Selasa, 04 Agustus 2015

Hakikat Perkawinan

Tantangan terbesar dalam perkawinan
bukan apa pun... tapi pasanganmu sendiri.
@noffret


Di altar yang sunyi, seorang lelaki dan seorang perempuan khusyuk berdoa. Tidak ada suara apa-apa di sana, selain kicau burung-burung yang terdengar dari kejauhan. Di langit, sesekali petir menggelegar, menciptakan retak-retak seperti mata yang ingin menangis. Lelaki dan perempuan di sana tidak saling kenal—keduanya dipertemukan dalam rahasia doa yang sama, di waktu yang sama, di altar yang sama.

Seorang filsuf yang kebetulan lewat melihat mereka, lalu mendekati kedua anak manusia itu dengan langkah-langkah ringan.

“Anak-anakku,” ujar sang Filsuf. “Kalian tampak khusyuk sekali berdoa, hingga langit retak dan hampir menangis. Apa yang kalian harapkan?”

Lelaki dan perempuan di sana menengadahkan wajah pada filsuf yang kini berdiri di hadapan mereka—seperti baru menyadari udara mulai dingin, dan gerimis tampak akan turun.

“Tuan Filsuf,” ujar si Lelaki. “Saya berdoa di altar ini, karena mengharapkan pasangan yang sempurna. Sebagai lelaki, saya merindukan perkawinan dengan seorang perempuan sempurna, sosok yang akan membuat saya jatuh cinta selamanya.”

Sang Filsuf mengangguk, kemudian berpaling pada si Perempuan. “Dan kau, Nak? Apa yang kauharapkan?”

“Saya pun berdoa untuk tujuan yang sama, Tuan Filsuf,” sahut si Perempuan. “Dalam hati yang saya rahasiakan, saya merindukan perkawinan dengan pasangan yang sempurna, sosok lelaki yang akan membuat saya jatuh cinta selamanya.”

Sang Filsuf kemudian berkata perlahan-lahan, “Ada lelaki-lelaki sempurna, dan ada perempuan-perempuan sempurna. Di dunia ini, ada lelaki-lelaki yang memiliki rupa menawan, memiliki kecerdasan dan kebijaksanaan luar biasa, bahkan dilengkapi kekayaan yang membuatnya mampu mewujudkan apa pun.” Kemudian, sang Filsuf berpaling pada si Perempuan, “Apakah lelaki semacam itu sempurna, menurutmu?”

Si Perempuan mengangguk. “Itulah lelaki yang sempurna—lelaki yang saya inginkan menikah dengan saya!”

“Di dunia ini juga ada perempuan-perempuan sempurna,” lanjut sang Filsuf, kali ini menatap si lelaki. “Mereka memiliki kesegaran dan kecantikan yang mampu membuat bunga-bunga cemburu—sebentuk kecantikan yang tidak hanya terlihat secara fisik, tapi juga kecantikan yang tersimpan di hati dan pikiran. Mereka jenis perempuan yang memilih keluar dari Surga, dan menjadi bidadari di muka Bumi. Apakah perempuan semacam itu sempurna, menurutmu?”

Si Lelaki segera mengangguk. “Tidak ada perempuan yang lebih sempurna dari itu, Tuan Filsuf,” ujar si Lelaki. “Itulah perempuan yang saya rindukan menjadi pasangan saya dalam perkawinan.”

“Masalahnya, Nak,” lanjut sang Filsuf, “lelaki-lelaki dan perempuan-perempuan sempurna semacam itu tidak menginginkan perkawinan. Jadi umpama kalian berhasil menemukan, kalian tidak akan bisa menikah dengan mereka.”

Hening.

Langit kembali retak seiring petir menggelegar, sementara nyanyian burung-burung masih terdengar dari jauh. Altar makin sunyi.

Sambil menatap keduanya, sang Filsuf berkata perlahan-lahan, “Ribuan tahun yang lalu, jauh sebelum kalian lahir, manusia belum bisa dibilang beradab. Tetapi bahkan jauh sebelum mengenal peradaban, mereka telah menyadari hakikat ketidaksempurnaan. Sebagai manusia. Sebagai makhluk fana. Ribuan tahun lalu, lelaki-lelaki yang akan menikah harus menempa besi dengan sangat berat, menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Sementara wanita-wanita yang telah menikah akan dikalungi rantai besar—di lehernya, di tangannya, bahkan di kakinya—sebagai tanda telah memiliki pasangan. Rantai yang besar itu sangat berat, karena kadang dibanduli batu bertulis nama pasangannya, tetapi wanita-wanita leluhur kita mau menerima, bersuka cita atas belenggu itu. Bahkan, mereka menganggap rantai-rantai berat yang membelenggu tubuh dan kebebasannya sebagai penghargaan yang layak disyukuri.”

“Beribu-ribu tahun kemudian,” lanjut sang Filsuf, “seiring peradaban manusia yang semakin baik, leluhur kita mulai mengubah rantai-rantai dan belenggu yang besar dan berat menjadi benda-benda yang lebih layak, bahkan lebih manis. Jika semula rantainya dibuat dari besi, kini dibuat dari emas. Jika semula bandulnya menggunakan batu, kini diubah menjadi permata. Ukurannya pun diperkecil berkali-kali lipat, hingga wanita-wanita yang memakainya tidak lagi kepayahan. Maka kita pun mengenal cincin perkawinan, gelang, kalung—sebut apa pun—yang ditempa bertahun-tahun oleh para lelaki dengan keringat dan darah mereka. Tujuannya sama, intinya sama, hakikatnya sama, meski bentuknya telah jauh berbeda. Dan, seperti ribuan tahun lalu, wanita-wanita yang hidup di masa kini pun bahagia mendapatkan rantai-rantai dan belenggu itu, bahkan menganggapnya berkat yang layak disyukuri.”

Hening. Hening. Hening.

Suara burung mendekat—kicauannya terdengar jelas. Di atas dahan pohon, dua ekor burung hinggap, seperti ingin menatap mereka, ingin mendengar suara sang filsuf, ingin menyaksikan kegalauan anak-anak manusia.

“Mengapa ada wanita-wanita yang merelakan kebebasannya dibelenggu,” ujar sang Filsuf kemudian, “dan mengapa ada lelaki-lelaki yang mau meluangkan banyak waktu untuk menempa rantai-rantai besar demi wanita yang dicintai? Karena mereka menyadari ketidaksempurnaan—mereka menyadari diri mereka tidak sempurna, sehingga membutuhkan orang lain, membutuhkan pasangan, membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya dalam kata dan dalam diam.”

“Sejak ribuan tahun lalu,” lanjut sang Filsuf, “hanya orang-orang tak sempurna yang mau mengikatkan diri dalam perkawinan. Karenanya, para leluhur kita pun menyadari bahwa mereka hanya akan bisa menikah dengan pasangan yang tidak sempurna—orang yang sama tidak sempurna seperti dirinya. Karena hanya orang-orang tidak sempurna yang membutuhkan orang lain, yang mau memberikan dirinya untuk pasangan, yang mau merelakan kebebasannya dibelenggu, yang mau menyerahkan tubuh, hati, dan pikirannya untuk ikatan bernama perkawinan. Utopia adalah mengharapkan pasangan sempurna yang mau menikah dengan kita—oh, well, itu bahkan utopia di atas utopia di atas utopia—karena hanya orang-orang tak sempurna yang mau menikah, hanya orang-orang tak sempurna yang tertarik pada perkawinan. Karenanya, seperti yang kukatakan tadi, kalian mungkin bisa menemukan sosok yang sempurna—tapi kalian hanya akan bisa mengagumi, tanpa bisa memiliki—karena orang-orang sempurna semacam itu tidak tertarik pada perkawinan.”

Sunyi. Sunyi. Sunyi.

Dua burung yang hinggap di atas dahan tampak berpandangan, seperti sedang membisikkan rahasia yang hanya bisa didengar dan dipahami alam semesta.

“Hakikat perkawinan,” ujar sang Filsuf, “adalah menyadari ketidaksempurnaan kita, dan belajar menerima ketidaksempurnaan pasangan kita. Tanpa hakikat semacam itu, tidak mungkin ada dua orang dengan kepala, hati, pikiran, dan latar belakang berbeda, bisa disatukan di bawah atap yang sama. Tanpa hakikat semacam itu, tidak mungkin ada manusia yang merelakan kebebasannya dibelenggu orang lain. Tanpa hakikat semacam itu, tidak mungkin ada manusia yang mau bersusah payah demi membahagiakan orang yang dicintai. Tanpa hakikat semacam itu, manusia hanyalah mitos yang terkubur dalam legenda.”

“Manusia adalah wujud ketidaksempurnaan,” lanjut sang Filsuf, “dan dalam kesadaran ketidaksempurnaan itulah, mereka membutuhkan perkawinan. Untuk melengkapi yang kurang, menutup yang terbuka, meredakan tangis dan luka. Hanya orang-orang tak sempurna yang mau menikah, Nak, karenanya sia-sia jika kalian berharap mendapat pasangan sempurna. Yang bisa kalian harapkan hanyalah pasangan yang terbaik—terbaik di mata kalian, terbaik di pikiran kalian, terbaik di hati kalian—hingga bisa menjadi yang terbaik dalam hidup kalian. Tetapi, bagaimana pun, pasangan kalian tidak akan sempurna, sebagaimana diri kalian yang juga tidak sempurna. Sekali kalian menginginkan perkawinan, itu bukti yang menunjukkan bahwa kalian tidak sempurna. Dan hanya di dalam perkawinan, dua orang yang menyadari diri mereka tidak sempurna bisa memperbaiki diri sambil saling menyempurnakan.”

Petir kembali menggelegar, rintik gerimis mulai turun. Dua burung di atas dahan bersiap pergi, keheningan mulai tersapu angin.

“Jadi, Tuan Filsuf,” ujar si Lelaki tiba-tiba, saat menyadari sang Filsuf akan pergi dari hadapan mereka, “bagaimana seharusnya kami menikah?”

“Menikahlah seperti gerimis,” jawab sang Filsuf, “dengan kesadaran hujan lebat akan turun sewaktu-waktu, bersama petir dan halilintar menggelegar, kadang bersama badai yang mengguncang akar dan pepohonan. Seusai badai berlalu, selalu ada mentari yang bersinar. Dan setelah hujan lebat mengguyur, selalu tercium wangi tanah yang membuatmu mendengar kerinduan.”

Gerimis semakin lebat, dan hujan turun dari langit.

Burung-burung berteduh di rerimbunan. Langit sesekali bercahaya, seiring petir bersahutan dengan halilintar. Air membasahi tanah, dan tanah menyiapkan keharuman petrichor. Putik-putik mulai bersemi, kelopaknya merekah, dan bunga-bunga bersiap mekar.

Sang filsuf pergi.

Dua anak manusia beranjak dari tempatnya, meninggalkan altar sesunyi semula.

 
;