yang ada di rak “Buku Baru” akan dipindah ke rak atau lemari bagian dalam—di rak atas atau di tengah—dengan posisi buku tampak dari depan (sampul) atau tampak dari pinggir (punggung buku). Di rak tersebut, buku-buku itu kembali mendapat jatah satu bulan, dan nasibnya lagi-lagi akan ditentukan oleh pembeli.

Jika dalam satu bulan ternyata buku belum juga habis, maka tempatnya akan dipindahkan lagi. Kali ini ke rak-rak bawah, sehingga hanya para pengunjung toko yang sedang berjongkok yang dapat melihatnya. Atau, hanya pengunjung yang serius mencari buku tersebut yang bisa menemukannya. Ketika suatu buku sudah dipindahkan ke rak bawah, maka tingkat penjualan yang terjadi biasanya semakin sedikit. Meski begitu, pihak toko tetap hanya memberi kesempatan buku itu di sana selama sebulan.

Lalu apa yang akan terjadi, jika dalam sebulan buku di rak-rak bawah tetap tidak terjual? Maka toko buku akan mengembalikan buku-buku itu ke gudang penerbitnya. Biasanya, oleh penerbit, buku-buku itu akan didistribusikan ke toko-toko buku kecil atau menengah, yang pergerakan bukunya tidak secepat toko-toko buku besar. Karena itulah, kita biasanya bisa menemukan buku-buku terbitan lama di toko buku kecil, yang sulit ditemukan di toko buku besar.

Meski begitu, toko-toko buku kecil dan menengah juga punya batas waktu. Bagaimana pun, ada banyak penerbit yang juga memasok ke toko-toko semacam itu. Jika jatah waktu yang diberikan pada buku-buku tertentu sudah habis, namun tidak laku terjual, maka pihak toko juga akan mengembalikannya ke gudang penerbit. Untungnya, sekarang ada toko-toko buku internet, yang memungkinkan “usia” suatu buku bisa lebih panjang, sehingga buku terbitan lama pun masih bisa dijual dan dibeli, karena toko-toko buku internet tidak dibatasi ruang sebagaimana toko-toko buku konvensional (di dunia nyata).

Berdasarkan gambaran di atas, kita lihat bahwa “usia” setiap buku baru hanya tiga bulan di toko-toko buku besar—satu bulan di rak terdepan, satu bulan di rak tengah, dan satu bulan lagi di rak bawah. Dalam tiga bulan itu, nasib suatu buku benar-benar ditentukan oleh upaya yang dilakukan penerbit dan penulis agar buku itu dikenal orang sebanyak-banyaknya, dan di situlah letak pentingnya promosi.

Tentu saja, promosi yang dilakukan bukan jaminan mutlak bahwa buku itu pasti akan laris terjual. Promosi hanya sarana untuk mencapai tujuan agar buku itu dikenal, dan—syukur-syukur—bestseller. Karenanya, dalam upaya mengenalkan suatu buku demi tujuan meningkatkan jumlah penjualan, promosi adalah ikhtiar yang dilakukan penerbit bersama penulis.

Di antara masalah lain yang kadang timbul dari hubungan penulis dan penerbit, urusan promosi buku tampaknya menjadi masalah yang banyak dibicarakan, khususnya dari pihak penulis. Setidaknya, saya telah mendengar cukup banyak keluhan mengenai hal tersebut dari para penulis yang saya kenal. Catatan ini pun saya tulis sebagai bagian penyampaian aspirasi mereka. Karenanya, jika ada orang-orang penerbit yang kebetulan membaca catatan ini, anggap saja ini feedback untuk saling bertukar pikir.

Penerbit, sebagaimana yang dijelaskan di atas, memiliki sudut pandang dan alasan mereka menginginkan setiap penulis juga mempromosikan bukunya. Kita harus mengakui, sudut pandang dan alasan penerbit memiliki dasar yang benar, dan tujuannya juga baik, demi keuntungan bersama. Karenanya, tentu saja tidak salah jika penerbit mengharapkan penulisnya juga berpromosi. Yang kadang jadi masalah, tidak semua penulis mau berpromosi atau mempromosikan bukunya.

Mengapa? Untuk menjawab pertanyaan itulah saya menulis catatan ini, agar penerbit bisa melihat apa sebenarnya yang dipikirkan sebagian penulis, hingga mereka menolak atau tidak mau mempromosikan bukunya. Uraian ini didasarkan atas pengalaman cukup banyak penulis, sehingga penyebab dan latar belakangnya cukup beragam.

....
....

Ada penulis yang sangat produktif. Dia memasok naskah ke tiga penerbit, dan selama bertahun-tahun tiga penerbit itu terus menerbitkan naskah-naskah yang ditulisnya. Sebagai profesional, dia memiliki jadwal atau pengaturan khusus dalam bekerja. Dari tiga penerbit yang bekerjasama dengannya, dia mengerjakan naskah untuk masing-masing penerbit secara berurutan. Jika suatu naskah ditujukan untuk Penerbit A, maka naskah selanjutnya akan ditujukan ke Penerbit B, kemudian naskah lain lagi untuk Penerbit C, dan begitu seterusnya.

Hanya dengan tiga penerbit saja, dia sudah sangat kerepotan. Kadang-kadang, suatu naskah membutuhkan waktu pengerjaan lebih lama, sehingga jadwal pengiriman naskahnya ke suatu penerbit agak terlambat, sampai-sampai penerbit harus menagihnya. Ketika hal semacam itu terjadi, dia sampai mengurangi waktu tidur demi menyelesaikan naskah secepatnya.

Memang benar dia penulis profesional yang tidak terikat dengan penerbit mana pun. Tetapi karena mereka telah bekerjasama bertahun-tahun, masing-masing penerbit pun telah menganggap dirinya sebagai penulis mereka. Khususnya lagi karena si penulis selalu mampu mewujudkan naskah yang diinginkan penerbit, dan kualitas naskahnya selalu terjaga. Dia sosok penulis yang diinginkan penerbit mana pun—tidak rewel, terus produktif, dan naskah yang dihasilkannya selalu berkualitas.

Lanjut ke sini.

 
;