Minggu, 23 Juli 2017

Terkenal tapi Tidak Dikenal

Writing is essentially saying, “I have something I really want to tell you, but I don’t want to be anywhere near you, or give you any opportunity to talk back.”

Kalimat itu diucapkan oleh Ken Dee, seorang jurnalis internasional. Dan, kalau saya boleh menambahkan, “That’s an introvert’s dream.”

Belum lama, saya menerima telepon dari seseorang. Saya tidak megenalnya, tapi dia mengenal saya. Berdasarkan penjelasannya, dia mendapatkan nomor ponsel saya dari seseorang yang sama-sama kami kenal. Dia memperkenalkan diri, dan menjelaskan maksudnya menelepon.

“Saya dari Penerbit X (sebuah penerbit di Indonesia), dan bermaksud mengajak Anda bekerja sama. Kami ingin menerbitkan karya Anda, dan...” Setelah menguraikan beberapa hal, dia menambahkan, “Untuk itu, kami juga akan meminta Anda untuk menghadiri peluncuran buku, wawancara, dan...” dan lain-lain syarat semacamnya, yang intinya mengharuskan saya menghadiri acara yang mereka bikin.

Sambil tersenyum, saya menjawab, “Sepertinya Anda salah orang. Saya bukan penulis yang seperti itu.”

Percakapan telepon itu selesai tanpa menghasilkan kesepakatan apa pun. Dan, terus terang, itu bukan kejadian pertama. Sebelumnya, saya sudah beberapa kali menerima telepon dengan tawaran serupa—dari penerbit yang ingin menerbitkan karya saya, tapi mereka menetapkan syarat macam-macam, yang intinya saya harus “keluar”, “muncul”, atau apa pun istilahnya. Dan saya tidak pernah tertarik dengan tawaran semacam itu.

Ketika menetapkan diri menjadi penulis, saya berpikir bahwa profesi ini memungkinkan saya khusyuk bekerja tanpa harus keluar menemui orang-orang, tanpa harus mengikuti acara tetek bengek yang mengharuskan saya tampil, bahkan memungkinkan saya untuk tidak dikenal! Itu alasan dan latar belakang kenapa saya memilih jadi penulis!

Bagi yang mungkin belum tahu, sebelumnya saya justru aktif menjadi pembicara dibanding menulis. Selama masa-masa kuliah, hingga beberapa tahun setelah tidak lagi kuliah, saya lebih banyak berbicara di berbagai kampus dan di banyak tempat, dibanding menulis. Orang-orang senang mendengarkan saya berbicara, dan saya pun senang berbicara di hadapan mereka.

Selama waktu-waktu itu, saya tampil di banyak tempat, di berbagai forum, dan berbicara, berbicara, berbicara. Bahkan, kesenangan serta “kegilaan” saya saat berbicara pula, yang lalu ikut mempengaruhi gaya tulisan saya. (Untuk hal tersebut, dulu pernah saya ceritakan di sini.)

Sampai kemudian, era media sosial lahir, dan menjadi bagian gaya hidup masyarakat kontemporer. Sejak ada Twitter, Facebook, Instagram, dan semacamnya, apa saja bisa masuk ke sana. Saya pun berpikir, “Jika aku masih aktif sebagai pembicara, foto-fotoku akan mudah didapat, dan orang-orang akan mudah mengenaliku.”

Sejak itu pula, saya memutuskan untuk mengundurkan diri, dan sejak itu semua undangan menjadi pembicara dari mana pun terpaksa saya tolak. Sampai saat ini. Bahkan ketika kampus almamater saya mengundang untuk berbicara di sana, saya tetap menolak. Mereka telah mencoba mengundang berkali-kali, dan saya telah menolak berkali-kali.

Intinya, saya tidak lagi bersedia muncul ke hadapan publik, untuk meminimalkan “tekanan psikologis” yang saya alami.

Saya seorang introver, yang, sebenarnya, lebih nyaman saat sendirian. Fakta bahwa saya pernah aktif menjadi pembicara yang tampil di hadapan banyak orang, saya pikir itu “kecelakaan”. Kebetulan, saya dikaruniai kemampuan berbicara yang—bagi banyak orang—menarik, dan saya memanfaatkan karunia itu. Tetapi, sejujurnya, saya hanya nyaman ketika berbicara di depan forum, tapi tidak di luar forum.

Saya sering kebingungan saat harus berinteraksi dengan orang yang belum terlalu kenal, dan kami harus membicarakan hal-hal remeh-temeh seperti basa-basi dan semacamnya. Itu, bagi saya, jauh lebih sulit dibandingkan berbicara di forum yang dihadiri ratusan orang, yang mengharuskan saya membicarakan peradaban dunia dan nasib umat manusia. Dalam ilustrasi yang mudah, saya tidak tahu cara pedekate, meski tahu cara membuat wanita tergila-gila jika kami telah bersama.

Sebagai introver, saya menghadapi kenyataan “mengerikan” itu—sesuatu yang tampaknya tidak dipahami kebanyakan orang. Saya kurang bisa (dan sebenarnya malas) berbasa-basi, atau membicarakan hal-hal tolol yang tidak penting. Susahnya, dalam interaksi dengan orang lain (yang kita kenal maupun tidak), hal-hal semacam itu sulit dihindarkan.

Kalau kau orang terkenal—dalam arti orang-orang mengenalmu sebagai “Si Anu” karena fotomu terpampang di mana-mana, sehingga mudah dikenali—selalu ada kemungkinan orang akan mengenalimu saat kau berada di mana pun. Ketika itu terjadi, mau tak mau kau harus berinteraksi dengan mereka, entah sekadar basa-basi, atau membicarakan hal-hal remeh yang sangat tidak penting sekali. Karena, kalau tidak begitu, kau akan dikenal sebagai bangsat sombong. Jadi, agar kau tetap populer, dan orang tetap menyukaimu, kau harus murah senyum, ramah, bersedia basa-basi, meski sebenarnya kau tidak menginginkan.

Kenyataan seperti itulah yang tidak saya inginkan. Itu pula yang saya hindari.

Jadi, seperti yang disebut tadi, saya mengundurkan diri dari aktivitas sebagai pembicara, tepat ketika era media sosial mulai menjadi bagian gaya hidup masyarakat kita. Karena saya tidak ingin orang-orang mudah mengenali saya. Karena saya tidak ingin mengalami tekanan psikologis yang hanya dapat saya pahami sendiri.

Sejak itu pula, saya memutuskan untuk sepenuhnya menjadi penulis, karena saya pikir profesi sebagai penulis tidak mengharuskan saya tampil di mana pun, sekaligus memungkinkan saya untuk tidak dikenali. Sebagai penulis, saya hanya perlu menulis, membuat naskah, dan membiarkan penerbit menangani urusan selanjutnya.

Kenyataannya, saya nyaman menjalani profesi menulis, karena memungkinkan saya menjalani gaya hidup yang saya inginkan. Saya bisa keluyuran ke mana pun tanpa dikenal orang, meski mungkin mereka mengenal nama saya, atau meski mereka membaca buku dan tulisan-tulisan saya. Sebagai penulis, saya menawarkan karya, bukan menawarkan diri saya. Mereka boleh mengenal nama saya, menikmati karya saya, tapi cukuplah sebatas itu. Saya ingin tetap menjalani kehidupan dengan cara saya sendiri.

Karena latar belakang itu pula, terus terang, saya sangat selektif dalam memilih penerbit atau media untuk menerbitkan tulisan saya. Sebisa mungkin, saya hanya menjalin hubungan dengan penerbit dan media yang membebaskan penulis untuk tampil atau tidak, untuk menghadiri acara tetek bengek atau tidak. Pendeknya, saya hanya memilih penerbit dan media yang membebaskan saya untuk tidak dikenal!

Tentu saya senang dan menghargai jika penerbit mempromosikan buku saya. Tetapi, meski begitu, saya tetap tidak akan bersedia jika diminta muncul—semisal menghadiri peluncuran buku, wawancara, dan semacamnya—meski dengan alasan untuk promosi. Dan saya bersyukur, karena di Indonesia ada penerbit-penerbit yang bisa memahami penulisnya, sehingga saya tetap dapat menerbitkan buku sampai sekarang.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, apakah penulis seperti saya hanya saya seorang, ataukah ada penulis-penulis lain yang juga seperti saya?

Mari saya ceritakan beberapa penulis yang saya kenal, yang juga memiliki “kelainan” seperti saya.

Beberapa tahun lalu, saya mengobrol dengan seorang teman yang juga penulis. Waktu itu dia baru menyelesaikan naskah novel, dan kami membicarakan kemungkinan penerbit mana yang paling tepat untuk naskahnya. Ketika saya menyebut satu nama penerbit, dia menjawab, “Aku suka penerbit itu, tapi sepertinya mereka mengharuskan penulis untuk aktif (maksudnya aktif dalam promosi, termasuk menghadiri launching buku, dan semacamnya.)”

Belakangan, naskah novel itu dikirim ke Gramedia Pustaka Utama, dan telah lama terbit. Jika saya sebutkan judulnya, atau nama penulisnya, kemungkinan besar kalian kenal.

Terkait Gramedia Pustaka Utama (GPU), ada banyak teman saya yang sangat “fanatik”—dalam arti mereka hanya mau naskah mereka diterbitkan GPU. Alasannya bukan karena GPU terkenal sebagai penerbit besar. Alasan kenapa banyak penulis—khususnya yang saya kenal—sangat “fanatik” pada GPU, karena GPU (dan penerbit lain di bawah Kompas-Gramedia Group) sangat memahami penulisnya!

Kalau kau ingin menerbitkan buku di GPU, yang kaubutuhkan hanya naskah bagus! Asal naskahmu bagus, berkualitas, dan layak jual—GPU akan menerima dan menerbitkan, dan tidak ada tetek bengek lain yang memberatkan. Setidaknya, itulah yang saya dan teman-teman alami, saat kami bekerja sama dengan mereka. Kami hanya perlu menulis naskah bagus, memenuhi standar mereka, dan selesai. Di luar urusan itu, semua bersifat opsional.

Sebagai contoh mudah, GPU tidak mewajibkanmu melampirkan foto untuk buku atau untuk tujuan apa pun. Kalau penulis ingin melampirkan fotonya, agar tampil di buku, silakan. Tapi kalau pun tidak, juga tidak masalah.

Jangankan foto, GPU bahkan tidak meminta fotokopi KTP penulis! Jika naskahmu diterbitkan GPU, yang perlu kaulakukan hanya menuliskan nama dan alamat lengkap (untuk urusan surat menyurat dan pengiriman bukti terbit), nomor rekening (untuk pengiriman royalti), dan nomor NPWP (untuk urusan pajak). Sudah, tidak ada tetek bengek lain!

Di luar itu—setidaknya yang pernah saya dan teman-teman alami—GPU juga tidak mengharuskanmu melakukan hal-hal yang mungkin membuatmu tidak nyaman. Misalnya, kalau kau mau mempromosikan bukumu, itu bagus. Tapi kalau pun tidak, juga tidak apa-apa, dan GPU akan tetap menerbitkan bukumu selanjutnya, kalau naskahmu memang memenuhi standar mereka.

Kenyataan-kenyataan itulah yang membuat banyak penulis—khususnya yang saya kenal—sangat “fanatik” pada GPU, karena mereka menilai GPU sebagai penerbit yang benar-benar memahami mereka. Faktanya, banyak penulis GPU yang sangat terkenal, tapi sosoknya tak pernah kita lihat. Jangankan sosoknya, bahkan fotonya pun belum pernah kita lihat! Oh, well, itulah hebatnya dunia kepenulisan, dan karena itulah saya memilih menjadi penulis!

Sekali lagi, saya memilih menjadi penulis, karena tidak ingin dikenal. Kalau saya ingin dikenal, saya tidak akan jadi penulis... tapi jadi artis!

Jadi, ketika ada penerbit mengajak saya bekerja sama, tapi mengharuskan saya tampil dan menjalani tetek bengek semacamnya, terus terang saya tidak tertarik. Saya bukan pemula yang butuh popularitas. Saya profesional yang hanya ingin bekerja. Kalau orang-orang mengenal nama saya, dan menyukai karya yang saya hasilkan, silakan. Tapi saya ingin tetap menjalani kehidupan sebagaimana yang saya inginkan, tanpa harus terusik atau terganggu gara-gara “terkenal”.

Penerbit (dan media) yang baik bukan sekadar penerbit yang jujur dan profesional, tapi yang juga dapat memahami bahwa setiap individu (dalam hal ini penulis) bisa berbeda, sehingga lebih mampu berempati. Memang, sebagian orang menjadi penulis dengan harapan agar sosoknya dikenal. Tetapi ada sebagian lain yang menjadi penulis justru karena ingin sosoknya tidak dikenal. Saya termasuk golongan kedua.

Manakah yang lebih baik? Oh, ini hanya soal pilihan. Setiap orang tentu punya hak untuk dikenal, sebagaimana setiap orang juga punya hak untuk tidak dikenal. Kita tidak bisa memaksa Dee Lestari agar tidak muncul ke hadapan publik, sebagaimana kita tidak bisa memaksa Ilana Tan agar memunculkan diri. Itu hak dan pilihan masing-masing penulis—untuk dikenal, atau untuk tidak dikenal.

Di catatan mendatang, saya akan meneruskan catatan ini dengan menjelaskan bagaimana cara menjadi kaya—dan menghasilkan puluhan juta per bulan dari menulis—bahkan umpama kau tidak terkenal.

Wanda Maximoff adalah Mbakyu

Bahkan Vision yang bukan manusia pun tahu kenyataan itu.

Noffret Note: Bunuh Diri

Terus terang, aku tak pernah paham kenapa bunuh diri dilarang.
—Twitter, 10 September 2016

Seseorang berkata, "Kehidupan merampas senyumku, hari demi hari. Mungkin kematian akan membuatku dapat tersenyum lagi."
—Twitter, 10 September 2016

Kadang aku berpikir, betapa sulit menjadi manusia. Lahir tanpa meminta, hidup penuh tekanan, mau mati atas kehendak sendiri juga dilarang.
—Twitter, 21 Juli 2017

Sejujurnya, aku tidak menyalahkan orang bunuh diri. Bagaimana pun, orang punya hak dan pilihan untuk mengakhiri apa yang harus diakhiri.
—Twitter, 11 Juli 2017

Dulu, seperti kebanyakan orang, aku berpikir bunuh diri adalah sebentuk kepengecutan. Sekarang aku tahu, masalahnya tidak sesederhana itu.
—Twitter, 11 Juli 2017

Di puncak depresi, yang ada hanya ngeri.
—Twitter, 11 Juli 2017


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Rabu, 19 Juli 2017

Kedangkalan Berbalut Agama

Alasan mengapa aku sangat jarang menyebut-nyebut agama
dalam tulisan, karena aku tidak ingin orang mudah percaya
pada tulisan atau ocehanku.
@noffret


Yang mengkhawatirkan dari agama, ia rentan digunakan orang-orang tak bertanggung jawab untuk memanipulasi orang-orang bodoh, demi keuntungan pribadi atau demi tujuan tertentu. Agama adalah satu hal, cara orang beragama adalah hal lain. Dan pandangan orang terkait agama, adalah hal lain lagi.

Dalam perspektif saya, ada empat macam orang terkait agama.

Pertama; orang beragama, dan benar-benar tahu ajaran agamanya. Mereka biasanya orang-orang yang kita sebut salih—pribadi yang menjalani kehidupan dengan baik, beribadah sesuai tuntunan agama yang dianut, memiliki hubungan baik dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia, dan kesibukan hidupnya adalah berupaya mempelajari agamanya, bukan sibuk menyalah-nyalahkan agama lain. Mereka jenis orang yang biasanya memiliki wajah teduh, lisan dan perbuatan yang terjaga, sosok yang ingin kita cium tangannya dengan penuh hormat.

Kedua; orang beragama, tahu ajaran agamanya, tapi belum mampu sempurna menjalankan perintah agama. Mereka jenis orang yang fasih membaca kitab suci, tapi bisa jadi jarang membacanya. Mereka tahu betul soal ibadah, tapi sering tidak melakukan. Mereka bisa membicarakan agama dengan begitu mendalam, tapi ibadah ogah-ogahan. Jenis kedua ini biasanya bocah-bocah mbeler tapi rajin belajar. Mereka tahu dan memahami agama, tapi mbeler. Beberapa dari mereka bahkan ada yang hafal banyak hadist, hingga bisa ngoceh sefasih ustad. Rajin shalat? Kagak!

Ketiga; orang beragama, tapi tidak tahu ajaran agamanya, juga tidak terlalu rajin menjalankan ritual ibadah agama yang dianut. Mereka juga tidak memiliki ketertarikan khusus pada agama, semisal ingin belajar atau memperdalam agamanya, dan bisa dibilang memiliki agama hanya “agar tidak bingung jika ditanya apa agamanya”. Kalau pun beribadah, mereka biasanya hanya menjalankan ibadah-ibadah yang bersifat wajib. Biasanya juga bermotivasi “agar tampak seperti umumnya orang beragama”. Pokoknya, dalam urusan agama, mereka benar-benar asoy. Bagi mereka, agama adalah urusan pribadi—dalam arti harfiah.

Keempat; orang beragama, dan rajin menjalankan ritual ibadah agama yang dianut, tapi tidak tahu dan tidak memahami ajaran agama sepenuhnya. Mereka rajin beribadah, senang hal-hal terkait agama, percaya penuh pada agamanya, tapi hanya sebatas itu. Merekalah yang lazim disebut “orang awam”, khususnya terkait agama. Awam, dalam arti sebatas mengetahui ritual ibadah agama, tapi tidak memiliki pengetahuan mendalam terkait ajaran agama yang dianut. Banyak sekali orang jenis ini. Mereka orang-orang baik, jenis orang yang akan mendengarkan ucapan siapa pun yang mereka anggap alim, dan—tidak jarang—mempercayai mentah-mentah.

Di luar empat jenis yang telah saya sebut, tentu ada jenis-jenis lain. Tetapi, bisa dibilang empat jenis itulah yang paling banyak di sekitar kita, atau yang mungkin banyak kita kenal. Di antara empat jenis tersebut, jenis keempat yang paling rentan menjadi korban manipulasi bertopeng agama.

Jenis pertama—orang beragama yang alim—sulit dimanipulasi, karena mereka tahu betul ajaran agama, dan pengetahuan mereka terkait agama sudah mantap. Jenis kedua juga sulit dimanipulasi, karena—meski mungkin bukan orang salih—mereka juga tahu ajaran agama. Berusaha memanipulasi mereka akan sia-sia. Begitu pula jenis ketiga—orang yang beragama sebatas KTP. Bagi orang-orang tersebut, mengurusi kesibukan dan urusan keluarga sehari-hari jauh lebih penting daripada mengurusi agama.

Memang, selalu ada kemungkinan empat jenis orang di atas bisa dimanipulasi. Tetapi, jenis keempatlah yang paling rentan dimanipulasi, karena mereka beragama sebatas menjalankan ritual ibadah, dan kurang tahu atau kurang memahami ajaran agama yang sesungguhnya mereka anut. Di sisi lain, mereka juga memiliki semangat tinggi dalam menjalankan agamanya.

Seperti yang disebut di atas, jenis keempat adalah orang-orang baik, yang taat beragama, meyakini sungguh-sungguh agamanya, tapi sayang hanya sebatas itu. Mungkin karena menyadari kekurangan diri mereka yang kurang ilmu agama, mereka pun rajin belajar pada orang-orang alim, atau yang mengerti agama. Dalam hal itu, beruntunglah mereka jika menemukan orang yang tepat. Dan sungguh apes jika yang mereka temukan sebaliknya. Karena orang-orang jenis keempat biasanya mudah percaya. Asal orang tampak ustad atau tampak alim, mereka akan percaya, lalu mengikuti ocehan yang mereka dengar mentah-mentah.

Dalam hal itulah, muncul orang-orang tak bertanggung jawab yang memanfaatkan ketidaktahuan mereka, lalu memanipulasi mereka dengan cara menyuguhkan sesuatu yang diselubungi embel-embel agama.

Bagaimana bisa ada orang rela meledakkan diri sendiri dan orang-orang lain dengan bom, dan beralasan itu perjuangan demi agama? Karena manipulasi! Orang-orang malang itu sebenarnya orang-orang baik, tapi mereka tidak memahami ajaran agamanya dengan baik, sehingga rentan dimanipulasi. Cukup kompori dengan provokasi toghut serta iming-iming bidadari surga, dan mereka pun kalap.

Itu contoh yang ekstrem. Contoh lain, yang lebih “ringan”—meski sebenarnya juga memprihatinkan—adalah manipulasi dalam bentuk kebohongan dan kedangkalan yang dibalut agama, lalu menyodorkannya kepada orang-orang awam. Dan, sim salabim, mereka akan menerima mentah-mentah.

Agar catatan ini tidak terlalu frontal, saya akan menggunakan contoh catatan saya sendiri untuk menunjukkan bagaimana kita bisa memanipulasi banyak orang dengan selubung agama.

Dua tahun yang lalu, saya menulis catatan berjudul Teori Evolusi dan Soal Akhirat. Dalam tulisan itu, saya “mengacaukan” pikiran banyak orang dengan mencampurkan “teori evolusi” dan ajaran agama (dalam hal ini soal akhirat.) Ketika menulis catatan itu, secara sadar saya membuatnya salah kaprah, sehingga siapa pun yang cukup paham akan tahu bahwa tulisan itu sebenarnya salah. Tetapi, saya juga sengaja menutupi kesalahan itu dengan menyebut-nyebut akhirat.

Sebelum menerbitkannya ke blog ini, saya mencetak tulisan itu ke kertas, dan menunjukkannya kepada beberapa teman yang saya anggap pintar. Saya minta mereka membaca tulisan tersebut, dan mengatakan, “Tolong katakan kepadaku, jika ada sesuatu yang menurutmu salah.”

Setidaknya ada selusin orang yang semuanya saya anggap pintar, yang membaca tulisan tersebut. Dan tidak ada satu pun yang menyadari kesalahan di dalamnya!

Setiap kali satu orang dari mereka selesai membaca, saya selalu berkata, “Bagaimana menurutmu? Ada yang salah?”

Rata-rata mereka menjawab, “Tulisan ini baik-baik saja. Tidak ada yang salah. Khas tulisanmu, kan? Mengalir lancar, dan enak dibaca.”

Oh, well, mengalir lancar dan enak dibaca!

Padahal saya menyisipkan kesalahan yang luar biasa besar di dalamnya! 

Dan tidak satu pun dari mereka yang menyadari!

Saya benar-benar “ngeri” mendapati kenyataan itu. Jika orang-orang yang saya anggap pintar bisa terkecoh—hingga tidak menyadari kesalahan fatal yang saya lakukan dalam tulisan itu—apalagi orang-orang awam?

Ketika menulis Teori Evolusi dan Soal Akhirat, saya sengaja “memanipulasi” pembaca dengan cara mencampurkan kesalahan teoritis dengan ajaran agama. Manipulasi itu sengaja saya lakukan dengan tersamar, hingga rata-rata pembaca (khususnya yang awam) akan manggut-manggut, tanpa menyadari bahwa tulisan yang mereka baca sebenarnya salah!

Oh, saya tidak akan menyebutkan di mana kesalahan isi tulisan itu. Yang jelas, tulisan itu salah, bahkan salah kaprah! Jika penasaran ingin tahu di mana kesalahannya, tidak ada cara lain. Belajar! Siapa pun yang cukup belajar akan dapat menemukan kesalahan yang telah saya buat dalam tulisan tersebut.

Well, itu ilustrasi mudah, bagaimana orang bisa dimanipulasi dengan kata-kata yang tampak baik dan tertata, padahal salah. Mengapa mereka percaya? Karena saya menyuguhkan sesuatu yang sesuai kepercayaan mereka!

Ingat selalu fakta ini: Orang tidak percaya pada realitas, mereka hanya percaya pada yang ingin mereka percaya!

Teknik itulah yang dulu dilakukan Harun Yahya, ketika dia ngoceh berbusa-busa dalam banyak buku, dan menyihir jutaan orang yang mempercayai mentah-mentah. Yang dilakukan Harun Yahya sebenarnya sederhana. Dia hanya mencampurkan kekacauan pengetahuannya, yang ia balut dengan sentuhan agama. Setelah itu, ia suguhkan “pengetahuan” yang sesuai harapan dan kepercayaan jutaan orang yang memang ingin percaya—tepat seperti yang dinyatakan Harun Yahya.

Dan Harun Yahya hanya contoh kasus. Selalu ada orang-orang seperti dirinya, yang sengaja membangun pengetahuan di atas kekacauan, yang mencampur kebenaran dan kebohongan, lalu menyuguhkannya di atas nampan indah dengan selubung agama. Orang-orang awamlah yang kemudian menjadi korban. Mereka mengira suguhan itu benar-benar agama, padahal hanya selubung yang sengaja digunakan untuk memanipulasi mereka.

Lalu lahirlah kedangkalan. Kedangkalan demi kedangkalan.

“Kalau kau ingin menguasai orang-orang bodoh,” kata Ibnu Rusyd, “bungkuslah sesuatu yang bathil dengan agama.”

Tepat seperti itulah yang dilakukan orang-orang licik, para penjual agama yang membangun pengaruh dan kejayaannya di atas keringat, darah, dan air mata orang-orang awam tak berdosa. Mereka menyeru orang-orang agar tidak menggadaikan agama, tapi mereka justru melacurkannya. Mereka meminta orang-orang agar meninggikan agama, tapi mereka justru menistakannya. Mereka ngoceh tentang akhirat dan surga, tapi diam-diam menyembah dunia sebagai berhala.

Oh, well, merekalah dajjal sesungguhnya. Yang tampak membawakan surga, tapi tipuan belaka.

Doktrin Paling Merusak

“Menikah akan membuatmu tenteram dan bahagia.”

AKU TIDAK PERCAYA.

ORANG TUAKU MENIKAH, DAN YANG MEREKA HADAPI ADALAH KEMISKINAN, KEKURANGAN, KEHIDUPAN YANG BEGITU SULIT, HINGGA AKU MENJADI KORBAN KEPAHITAN, KEKEJAMAN, DAN KETIDAKBAHAGIAAN MEREKA.


“Anak-anak memiliki rezeki sendiri-sendiri.”

AKU TIDAK PERCAYA.

REZEKI KEPARAT MACAM APA YANG MEMBUATKU TERSIKSA SEJAK KECIL, DAN HARUS MENANGGUNG LUKA SEUMUR HIDUP, HINGGA AKU MENGUTUK KELAHIRANKU, DAN BEBERAPA KALI INGIN BUNUH DIRI?

....
....

Jangan pernah mengatakan—apalagi mendoktrinkan—hal-hal yang tidak kaupahami, dan jangan pernah menghakimi orang lain yang nasibnya tidak pernah kaualami.
 

Masalah Banyak Orang

Masalah banyak orang adalah, mereka hanya melihat dari perspektif yang sempit—atau sebatas yang mereka tahu dan pahami—lalu menggunakannya untuk membangun simpulan yang kemudian mereka yakini sendiri.

Jadi keyakinan mereka belum tentu benar, tapi merasa benar.

Jadi mereka tidak benar-benar tahu, tapi merasa tahu.

Itu masalah. Masalah banyak orang.

Sabtu, 15 Juli 2017

Soal Plagiat yang Membingungkan

Notasi musik tak pernah bertambah.
Tapi lagu yang bisa digali darinya tak pernah habis.
Selalu ada lagu baru yang dicipta dan dinyanyikan.
@noffret


Kalau sedang blank, atau bingung mau menulis apa, saya suka membuka inbox e-mail. Biasanya, dari beberapa e-mail yang saya buka secara acak, ada hal-hal yang mampu mencetuskan sesuatu untuk saya tulis.

Seperti kemarin. Karena stres, saya tidak sempat memikirkan mau menulis apa di blog ini. Jadi, saya pun membuka inbox, dan memindai subjek atau judul-judul e-mail yang tampak menarik. Satu yang langsung membetot perhatian saya adalah e-mail dengan subjek “SIAPA YANG PLAGIAT?”

Penasaran ingin tahu isi e-mail itu, saya pun membuka dan membaca isinya. Ternyata, isi e-mail tersebut menyangkut Iwan Salman, penyanyi yang pernah saya tulis di blog. Isi e-mail itu lumayan panjang. Berikut ini saya tuliskan versi yang lebih ringkas.

Dari tulisan-tulisanmu di blog, sepertinya kamu tahu banyak tentang industri musik Malaysia. Saya juga sempat membaca uraianmu yang cukup detail mengenai Iwan Salman.

Dulu, Iwan pernah mencipta dan menyanyikan lagu dangdut berjudul “Sedang-sedang saja”. Nada lagu itu sangat mirip lagu “Tinak tin tana”, yang menjadi soundtrack film India berjudul Mann. Sebenarnya, siapakah yang plagiat dalam hal itu? Iwan yang meniru soundtrack film Mann, atau soundtrack itu yang meniru lagu milik Iwan?

Saya sangat penasaran mengenai hal ini sejak lama sekali, dan telah menanyakannya pada banyak orang, tapi tidak ada yang bisa memberi jawaban memuaskan. Siapa tahu kamu bisa menjawab rasa penasaran saya.


Saya bisa menjawab pertanyaan itu secara ringkas, tapi tidak akan cukup. Karenanya, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya harus menguraikan beberapa hal lebih dulu, termasuk siapa sebenarnya Iwan Salman, siapa sebenarnya pencipta lagu yang dipersoalkan tersebut, dan—akhirnya—siapakah yang plagiat terkait lagu itu.

Iwan Salman sebenarnya lahir di Medan, Sumatera Utara. Ayahnya orang Kelantan, Malaysia, sementara ibunya orang Sumatera. Sejak lahir sampai dewasa, Iwan hidup di Sumatera, Indonesia. Selama itu pula, dia menjadi komposer yang bekerja di balik dinding studio.

Ketika berusia 30 tahun, Iwan memutuskan untuk pindah ke Malaysia, dan menetap di Kuala Lumpur. Sejak itu pula, dia keluar dari bayang-bayang studio, dan menjadi penyanyi yang muncul ke hadapan publik, dan segera terkenal sebagai salah satu penyanyi Malaysia. Lagu pertamanya berjudul “Wulan”, ber-genre pop Melayu.

Dua atau tiga tahun setelah merilis album “Wulan”, Iwan pindah haluan ke musik dangdut, dengan menyanyikan lagu berjudul “Sedang-sedang saja”. Lagu itu segera populer, tidak hanya di Malaysia, tapi juga di beberapa negara lain, termasuk Indonesia dan India. Pada lagu “Sedang-sedang saja”, disebutkan penciptanya bernama Akur. Sampai di sini, ada hal yang perlu saya luruskan.

Selama ini, ada banyak orang—di Indonesia maupun Malaysia—menyangka bahwa Akur adalah nama lain Iwan. Persangkaan itu kemungkinan muncul, karena ada banyak lagu yang dinyanyikan Iwan yang penciptanya bernama Akur. Sebegitu identik nama itu dengan Iwan, sampai muncul asumsi bahwa Akur memang nama lain atau nama samaran Iwan. Padahal, Iwan dan Akur adalah dua orang yang berbeda.

Jadi, siapakah Akur?

Akur adalah orang Bandung, Jawa Barat. Nama aslinya Subur Tahroni, tapi biasa menggunakan nama Buy Akur untuk lagu-lagu yang diciptakannya. Dia tinggal di Kelurahan Jamika, Kecamatan Bojongloa Kaler, Bandung. Di lingkungannya, dia biasa disapa Kang Abuy.

Sekadar catatan, Buy Akur ini juga yang menciptakan lagu “Keong Racun” dan “Pacar Lima Langkah”. Dua lagu itu sangat populer, tapi banyak orang tidak tahu siapa penciptanya. Terkait lagu “Sedang-sedang saja” yang dinyanyikan Iwan, Buy Akur inilah yang menciptakannya. Cuma, entah kenapa, nama Buy Akur disingkat menjadi hanya “Akur”. Penyingkatan itu juga terjadi pada lagu-lagu lain ciptaan Buy Akur yang dinyanyikan Iwan.

Well, seperti yang disebut tadi, lagu “Sedang-sedang saja” sangat populer di beberapa negara, termasuk India. Popularitas lagu itu menarik perhatian Darshan Rathod, penata musik yang banyak menggubah lagu untuk soundtrack film India. Dia tertarik pada lagu “Sedang-sedang saja”, dan berencana mengadaptasinya.

Rencana Darshan Rathod terwujud dalam film Mann (dibintangi Aamir Khan, Manisha Koirala, Anil Kapoor, Sharmila Tagore, dan lain-lain.) Film Mann disutradarai sekaligus diproduseri oleh Indra Kumar. Darshan Rathod meminta pada Indra Kumar, agar membeli hak adaptasi lagu “Sedang-sedang saja” yang dinyanyikan Iwan, agar nada lagu itu bisa digunakan dalam film Mann.

Indra Kumar menyetujui rencana itu, dan menghubungi Iwan untuk mengurus pembelian hak adaptasi. Sampai di sini, ada hal yang juga perlu saya katakan.

Di kalangan para pencipta lagu, ada isu yang santer beredar—khususnya waktu itu—bahwa Iwan mengklaim lagu itu (“Sedang-sedang saja”) sebagai milik atau ciptaannya. Jadi, ketika produser film Mann membeli hak adaptasi lagu itu, Iwanlah yang menerima pembayarannya. Urusan itu lancar tanpa masalah, karena selama waktu-waktu itu memang banyak orang mengira bahwa “Iwan” dan “Akur” adalah orang yang sama!

Lalu bagaimana dengan Buy Akur, orang Bandung yang sebenarnya menciptakan lagu tersebut? Masih berdasarkan isu yang beredar di kalangan pencipta lagu, Buy Akur sama sekali tidak tahu menahu hal itu!

Inilah akar masalah yang menjadikan banyak orang rancu mengenai lagu “Sedang-sedang saja” dan “Tinak tin tana”. Dua lagu itu bisa dibilang muncul berbarengan, sehingga kalangan awam sulit memastikan lagu mana yang muncul lebih dulu. Orang-orang Malaysia dan orang-orang India saling menuduh yang lain menjiplak.

Kenyataan itu makin membingungkan, karena urusan pembelian hak adaptasi juga tidak dilakukan secara transparan. Buy Akur, sang pencipta lagu, tidak pernah terekspos media, sementara Iwan—sejauh yang saya tahu—juga tidak pernah memberi penjelasan pasti mengenai hal tersebut.

Akhirnya, isu yang muncul ke permukaan adalah soal plagiat. Sebagian kalangan mengira Iwan meniru lagu “Tinak tin tana”, sebagian lain mengira lagu “Tinak tin tana” yang meniru lagu “Sedang-sedang saja”. Padahal, berdasarkan kronologi yang terjadi, persoalan ini bukan plagiarisme, karena produser film Mann telah membeli hak adaptasi lagu itu secara resmi.

Dalam film Mann, lagu “Tinak tin tana” (yang merupakan adaptasi lagu “Sedang-sedang saja”) dinyanyikan oleh Alka Yagnik dan Udit Narayan, sementara dalam film ditampilkan (secara lipsync) oleh Aamir Khan dan Manisha Koirala.

Well, saya berharap jawaban yang cukup panjang ini bisa memuaskan kamu, ya, yang mengirim pertanyaan ini. Meski mungkin tidak penting-penting amat, setidaknya saya bisa menulis sesuatu untuk update blog ini. 😃

Obrolan Bocah

Beberapa bocah berkumpul di teras rumah. Sementara mereka bercakap-cakap, di jalanan depan rumah tampak anak-anak kecil bermain-main, berlarian, sambil tertawa-tawa gembira.

Melihat mereka berlarian gembira, seorang bocah berkata, “Aku senang melihat anak-anak kecil bermain-main gembira seperti mereka.”

“Sama,” sahut bocah temannya. “Aku juga selalu suka anak-anak kecil. Mereka mengingatkanku untuk gembira dan tertawa.”

“Melihat anak-anak kecil membuatku ingin kembali jadi anak-anak,” sahut bocah yang lain.

Lalu seorang bocah yang tampak bijaksana berkata, “Sepertinya kita semua menyukai anak-anak kecil. Well, siapa yang tidak?”

Bocah lain, yang dari tadi diam, menyahut, “Tapi aku tidak suka anak kecil!”

Seketika bocah-bocah temannya menatap kepadanya.

“Kenapa kamu tidak suka anak kecil?” tanya mereka.

Bocah tadi menjawab, “Uhm... aku sukanya yang sudah dewasa.”

Ngomong Sendiri, Pusing Sendiri

Kalau dipikir-pikir dengan akal sehat dan akal tidak sehat, mungkin aku memang agak tidak sehat.

Senin, 10 Juli 2017

Ndongeng Selebtweet

Banyak orang eksis tanpa kita kenal, pun banyak
popularitas tanpa eksistensi yang jelas, alias sekadar tenar.
@noffret


Istilah selebtweet (atau selebtwit) muncul setelah adanya Twitter. Tak jauh beda dengan blog melahirkan selebblog, atau Instagram melahirkan selebgram. Namun, terkait selebtweet, ada semacam kerancuan atau ketidaksepahaman dalam mendefinisikan istilah tersebut.

Yang saya tahu, istilah selebtweet memiliki arti “orang yang murni populer di dan/atau lewat Twitter”. Ada banyak sekali orang semacam itu. Semula, mereka sama sekali tidak dikenal. Namun, karena aktivitas dan kreativitas mereka membuat tweet-tweet bagus atau lucu yang disukai banyak orang, mereka lalu memiliki banyak follower, hingga akhirnya terkenal di Twitter. Orang-orang semacam itulah yang kemudian disebut selebtweet.

Jadi, meski Ahmad Dhani—sebagai misal—memiliki follower di atas 1 juta, dia bukan selebtweet. Karena Ahmad Dhani sudah terkenal bahkan sebelum membuat akun di Twitter. Dia musisi yang memang menjadi selebritas Indonesia. Ada atau tidak ada Twitter, Ahmad Dhani tetap seorang seleb. Karena popularitasnya memang bukan berasal dari Twitter, melainkan dari dunia musik.

Begitu pula Donald Trump atau Jokowi—lagi-lagi sebagai misal—mereka juga bukan selebtweet, meski memiliki follower sangat banyak. Karena popularitas Trump maupun Jokowi memang bukan karena aktivitas mereka di Twitter, melainkan karena mereka presiden. Menyebut Presiden Trump atau Presiden Jokowi sebagai selebtweet, sepertinya agak membingungkan, juga terdengar lucu.

Merujuk pada penjelasan tersebut, maka definisi selebtweet memang “orang yang murni populer di dan/atau lewat Twitter”. Namun, karena mungkin itu bukan definisi baku, banyak orang yang masih rancu dalam mendefinisikan selebtweet. Masih banyak orang yang menganggap siapa pun sebagai selebtweet, asal terkenal dan memiliki akun di Twitter, tak peduli apakah orang itu murni terkenal di Twitter atau sudah terkenal sebelum muncul di Twitter.

Kerancuan itu makin menjadi, karena nyatanya memang ada—bahkan banyak—orang yang menggunakan akun Twitter untuk menunjang profesi atau popularitas. Misalnya, seorang penyanyi atau penyair yang aktif menulis tweet-tweet bagus, lalu mendapat banyak follower yang menyukai tweet-tweet mereka. Dalam kasus semacam itu, memang agak membingungkan untuk menyebut mereka selebtweet atau bukan. Di satu sisi, mereka sudah terkenal sebagai penyanyi atau penyair. Di sisi lain, mereka mendapat banyak follower di Twitter karena sering menulis tweet bagus.

Kemudian, ada pula penulis yang aktif di Twitter, menulis banyak tweet yang disukai orang-orang, juga menggunakan Twitter sebagai sarana mempromosikan karya-karyanya. Karena aktivitasnya di Twitter pula, dia pun terkenal di media sosial tersebut, dan memiliki banyak follower. Ini juga membingungkan untuk disebut selebtweet atau bukan. Terus terang, saya juga tidak tahu apakah orang semacam itu bisa disebut selebtweet atau tidak.

Well, sebenarnya juga tidak penting untuk tahu apakah seseorang bisa disebut selebtweet atau tidak. Yang membuat saya menulis catatan ini, karena tergelitik oleh “ribut-ribut” di Twitter tempo hari, menyangkut orang-orang yang disebut selebtweet. Karena disebut selebtweet, orang-orang itu pun terkenal, khususnya di Twitter. Dan, entah bagaimana asal usulnya, orang-orang terkenal itu kerap menjadi bahan nyinyiran di Twitter.

Tempo hari, ada selebtweet yang menjadi bahan meme, karena selebtweet tersebut dinilai “tidak konsisten” dengan ucapannya sendiri, sebagaimana yang tertulis di timeline-nya. Sejujurnya, saya terhibur dengan meme-meme lucu yang bertebaran di timeline, dibuat oleh banyak pihak, yang semua isinya “menyinyiri” si selebtweet. Saya menganggap meme-meme itu hiburan segar, meski mungkin selebtweet bersangkutan bisa jadi jengkel kalau melihatnya.

Tidak lama setelah aksi menyinyiri selebtweet tersebut, muncul peristiwa lain yang tak jauh beda. Ada orang terkenal di Twitter yang “dinyinyiri” ramai-ramai oleh banyak orang, karena—lagi-lagi—dinilai tidak konsisten dengan ucapannya sendiri, yang terekam pada jejak tweet-tweetnya. Mungkin karena jengkel dinyinyiri banyak orang, si selebtweet itu pun memblokir orang-orang yang menyinyiri. Aksi pemblokiran itu membuat aksi penyinyiran makin membahana.

Dua kasus di atas hanya sekadar contoh. Di luar itu, ada banyak hal lain serupa, yang semuanya terkait orang-orang yang disebut selebtweet. Saya pikir itu bukan hal istimewa, karena begitulah romantika sosial, termasuk di media sosial. Orang-orang cenderung tertarik pada sosok-sosok populer, sehingga perhatian pada mereka lebih banyak. Akibatnya, apa pun yang terjadi pada si sosok populer, biasanya mengundang reaksi banyak orang. Sekali lagi, itu hal biasa.

Cuma, kalau boleh mengingatkan, ada baiknya kita mengingat bahwa “konsistensi” tidak selamanya harus dirujukkan pada hal-hal yang telah lewat, karena konsistensi tidak berbanding lurus dengan relevansi. Selalu ada konteks di balik setiap teks, selalu ada peristiwa di belakang kata-kata. Terkait Twitter, bisa berbahaya kalau kita menguji konsistensi seseorang hanya melalui rekam jejak tweet-tweetnya, padahal masing-masing tweet memiliki konteks dan latar belakang tersendiri.

Jika kalimat di atas masih membingungkan, mari gunakan contoh.

Umpamakan saja, setahun kemarin Si A menulis tweet, yang isinya memuji-muji Kafe X. Lalu, hari ini, Si A menulis tweet yang isinya menyerang atau setidaknya menyatakan kekecewaan pada Kafe X. Jika kita hanya mengambil masing-masing tweet—yang ditulis setahun kemarin dan yang ditulis hari ini—kita pun melihat bahwa Si A tidak konsisten. Tahun kemarin memuji-muji, sekarang balik mencaci. Tapi apakah sesederhana itu persoalannya?

Tweet di Twitter umumnya ditulis atau diocehkan secara spontan. Kita menghadapi pengalaman tertentu, lalu menuliskannya di Twitter dalam bentuk tweet. Artinya, masing-masing tweet memiliki latar belakang dan konteks sendiri, yang bisa jadi tidak berkaitan, atau bahkan saling bertolak belakang. Karenanya, seperti yang disebut tadi, bisa berbahaya kalau kita menguji konsistensi seseorang hanya melalui rekam jejak tweet-nya semata. Karena, ketika itu yang kita lakukan, kita telah melepaskan teks dari konteks.

Seperti pada contoh di atas. Si A memuji Kafe X setahun kemarin, dan hari ini mencaci Kafe X. Jika kita mengambil dua tweet yang saling bertolak belakang tersebut, kita pun akan melihat bahwa Si A bukan orang yang konsisten. Karena dua tweet-nya—terkait objek yang sama—saling bertolak belakang. Tetapi, sekali lagi, apakah sesederhana itu persoalannya?

Bisa jadi, setahun kemarin Si A masuk Kafe X dan mendapat pengalaman menyenangkan, misal pelayanan ramah, minuman yang benar-benar sesuai selera, sampai harga yang menurutnya murah. Karena pengalaman menyenangkan itu, Si A menulis pujian untuk Kafe X di akun Twitter. Lalu, hari ini, Si A kembali masuk Kafe X dan mendapati pengalaman buruk atau tidak menyenangkan. Seperti setahun kemarin, Si A kembali menulis pengalamannya terkait Kafe X di Twitter, namun kali ini bertolak belakang dengan tweet-nya setahun lalu.

Berdasarkan konteks peristiwa, apakah Si A tidak konsisten, hanya karena menulis dua tweet yang saling bertolak belakang? Jika kita melihat konteks atau latar belakangnya, kita pun menyadari bahwa dua tweet yang saling bertolak belakang itu bukan wujud inkonsistensi, karena memang masing-masing tweet memiliki latar peristiwa sendiri. Karenanya, menuduh Si A tidak konsisten hanya karena dua tweet yang saling bertolak belakang bisa berbahaya, kalau kita melepaskan konteks atau latar belakangnya.

Selalu ada konteks yang menyertai teks, selalu ada peristiwa di balik kata-kata. Untuk dapat bersikap adil, kita tidak bisa mengambil yang satu sambil melepaskan yang lain. Karenanya, sebelum mengadili teks, periksalah dulu konteksnya. Sebelum menghakimi kata-kata, pelajari dulu latar belakangnya. Kita tidak bisa serta merta menghakimi orang lain hanya karena tweet-nya hari ini berbeda dengan tweet-nya setahun kemarin.

Seperti Chelsea Islan, misalnya. Beberapa tahun lalu, Chelsea Islan menulis tweet terkait Bastian Steel, dan menyebut cowok itu “lucu” (dalam konotasi yang mungkin negatif). Belakangan, tersiar kabar kalau Chelsea Islan pacaran dengan Bastian Steel. Lalu, serta merta pengguna Twitter “mengacak-acak” timeline Chelsea Islan, dan menggunakan tweet yang ditulis Chelsea Islan sekian tahun lalu sebagai bukti “inkonsistensi”. Itu juga lucu.

Sekian tahun lalu, bisa jadi Chelsea Islan memang tidak minat blas pada Bastian Steel—entah dengan alasan apa pun—dan sekarang Bastian Steel tampak cakep di mata Chelsea Islan. Karena Chelsea Islan melihat perubahan pada cowok itu, dia pun mulai tertarik, meski sekian tahun lalu menganggapnya “lucu”. Itu hal biasa, dan perubahan semacam itu tidak bisa dijadikan sandaran untuk menilai seeorang tidak konsisten.

Sekali lagi, ada latar peristiwa di balik kata-kata, dan penilaian orang terhadap sesuatu bisa berbeda kapan saja, karena memang begitulah manusia.

Kembali ke selebtweet.

Mungkin, yang membuat banyak orang—khususnya para pengguna Twitter—suka menyinyiri selebtweet, karena beberapa selebtweet dinilai “overacting”. Disentil sedikit saja, marah, lalu memblokir akun orang yang menyentil. Disindir sedikit saja, marah, lalu memaki-maki. Mereka, para selebtweet itu, tampaknya sangat sensitif dengan popularitasnya, sehingga tidak menginginkan siapa pun merusak kesenangan mereka sebagai seleb. Karena merasa populer, mereka hanya ingin mendengar yang baik-baik, puja-puji, dan anti terhadap kritik.

Kenyataannya memang ada orang-orang semacam itu. Mereka sangat sensitif. Mungkin karena merasa populer, mungkin pula karena bawaan mereka yang mudah sensi. Terkait hal itu, saya punya pengalaman yang bisa diceritakan.

Lima tahun lalu, saya mem-follow seorang penulis yang juga terkenal di Twitter. Selain memiliki banyak follower, tweet-tweet penulis tersebut juga sering di-retweet banyak orang. Saya pun mem-follow dia karena menyukai tweet-tweet-nya, selain juga membaca buku-bukunya. Karena rasa suka pula, saya pun me-retweet beberapa tweet-nya, waktu itu. Untuk memudahkan cerita, mari sebut dia dengan nama Penulis X.

Kebetulan, bersamaan dengan itu, saya sedang mengobrol (lewat mention) dengan Klara Virencia di Twitter (saat ini, akun Twitter Klara Virencia sudah tidak ada—mungkin dihapus yang bersangkutan.) Waktu itu, Viren dan saya sedang membicarakan suatu berita perkosaan, namun isi berita itu terkesan menyalahkan si korban. Bahkan, judul berita itu sudah menghakimi si korban. Kalau tidak salah ingat, judul berita itu berbunyi, “Karena ke warung hanya pakai handuk, wanita ini diperkosa”.

Ditinjau dari perspektif jurnalistik, judul semacam itu tidak objektif, karena memosisikan (atau setidaknya mengesankan) korban sebagai pihak yang bersalah. Sudah judulnya kacau, isi beritanya juga sama; mengesankan korban sebagai pihak yang bersalah. Isi berita itu ingin mengatakan, “Makanya, kalau tidak ingin diperkosa, berpakaianlah yang benar.” Berita itu jelas kacau, karena tidak memenuhi standar jurnalistik yang baik.

Nah, Viren dan saya membicarakan berita itu di Twitter, melalui mention. Kami sama-sama sepakat bahwa berita itu ditulis asal-asalan, tidak memenuhi kaidah jurnalistik yang benar, dan sepertinya memang dimaksudkan untuk mengundang klik. Waktu itu, saya sempat menulis mention, mengatakan pada Viren, bahwa tulisan itu (maksudnya berita yang kami baca) benar-benar kacangan.

Rupanya, Penulis X—selebtweet yang saya follow tadi—stalking ke akun saya. Mungkin dia mendapati ada follower baru, dan penasaran ingin tahu siapa saya yang menjadi follower barunya. Karena waktu itu saya sedang mengobrol dengan Klara Virencia, dia pun mungkin mendapati mention-mention saya, dan dia salah paham. Ketika saya menyebut istilah “kacangan” di mention, Penulis X mengira kami sedang membicarakannya, dan mungkin dia marah.

Mungkin ini terdengar lucu. Tapi dia benar-benar marah. Saat itu pula, Penulis X menulis rangkaian tweet yang sangat jelas ditujukan kepada saya, dan menyebut-nyebut istilah “kacangan” di tweet-nya. Mungkin, dia mengira saya dan Viren menyebut tulisannya sebagai “kacangan”, padahal yang kami bicarakan waktu itu adalah berita yang kami baca. Terkait tulisan Penulis X, saya justru menyukai tulisan-tulisannya, karena karya-karyanya memang bagus.

Apa yang terjadi setelah itu?

Karena rangkaian tweet Penulis X tadi sangat jelas, saya pun tahu bahwa rangkaian tweet itu memang ditujukan kepada saya. Mendapati prasangka semacam itu, saya pun jengkel. Saya pikir, “Nih orang kenapa nggak klarifikasi dulu, sih?” Karena jengkel pula, saya pun langsung unfollow akun dia di Twitter, dan menghapus tweet-tweet miliknya yang tadi sempat saya retweet. Kalau dia memang sensitif, saya juga bisa sensitif!

Kisah itu membuat saya makin berhati-hati setiap kali akan mem-follow seseorang, atau setiap ingin menyapa seseorang di Twitter. Karena orang, kadang, tidak bisa dinilai dari tweet-tweet-nya semata. Ada yang tweet-tweet-nya tampak keras atau frontal, tapi ternyata orangnya ramah saat disapa. Atau sebaliknya, tweet-tweetnya tampak ramah, tapi ternyata orangnya sangat pemarah.

Ada pula selebtweet yang suka menulis tweet-tweet lucu, dan karena lucu pula dia memiliki banyak follower. Karena terkesan lucu, orang-orang (khususnya follower-nya) menilai dia humoris, sekaligus ramah. Tapi ternyata tidak. Suatu waktu, saat mendapat mention yang sebenarnya dimaksudkan untuk lucu-lucuan, dia marah. Itu kan lucu. Orang yang suka melucu tidak bisa memahami mention yang dimaksudkan untuk lucu-lucuan.

Oh, well, begitulah Twitter, begitulah dunia maya. Yang kita lihat belum tentu sesuai aslinya. Omong-omong, kalimat terakhir bisa bermakna ganda.

Menjadi Manusia adalah Pilihan

Yang masih lajang ditanya, “Kapan kawin?”

Yang sudah kawin ditanya, “Kapan punya anak?”

Yang sudah punya anak ditanya, “Kapan nambah anak?”

Pernahkah kita berpikir bahwa itu gaya hidup yang sungguh gila dan tidak manusiawi? Bahkan, sebenarnya, sangat menjijikkan!

Orang-orang yang masih lajang diprovokasi dan diintervensi untuk segera kawin. Yang sudah kawin diprovokasi dan diintervensi untuk segera punya anak. Yang sudah punya anak diprovokasi dan diintervensi untuk menambah anak.

Jadi, apa sebenarnya tujuan hidup manusia? Sekadar kawin dan beranak pinak? Kalau memang begitu, lalu apa beda kita dengan binatang ternak?

Tentu saja setiap orang berhak untuk menilai diri mereka serendah binatang ternak, dan menjalani hidup seperti kawanan ternak. Silakan, karena hidup adalah soal pilihan. Tetapi, tolong tidak usah memprovokasi orang-orang lain agar juga menjadi binatang ternak!

Sebagian orang memilih menjadi binatang ternak, dan menjalani kehidupan seperti kawanan ternak—silakan! Tapi biarkan orang-orang lain yang ingin tetap menjadi manusia, untuk tetap menjadi manusia.

Karena hidup adalah soal pilihan. Begitu pula menjadi manusia atau bukan manusia.

Para Penipu dan Pembual di Sekitar Kita

"Menikah akan melancarkan rezeki." Tapi yang ngomong menjalani hidup pas-pasan, menyedihkan, dan serba kekurangan.

"Yang dimaksud rezeki dalam pernikahan tidak harus berupa uang." Kalau begitu jelaskan sejak awal, agar orang-orang tidak tertipu.

"Kapan kamu akan menikah?" | Oh, mengaku sajalah, kamu menyesali perkawinanmu, dan ingin orang-orang lain sama sengsara sepertimu, kan?

Aku heran pada orang-orang yang begitu gigih menyuruh dan memprovokasi orang lain cepat menikah, seolah tujuan hidup cuma menikah.

Orang-orang menikah, dan mereka menyesal. Bukannya memperbaiki hidupnya sendiri, mereka justru ingin orang lain sengsara seperti mereka.

Aku bisa tahu apakah orang bahagia atau tidak dalam perkawinannya. Jika dia hobi menyuruh orang lain agar menikah, dia pasti tidak bahagia.

"Tidak usah khawatir soal rezeki, nanti rezeki datang sendiri setelah menikah." Tapi yang ngomong menjalani hidup dengan terjerat utang.

"Tak perlu bingung. Uang bukan masalah besar dalam perkawinan." Tapi yang ngomong sampai menghalalkan segala cara demi bisa mendapat uang.

Orang yang suka menyuruh orang lain agar cepat menikah memiliki satu ciri yang sama: Mereka TIDAK menjalani hidup seperti yang diocehkannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 Agustus 2016.

Rabu, 05 Juli 2017

Pergilah Ke Mana Hati Membawamu

Kalau orang bersedia mati untuk mendapatkan apa pun
yang dia inginkan, dia akan mendapatkan.
@noffret


Di catatan terdahulu, kita telah melihat kehidupan Siwon, dan belajar pada keteguhan hatinya dalam mengejar impian. Sekarang, kita akan melihat kehidupan dua teman Siwon, yaitu Eunhyuk dan Donghae. Sebagaimana Siwon, mereka juga memiliki jalan hidup yang layak dijadikan pelajaran.

Nama asli Eunhyuk adalah Lee Hyuk Jae. Alasan kenapa dia mengubah namanya menjadi Eunhyuk, karena kebetulan di Korea Selatan ada komedian terkenal bernama Lee Hyuk Jae. Karenanya, daripada orang bingung membedakan mereka, dia pun menggunakan “Eunhyuk” sebagai namanya. Saat ini, Eunhyuk dikenal sebagai penari, rapper, pembawa acara atau presenter, penulis lagu, aktor, dan—tentu saja—anggota Super Junior. Sebegitu hebat Eunhyuk menari, sampai dia dijuluki “Danching Machine”.

Eunhyuk telah tertarik pada dance sejak SD, dan dia belajar dance secara otodidak, dengan menonton video-video dance di televisi. Pada waktu kelas 3 SD, kemampuan Eunhyuk dalam menari sudah mulai terlihat. Waktu itu, Eunhyuk sangat menyukai dan menikmati aktivitas dance, dan merasa bahwa menari adalah aktivitas yang dapat dilakukannya dengan baik, dengan sepenuh cinta.

Pada waktu SMP, Eunhyuk menjalin persahabatan dengan Junsu, teman sekolahnya. Eunhyuk ingat, dia pertama kali bertemu Junsu saat bermain bola, dan Junsu waktu itu mengenakan kaus bergambar Micky Mouse serta celana digulung sampai lutut. Yang menjadikan keduanya cocok dan segera akrab, karena Eunhyuk maupun Junsu memiliki impian sama, ingin menjadi penyanyi dan penari profesional.

Waktu itu, Junsu memberi saran, “Agar impian kita menjadi penyanyi dan dancer terwujud, bagaimana kalau kita membentuk sebuah group?” Eunhyuk setuju, dan mereka mengajak dua orang teman untuk bergabung. Itulah awal perjalanan Eunhyuk dan Junsu dalam dance. Sejak itu pula, Eunhyuk bersama teman-temannya aktif berlatih dance, dan kerap mempertunjukkan kemampuan mereka, khususnya di lingkungan sekolah.

Saat acara darmawisata sekolah, misalnya, Eunhyuk tidak segan memperlihatkan bakatnya di depan semua orang. Dia bernyanyi sambil menari. Saat sekolah menyelenggarakan pagelaran seni untuk mencari anak-anak berbakat, Eunhyuk naik ke atas panggung dan menunjukkan kemampuan menarinya. Teman-teman dan guru-guru di sekolah mengakui, Eunhyuk menari dengan sangat bagus.

Tetapi bakat saja tidak cukup. Meski orang-orang mengakui kemampuan Eunhyuk dalam menari, perjalanan Eunhyuk untuk menjadikan dirinya penari profesional harus melalui jalan panjang yang tak mudah. Dia harus berkali-kali menerima penolakan, bahkan tentangan. Termasuk dari ibunya tercinta.

Ketika tahu Eunhyuk ingin terjun ke dunia entertainment dan menjadi penari, ibunya sulit menerima. Eunhyuk ingat, waktu itu ibunya mengatakan, “Cita-cita menjadi artis hanya akan membuat hidupmu sia-sia.”

Tapi Eunhyuk telah membulatkan tekad. Dia hanya tahu ingin menari, dan dunia harus menyaksikan dia menari. Sekali lagi, perjalanan yang harus ditempuh Eunhyuk sangat sulit. Berkali-kali dia melamar ke agen-agen pencari bakat, tapi yang dihadapinya penolakan demi penolakan. Setiap kali menerima penolakan, Eunhyuk berkata pada diri sendiri, “Meski harus jatuh bangun, itu tidak akan menjadi alasanku berhenti bermimpi.”

Maka dia bangun lagi. Dan mengejar impiannya kembali.

Di dunia, dia menghadapi penolakan orang-orang. Di rumah, dia menghadapi penolakan ibunya. Jika ada orang yang harus berdarah-darah dalam mengejar impian, Eunhyuk salah satunya. Meski begitu, seperti tekadnya, Eunhyuk tidak putus asa. Dia berlatih terus setiap hari, bahkan hanya tidur 5 jam setiap hari. Tidur 5 jam itu bahkan terus dilakukannya sampai saat ini, ketika seluruh dunia telah mengenalnya. Dia terus berlatih, berlatih, dan berlatih.

Setiap kali ada perlombaan dance, Eunhyuk akan mendaftar. Beberapa kali dia menang, beberapa kali dia kalah. Tapi Eunhyuk sudah kebal dengan kekalahan, dan terus maju. Setiap hari, kapan pun ada waktu, dia melatih diri, dan waktu demi waktu semakin memperbaiki tariannya, gerakannya, keindahannya.

Sampai kemudian, Eunhyuk mendengar S.M. Entertainment membuka audisi untuk sebuah grup penyanyi (yang kelak bernama Super Junior.) Eunhyuk mendaftar, dan mengikuti audisi. Eunhyuk ingat, waktu audisi dia begitu gugup, sampai-sampai khawatir akan tampak berantakan, dan impiannya akan hancur. Tetapi, seperti biasa, dia menguatkan diri, dan bertekad untuk menunjukkan kemampuan terbaik yang dimilikinya. Di akhir audisi, Eunhyuk dinyatakan lulus, bahkan dengan nilai sempurna.

Saat Super Junior pertama kali tampil, Eunhyuk mengundang ibunya untuk menghadiri acara, dan ibunya datang. Ketika melihat Eunhyuk menari dengan wajah bahagia, dengan gerakan-gerakan yang sangat indah, ibunya berpikir, “Anakku sangat tampan.” Sejak itulah, ibu Eunhyuk menyadari bahwa anaknya telah memilih jalan terbaik bagi hidupnya, dan—meski harus berjuang keras luar biasa—Eunhyuk berhasil meraih impiannya.

Sama seperti Siwon, Eunhyuk selalu mengatakan bahwa konser Super Junior terbaik adalah konser yang dihadiri ibunya. Menyadari sang ibu akhirnya memberi restu untuk pilihan hidupnya, membuat Eunhyuk merasa hidupnya sempurna.

Berbeda dengan Siwon dan Eunhyuk yang mendapat tentangan dari orang tua saat mengejar impian, Lee Donghae justru menjadi artis sukses berkat dorongan ayahnya. Saat ini, dia dikenal sebagai penyanyi, penari, rapper, penulis lagu, model, dan aktor terkenal Korea Selatan. Sama seperti Siwon dan Eunhyuk, Donghae juga anggota Super Junior.

Sebenarnya, Donghae bercita-cita menjadi atlet. Tetapi, ayahnya mendorong agar Donghae terjun ke dunia entertainment, menjadi penyanyi. Dorongan itu sebenarnya hasrat tersembunyi ayah Donghae yang tak terlaksana. Di masa lalu, saat masih remaja, ayah Donghae bercita-cita menjadi penyanyi. Tetapi ayahnya (kakek Donghae) menentang keras, dan ayah Donghae pun mengubur impiannya dalam hati.

Bertahun-tahun setelah itu, ayah Donghae tidak pernah melanjutkan impiannya. Sampai kemudian dia menikah dan memiliki anak, dan diam-diam berharap anaknya mewujudkan impian yang dulu tak tercapai.

Jadi, saat Donghae mendapati sebuah pemberitahuan audisi, dan tertarik ingin mencoba, ayah Donghae serta merta mendukung dan menyemangati. Didukung ayahnya, Donghae pun mendatangi kantor S.M. Entertainment yang mewadahi banyak artis berbakat.

Donghae menandatangani kontrak pertamanya dengan S.M. Entertainment, kemudian masuk ke Super Junior bersama anggota yang lain. Saat benar-benar terjun ke dunia entertainment, Donghae menyadari itulah hidup yang diinginkannya, dan dia sangat berterima kasih pada ayahnya yang telah mendorong serta mendukung.

Mungkin, pikir Donghae, jika dia meneruskan cita-cita semula menjadi atlet, dia belum tentu berhasil. Kalau pun berhasil, belum tentu dia bahagia. Menjadi penyanyi, sebagaimana yang diharapkan ayahnya, membuat Donghae tidak hanya sukses, tapi juga dapat menjalani dengan bahagia, dengan sepenuh cinta. Karenanya, karir Donghae di dunia entertainment cepat berkembang, hingga merambah ke penulisan lagu sampai akting.

Yang membuat Donghae sering menyesal, ayahnya tidak sempat menyaksikan keberhasilan Donghae. Ketika Super Junior mulai terkenal, ayah Donghae sedang terbaring sekarat digerogoti kanker. Karena itulah, saat Donghae menerima award pertamanya bersama Super Junior, kata-kata pertama yang diucapkannya adalah, “Father, I hope your healthy.”

Bahkan sampai lama, Donghae sering tak bisa menahan tangis setiap kali teringat ayahnya. Teman-temannya di Super Junior memahami, kapan pun mereka membicarakan orang tua, Donghae akan teringat ayahnya, dan dia selalu menangis.

Sebenarnya, Donghae mengetahui penyakit ayahnya sejak lama. Bahwa ayahnya menderita kanker. Karenanya, Donghae sempat berniat menggunakan penghasilannya untuk membantu pengobatan sang ayah. Tetapi, ketika Donghae akhirnya berhasil mendapat penghasilan pertama, sang ayah keburu wafat. Itulah yang selalu membuat Donghae sedih. Sedih karena tidak mampu membantu ayahnya, juga sedih karena sang ayah tidak sempat menyaksikan keberhasilan impiannya.

....
....

Hidup ini begitu singkat—sebagian orang menyadari, sebagian lain tak pernah menyadari. Dan dalam kesingkatan hidup yang kita jalani, masing-masing kita diberi hak istimewa yang tidak dimiliki makhluk lain. Yaitu hak untuk memilih. Hak untuk menentukan jalan hidup. Hak untuk menjadi diri sendiri yang diinginkan. Hewan tidak memiliki hak itu. Bahkan malaikat pun tidak! Satu-satunya makhluk yang memiliki hak untuk memilih hanyalah manusia.

Selain memiliki hak untuk memilih, menentukan, serta menjadi apa pun yang kita inginkan, setiap kita juga diberi kesempatan untuk mewujudkannya. Yakni usia hidup. Dan kehidupan yang kita miliki, sebagaimana yang disebut tadi, begitu singkat. Apakah kita belum juga menyadari?

Sedari bayi, sejak kecil sampai dewasa, waktu kita dihabiskan untuk bermain dan bersekolah sampai kuliah, dan rata-rata menghabiskan waktu 20 tahun. Jika kita diberi kesempatan hidup 60 tahun, waktu yang tersisa tinggal 40 tahun. Selama 40 tahun itu, sepertiga waktu digunakan untuk tidur (8 jam sehari), dan artinya tinggal sekitar 27 tahun. Apa yang kita lakukan pada 27 tahun sisa hidup kita?

Sebagian kita sibuk mencari kerja, menjalani berbagai aktivitas sehari-hari tanpa tujuan, dan beberapa tahun kemudian menikah. Berkeluarga, punya anak-anak, lalu disibukkan urusan keluarga dan anak-anak, hingga tanpa sadar kita menua dan terus menua. Lalu waktu yang kita miliki habis. Sebagian orang berhasil mencapai impiannya, sebagian lain gagal, sebagian lagi bahkan tak pernah punya impian sama sekali.

Di dunia ini, ada banyak orang yang diam-diam merasa getir, menyaksikan hidupnya yang telah lalu... dan menyesal dulu membuang waktu untuk hal-hal tak berguna dan sia-sia. Di dunia ini, ada banyak orang yang diam-diam menyimpan penyesalan karena tidak sempat mengejar impiannya, lalu berharap kalau saja dulu memiliki keberanian untuk mengejar... kalau saja dulu menggunakan waktu sebaik-baiknya... kalau saja dulu menyadari betapa hidup ini begitu singkat.

Seperti ayah Donghae. Dia sangat ingin menjadi penyanyi, tapi lalu mengubur impiannya, karena orang tua menentang. Selama bertahun-tahun, ayah Donghae menyimpan sendirian impian itu, tak pernah berani mengejar, sampai segalanya terlambat. Usia kian menua, sementara kanker diam-diam menggerogoti tubuhnya, dan dia sekarat... tepat saat anaknya berhasil mewujudkan impian menjadi penyanyi.

Mungkin akan sangat bagus kalau saja ayah Donghae masih hidup, ketika Donghae berhasil menjadi penyanyi. Tetapi, pasti akan lebih bagus lagi jika ayah Donghae berani mewujudkan impiannya sendiri, hingga dapat menjalani kehidupan yang singkat ini dengan puas hati. Kita tidak pernah tahu kapan akan mati. Yang kita tahu, apa yang akan kita lakukan di dunia, dan akan menjadi apa selama hidup.

Siwon tahu yang diinginkannya, dan dia mengejarnya. Meski untuk itu dia harus kehilangan semua fasilitas dari ayahnya yang kaya-raya. Eunhyuk tahu apa yang ingin dilakukannya di dunia, dan dia mengejarnya meski harus menghadapi penolakan demi penolakan, bahkan tentangan dari ibunya. Pada akhirnya, ketika Siwon maupun Eunhyuk berhasil membuktikan diri, orang tua mereka pun merestui. Oh, well, ketika seorang manusia berhasil menjadi diri sendiri, dunia akan mengakui.

Mungkin, tugas terbaik seorang manusia memang menemukan diri sendiri, sebagaimana tugas terbaik setiap orang tua adalah membebaskan anak-anaknya untuk menjadi diri sendiri. Dan untuk menjadi diri sendiri, untuk menemukan diri sendiri, kita perlu mendengarkan suara hati... mendengarkan apa sebenarnya yang kita cari, apa yang paling kita inginkan di dunia ini, dalam hidup yang amat singkat ini.

Karenanya, di antara kesibukan yang terus berpacu, di antara aktivitas yang tanpa henti, di antara kehidupan yang kadang tak jelas, luangkanlah waktu untuk hening sejenak... untuk mendengarkan suara hati, untuk menemukan diri sendiri. Dan saat hati memberitahu, ikutilah kata hatimu. Pergilah, berjuanglah, dan ikutilah ke mana hati membawamu.

Noffret’s Note: Hari Biasa

Selamat datang kembali, hari biasa. Aku selalu mencintaimu, seperti biasa.
—Twitter, 13 September 2016

Aku selalu mencintai hari biasa. Alasannya sederhana; karena tidak ada yang membahas, meributkan, apalagi merayakannya.
—Twitter, 5 Juni 2016

Perayaan adalah cara manusia untuk menikmati mudarat di atas manfaat, demi kesenangan sesaat.
—Twitter, 10 September 2016

Aku tak pernah tertarik pada hari raya, karena telanjur cinta pada hari biasa. Hanya hari biasa yang membuatku tenteram sebagai manusia.
—Twitter, 10 September 2016

Seharusnya tidak ada hari raya apa pun di dunia, agar setiap hari menjadi waktu istimewa, dan kehidupan berlangsung bersahaja tapi mulia.
—Twitter, 10 September 2016

Jika semua hari adalah hari biasa, dan orang-orang dapat menjalani hidup sebagaimana biasa, sepertinya semua hal akan baik-baik saja.
—Twitter, 1 Juli 2016

Harga-harga naik lagi tahun ini, dan entah kapan akan turun kembali. Tampaknya manusia memang senang mempersulit diri sendiri.
—Twitter, 1 Juli 2016

Bagiku, yang paling indah dijalani adalah hari biasa, saat semua orang bisa menjalani hidup dengan mulia seperti biasa, tanpa ribut-ribut.
—Twitter, 1 Juli 2016

Mungkin kita perlu merayakan “Hari Biasa Nasional”, atau “Hari Biasa Sedunia”, agar lebih bisa menghargai hari biasa.
—Twitter, 21 Oktober 2016

Selamat merayakan hari biasa yang mulia seperti biasa. Mohon maaf lahir dan batin. » http://bit.ly/1Lx41Ec
—Twitter, 5 September 2016


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Twitter Membuat Saya Bingung Lagi

Twitter emang suka bikin bingung. Setelah tempo hari mengirim e-mail yang mengira saya menyukainya, sekarang dia kirim e-mail lagi, berbunyi, “Hei @noffret, Anda hampir selesai.”

Hah...? Hampir selesai apaaaaah?

Kita, kan, nggak ngapa-ngapain? Apanya yang seleseeeeeeeh?
 
Sabtu, 01 Juli 2017

Manusia di Titik Nadir

Setiap kali melihat orang menyuruh atau
memprovokasi orang lain cepat kawin, aku tidak
melihat manusia. Yang kulihat adalah sosok primata.
@noffret


Salah satu momok yang dihadapi para lajang adalah pertanyaan soal kapan akan menikah. Pertanyaan keparat itu makin sering datang ketika lebaran tiba. Saat bertemu para famili, selalu ada beberapa di antara mereka yang bertanya—sebagian bahkan sampai nyinyir—soal kapan akan menikah. Seolah-olah lebaran adalah moment yang ditujukan untuk pertanyaan itu.

Kenyataan tersebut juga saya alami. Salah satu orang yang hobi menanyakan hal tersebut, layak saya ceritakan. Pertama, karena saya sudah sangat jengkel. Kedua, karena saya sangat miris. Dan ketiga, karena dia—orang yang terus nyinyir bertanya “kapan kawin” pada saya—bisa dijadikan pelajaran terkait manusia.

Karena saya tidak mungkin menyebut nama asli, mari kita sebut dia Seha. (Kalau pun dia—entah bagaimana caranya—ikut membaca catatan ini, ya biar saja. Biar ikut belajar.)

Seha adalah laki-laki berusia 35-an, sudah punya istri dan tiga anak yang masih kecil. Bagi saya, menatap Seha adalah menatap titik nadir manusia—realitas yang amat memprihatinkan, nasib orang-orang yang ditikam doktrin dusta perkawinan.

Sebenarnya, Seha adalah tipe laki-laki umum yang bisa kita temukan di mana-mana. Setelah lulus sekolah atau kuliah, berusaha mencari kerja, lalu menikah dan beranak-pinak. Seha juga begitu, bahkan kini telah punya tiga anak.

Mungkin karena pekerjaan Seha tidak memungkinkan untuk menghidupi keluarga, istri Seha mendaftar jadi TKI, yang berangkat kerja ke luar negeri. Jadi, Seha kemudian tinggal bersama tiga anaknya yang masih kecil, sementara istrinya bekerja mencari nafkah. Seha juga tidak bekerja, karena seharian menjadi “bapak rumah tangga” yang mengurusi anak-anaknya. Dan karena belum punya rumah sendiri, Seha numpang hidup bersama ibunya.

So, kehidupan sehari-hari Seha adalah mengurusi anak-anaknya yang masih kecil, memandikan dan menyiapkan makan untuk mereka, menemani bermain, dan kadang-kadang marah kalau anak-anaknya bikin masalah. Sebulan sekali atau beberapa bulan sekali, istri Seha mengirimkan uang dari luar negeri, untuk kehidupan Seha dan anak-anak mereka. Setiap hari, kegiatan Seha hanya itu—bangun tidur, mengurusi anak-anak, sampai tidur lagi.

Nah, orang ini—Si Seha—hobi bertanya “kapan kawin” kepada saya, dan saya ingin tertawa sambil menangis, setiap kali mendengar dia mengajukan pertanyaan itu.

Ingin tertawa, karena rasanya pertanyaan “kapan kawin” yang diajukan Seha kepada saya terdengar amat satir. Dalam bayangan saya, itu seperti adegan slapstik—ketika si pelawak tersandung dan jatuh sampai kepalanya benjol—hingga membuat saya ingin cekikikan, tapi merasa tidak tega. Dan saya juga ingin menangis, karena tahu bahwa Seha tidak menyadari betapa ironis sekaligus getir pertanyaan yang ia ajukan kepada saya.

Melihat Seha, bagi saya, adalah menyaksikan titik nadir manusia. Ketika kesadaran hilang, akal sehat lenyap, dan seumur hidup terjebak dalam doktrin dusta yang tak bertanggung jawab. Yang paling ironis dari hal itu adalah... Seha tidak menyadari kenyataan yang ia alami, bahkan berusaha menyeret saya agar sama seperti dirinya, dengan hobi memprovokasi saya agar cepat kawin.

Kadang, saya tergoda untuk menjawab kasar ketika dia mengajukan pertanyaan terkutuk itu. Rasanya, ingin sekali saya berkata, “Kamu nyinyir soal kawin kepadaku, karena berharap aku juga menjalani kehidupan menyedihkan sepertimu?”

Tapi saya tidak mungkin mengatakan kalimat semacam itu, meski sangat ingin. Karena saya menyadari, kalimat itu—jika benar saya keluarkan—bisa membuat dia sakit hati. Sayangnya, dalam hal ini, Seha tidak memikirkan apakah pertanyaan dan kenyinyirannya membuat saya sakit hati.

Jadi, sekali lagi, melihat Seha adalah menyaksikan titik nadir manusia. Sebagai manusia, Seha mungkin berpikir bahwa tujuan hidup memang sekadar kawin, beranak pinak, meski untuk itu dia harus menjalani hidup yang menyedihkan. Karenanya, ketika Seha telah melakukan itu—kawin dan beranak pinak—dia pun merasa hidupnya sempurna. Karena itu pula, meski menjalani kehidupan memprihatinkan, Seha tidak malu bertanya kepada saya, “Kapan kawin?”

Bagi Seha, mungkin, dirinya lebih hebat dan lebih mulia dari saya, karena dia telah menikah dan punya anak-anak, sementara saya menikah saja belum. Jangankan menikah, punya pacar saja tidak! Bagi Seha, mungkin, saya orang yang patut dikasihani.

Padahal, jika saya diminta menempati posisi Seha—tinggal di rumah orang tua, mengurusi tiga anak yang masih kecil, sementara istri pergi jauh menjadi TKI—terus terang saya tidak sudi. Bahkan umpama dibayar sekali pun, saya tetap tidak sudi! Saya bahkan mungkin sudah bunuh diri jika harus menjalani kehidupan semacam itu. Mungkin Seha menatap saya dengan kasihan, padahal saya menatapnya dengan kasihan yang sama.

Nah, suatu waktu, saya pernah menanyakan kepada Seha, apakah dia bersedia jika menempati posisi saya? Seha menjawab, “Tentu saja aku mau!”

Lalu saya bertanya, “Umpama kamu menempati posisiku sekarang, apa yang akan kamu lakukan?”

Jawaban Seha tepat seperti yang saya bayangkan. Dia menjawab, “Aku akan segera menikah!”

You see that...?

Itulah manusia—oh, well, titik nadir manusia.

Jadi, tujuan besar manusia memang kawin! Tepat seperti yang diocehkan Sigmund Freud puluhan tahun lalu, ketika dia mengatakan bahwa segala yang dilakukan homo sapiens memang berorientasi libido. Statemen Freud tidak dimaksudkan untuk melegitimasi atau menjustifikasi kecenderungan manusia terhadap aktivitas kawin, melainkan sebagai sindiran. Bahwa meski telah mengalami perubahan yang revolusioner sekali pun, manusia tetap menunjukkan diri sebagai produk evolusi.

Sebenarnya, tujuan kawin bukan masalah, karena bisa dibilang kecenderungan itu sudah built-up dengan diri manusia. Artinya, kehendak untuk memiliki pasangan adalah sesuatu yang bersifat kodrati, meski kadang ada deviasi. Dengan kata lain, kalau kita memang berharap punya pasangan, agar bisa kawin dan beranak pinak, tidak masalah. Toh manusia juga punya hak untuk memilih hal itu.

Tetapi, agar kita berbeda dengan binatang—karena kenyataannya manusia memang bukan binatang—mestinya kita memikirkan terlebih dulu sebelum melakukan apa pun yang ingin kita lakukan, termasuk keinginan untuk kawin dan beranak pinak. Karena kehidupan manusia tidak sesederhana kehidupan binatang. 

Dalam urusan kawin, sebenarnya, manusia dan binatang tidak ada bedanya. Manusia memiliki nafsu besar dalam urusan seks, sama seperti binatang. Bahkan dalam mencari pasangan, pedekate, sampai “menyatakan cinta”—untuk kemudian kawin dan beranak pinak—bisa dibilang manusia dan hewan tidak ada bedanya. Sama-sama menjalani proses serupa, dan sama-sama menginginkan hal serupa.

Yang membedakan, kehidupan manusia sangat kompleks, sementara kehidupan binatang relatif sederhana. Dalam kehidupan binatang, misal, menghidupi anak memang tanggung jawab sang induk. Tapi jika sang induk merasa tidak mampu menghidupi anaknya, dia bisa meninggalkan si anak begitu saja, dan urusan selesai.

Terkait hal itu, contoh paling mudah adalah panda. Umpama panda memiliki dua anak, dan merasa keberatan menghidupi keduanya, induk panda hanya akan memberi makan satu anak, sementara satu anak yang lain akan ditinggalkan. Selesai.

Meski panda—atau hewan lain—meninggalkan anaknya begitu saja, di dunia hewan tidak ada lembaga yang mengurusi nasib anak-anak. Buktinya, sampai saat ini kita tidak pernah mendengar ada panda yang dituntut karena menelantarkan anaknya.

Kemudian, di dunia binatang tidak ada TK, PAUD, sekolah, dan tetek bengek semacamnya. Juga tidak ada ponsel, internet, media sosial, dan hal-hal lain yang menjadi bagian gaya hidup manusia. Bahkan, di dunia binatang tidak ada uang, dan mereka bisa tinggal di mana saja. Intinya, kehidupan binatang jauh lebih sederhana dibanding kehidupan manusia. Berdasarkan kenyataan itu, umpama binatang kawin setiap hari dan punya anak setiap hari, bisa dibilang tidak masalah. Namanya juga binatang.

Tapi apakah kita mau merendahkan kehidupan kita—sebagai manusia—hingga serendah binatang?

Ada perbedaan esensial antara manusia dan binatang, yang secara tegas membedakan keduanya. Yaitu akal budi. Keberadaan akal budi itulah yang menempatkan posisi manusia jauh lebih tinggi dibanding binatang, sekaligus membedakan manusia dengan binatang.

Tanpa akal budi, manusia sama saja dengan binatang. Dalam perspektif biologi, akal budi (yang kini dimiliki manusia) adalah revolusi dalam evolusi. Pada akhirnya, akal budi itu pula yang memampukan manusia untuk “melawan” tuntutan evolusi.

....
....

Banyak orang menolak teori evolusi, menganggap teori itu sesat karena menyamakan manusia dengan binatang. Padahal, tanpa mereka sadari, tingkah laku manusia justru menunjukkan kalau mereka memang tak jauh beda dengan binatang.

Apa sih inti teori evolusi? Saya bisa saja ngoceh panjang lebar hingga catatan ini sepanjang tesis atau disertasi, untuk membahas apa itu teori evolusi. Tetapi, tanpa bermaksud menyederhanakan masalah, saya bisa mengatakan bahwa inti paling inti teori evolusi adalah kawin!

Kawin—itulah inti paling dasar teori evolusi!

Darwin, Dawkins, dan evolusionis lain, bisa menjelaskan bagaimana evolusi terjadi, karena adanya perkawinan demi perkawinan demi perkawinan demi perkawinan demi perkawinan... dan begitu seterusnya. Tanpa adanya proses kawin, evolusi tidak akan terjadi. Karena, sekuat apa pun, kemampuan makhluk hidup (spesies) dalam beradaptasi dan mengembangkan diri tetap memiliki batas. Kawin adalah cara untuk melewati batas itu, karena memungkinkan spesies untuk berketurunan (berkembang biak) dan melanjutkan kehidupan.

Tanpa ada perkawinan, makhluk hidup akan punah, dan itu bukan tujuan evolusi. Tujuan evolusi adalah mempertahankan eksistensi makhluk hidup (spesies), bagaimana pun caranya—agar terus bertahan serta berkembang—dan kawin adalah cara yang paling mudah digunakan. Karenanya, jangankan manusia, bahkan tengu yang ada di selangkanganmu pun mikir kawin! Karena itu memang tujuan dan tuntutan evolusi! Bedanya, tengu bisa kawin seenaknya tanpa mikir, tapi kita bukan tengu.

Kecoak dan kutu-kutu bangsat juga bisa kawin seenaknya—tanpa mikir, tanpa persiapan—tapi kita bukan kecoak, juga bukan kutu bangsat!

Dan itulah titik nadir manusia. Mati-matian menolak teori evolusi, tapi justru menunjukkan kalau mereka memang produk evolusi. Tidak mau disamakan dengan binatang, tapi kelakuan mereka tak jauh beda dengan binatang. Merasa makhluk mulia, tapi ke mana-mana bertanya “kapan kawin?”. Menolak disebut primata, tapi urusan hidupnya cuma kawin, persis seperti yang dilakukan monyet, bonobo, dan kera.

Kalau kau memang manusia—dan bukan primata—mestinya yang kaugunakan lebih dulu adalah pikiranmu... dan bukan selangkanganmu.

Kapan mikir...?

Pecundang Kebelet Ngeseks

“Menikah tidak perlu nunggu mapan.” | Lhah, bilang saja kamu pecundang. Kok ribet amat?

“Menikah tidak perlu persiapan, yang penting mantap.” | Lhah, bilang saja kamu ingin ngeseks. Kok ribet amat?

Kesimpulan:

Orang yang buru-buru menikah sambil mengatakan “menikah tidak perlu nunggu mapan” adalah pecundang yang kebelet ngeseks.

Wong kayak gitu kok ngerasa hebat, lalu sok merendahkan orang lain hanya karena belum menikah. Benar-benar menjijikkan!

Awal Mula Kerusakan

Semakin lama aku berpikir, semakin aku menyadari, bahwa semua kerusakan di muka bumi dimulai ketika pilihan diubah menjadi kewajiban.

Ironis... orang-orang yang paling rajin menyuruh orang lain cepat kawin dan cepat punya anak adalah justru yang paling gagal melakukannya.

Orang-orang ngutang ke sana kemari dengan alasan untuk beli susu buat anak. Di lain waktu berceramah, "Anak-anak akan melancarkan rezeki."

Orang-orang menikah pusing mikir hidup, sampai menghalalkan segala cara demi uang. Lalu ceramah, "Menikahlah, nanti rezeki datang sendiri."

Pendusta yang paling menjijikkan adalah orang-orang yang menikah, dan menjalani hidup susah, lalu menyuruh-nyuruh orang lain cepat menikah.


*) Ditranskrip dari timeline ‏@noffret, 22 September 2016.
 

Butuh Pernah

Pernah butuh pernah.

Senin, 26 Juni 2017

Lebaran Seorang Bocah

Pulang ke rumah sendiri, tapi tidak bisa masuk
karena kuncinya ketinggalan di tempat lain.
Benar-benar malam lebaran yang sempurna.
@noffret


Karena hidup sendirian, saya menjalani keseharian tanpa siapa pun, termasuk saat Ramadan datang. Secara pribadi, saya tidak menganggap itu masalah, karena saya juga menikmati. Kesendirian bukan sesuatu yang membuat saya tertekan. Sebaliknya, saya nyaman dan tenang melewati waktu dalam kesendirian.

Beberapa tetangga kadang bilang, mereka kasihan melihat saya, karena setiap hari sendirian. Mau makan harus keluar, cari warung makan. Padahal, saya menikmati yang saya jalani. Seperti saat Ramadan. Kadang saya keluar rumah pukul 03.00 dini hari, menuju warung nasi gudeg, atau warung nasi uduk. Bisa jadi, tetangga saya ada yang berpikir, “Kasihan amat tuh bocah. Mau sahur aja harus keluar, sendirian.”

Padahal, sekali lagi, saya senang-senang saja, dan sama sekali tidak tertekan apalagi tersiksa. Jauh lebih menyenangkan bagi saya untuk makan nasi gudeng atau nasi uduk—atau apa pun yang enak—meski harus keluar rumah, daripada makan di rumah tapi tidak enak. Nuwun sewu, itu cuma pikiran nakal saya.

Tetangga-tetangga mungkin membayangkan, saya bangun tidur dini hari seperti mereka, untuk makan sahur, dengan mata kriyep-kriyep karena masih mengantuk. Bedanya, mereka bisa menikmati sahur tanpa harus repot keluar rumah, sementara saya harus keluar rumah untuk mencari makan sahur. Padahal, saya belum tidur sama sekali!

Dulu, zaman masih tinggal bersama orang tua, saya selalu tersiksa setiap kali makan sahur. Sekitar pukul 03.00, biasanya, saya harus bangun untuk makan. Padahal tidur sedang enak-enaknya, sedang lelap-lelapnya. Lalu disuruh bangun untuk makan sahur! Seenak-senaknya makanan yang dimakan, rasanya tetap hambar, wong makan sambil mengantuk. Yang saya pikirkan waktu itu bukan makan, tapi melanjutkan tidur!

Ketika akhirnya hidup di rumah sendiri, dan tidak lagi bersama orang tua, saya pun menjalani kehidupan dengan cara saya sendiri, sehingga bisa menentukan cara hidup yang saya inginkan. Seperti saat Ramadan. Selama bulan puasa, saya tidak pernah tidur malam. Jadi, ketika makan sahur, saya tidak dalam kondisi mengantuk. Sebaliknya, dalam kondisi segar bugar. Hasilnya, saya bisa menikmati makan sahur dengan nikmat.

Selama Ramadan, saya biasanya baru tidur pagi hari. Lalu bangun seusai dhuhur. Atau, kalau pas ada perlu, saya baru tidur habis dhuhur, dan bangun setelah ashar. Hanya beberapa jam kemudian, magrib datang. Lalu bisa berbuka. Malam hari sampai subuh, saya mengerjakan hal-hal yang perlu dikerjakan. Dengan jadwal harian semacam itu, puasa jadi tidak terasa, dan saya enjoy menjalani. Sekadar catatan, saya bisa menjalani kehidupan seperti itu, karena bekerja di rumah sendiri, dan bebas mengatur hidup serta pekerjaan saya sendiri.

Karena itulah, seperti yang dibilang tadi, saya justru enjoy, dan sebenarnya tidak patut dikasihani. Wong saya sama sekali tidak merasa terpaksa menjalaninya.

Kesendirian semacam itu terus saya jalani, sampai saat lebaran tiba. Seperti orang-orang lain, jadwal wajib saya pada malam lebaran adalah mengantarkan zakat fitrah.

Beberapa hari sebelum lebaran, saya sudah membeli beras untuk keperluan zakat fitrah. Ketika malam lebaran tiba, saya pun menyiapkan beras zakat fitrah tersebut, untuk saya bawa pada orang yang berhak menerima.

Kebetulan, saya punya famili jauh, seorang wanita. Dia tidak punya keluarga, dan—karena usianya sudah tergolong sepuh—dia tidak bekerja. Setiap tahun, saya membawa zakat fitrah untuk famili tersebut.

Jadi, pada malam lebaran, sekitar pukul 20.00, saya keluar rumah. Setelah memastikan semua pintu telah terkunci, saya pergi ke rumah famili, dan menyerahkan zakat fitrah untuknya. Seperti biasa, dia meminta saya duduk dulu, agar kami bisa mengobrol.

Famili saya menghidangkan teh, dan saya pun duduk santai di kursi, menikmati percakapan dengannya. Sekitar setengah jam kemudian, saya pamit, karena merasakan perut yang lapar.

Dalam perjalanan pulang, saya memperhatikan kanan kiri jalan, siapa tahu ada warung makan yang buka untuk saya singgahi. Tapi tidak juga menemukan. Sebenarnya, ini kisah klise setiap kali lebaran datang. Lebaran tahun kemarin, dan kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi, saya selalu kesulitan mencari makan, karena warung-warung makan kompak tutup.

Kadang saya bertanya-tanya sendiri, apa para penjual nasi tidak berpikir bahwa orang tetap butuh makan meski lebaran? Warung-warung makan kompak tutup pada malam lebaran—biasanya sampai beberapa hari setelah lebaran—seolah orang tidak butuh makan ketika lebaran datang. Akibatnya saya kesulitan mencari warung makan yang buka untuk... well, sekadar mengganjal perut yang kelaparan.

Mungkin para pemilik warung makan berpikir, orang-orang tidak butuh makan di luar selama lebaran, karena biasanya telah menyediakan lontong dan opor ayam—plus rendang, sambal goreng kentang, dan lain-lain—di rumah masing-masing. Asumsi yang tidak seratus persen benar.

Memang, kalau saya mau pulang ke rumah orang tua, di sana pasti ada lontong dan opor ayam. Juga sambal goreng kentang, perkedel, kerupuk udang, dan lain-lain. Tapi saya segan kalau datang ke rumah orang tua pada malam lebaran, karena pasti ramai, ada banyak tamu. Sejak malam lebaran sampai beberapa hari setelah lebaran, rumah orang tua saya selalu ramai—itu hal biasa yang telah saya saksikan sejak kecil dulu.

Jadi, daripada harus “terjebak” dalam keramaian di rumah orang tua, saya lebih memilih menghindar. Lebaran atau bukan lebaran, saya lebih nyaman sendirian daripada di tengah keramaian, dan harus basa-basi haha-hihi.

Malam itu, sambil melaju pelan di jalan raya, saya terus mencari-cari warung makan yang buka, tapi sepertinya memang tidak ada. Akhirnya, ketika mendapati penjual martabak, saya pun memutuskan untuk makan martabak saja. Jadi, saya berhenti di sana, dan memesan martabak untuk saya bawa pulang.

Dengan martabak yang siap dinikmati, saya pun melaju pulang dengan hati yang ringan. Saya sudah membayangkan untuk bikin teh hangat, lalu menikmati martabak yang masih panas, dan diakhiri dengan merokok. Pasti nikmat sekali. Martabak dan teh hangat dan rokok adalah kombinasi sempurna untuk malam lebaran, pikir saya.

Sesampai di rumah, dengan perasaan berdebar karena akan segera menikmati martabak, saya merogoh saku celana untuk mengambil kunci rumah. Tapi tidak ada. Saya rogoh saku-saku yang lain, tapi kunci sialan itu tidak ada.

“Fuck!” rasanya saya ingin menjerit, karena bingung tidak bisa masuk ke rumah sendiri.

Malam itu saya mengenakan celana baggy, dengan saku agak longgar. Kunci rumah, seingat saya, ada di saku kanan celana. Tapi saku sialan itu kini kosong, dan kunci rumah entah ada di mana. Feeling saya mengatakan, bisa jadi kunci itu jatuh dari saku waktu saya duduk di rumah famili, saat tadi mengantarkan zakat fitrah untuknya.

Dengan jengkel tapi bingung mau jengkel sama siapa, akhirnya saya kembali pergi ke rumah famili untuk memastikan kunci rumah saya memang jatuh di sana. Semoga saja begitu. Karena urusan ini pasti akan lebih merepotkan kalau kunci itu jatuh di tempat penjual martabak.

Harapan saya terkabul. Ternyata kunci rumah saya ada di kursi rumah famili, tempat saya duduk tadi. Akhirnya, setelah pamit lagi, saya pulang.

Kali ini saya bisa masuk, dan tiba-tiba rumah terasa lebih indah.

Di rumah, sebagaimana bayangan tadi, saya buru-buru membuat teh hangat, lalu membuka bungkusan martabak yang masih agak hangat. Karena buru-buru, saya tidak sempat berpikir akan duduk di mana. Jadi, secara spontan, saya duduk di lantai rumah, dan pelan-pelan mengunyah martabak. Setelah martabak habis, saya menyeruput teh, kemudian menyulut rokok. Rasanya nikmat sekali. 

Malam itu, duduk di lantai rumah dan menyandar ke dinding, saya mengisap rokok sendirian, dan... entah kenapa, saya merasa terharu. Bayangan saya menari-nari ke masa lalu, mengingat saat kecil dulu. Sementara suara takbir terdengar dari kejauhan.

Di masa lalu, ketika masih kecil, kedatangan lebaran selalu menyenangkan. Sebegitu menyenangkan, hingga rasanya datangnya lebaran lama sekali. Setiap tahun, sebagaimana umumnya anak-anak lain, saya menunggu-nunggu datangnya lebaran. Karena di saat lebaran saya bisa makan enak, punya baju baru, punya banyak uang, dan bersuka cita. Kebahagiaan khas anak-anak. Saat saya membayangkannya, semua keceriaan itu rasanya sudah lama sekali.

Kini, setelah tidak lagi menjadi anak-anak, saya merasa lebaran justru datang sangat cepat. Baru kemarin lebaran, sekarang sudah lebaran lagi. Tidak terasa. Tahu-tahu setahun sudah berlalu.

Dulu, saya punya baju baru setahun sekali, saat lebaran tiba, dan rasanya sangat menyenangkan. Kini, saya bisa membeli baju baru kapan pun saya mau, tapi rasanya biasa-biasa saja.

Dulu, saya bisa makan enak setahun sekali, saat lebaran tiba, dan rasanya sangat menyenangkan. Kini, saya bisa makan enak setiap hari, tapi rasanya biasa-biasa saja.

Dulu, saya bisa punya uang agak banyak setahun sekali, saat lebaran tiba, dan rasanya sangat menyenangkan. Kini, saya punya uang jauh lebih banyak dari yang pernah saya miliki dulu, tapi rasanya biasa-biasa saja.

Apa yang terjadi, hingga ada perubahan seperti itu? Mengapa sesuatu yang dulu terasa sangat menyenangkan, kini terasa biasa saja?

Mungkin karena usia saya kini jauh lebih dewasa, sehingga tidak lagi merasakan keriangan anak-anak. Mungkin karena pikiran saya kini terlalu ruwet, sehingga tidak bisa lagi menikmati kegembiraan khas anak-anak. Atau mungkin karena saya telah terbiasa dengan hal-hal enak, sehingga tidak lagi menunggu datangnya lebaran hanya untuk menikmati hal-hal menyenangkan khas anak-anak.

Atau mungkin memang kegembiraan hanya ditujukan untuk anak-anak. Karena hanya mereka yang bisa menatap kehidupan dengan sederhana.

Di kejauhan, suara takbir masih terdengar.

Kesimpulan yang Tak Bisa Dibantah

“Nang dunyo iki ora ono sing ngalahke mbakyuku.”

Noffret’s Note: Tikus

“Kenapa kau suka menyuruh-nyuruhku menikah?”
“Karena aku kasihan melihatmu.”
“Really? Sebenarnya, aku justru kasihan melihatmu.”

Ke mana tikus-tikus yang telah masuk kurungan perangkap yang menjebaknya? Tak ada yang tahu. Mereka hilang, lenyap, tamat.

Bahkan ketika seekor tikus berhasil lolos dari kurungan perangkap yang telah menjebaknya, dia tetap tidak mau menceritakan kisah sebenarnya.

Mengapa tikus sering digunakan sebagai hewan percobaan di laboratorium? Jawabannya sederhana, karena tikus sangat mirip manusia.

Tikus adalah binatang yang cerdik sekaligus tekun. Tapi mereka punya kelemahan... yaitu berpikir pendek, dan sangat cepat berkembang biak.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 20 Februari 2017.

Kamis, 22 Juni 2017

Sebaiknya Kita Tidak Usah Maaf-maafan di Hari Lebaran

Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Idul Adha,
mohon maaf lahir dan batin. Giliran salah beneran,
tidak mau minta maaf. Piye karepe?
@noffret


Setiap kali lebaran tiba, umat Islam di Indonesia melakukan kebiasaan khas, yaitu bermaaf-maafan dengan sesama—tetangga, sanak famili, teman-teman—dan kebiasaan itu dilakukan di dunia nyata maupun di dunia maya. Di sebagian keluarga, tradisi maaf-maafan bahkan dianggap belum cukup, sehingga dilengkapi tradisi sungkeman. Yang muda sungkem pada yang tua, atau anak-anak sungkem pada orang tua, kakek nenek, dan seterusnya.

Sekilas, kebiasaan atau tradisi semacam itu baik. Orang saling maaf-memaafkan sambil merayakan hari raya. Tetapi, jika dipikirkan secara mendalam, kebiasaan atau tradisi itu keliru, bahkan—nuwun sewu—sebentuk pembusukan terhadap kehidupan manusia.

Dalam kalimat-kalimat di atas, saya menyebut maaf-maafan di hari lebaran (Idul Fitri) adalah “kebiasaan” atau “tradisi”. Karena kenyataannya memang sekadar kebiasaan dan tradisi di Indonesia. Orang-orang yang merayakan Idul Fitri tentu orang Islam. Tapi ajaran Islam tidak menyatakan apalagi mewajibkan bahwa merayakan lebaran harus disertai maaf-maafan. Untuk lebih memahami hal ini, silakan baca catatan-catatan berikut:

Ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, Idul Fitri sudah dirayakan. Tetapi tidak ada acara maaf-maafan. Begitu pula pada zaman Khalifah—dari Abu Bakar dan seterusnya—Idul Fitri tetap dirayakan, tapi tidak ada acara maaf-maafan. Karena itu, ritual maaf-maafan pada hari lebaran atau Idul Fitri tidak memiliki akar pada ajaran Islam, karena kenyataannya hanya kebiasaan yang ditradisikan di Indonesia.

Hanya di Indonesia, orang saling maaf-maafan di hari lebaran, sembari berkata, “Minal aidin, ya.” Hanya di Indonesia, orang-orang giat membuat serta mengunggah foto orang berpose sungkem, dilengkapi kalimat “minal aidin wal wal faizin”.

Lhah, “minal aidin” itu artinya apa? Jangan-jangan, mereka yang saban tahun rajin mengucapkan “minal aidin” sama sekali tidak tahu arti kalimat yang mereka ucapkan sendiri. Bahkan, jangan-jangan, mereka menganggap “Minal aidin wal faizin” memiliki arti “Mohon maaf lahir dan batin”. Jadi, kalau Si A dan Si B sudah saling mengucapkan “minal aidin”, maka artinya mereka sudah saling memaafkan.

Itu konyol, kalau tak mau dibilang menyedihkan.

Fenomena Idul Fitri di Indonesia, jika dipikirkan secara mendalam, adalah sebentuk perayaan membingungkan yang dirayakan tanpa pengetahuan dan kesadaran. Dan karena itu pula saya gelisah. Karena Idul Fitri dirayakan setiap tahun, saya pun gelisah setiap tahun.

Hal pertama yang menggelisahkan saya, adalah keyakinan orang-orang terhadap tradisi yang dianggap sebagai ajaran agama. Maaf-maafan di hari raya Idul Fitri sebenarnya budaya, cuma kebiasaan setempat, dalam hal ini Indonesia. Tetapi, berapa banyakkah orang yang menyadari, bahwa itu hanya sekadar budaya dan bukan ajaran agama?

Rata-rata atau mayoritas orang menganggap bahkan meyakini bermaaf-maafan di hari lebaran adalah ajaran agama. Karena mereka menganggap ajaran agama, mereka pun mewajibkan diri untuk melakukan. Di sisi lain, mereka juga akan menganggap orang lain salah (atau menyalahi ajaran agama) jika tidak bermaaaf-maafan di hari lebaran. Sekali lagi, ini konyol kalau tak mau dibilang menyedihkan.

Padahal, sekali lagi, tradisi bermaaf-maafan di hari lebaran tidak memiliki akar pada ajaran Islam. Jika dirunut sampai ke akar-akarnya, tradisi itu akan mentok pada zaman Mangkunegara I (sekitar tahun 1700-an.) Baca uraian selengkapnya di sini: Lebaran dan Maaf yang Tidak Jelas.

Sayangnya, orang-orang yang disebut ustad atau ulama tampaknya tidak mau menjelaskan hal ini secara gamblang kepada masyarakat awam, tapi justru melembagakannya, hingga seolah maaf-maafan di hari lebaran adalah ajaran Islam.

Dalam hal ini—sekali lagi, nuwun sewu—saya curiga, bahwa para ustad dan para ulama tidak tahu mengenai hal itu, atau mereka tahu tapi pura-pura tidak tahu. Bagaimana pun, sebagian ustad dan ulama mungkin senang mendapati masyarakat berduyun-duyun datang ke rumah mereka, mencium tangan mereka, sembari minta maaf dan bla-bla-bla. Jadi, meski mereka tahu itu bukan ajaran Islam—dan hanya sekadar budaya—mereka memilih bungkam, dan membiarkan masyarakat tetap meyakini bahwa itu ajaran agama.

Sekali lagi, kenyataan ini membuat saya gelisah.

Bayangkan, setiap tahun ada jutaan orang yang harus menempuh perjalanan jauh demi sesuatu yang disebut “mudik”. Mereka berdesak-desakan di dalam bus, antre di stasiun-stasiun kereta api, rela membayar mahal demi tiket pesawat, atau “menyabung nyawa” di jalanan dengan kendaraan sendiri. Mereka melakukan semua itu demi bisa menemui sanak keluarga di kampung halaman, dan melakukan sesuatu yang mereka yakini sebagai ajaran agama, yaitu “bermaaf-maafan”.

Jutaan orang itu akan merasa “berdosa” jika lebaran datang, tapi tidak mudik atau pulang ke kampung halaman. Mengapa merasa berdosa? Karena tidak bisa bermaaf-maafan. Itu logika mudah ketika sesuatu (dalam hal ini budaya maaf-maafan) dianggap dan diyakini sebagai ajaran agama. Sehingga jutaan orang rela melakukan perjalanan jauh dan menyabung nyawa, demi bisa pulang menemui orang tua dan keluarga di kampung halaman.

Dan itu berlangsung setiap tahun, tahun demi tahun, dan setiap tahun selalu ada korban. Sebagian tewas di jalan, sebagian luka-luka dan masuk rumah sakit, sementara sebagian besar lain mengalami hal-hal tidak menyenangkan selama perjalanan. Untuk sebuah kebiasaan, untuk sebuah tradisi, alangkah mahal yang harus mereka bayar.

Itu baru membicarakan sisi mudik. Padahal, mudik dan segala ikutannya juga mempengaruhi hal lain, termasuk liburan massal, meningkatnya hasrat konsumtif, dan lain-lain, yang semuanya berdampak pada naiknya harga-harga barang. Setiap tahun, khususnya setiap kali lebaran, harga-harga barang—di antaranya makanan—akan naik. Alasannya sepele, “karena lebaran.” Tetapi, ironisnya, setelah lebaran berlalu, harga-harga yang sudah naik itu sulit turun kembali.

Akibatnya, lebaran menjadikan harga-harga naik, seolah lebaran adalah sebentuk inflasi yang menggerus nilai mata uang. Karena harga yang naik tiap lebaran sulit turun kembali, lalu pada lebaran mendatang terjadi kenaikan lagi, dan begitu seterusnya.

Hasilnya, orang-orang miskin atau kaum dhuafa menjadi korban pertama dari kenyataan ini. Mereka menjalani kehidupan dengan kembang-kempis, dengan penghasilan pas-pasan, sementara lebaran yang datang tiap tahun menggerus kehidupan mereka dengan harga-harga yang kian mencekik, hingga mereka makin kesulitan melanjutkan hidup seusai lebaran.

Ini menyedihkan. Oh, well, sangat menyedihkan. Betapa lebaran yang seharusnya menjadi suka cita kaum dhuafa—ketika mereka bisa menerima zakat dari orang-orang kaya—berubah menjadi moment yang makin mencekik kehidupan mereka. Dan cekikan demi cekikan itu makin kuat setiap lebaran tiba, karena hari raya itu kini berubah menjadi persekutuan budaya dan kapitalisme, persetubuhan antara kebodohan dan seringai licik para pemodal.

Sekali lagi, itu hal pertama yang membuat saya gelisah setiap tahun, setiap kali lebaran datang. Budaya diyakini sebagai ajaran agama, dan kebiasaan itu lalu dikapitalisasi yang menghasilkan cekikan pada orang-orang lemah. Idul Fitri telah kehilangan esensinya, karena bukan lagi kesempatan bagi orang-orang lemah atau kaum dhuafa untuk bersuka cita mendapat hak mereka (zakat dan sedekah dari orang-orang kaya), tapi justru menjadi tali tak kasatmata yang makin menjerat dan mencekik leher mereka.

Hal kedua, yang juga membuat saya gelisah, adalah hilangnya esensi maaf dalam kehidupan manusia.

Salah satu perbedaan esensial antara manusia dengan binatang adalah maaf. Hanya manusia yang bisa meminta maaf dan memberi maaf. Hanya manusia yang bisa menyadari kesalahannya, lalu dengan rendah hati meminta maaf kepada pihak yang disalahi. Hanya manusia yang bisa berbesar hati menerima maaf dari sesamanya, dan melupakan dendam untuk dikuburkan. Hanya manusia yang mengenal maaf. Karenanya, maaf adalah pilar penting kehidupan manusia, sekaligus esensi mulia yang membedakan manusia dengan binatang.

Sebegitu esensial maaf dalam kehidupan manusia, hingga sebagian kita tidak mampu melakukan. Ada orang-orang yang tidak bersedia meminta maaf pada sesamanya, meski merasa bersalah. Mereka terlalu tinggi hati untuk melakukan. Sebaliknya, ada orang-orang yang tidak bersedia memberi maaf pada sesama, meski sudah dimintai maaf dengan tulus. Kenyataan ini menunjukkan betapa penting esensi maaf dalam kehidupan manusia.

Tetapi, lebaran—dan kebiasaan maaf-maafan di hari lebaran—melakukan distorsi besar-besaran terhadap maaf yang seharusnya “suci”. Akibatnya, aktivitas maaf-memaafkan yang sebenarnya bernilai tinggi berubah tanpa nilai. Maaf hanya menjadi tradisi tahunan, dan—setelah itu terjadi, seperti sekarang—maaf bahkan berubah menjadi ilusi. Kita meyakini telah meminta dan memberi maaf, namun yang kita lakukan hanya sekadar menyelenggarakan tradisi.

Maaf yang dilakukan di hari lebaran sebenarnya bukan maaf—itu sekadar “kembang lambe”, bunga manis di bibir, yang tidak sampai ke hati—karena ketiadaan esensi.

Meminta maaf pada orang lain adalah sebentuk kesadaran dari hati, yang menuntun kita untuk mengakui kesalahan, dan berharap kesalahan kita dimaafkan. Karenanya, adab meminta maaf adalah menemui orang yang akan kita mintai maaf, dan mengatakan kepadanya bahwa kita telah menyadari kesalahan, dan kita berjanji untuk tidak mengulangi, lalu memohon dia untuk memaafkan kesalahan kita. Itu berat—oh, well, sungguh berat. Sebegitu berat, hingga tidak setiap orang mampu melakukan!

Dalam adab atau aktivitas maaf semacam itulah, maaf memiliki nilai, karena menunjukkan esensi kita sebagai manusia. Bahwa kita tetap manusia—bukan binatang—sehingga mampu menyadari kesalahan, dan meminta maaf secara tulus pada pihak yang kita salahi. Sekali lagi, hanya—dan hanya—aktivitas maaf semacam itulah yang memiliki nilai dan esensi.

Sayangnya, lebaran mendistorsi esensi maaf. Orang saling meminta dan memberi maaf bukan karena kesadaran, tapi karena kebiasaan. Meminta dan memberi maaf bukan karena kesadaran, melainkan karena tradisi tahunan. Maaf tidak lagi memiliki nilai, karena lebaran telah mendistorsi esensinya. Dan itu, untuk kesekian kali, sangat... sangat menyedihkan.

Karena itulah, seperti yang saya bilang di atas, lebaran pada akhirnya melakukan pembusukan pada nilai-nilai kemanusiaan kita. Karena lebaran dirayakan tanpa pengetahuan, tapi hanya sekadar mengikuti kebiasaan. Dalam hal itu, maaf yang seharusnya menjadi esensi penting kehidupan manusia berubah menjadi sekadar tradisi dan budaya. Kita tidak lagi menganggap maaf sebagai hal penting dalam kehidupan manusia, karena—setahun sekali—kita bisa melakukannya ketika lebaran tiba.

Itu konyol, kalau tak mau dibilang menyedihkan. Melakukan kesalahan hari ini, menyadari kesalahan yang dilakukan, tapi berpikir, “Minta maafnya nanti saja, pas lebaran.”

Cobalah pikir dengan akal sehat, apa yang lebih konyol dari itu? Sebenarnya, itu sama konyol dengan orang-orang yang begitu giat meminta maaf pada orang-orang—yang dikenal maupun tak dikenal—padahal tidak melakukan kesalahan apa pun! Lebaran telah menggerus esensi maaf, sekaligus mendistorsi nilai kita sebagai manusia.

Untuk itulah, saya ingin menyarankan, agar kita tidak lagi bermaaf-maafan di hari raya atau di hari lebaran. Karena, selain bukan ajaran agama, aktivitas maaf-maafan di hari lebaran hanya mendistorsi esensi maaf, sehingga maaf yang seharusnya bernilai tinggi menjadi tanpa nilai.

Berhentilah menjadikan maaf sebagai tradisi setahun sekali, karena itu konyol. Sama konyol dengan meminta dan memberi maaf pada orang-orang, padahal kita tidak saling melakukan kesalahan. Sekali lagi, aktivitas semacam itu—selain tidak diajarkan agama—juga menjadikan maaf kehilangan nilai.

Marilah kita beragama dengan kesadaran. Marilah kita merayakan lebaran dengan kesadaran. Marilah kita saling memaafkan dengan kesadaran. Dan, akhirnya, marilah kita menjalani kehidupan sebagai manusia dengan kesadaran. Dalam hal itu, kita bisa memulai kesadaran dengan tidak lagi maaf-maafan di hari lebaran.

 
;