Senin, 20 November 2017

Tanda Ajaib

Insanlara ne kadar çok muhtaç olursam
onlardan kaçmak ihtiyacim da o kadar artiyordu.
—Gerardo V. Cabochan


Catatan ini penting bagi saya, tapi mungkin tidak penting untukmu. Karenanya, sebaiknya tidak usah membaca catatan ini, sebab bisa jadi hanya akan membuang-buang waktumu. Saya hanya sedang ingin ngomong sendiri, bercerita sendiri, kepada diri sendiri.

***

Semalam aku bermimpi, dan mimpiku—entah kenapa—mengingatkanku pada Si Rambut Kaku. Aku lupa siapa namanya, tapi masih ingat dia memiliki rambut yang agak kaku. Jadi kusebut saja dia Si Rambut Kaku.

Kami kenal dan bertemu sudah lama sekali, waktu kami masih sama-sama ABG. Kalau tak salah ingat, perkenalan dan pertemuan kami bermula dari Si Bada. Waktu itu Si Bada aktif di kepanduan, dan mendapat banyak kawan baru. Termasuk Si Rambut Kaku. Dari Si Bada, aku dan Rambut Kaku saling kenal. Bahkan cukup akrab. Kalau tak salah ingat juga, satu dua kali Rambut Kaku datang ke tempatku, dan kami bercakap-cakap secara pribadi.

Aku tidak tahu pasti siapa Si Rambut Kaku—bahkan tidak ingat di mana dia tinggal—selain bahwa dia teman yang asyik. Kami segera nyambung, dan dalam waktu dekat bisa cukup akrab. Sebenarnya, Rambut Kaku memang orang asyik. Semua orang menyukainya.

Si Bada pernah menceritakan, Rambut Kaku lahir dengan suatu keistimewaan. Itu memang cara Si Bada dalam mendramatisir sesuatu, jadi aku tidak kaget. Keistimewaan Rambut Kaku, menurut Bada, adalah tanda yang terdapat pada tangan kirinya. Karena “tanda” itu pula, masih menurut Bada, semua orang menyukai Rambut Kaku. Tidak ada yang tidak menyukainya. Teman-teman percaya cerita itu, dan aku tidak punya alasan untuk tidak percaya.

Meski tahu Si Bada suka mendramatisir segala sesuatu, aku percaya penuturannya waktu itu. Mungkin karena melihat semua orang tampaknya memang menyukai Rambut Kaku. Di mana pun, selalu ada orang yang sepertinya mengenal Rambut Kaku, dan Rambut Kaku biasa bersikap ramah kepada siapa pun yang menyapa. Sebenarnya, aku kagum kepadanya atas sikapnya. Aku ingin sekali bisa luwes seperti itu.

Ya, luwes. Sepertinya itu bukan sesuatu yang kumiliki. Dan Rambut Kaku memiliki itu. Maksudku, luwes.

Yang paling hebat terkait Rambut Kaku, menurutku—juga menurut teman-teman waktu itu—dia punya pacar. Waktu itu kami semua masih ABG. Dengan nalar yang tidak utuh, kami menganggap punya pacar adalah hal istimewa, sesuatu yang sama sekali tidak teraih bocah-bocah seperti kami. Jadi, kami kagum pada Rambut Kaku, karena dia punya pacar.

Bahkan, menurut cerita Si Bada, hubungan Rambut Kaku dengan pacarnya sudah direstui masing-masing orang tua mereka, dan sepertinya kelak mereka akan menikah. Itu sangat hebat, khususnya menurutku yang waktu itu masih ABG. Si Bada juga menceritakan beberapa hal lain terkait Rambut Kaku, yang membuatku makin kagum. Sepertinya, Si Bada penggemar fanatik Si Rambut Kaku. Atau menurutku begitu.

Suatu malam, di bulan Agustus, aku bersama beberapa teman datang ke tempat yang menyambut Agustus dengan keramaian. Itu adat setempat, dan kami semua menyukai serta menikmati perayaan itu. Kami berkumpul bersama di rumah seorang teman di sana, dan di sana pula aku bertemu Si Rambut Kaku. Lalu Rambut Kaku bergabung dengan kami.

Di masa itu, aku sedang dekat dengan Ira. Dia cowok, tentu saja, meski namanya mungkin terdengar seperti nama cewek. Ira ikut denganku waktu itu, ketika aku bersama teman-teman lain datang ke tempat keramaian Agustusan. Ira tidak mengenal teman-temanku di sana, tapi dia selalu bisa beradaptasi dengan baik. Dan teman-temanku juga menerima Ira dengan sama baik.

Waktu kami jalan-jalan di tempat keramaian itu, Rambut Kaku melangkah di sampingku. “Sudah lama aku tidak mengobrol denganmu,” ujarnya. Lalu kami pun mengobrol sambil melangkah, mengikuti teman-teman kami yang lain.

Sepanjang perjalanan, seiring kami melangkah santai, aku mendapati banyak orang yang mengenal Rambut Kaku. Di setiap tempat, di setiap tikungan, selalu ada orang-orang—cowok maupun cewek—yang menyapa Rambut Kaku. Dan, seperti biasa, Rambut Kaku menghadapi mereka dengan keramahannya yang luwes. Aku ingin sekali menjadi Rambut Kaku.

Dalam suatu kesempatan, Rambut Kaku berhenti di suatu tempat, karena menemukan seseorang yang mungkin sobat dekatnya. Dia berhenti di sana, dan mengizinkan teman-teman meninggalkannya. Kami pun melanjutkan langkah, meninggalkan Rambut Kaku. Setelah Rambut Kaku tidak ada, Ira menggantikan tempatnya—dia berjalan di sampingku.

Aku menceritakan pada Ira, tentang Rambut Kaku. Meneruskan cerita Si Bada yang pernah kudengar sebelumnya, aku berkisah pada Ira, bahwa Rambut Kaku memiliki tanda lahir yang seolah keajaiban, yang menjadikan semua orang—cowok maupun cewek—menyukainya. Tanda lahir ajaib itu pula yang menjadikan Rambut Kaku sudah punya pacar, sementara kami semua cuma bisa berkhayal.

Ira menanggapi ceritaku dengan sikap biasa. Dia memang orang bijaksana—maksudku Ira. Dia bukan tipe orang yang mudah percaya pada sesuatu, dan dia—entah bagaimana caranya—bisa berpikir secara komprehensif. Meski waktu itu aku belum mengenal istilah komprehensif. Tapi begitulah Ira. Dia orang yang bisa berpikir bijak dan komprehensif.

Dengan lirih, waktu itu, Ira mengatakan bahwa yang menjadikan banyak orang menyukai Si Rambut Kaku bukan “tanda lahir” sebagaimana yang diceritakan Si Bada dan yang diyakini teman-teman lain.

“Penyebabnya adalah sesuatu yang ada di dermaga,” ujar Ira.

Waktu itu, aku tidak paham sama sekali pada maksud Ira. Bahkan, kalau diingat-ingat sekarang, aku bahkan mungkin tidak percaya ucapannya.

Ira tidak mengenal Rambut Kaku, waktu itu, dan mereka juga tidak pernah bercakap-cakap. Tapi Ira memiliki kemampuan “menyerap” apa pun yang ada di sekelilingnya. Dia mirip spons. Tidak mengeluarkan suara, tapi dapat menyerap air dalam jumlah luar biasa. Begitulah Ira. Dia tidak banyak bicara, khususnya saat berkumpul bersama teman-temanku yang belum ia kenal, tapi Ira dapat “menyerap” apa saja dari semua yang ia dengarkan.

Waktu itu, tampaknya, Ira mengetahui “sesuatu yang ada di dermaga” dari hasil menyerap percakapan di antara teman-teman yang ia dengar. Dan dia bisa menarik kesimpulan dengan sangat tepat—sesuatu yang waktu itu tidak kupahami. Teman-teman kami bahkan mungkin tidak paham, meski mereka asyik membicarakan. Hanya Ira yang paham. Dan ketika Ira mencoba menyatakan pemahamannya kepadaku, aku juga tidak paham.

Kini, atau bertahun-tahun kemudian sejak peristiwa itu, kadang aku merindukan Ira. Dia temanku yang sangat bijak, namun sayang aku terlambat menyadari. Sudah lama aku tak bertemu dengannya.

Ira mungkin lupa pada ucapannya bertahun-tahun lalu, tentang sesuatu yang ada di dermaga. Tapi aku tidak pernah melupakan. Dan, dengan agak malu, aku mengakui yang dikatakan Ira waktu itu memang benar, meski aku butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadari kebenarannya. Penyebabnya bukan tanda lahir, ujar Ira waktu itu. Tapi sesuatu yang ada di dermaga.

Ajaib, kalau dipikir-pikir, betapa naifnya aku waktu itu. Atau mungkin pula aku “terdoktrin” oleh keyakinan teman-teman yang sama-sama percaya bahwa keistimewaan Si Rambut Kaku berasal dari tanda lahir yang ada di tangan kirinya. Kini, aku menyadari bahwa yang sama-sama kami percaya ternyata keliru. Dan ucapan Ira memang benar. Penyebabnya ada di dermaga.

Bertahun-tahun sejak itu, kami semua terpisah. Menempuh perjalanan sendiri-sendiri, mengikuti nasib. Si Bada, Rambut Kaku, Ira, juga yang lain, telah memiliki perjalanan hidup sendiri-sendiri. Begitu pula denganku.

Setiap kali teringat Ira, aku kadang menyesal karena terlambat menyadari kearifannya. Dia orang bijak yang seharusnya kudengar kata-katanya. Tapi dulu, saat kami masih bersama, aku jarang mendengarkan. Dia memang bijak, dan aku begitu naif. Mungkin, saat Ira kini teringat kepadaku, dia pun membayangkan betapa bodohnya aku, yang tidak juga melihat kebenaran yang jelas di depan mata.

Dan semalam aku bermimpi, yang mengingatkanku pada kisah Si Rambut Kaku bertahun-tahun lalu. Mimpiku semalam cukup mengesankan, hingga aku dapat mengingat sebagian saat terbangun dari tidur, dan merasa takjub.

Aku tidak ingat bagaimana mimpi itu bermula. Yang masih kuingat, aku bersama seseorang—yang sering kupinjam senyumnya—menempuh perjalanan ke suatu tempat. Aku juga tidak ingat ke mana tujuan kami waktu itu. Yang jelas, aku sangat mengingat bagaimana kami menempuh perjalanan, yang—dalam mimpi—terasa sangat lama dan berliku-liku. Dan aku menikmati perjalanan bersamanya, berdua dengannya. Dia selalu menyenangkan, punya senyum dan keceriaan yang membuatku ingin meminjam semua itu darinya.

Aku terbangun dari tidur, setelah mimpi itu selesai. Atau setidaknya kupikir begitu.

Lalu aku ingat Rambut Kaku, dan kisahnya. Sekarang aku memahami, bahwa intinya memang bukan pada tanda lahir, tepat seperti yang dikatakan Ira bertahun-tahun lalu. Kenyataan itu pun menampar kesadaranku, membawaku flashback ke tahun-tahun lampau, dari SMP, SMA, hingga masa kuliah, sampai kehidupan kini. Ada sesuatu di dermaga—meski dermaga hanya kata sifat.

Ajaib, kalau kupikir-pikir sendiri. Betapa sesuatu bisa mengubah kita secara drastis, meski kita mungkin tidak menyadari. Seperti yang kualami. Seperti tanda lahir. Seperti sesuatu yang ada di dermaga.

Sedang Musim Tidak Musim

Ooh, sedang musim tidak musim.

Oh, oh.

Naluri Bocah

Baca-baca email, ada yang nanya, "Kenapa gak pernah nulis soal Fatin?" | Jawabannya simpel, dia bukan mbakyu.

Alasan yang sama kenapa aku tidak pernah menulis tentang Raisa, Isyana dan mungkin beberapa wanita terkenal lain. Mereka semua bukan mbakyu.

Aku pernah berusaha setengah mati untuk bisa menulis tentang Nabilah. Tapi terus menerus gagal. Karena masalahnya ya itu, dia bukan mbakyu.

Ketika akhirnya bisa memaksa diri untuk menulis tentang Nabilah, hasilnya malah kayak gini: Nabilah Bukan Mbakyu » http://bit.ly/2kgr8hg

Menulis tentang wanita itu sulit. Untuk bisa melakukannya, aku harus punya hubungan dengan wanita itu... atau dia harus seorang mbakyu.

Jadi, ketika tempo hari orang-orang geger karena Raisa tunangan, terus terang aku tak terpengaruh. Pikirku, "Bodo amat, dia bukan mbakyu!"

"Bagaimana kita tahu seorang wanita tergolong mbakyu atau bukan mbakyu?" | Oh, kau harus menjadi bocah terlebih dulu.

Aku menatap, menilai, dan mengagumi wanita tidak dengan mata seorang lelaki, tapi dengan tatapan, pikiran, dan hati seorang bocah.


*) Ditranskrip dari timeline‏ @noffret, 30 Juli 2017.

Rabu, 15 November 2017

Mereka Digiring, Telanjang

Umpama malaikat terlibat kejahatan, mungkin dia tetap malaikat.
Tetapi kejahatan tetap kejahatan, tak peduli pelakunya malaikat.
@noffret


Di Jalan Cikupa, mereka digiring, telanjang. Serombongan orang—yang mungkin merasa mulia—mengarak seorang pria dan seorang wanita yang mereka tuduh berzina. Karena seharusnya pria dan wanita tidak berbuat mesum, kata mereka. Jadi, mereka pun menggiring pasangan itu, menganiaya, mempermalukan, dan memaksa keduanya telanjang.

Fragmen itu terekam dalam sebuah video singkat yang viral di media sosial. Pasangan yang digiring sambil dipaksa telanjang adalah M (wanita berusia 20) dan R (pria berusia 27). Video dengan durasi amat singkat itu mungkin menciptakan asumsi yang bisa jadi salah kaprah di benak penontonnya. Itu seperti satu halaman yang disobek dari sebuah buku utuh, sehingga kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Atau, dengan kata lain, teks yang dicerabut dari konteks.

Sekarang, mari kita rekatkan sobekan satu halaman itu ke tempat aslinya, agar tahu bagaimana kisah yang sebenarnya terjadi. Mari kita flashback ke waktu-waktu sebelumnya, sebelum pasangan pria dan wanita itu digiring telanjang, di Jalan Cikupa, Tangerang.

....
....

Seperti yang disebut tadi, M adalah wanita berusia 20 tahun. Di Tangerang, dia anak rantau, dengan latar belakang yatim piatu. Di Tangerang, dia tidak memiliki saudara atau famili, karena tujuannya ke sana memang untuk mengadu nasib.

Di Tangerang, M mendapat pekerjaan di pabrik sepatu, yang belum lama berdiri. Di pabrik itu, dia mendapat tanggung jawab di bagian trimming, yaitu merapikan sisa sol sepatu yang baru dibuat. Di pabrik itu, M bekerja lima hari dalam seminggu, dengan upah Rp70 ribu per hari. Karena upah yang minim, M pun sering lembur sampai malam. Dari upah kerjanya yang tak seberapa, dia bisa membayar kontrakan, juga untuk makan sehari-hari.

Sampai kemudian, M mengenal seorang pria bernama R, yang belakangan menjadi pacarnya. Seperti umumnya pacar, M dan R kadang janjian untuk ketemu, khususnya saat libur kerja, atau ketika M tidak sedang lembur. Karenanya, R pun cukup sering terlihat di kontrakan M. Entah untuk menjemput, mengantarkannya pulang, atau sekadar berbincang. Mereka bahkan telah berencana untuk menikah.

Suatu malam, M kelaparan, karena sepulang kerja tidak sempat membeli nasi. Sayang, waktu itu sudah pukul 22.00, dan dia enggan keluar untuk mencari makan. Tidak semua perempuan nyaman keluar larut malam.

Jadi, M kemudian menelepon R, pacarnya, siapa tahu si pacar bersedia membelikan nasi untuknya. Sebagai pacar yang baik, R tidak keberatan memenuhi permintaan M. Dia pun menjanjikan untuk membelikan nasi bungkus untuk M, dan dia menepati janjinya. Setengah jam kemudian, R datang ke kontrakan M dengan nasi bungkus, untuk mengganjal perut sang pacar yang kelaparan.

Sebenarnya, R mungkin bermaksud langsung pulang, setelah menyerahkan nasi bungkus untuk M. Namun, dia merasa perlu buang air kecil. Jadi, sementara M mulai menikmati nasi bungkus yang dibawakannya, R minta izin ke kamar kecil.

Dan petaka itu kemudian terjadi.

Waktu itu, M sedang makan nasi bungkus, dan tentu saja berpakaian lengkap. Sementara R sedang ada di kamar mandi. Pintu rumah kontrakan juga terbuka, sebagai tanda bahwa mereka tidak melakukan apa pun yang mungkin salah. Tapi warga berdatangan ke sana, melakukan penggerebekan. Bukan hanya warga biasa, Ketua RT dan Ketua RW ikut dalam penggerebekan.

Apakah pasangan M dan R memang berbuat asusila?

Jawabannya tidak.

Oh, ini bukan jawaban saya. Tapi jawaban Kapolresta Tangerang, AKBP Sabilul Arif. Dia mengatakan, “Bukan mesum, ya. Saat digerebek warga, pasangan itu masih mengenakan pakaian. Namun, oleh sekelompok orang, keduanya dipaksa mengaku telah berbuat mesum di dalam kontrakan. Itu si laki-laki dicekik lehernya, dan si perempuan dibuka bajunya, dipaksa ditelanjangi.”

Dari situlah, kemudian pasangan tadi—M dan R—digiring dan diarak ke Jalan Cikupa, dengan telanjang dan hina, sebagaimana yang kemudian kita saksikan dalam video keparat yang cuma berdurasi semenit. Apakah ada yang mau mengaku bahwa video itu telah menyesatkan asumsi kalian?

Itulah bahayanya mencabut teks dari konteks, atau—dalam kasus di atas—mencabut satu bagian kisah dari keseluruhan kisah. Orang hanya melihat satu mozaik berdasarkan video yang durasinya seupil, lalu menghakimi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan menganggap mereka yang menggiring adalah para pahlawan moral, sementara yang menjadi korban justru disalahkan.

....
....

Ada banyak alasan dan motivasi mengapa orang melakukan tindakan penggerebekan, hingga melakukan persekusi sewenang-wenang. Dalam perspektif saya, penggerebekan atau persekusi tak jauh beda dengan aksi bullying atau perundungan. Terkait aksi-aksi semacam itu, saya selalu percaya pada hukum psikologi, bahwa pelakunya adalah orang-orang yang “sakit”. Aksi perundungan—dari penggerebekan, sampai sekadar hobi bertanya “kapan kawin?”—hanya dilakukan orang-orang sakit!

Merujuk pada kasus M dan R di atas, tidak adakah cara lain yang lebih baik, selain menggiring mereka telanjang di jalanan?

Kalau pun memang warga mencurigai pasangan itu berbuat asusila, sehingga warga merasa tidak nyaman, mestinya Ketua RT atau Ketua RW—atau siapa pun—bisa menasihati mereka baik-baik. Toh kenyataannya, ketika digerebek, pasangan itu tidak melakukan tindak asusila. Si wanita sedang makan nasi bungkus, dengan pakaian lengkap, begitu pula si pria.

Jadi, apa alasan penggerebekan itu?

Jawabannya itu tadi. Sakit.

Kadang—sebenarnya malah cukup sering—ada orang-orang yang datang ke rumah saya, dengan berbagai keperluan dan tujuan. Dari sekadar mengobrol layaknya teman, sampai orang-orang yang ingin membicarakan hal-hal serius. Dalam hal itu, saya menetapkan aturan yang tak bisa diganggu gugat, yaitu siapa pun yang ingin bertamu ke rumah saya harus membuat janji lebih dulu.

Saya tinggal sendirian di rumah, dan sering pergi sewaktu-waktu. Jika ada orang datang tanpa janji, bisa jadi ia kecewa, karena kebetulan saya sedang tidak di rumah. Atau, kalau pun saya sedang di rumah, bisa jadi saya akan terganggu dengan kedatangan tamu, karena kebetulan sedang sibuk bekerja. Karena pertimbangan itulah, saya pun mengharuskan adanya janji untuk siapa pun yang ingin bertamu.

Dengan adanya janji yang jelas, saya bisa menerima tamu dengan lebih baik, sehingga sama-sama nyaman. Tamu tidak kecewa karena saya benar-benar di rumah, dan saya pun tidak terganggu karena sudah tahu akan ada tamu.

Selain adanya janji, saya juga menetapkan syarat lain, yang sama-sama tidak bisa diganggu gugat. Jika orang yang ingin datang ke rumah saya adalah wanita, dia harus datang siang hari, dan tidak boleh sendirian. Dia harus mengajak temannya—sesama wanita, atau pria. Yang jelas, tidak sendirian.

Jadi, ketika menerima telepon dari seseorang yang mengatakan akan datang ke rumah saya, dan dia seorang pria, saya selalu bertanya, “Apakah kamu akan ke rumahku sendirian, dengan teman pria, atau dengan teman wanita?” Jika dia akan datang sendirian, atau bersama teman pria, dia boleh datang kapan pun. Tetapi, kalau dia akan datang bersama teman wanita, saya akan memintanya datang siang hari, dan mereka harus pulang sebelum maghrib.

Jika ada yang meragukan pernyataan ini, kalian bisa menanyakannya pada bocah ini. Dulu, dia tidak kenal saya, selain hanya tahu nama saya dari dosen dan para seniornya di kampus. Karena ingin bertemu, dia memberanikan diri menghubungi saya, ingin datang ke rumah. Saya memastikan, “Kamu akan datang dengan teman laki-laki, atau teman perempuan?” 

Kalau dia datang dengan teman laki-laki, saya menerima meski malam hari. Tetapi, dia mengatakan, “Aduh, ini malah banyak teman perempuan yang ingin ketemu.” Maka saya pun memintanya untuk datang siang hari. Dan mereka harus pulang sebelum maghrib.

Kalian, yang membaca ini, bisa jadi mengira saya laki-laki saleh, manusia berbudi luhur yang sangat bermoral, yang sangat hati-hati menjaga hubungan dengan lawan jenis, sehingga memberlakukan aturan sekeras itu.

Salah!

Yang membuat saya sangat berhati-hati dengan lawan jenis—khususnya di rumah saya—sehingga mengharuskan mereka datang siang hari, dan tidak boleh sendirian, dan harus pulang sebelum maghrib, bukan karena saya seorang saleh atau bermoral. Saya memberlakukan aturan itu, semata-mata karena menyadari betapa banyak orang yang sakit di sekitar kita.

Ada banyak orang sakit di sekitar kita. Orang-orang yang terlalu pahit menghadapi kehidupannya sendiri, sehingga makin pahit saat melihat kegembiraan orang lain. Orang-orang yang terikat dan terkekang dalam kerangkeng yang mereka ciptakan sendiri, sehingga sakit hati dan sakit pikiran saat melihat kebebasan orang lain.

Sebagai lajang, sudah jutaan kali saya mendengar omongan, sindiran, bahkan cemoohan, karena tidak/belum juga menikah. Mereka yang suka menyindir dan mencemooh itu umumnya orang-orang yang telah menikah, dan menua, dibebani keluarga—pasangan dan anak-anak—dan menjalani kehidupan yang tak bisa dibilang menyenangkan, bahkan menyedihkan.

Dalam pikiran saya—yang mungkin terdengar angkuh—mereka adalah orang-orang sakit, dengan hati sakit, dan pikiran sakit. Saya membayangkan diri saya berada di posisi mereka. Apa yang saya lihat? Kepahitan diri sendiri.

Dalam pandangan mereka, orang-orang itu melihat saya begitu muda, begitu bebas, hidup sendirian tanpa kekangan siapa pun, tanpa beban anak-anak dan pasangan, menjalani kehidupan dengan ringan, tidur kapan pun dan bangun kapan pun, tidak ada pasangan yang marah, tidak ada anak-anak yang merengek—benar-benar bebas dan merdeka.

Lalu mereka melihat diri sendiri, dan mendapati diri yang menua dengan cepat, dibebani hidup yang makin berat, pasangan yang penuh tuntutan, anak-anak yang makin banyak kebutuhan, waktu yang semakin terbatas sehingga sulit bertemu kawan-kawan, tidur berkurang, pikiran rumit oleh masalah keluarga—benar-benar pahit dan nelangsa.

Dalam kondisi kepahitan semacam itu, mereka akan mudah iri bahkan mendengki pada diri saya, meski saya tidak melakukan apa pun pada mereka. Bagi orang-orang yang sakit, saya telah melakukan kesalahan besar. Dan kesalahan saya adalah... tidak mengalami kesusahan seperti yang mereka alami, tidak merasakan beban keluarga seperti yang mereka hadapi.

Jadi, itulah latar belakang kenapa ada banyak orang yang hobi bertanya “kapan kawin?”, atau senang menyindir dan mencemooh saya, hanya karena belum menikah. Masalahnya sepele. Mereka ingin saya juga mengalami yang mereka alami, mereka ingin melihat saya menghadapi hidup yang berat seperti yang mereka hadapi. Orang yang tidak bahagia akan senang jika melihat ada orang lain lebih tidak bahagia darinya.

Latar belakang itu pula, yang membuat saya memberlakukan aturan ketat, terkait orang-orang yang datang bertamu. Untuk tamu wanita, dia harus datang siang hari, dan mengajak teman, dan harus pulang sebelum maghrib. Begitu pula untuk tamu pria yang mengajak teman wanita, aturan yang sama juga berlaku. Tidak ada toleransi, tidak ada tawar menawar.

Karena... saya khawatir, kalau ada wanita yang datang ke rumah saya malam hari—meski kami tidak melakukan apa pun yang melanggar norma—ada orang-orang yang datang akibat sakit di hati dan pikiran mereka, lalu mempermalukan kami seolah telah berbuat asusila... seperti pasangan malang yang digiring telanjang di Cikupa.

Perkawinan, Poligami, dan Sunah Nabi

Sebenarnya, wanita tidak setuju poligami. Tapi mereka tidak berani mengatakan secara jujur, karena khawatir dituduh melawan "ajaran agama".

Poligami, sebagaimana menikah, sebenarnya bukan "kewajiban agama", melainkan "sunah rasul". Tapi orang awam kesulitan membedakan keduanya.

"Aku tidak menyalahkan orang poligami," kata Teuku Wisnu, "tapi aku tidak akan melakukannya." | Itu contoh pemahaman yang baik atas sunah.

Menikah, poligami, siwak, itu contoh-contoh sunah Rasul. Kalau ada yang tanya "Kapan kamu kawin?" jawab saja, "Mungkin mulutmu perlu siwak."

Menikah, sebagaimana poligami, itu sunah Rasul. Aku tidak menyalahkan orang menikah, tapi bukan berarti aku akan ikut-ikutan melakukannya.

"Tapi menikah ada dalam Al-Qur'an." | Poligami juga ada dalam Al-Qur'an. Lalu kenapa? Tak semua yang ada dalam Al-Qur'an berarti kewajiban.

"Aku menikah karena menyempurnakan separuh agama." | Hadist itu dhaif, Mas. Tidak usah dibangga-banggakan. Pengin kawin aja banyak ngeles.

Hadist yang mengatakan, "Menikah menyempurnakan separuh agama" itu tidak terjamin sahih, bahkan sebagian ahli hadist menghukuminya dhaif.

(Catatan: Imam Al-Ghazali juga menggunakan hadist tersebut dalam kitabnya, ketika membahas pernikahan. Tetapi Al-Ghazali memaksudkannya sebagai motivasi, dan bukan sebagai hujjah yang bersifat mewajibkan.)

"Menikah membuat bahagia." | Kalau berdalih menikah adalah ajaran agama, coba sebutkan 1 ayat saja yang mengatakan "menikah bikin bahagia".

Fathimah, putri Nabi, menikah dengan Ali bin Abi Thalib. Dan apakah mereka bahagia? Tidak! (Kapan-kapan akan kuceritakan di blog).

Setiap orang tentu BERHAK menikah. Tapi setiap orang TIDAK BERHAK menghina apalagi merendahkan orang lain yang tidak/belum menikah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 Oktober 2017.
 

Hukum Islam Tentang Pernikahan

Aku tidak menentang pernikahan, karena soal pilihan.
Yang kutentang adalah ajaran sesat tentang pernikahan
yang tak bertanggung jawab.
@noffret


Pengantar:

Posting ini sebenarnya transkrip tweet saya di Twitter, yang saya pindahkan ke sini. Namun, agar tidak terjadi kesalahpahaman, saya perlu memberi pengantar.

Selama ini, ada orang-orang yang menyuruh-nyuruh orang lain agar cepat menikah, dengan dalih bahwa menikah adalah kewajiban agama (Islam). Sekarang saya ingin mengatakan, orang-orang itu telah berdusta!

Jika kita merujuk ke kitab fiqih, khususnya fiqih tentang pernikahan, kita akan diberitahu bahwa hukum menikah ada lima, yaitu wajib, sunah, makruh, mubah, dan haram. Lima hukum terkait menikah itu tergantung pada orang per orang, dalam arti tidak bisa digeneralisir. Memang ada orang yang wajib menikah, tapi ada pula yang hukumnya sebatas sunah, makruh, mubah, bahkan haram.

Kenyataan itu juga ditegaskan beberapa kitab yang secara spesifik membahas pernikahan, misalnya Qurotul ‘Uyun. Kitab legendaris yang jelas-jelas membahas pernikahan itu dengan gamblang menyatakan bahwa menikah memiliki lima hukum, yang—sekali lagi—tidak bisa digeneralisir pada setiap orang. Terkait menikah, hukumnya bisa wajib bagimu, tapi juga bisa sebatas sunah, makruh, mubah, bahkan haram bagi orang lain.

Sementara itu, Nabi Muhammad SAW menyatakan dalam hadist, “Menikah adalah sunahku.” Jika merujuk hadist tersebut, maka hukum dasar menikah adalah sunah. Hukum sunah itu lalu berubah pada orang per orang, tergantung kondisi yang dihadapi. Sekali lagi, dalam hal ini kita tidak menggeneralisasi semua orang untuk patuh dan tunduk pada satu hukum, karena nyatanya hukum menikah bisa berubah tergantung kondisi orang per orang.

Contoh kasar. Kalau kau menyuruh atau menasihati seseorang untuk menikah, padahal orang itu—karena kondisinya—dihukumi haram menikah, maka saran atau nasihatmu jelas salah. Dalam ilustrasi lain, memberi nasihat agar makan di jam makan siang itu benar. Tetapi, nasihat itu salah jika disampaikan pada orang yang sedang berpuasa. Makan—sebagaimana menikah—adalah hal baik, tapi makan bagi orang berpuasa justru haram. 

Dalam urusan menikah, hanya orang bersangkutan yang paling tahu apa hukum yang paling tepat untuknya. Penjelasan mengenai hal ini bisa panjang sekali, dan silakan merujuk pada kitab-kitab terkait, untuk uraian lebih lanjut.

Apa? Tidak bisa membaca kitab? Kalau begitu, ora usah kakean cocot kewan-kawin kewan-kawin! Ngaji agama masih nyah-nyih, sudah sok ngurusin selangkangan orang lain dengan dalih agama!

....
....

Ada orang memintaku agar membaca Uqudulujain dan Qurotul 'Uyun. "Biar hatimu terbuka," katanya. Lucu, aku bahkan hafal isi kitab-kitab itu.

Buat yang memintaku membaca Uqudulujain dan Qurotul 'Uyun, silakan baca kitab ini; Al-‘Ulama’ Al-‘Uzzab alladzina Atsarul ‘Ilma ‘alaz Zawaj.

Jika ada yang mengatakan menikah adalah kewajiban, tanyakan kepadanya, "Siapa yang mewajibkan?" | Itu benar-benar kebohongan dan pembodohan.

Tidak ada yang mewajibkan orang menikah. Agama pun tidak! Satu-satunya pihak yang mewajibkan orang menikah hanya masyarakat.

Hadist Nabi, "Menikah adalah sunahku..." | Hukum menikah hanya sunah. Kaulakukan, silakan, itu bagus. Tidak kaulakukan, juga tidak apa-apa.

Jadi, siapa sebenarnya yang selama ini telah melakukan penipuan dan pembodohan massal pada orang-orang bahwa menikah adalah kewajiban?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 November 2017.

Jumat, 10 November 2017

Lingkar Waktu

Sarapan di samping cewek-cewek yang pulang clubbing.
Makan nasi sambil lihat putih-putih. *Pusing*

Nasi gudeg dan pemandangan putih-putih adalah kombinasi
yang sangat tidak environmental. #Apeu
@noffret 


Seusai subuh, saya sering keluar rumah untuk sarapan nasi gudeg. Meski lokasinya agak jauh dari rumah, saya tidak keberatan ke sana, karena nasi gudegnya enak. Kalau tempat nasi gudeg pas sepi, saya sarapan di sana. Tapi kalau pas ramai, saya bawa pulang nasinya untuk disantap di rumah. Bagaimana pun, saya menyukai keheningan, dan lebih senang sarapan sendirian daripada sarapan sambil berdesakan.

Kadang-kadang, saya tetap makan di sana meski ramai, yaitu ketika cewek-cewek baru pulang clubbing, dan mereka mungkin kelaparan, lalu nyasar ke tempat penjual nasi gudeg. Beberapa kali saya mendapati tiga atau empat cewek datang ke sana, dengan pakaian khas clubbing, yang membuat saya betah berlama-lama. Karenanya, meski ramai, saya senang-senang saja sarapan di sana. Nasi gudeg dan pemandangan putih-putih, bagi saya, adalah karunia alam semesta.

Saya tahu cewek-cewek itu baru pulang clubbing, bukan karena melihat pakaian mereka, tapi dari tuturan si penjual gudeg. Saat pertama kali mendapati cewek-cewek itu di sana, saya agak heran. Bagaimana pun, waktu itu masih gelap, karena baru subuh. Di lain hari, ketika saya menanyakan hal itu pada penjual gudeg, dia menjelaskan kalau cewek-cewek tersebut baru pulang dari DC (kelab malam yang biasa digunakan anak-anak muda untuk clubbing.)

“Mungkin mereka kelaparan, lalu mampir ke sini,” ujar penjual nasi gudeg.

Mungkin pula, cewek-cewek itu cocok dengan nasi gudeg di sana, hingga sering datang. Atau mungkin mereka kesulitan menemukan warung lain yang sudah buka—karena hari masih gelap—hingga datang ke warung nasi gudeg yang sudah buka. Apa pun, yang jelas saya senang melihat mereka. Well, siapa yang tidak? Nasi gudeg saja sudah enak, ditambah pemandangan putih-putiiiiiiihhh...!

Cewek-cewek yang baru pulang clubbing itu mungkin berusia 20-an. Seperti umumnya perempuan muda, mereka memiliki kecantikan, kesegaran, sekaligus keceriaan. Bahkan meski wajah-wajah mereka tampak mengantuk—tentu karena semalam tidak tidur—mereka masih bisa cekikikan saat sarapan nasi gudeg.

Melihat mereka, kadang saya kasihan pada diri sendiri. Saat seusia mereka, saya sama sekali tidak kenal clubbing. Boro-boro clubbing, menikmati masa remaja saja tidak. Masa remaja saya sudah habis untuk bekerja keras, dan saya tidak punya waktu untuk bersenang-senang. Seperti yang pernah diceritakan di sini, saya bekerja dari jam delapan pagi sampai jam tiga dini hari. Kapan bisa bersenang-senang?

Belakangan, ketika dewasa, dan punya cukup uang untuk bersenang-senang, saya pernah iseng masuk kelab malam, karena ingin tahu seperti apa rasanya clubbing. And you know what? Saya tidak betah di sana!

Atmosfer di tempat clubbing bukanlah atmosfer yang membuat saya nyaman. Pertama, di sana bising—musik keras berdentam-dentam. Saya lebih suka keheningan. Kedua, di sana ramai—banyak orang berkumpul dengan berbagai kegiatan. Saya lebih suka suasana sunyi yang tenang. Ketiga, dan paling parah, di sana tidak ada teh hangat—hanya tersedia minuman dingin. Saya pikir, hiburan macam apa yang tidak menyediakan teh hangat?

Bagi saya, bersenang-senang adalah... duduk di sofa yang empuk, di tempat yang adem dan hening, menikmati buku atau bacaan yang menyenangkan, sambil menyeruput teh hangat yang nikmat, dan ditemani sebatang kretek, itulah kesenangan! Oh, well, itulah yang disebut bersenang-senang!

Atmosfer semacam itu jelas tidak saya temukan di tempat clubbing, dan saya pun tidak tertarik untuk sering-sering ke sana. Kalau ada hal menarik di sana—maksud saya di tempat clubbing—hanyalah cewek-cewek seksi yang berjoget asoy, yang membuat saya merasa sedang ada di Las Vegas, meski saya belum pernah melihat Las Vegas.

Kembali ke warung nasi gudeg.

Setiap kali pergi dari rumah menuju warung nasi gudeg, saya selalu melewati alun-alun yang berdampingan dengan gedung bank. Setiap kali lewat di depan bank tersebut, saya selalu mendapati wanita tua yang sedang terduduk sendirian di pinggir jalan. Posisinya bukan sedang duduk nyaman layaknya orang duduk-duduk, tapi berada di aspal samping trotoar. Beberapa kali saya bahkan pernah mendapati posisi wanita itu hampir ke tengah jalan raya. Karena hari masih gelap, tempat itu pun masih sepi.

Semula, saya tidak terlalu memperhatikan keberadaan wanita tersebut. Namun, karena selalu mendapati sosoknya setiap kali lewat sana, lama-lama perhatian saya tertarik. Sejak itu, saya mulai memperhatikan, setiap kali lewat sana. Bisa dipastikan, kapan saja saya datang ke warung nasi gudeg, dan melewati gedung bank dekat alun-alun, selalu ada wanita tua yang sedang terduduk sendirian di sana.

Jika saya lihat sekilas, wanita itu mungkin berusia 70-an. Selain wajahnya tampak renta, tubuhnya juga terlihat ringkih. Penampilannya tidak bisa dibilang rapi, namun saya tidak berpikir dia orang gila.

Saya pun bertanya-tanya dalam hati, apa yang sedang dilakukan wanita itu di sana? Dari mana, atau mau ke mana? Dan kenapa dia selalu dalam posisi terduduk setiap kali saya melihatnya?

Suatu pagi, didorong penasaran dan kebetulan sedang selo, saya pergi ke warung nasi gudeg seperti biasa. Saat sampai di depan bank dekat alun-alun, seperti biasa, saya mendapati wanita tua yang biasa, sedang terduduk di sana—di pinggir jalan, dengan penampilan yang biasa. Saya berhenti di seberang jalan, lalu memperhatikan. Saya ingin tahu, apa sebenarnya yang dilakukan wanita tua itu di sana.

Butuh kesabaran untuk melihat yang saya saksikan.

Cukup lama, saya berdiam diri, memperhatikan wanita di seberang jalan, tapi dia tidak tampak bergerak. Posisinya masih duduk di pinggir jalan.

Saya menyulut rokok. Beberapa isapan, saya mulai melihat wanita itu bergerak. Dia tampak bangkit dari posisi duduk, dengan susah payah, lalu melangkah ke depan. Beberapa langkah, dia berhenti, dan terduduk seperti semula. Cukup lama berhenti, lalu dia tampak bergerak dan bangkit lagi, masih dengan susah payah, dan berhenti lagi setelah beberapa langkah. Dan begitu seterusnya. Kadang, dia terlihat tak mampu berdiri, dan terpaksa melangkah dengan cara ngesot.

Jadi dia kelelahan, pikir saya setelah cukup lama memperhatikan.

Saya tidak pernah tahu siapa wanita itu, dari mana dia, dan mau ke mana. Saya juga tidak terpikir untuk menanyakan kepadanya. Mungkin, wanita itu dari rumah—entah di mana rumahnya—dan pergi untuk mencari sarapan. Karena tubuhnya sudah sangat renta, dia pun terpaksa pergi mencari sarapan dengan susah payah sebagaimana yang saya saksikan.

Apakah dia punya keluarga? Saya tidak tahu. Di mana suami, atau anak-anaknya? Saya juga tidak tahu. Yang saya tahu, wanita itu ada di sana—di depan gedung bank samping alun-alun—setiap pagi, dan selalu saya lihat saat lewat di sana. Terduduk sendirian, dengan penampilan menyedihkan, mencoba melangkah perlahan-lahan, dengan sisa-sisa tenaga yang masih dimilikinya.

Bahkan untuk bergerak dan melangkah dalam jarak tiga meter saja, dia membutuhkan waktu sangat lama. Kasihan sekali, pikir saya tercenung. Wanita itu, bersama dekapan usia renta, semakin kehilangan energi dan kemampuan tubuhnya. Hingga untuk berjalan dan melangkah saja, dia sangat kepayahan.

Melihat wanita renta di subuh yang masih gelap itu, saya pun akhirnya memaklumi keberadaan orang-orang renta yang hanya bisa berbaring di tempat tidur, tidak bisa melakukan apa pun, karena energi dan kemampuan tubuh telah hilang, habis dimakan usia.

Betapa fana manusia, dan betapa jauh kesadaran kita.

Menatap wanita renta yang kepayahan di pinggir jalan, saya teringat pada perempuan-perempuan muda di warung nasi gudeg yang baru pulang clubbing. Perempuan-perempuan muda itu begitu cantik, begitu segar, begitu ceria, begitu penuh energi. Sebegitu penuh energi, hingga mampu berjoget semalam suntuk, lalu sarapan di warung nasi gudeg saat pagi tiba.

Pernahkah perempuan-perempuan muda itu membayangkan, kelak di usia tua, mereka akan kehilangan semua yang mereka miliki sekarang? Kecantikan pudar, kesegaran hilang, dan energi kian habis. Usia menggerogoti tubuh perlahan-lahan, sebegitu perlahan hingga membuat kita tak sadar.

Lalu pandangan saya mengarah pada wanita renta yang masih terduduk kepayahan di pinggir jalan. Wanita renta itu juga pasti pernah mengalami masa muda, saat tubuhnya begitu kuat dan penuh energi, saat kecantikan dan kesegarannya memancar indah. Dia pasti pernah semuda, secantik, dan sesegar perempuan-perempuan yang saya lihat di warung nasi gudeg, yang baru berjoget semalam suntuk.

Betapa fana manusia, betapa jauh kesadaran kita.

Wanita yang Membuat Hidupku Kelar

Kadang aku minder pada dua jenis wanita. Pertama, wanita yang bisa pergi sendirian ke tempat-tempat jauh. Kedua, wanita yang membaca buku-buku berat.

Kalau ketemu seorang wanita yang memiliki dua hal sekaligus di atas, kelar sudah hidupku.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Januari 2017.

Minggu, 05 November 2017

Risalah Cinta

Yang dulu pernah ngefans Primus di era sinetron
awal 2000, mungkin sekarang pangling melihatnya.
Dia seperti tetanggaku yang orang biasa.
@noffret


Suatu sore menjelang maghrib, Primus dan Nafa Urbach bertengkar. Waktu itu bulan puasa, dan mereka baru pulang syuting untuk suatu acara televisi. Primus masih pacaran dengan Nafa, waktu itu, dan mereka biasa bersama saat berangkat atau pulang syuting. Sore itu, mereka juga baru selesai syuting, lalu melangkah mendekati mobil. Di depan mobil itulah, mereka bertengkar.

Saat sampai di depan mobilnya, Primus baru sadar, kunci mobil entah ada di mana. Dia meraba-raba saku baju dan celana, tapi kunci tak ditemukan. Nafa Urbach, yang mungkin capek sekaligus ingin segera pulang, tak kuasa menahan emosi. Sementara Primus masih bingung mencari-cari kunci mobilnya, Nafa marah, “Kamu gimana sih, Mas?” (Di masa itu, Nafa memanggil Primus dengan sebutan ‘Mas’).

Lalu mereka bertengkar, hingga beberapa menit.

Peristiwa itu terjadi bertahun-tahun lalu. Primus maupun Nafa mungkin sudah lupa. Tapi saya tidak pernah lupa. Karena, bertahun-tahun kemudian, insiden menjelang maghrib itu membawa saya pada pelajaran penting tentang cinta.

....
....

Kalian yang sudah puber pada awal 2000-an tentu mengenal Primus, artis sinetron yang nyaris setiap hari muncul di televisi, membintangi banyak acara, sinetron, juga serial. Nama lengkapnya Primus Yustisio. Di era popularitasnya, Primus adalah anak muda yang ganteng, berwajah bersih, enak dilihat, tipe yang mungkin didambakan banyak wanita di zamannya.

Pada masa itu pula, Primus menjalin hubungan dengan Nafa Urbach. Kalian pasti tahu siapa wanita ini. Mengawali kariernya sebagai penyanyi—dan sempat dianggap sebagai penerus Nike Ardilla—Nafa Urbach juga terjun ke dunia sinetron, dan populer sebagai artis sinetron Indonesia.

Ketika Primus dan Nafa pacaran, semua orang ikut senang. Mereka pasangan serasi, dan banyak yang mengharapkan mereka dapat melangsungkan hubungan sampai pernikahan.

Tetapi, suatu hari, mereka putus.

Setelah tidak lagi menjalin hubungan, Primus maupun Nafa melanjutkan kehidupan sendiri-sendiri. Mereka masih aktif sebagai artis sinetron, masih sering muncul di televisi, masih kerap menghiasi pemberitaan media, tapi kali ini sudah tak lagi terlihat berdua seperti semula. Belakangan, Nafa Urbach menemukan pengganti Primus, dan menjalin hubungan baru dengan Zack Lee. Sementara Primus menambatkan hatinya pada Jihan Fahira.

Kisah baru dimulai.

Sejak itu, Nafa sering terlihat bersama pasangan barunya, sebagaimana Primus juga sering terlihat mesra dengan kekasihnya. Belakangan, kita tahu, Nafa Urbach menikah dengan Zack Lee, sementara Primus menikah dengan Jihan Fahira. Sejak itu, jalan hidup mereka berubah.

Orang-orang bijak mengatakan, “Kalau kau ingin melihat seperti apa asli seseorang, lihatlah setelah dia menikah.” Pernyataan itu, sebenarnya, membutuhkan uraian dan penjelasan panjang, tapi mari kita persingkat dengan mengambil salah satu sudutnya.

Setelah menikah, Nafa Urbach masih aktif sebagai artis, masih sering muncul di televisi, masih sering menjadi pemberitaan di media. Sosoknya juga makin cantik, makin seksi, dan makin bersinar. Zack Lee tampaknya pasangan yang tepat bagi Nafa Urbach, dan pernikahan mereka menjadikan Nafa Urbach makin indah (meski belakangan mereka bercerai.)

Hal sebaliknya terjadi pada pasangan Primus dan Jihan Fahira. Setelah menikah, kemunculan mereka di hadapan publik makin lama makin berkurang. Belakangan, keduanya bahkan tidak lagi tampil sebagai artis, karena memilih menjalani kehidupan sebagai orang biasa. Keluarga Primus bahkan tidak memiliki akun media sosial di internet, sebagai bukti bahwa mereka telah meninggalkan hiruk-pikuk publisitas.

Saat ini, sosok Primus telah jauh berbeda dengan Primus yang dulu. Jika dulu wajahnya bersih dan klimis, sekarang kumisnya cukup lebat. Jika dulu penampilannya seperti bocah gaul ibu kota, sekarang tampak bersahaja, seperti umumnya orang kebanyakan. Dia bahkan sering terlihat mengenakan peci.

“Anak-anakku tidak percaya kalau ayah mereka dulu seorang artis,” ujar Primus.

Lalu bagaimana dengan Jihan Fahira? Tampaknya, Jihan benar-benar pasangan sempurna untuk Primus. Meski dulu dia juga artis terkenal yang biasa menjalani kehidupan glamor dan selalu menjadi pusat perhatian, Jihan juga bersedia meninggalkan semua itu, dan menjalani kehidupan sebagai orang biasa. Jika ada istri salihah di bawah langit, Jihan Fahira pasti salah satunya.

Pernikahan telah menunjukkan seperti apa asli Primus. Bahwa pria yang sekian tahun lalu tampak sangat metropolit dan modern, menjadi artis terkenal yang dipuja banyak wanita karena glamor dan mewah, ternyata seorang pria biasa. Primus bahkan termasuk “pria kuno” yang senang punya banyak anak, dan dikelilingi keluarga besar. Saat ini, dia telah memiliki empat anak, meski ingin punya enam anak.

Dalam hal itu, dia beruntung, karena Jihan memiliki kecenderungan serupa, yang lebih bahagia menjadi istri dan ibu, dan damai bersama keluarga. Saat melihat Primus dan Jihan Fahira berkumpul bersama anak-anak mereka, siapa pun akan menyadari bahwa mereka lebih bahagia saat ini, daripada ketika dulu masih jadi artis dan sering muncul di televisi.

Lalu bagaimana dengan Nafa Urbach? Seperti yang dibilang tadi, Nafa masih aktif sebagai artis. Meski belakangan mulai menghilang, khususnya setelah punya anak, Nafa Urbach nyaris tak berubah. Dia masih cantik dan menawan, seperti umumnya artis, dan kamera-kamera wartawan selalu senang meliput sosoknya. Pendeknya, Nafa Urbach masih seorang selebritas, dulu maupun sekarang.

Hari ini, melihat kehidupan Primus dan keluarganya, serta Nafa beserta keluarganya, kadang saya berpikir sendiri.

Apa jadinya jika dulu, Primus dan Nafa Urbach tidak putus? Apa yang sekiranya terjadi, jika Primus menikah dengan Nafa Urbach? Mungkin publik Indonesia akan senang, karena mereka pasangan serasi. Tapi apakah mungkin jalan kehidupan mereka akan seperti sekarang?

Jika menikah dengan Nafa Urbach, apakah Primus akan menemukan pilihan hidupnya yang sejati—menjadi orang biasa, tidak lagi tampil sebagai artis yang glamor dan mewah? Mungkin ya, karena pada akhirnya orang memang akan menemukan tujuan dan pilihan hidup. Tapi jika Primus memilih menjalani kehidupan sebagai orang biasa seperti sekarang, apakah Nafa Urbach akan bersedia?

Sejujurnya, saya tidak yakin Nafa Urbach akan bersedia menjalani kehidupan sebagai orang biasa, karena dia lebih senang menjalani kehidupannya seperti semula—glamor dan mewah. Tentu saja ini hanya soal pilihan, dan kita tidak bisa menyalahkannya, karena masing-masing orang punya pilihan dan cara hidup sendiri.

Karenanya, ketika Primus putus dengan Nafa, hingga akhirnya menikah dengan Jihan Fahira, saya takjub merenungi kenyataan itu. Jihan Fahira benar-benar tepat untuk Primus, karena ternyata juga memiliki pilihan hidup yang sama. Atau, setidaknya, Jihan bersedia mengikuti jalan hidup pasangannya.

....
....

Kita akan tahu seperti apa aslinya seseorang, setelah dia menikah. Sebagaimana kau tidak akan pernah yakin seperti apa pasanganmu sekarang, sebelum kalian bersumpah untuk hidup bersama sampai mati dalam pernikahan.

Hijrah

Seorang bocah mirip Sakti Sheila On7 menemui saya bersama beberapa bocah lain. Dia berkata, “Kamu tidak ingin hijrah?”

Sambil tersenyum, saya menjawab, “Aku telah hijrah jauh-jauh hari sebelum kalian meributkan istilah itu. Lagi pula, hijrah menurut kalian adalah meninggalkan kehidupan mewah dan glamor yang membosankan, untuk pindah ke tempat hening dan sunyi yang telah lama kutempati. Kalau aku diminta hijrah, ke mana lagi aku harus pindah?”

Rabu, 01 November 2017

Saatnya Media Belajar Waras

Ya Tuhan, aku cinta akun ini!
@noffret


Di Twitter, ada akun baru yang segera menarik banyak pengikut, bernama @ClickUnbait. Seperti namanya, akun itu tampaknya bermaksud memerangi clickbait yang saat ini telah menjadi masalah sekaligus penyakit sebagian media di Indonesia, khususnya media yang eksis di internet.

Saat saya pertama kali mengikuti akun tersebut, jumlah pengikutnya masih 300-an. Saat ini, jumlah pengikut @ClickUnbait telah mencapai 23 ribuan. Padahal, kalau tak keliru, akun tersebut baru berumur dua minggu. Fakta itu menggembirakan, karena secara tak langsung memberitahu bahwa masih banyak pembaca berita di Indonesia yang waras.

Keberadaan akun @ClickUnbait yang secara frontal memerangi media-tukang-clickbait bisa menjadi pressure bagi media-media agar mulai belajar waras, agar tidak lagi “menipu” pembaca dengan judul-judul tak relevan. Di sisi lain, akun @ClickUnbait juga secara tak langsung mendidik para pengikutnya untuk membedakan mana berita yang layak baca, dan mana berita yang bernilai sampah.

Sebelum saya ngoceh panjang lebar, ada baiknya kita ketahui dulu apa itu clickbait, agar orang-orang yang mungkin belum paham bisa mengikuti isi catatan ini, juga memahami kenapa praktik clickbait yang dilakukan media-media di internet harus diperangi.

Mari kita lihat penjelasan atau definisi clickbait di Wikipedia (saya transkrip secara utuh):

“Umpan klik (clickbait) adalah suatu istilah peyoratif yang merujuk kepada konten web yang ditujukan untuk mendapatkan penghasilan iklan daring, terutama dengan mengorbankan kualitas atau akurasi, dengan bergantung kepada tajuk sensasional atau gambar mini yang menarik mata guna mengundang klik-tayang (click-through) dan mendorong penerusan bahan tersebut melalui jejaring sosial daring. Tajuk umpan klik umumnya bertujuan untuk mengeksploitasi "kesenjangan keingintahuan" (curiosity gap) dengan hanya memberi informasi yang cukup membuat pembaca penasaran ingin tahu, tetapi tidak cukup untuk memenuhi rasa ingin tahu tersebut tanpa mengklik pada tautan atau pranala yang diberikan.”

Penjelasan itu mungkin terlalu normatif, dan ada kemungkinan sebagian orang masih bingung. Jadi, izinkan saya menjelaskan lebih gamblang, hingga bisa dipahami anak SD sekali pun.

Pertama, mari kita lihat media-media daring di internet, seperti Tempo.Co, Beritagar.Id, Kompas.Com, Merdeka.Com, Tirto.Id, Tribunnews.Com, Detik.Com, Kapanlagi.Com, dan semacamnya. Apa persamaan mereka? Benar, sama-sama media yang menyuguhkan berita!

Situs-situs atau media-media tersebut menyuguhkan berita untuk para pembaca. Berita dan artikel didapat dari para wartawan atau para pekerja yang menulis di situs-situs tersebut. Untuk hal itu, tentu saja, perusahaan pemilik masing-masing situs harus membayar para pekerja, selain juga membayar biaya server, dan lain-lain, terkait operasional situs. Artinya, agar situs dapat terus hidup, mereka harus mendapat uang!

Umumnya, situs di internet mendapat pemasukan melalui iklan komersial. Umumnya pula, iklan tersebut berbentuk banner yang terpasang di sisi (kanan/kiri) artikel, di bawah, di atas, dan lain-lain. Iklan-iklan itulah yang memberi pemasukan pada masing-masing situs, hingga dapat membayar para pekerja dan biaya operasional. Dalam proses itu, tentu saja, masing-masing perusahaan pemilik situs juga ingin untung—semakin besar semakin bagus.

Terkait iklan yang terpasang, ada beragam pembayaran yang diperoleh situs. Dua yang paling populer adalah “bayar per klik” dan “bayar per tampilan”. Artinya, jika ada pengunjung situs yang mengklik iklan, situs akan memperoleh bayaran (dari si pemasang iklan). Atau, semakin banyak halaman situs yang dibuka pengunjung, semakin besar pula bayaran yang mereka terima.

Dan... well, dari situlah asal usul clickbait dimulai.

Para pemilik situs di internet menyuguhkan berita untuk pembaca/pengunjung. Mereka mempekerjakan para wartawan atau jurnalis untuk mencari dan menulis berita. Dalam hal itu, pemilik situs harus membayar/menggaji mereka, termasuk membayar biaya operasional. Untuk mendapat pemasukan, situs memasang iklan komersial. Selain untuk menggaji para wartawan dan membiayai operasional, juga untuk menangguk keuntungan.

Sampai di sini, mereka pun bertanya-tanya, “Bagaimana cara agar pemasukan dari iklan bisa sebesar mungkin?”

Bagi media yang memiliki integritas, pertanyaan itu memacu mereka untuk berpikir kreatif. Hasilnya, mereka menyuguhkan konten atau artikel yang lebih baik dari rata-rata situs lain, atau memperbanyak artikel dengan cara positif, sehingga pengunjung mendapat lebih banyak bacaan.

Dalam hal itu, media berpikir kreatif, “Jika pengunjung puas, mereka akan senang berlama-lama.” Dan jika pengunjung berlama-lama di sebuah situs, artinya akan ada banyak laman yang dibuka, akan ada banyak artikel yang dibaca, akan ada iklan yang diklik, dan tingkat bounce-rate akan membaik, yang hasil akhirnya akan meningkatkan tarif iklan di situs bersangkutan. Kesimpulannya; pengunjung senang, pemilik situs juga untung.

Sebaliknya, bagi media yang tidak berintegritas, pertanyaan di atas juga memacu mereka untuk berpikir “kreatif”. Sama-sama kreatif, tapi dalam tanda kutip. Biasanya, yang mereka lakukan adalah membuat judul-judul bombastis yang tidak relevan (tidak nyambung dengan isi berita, atau menyesatkan pembaca), sampai memecah suatu artikel/berita dalam beberapa halaman, padahal berita itu relatif pendek. Diakui atau tidak, itu praktik tercela dalam jurnalisme daring.

Judul-judul yang tidak relevan, atau menyesatkan pembaca—itulah yang disebut clickbait! Tujuannya agar kau penasaran, lalu mengklik tautan berita yang kaulihat.

Karena judulnya sudah menipu, ada kemungkinan kau akan merasa tertipu setelah membaca isi beritanya, dan merasa telah membuang waktu secara sia-sia. Tapi situs bersangkutan tidak mau tahu. Bagi mereka, yang penting kau mengklik tautan yang mereka sodorkan. Soal kau puas atau tidak, bodo amat! Yang penting situs mereka dikunjungi, artikel mereka dibaca, dan persetan denganmu!

Sudah mulai paham yang disebut clickbait?

Mengenai seperti apa judul-judul berita yang tidak relevan (yang bisa disebut clickbait), contohnya banyak sekali. Karena nyaris setiap situs berita di Indonesia kadang (sebagian malah sering) menggunakan. Karenanya, saya akan mati bosan kalau harus menuliskan contoh-contohnya di sini. Agar lebih mudah, silakan pelototi timeline akun @ClickUnbait di Twitter. Judul-judul berita yang “dibantai” di sana rata-rata judul yang tidak relevan alias clickbait.

Masih terkait judul, ada pula sebagian situs yang tampaknya merasa perlu memasukkan opini ke dalam judul, meski hal semacam itu sebenarnya salah. Contohnya juga banyak sekali, dan bisa ditandai dengan kata sifat yang subjektif dari si penulis berita. Misal:

Miris! Wanita Ini Bla-bla-bla
Menyedihkan, Negara Ini Bla-bla-bla
Ironis, Ternyata Pria Ini Serigala Berbulu Teman
Mengharukan! Sepasang Kucing Ini Bla-bla-bla
Membanggakan, Indonesia Sekarang Bla-bla-bla


Semua contoh judul itu salah! Wartawan hanya bertugas mewartakan. Soal apakah isi beritanya miris, menyedihkan, mengharukan, membanggakan, ironis, dan lain-lain, itu hak pembaca untuk menilai dan menentukan. Karena itulah, salah satu kode etik wartawan adalah objektif. Sementara judul-judul di atas justru subjektif, karena memasukkan opini. Dalam konteks pemberitaan media daring, praktik semacam itu bisa digolongkan clickbait.

Yang lebih gila, ada judul-judul kontemporer yang sangat asu. Biasanya, judul sangat panjang, diakhiri kalimat sok tahu. Misal:

Inilah 10 Hal yang Diam-diam Dilakukan Pasanganmu Saat Kamu Tidur, Nomor 8 Akan Membuatmu Salto Hingga Patah Tulang!

Atau;

Inilah 9 Hal yang Membuat Cewek Menangis, Nomor 6 Akan Membuatmu Mimisan Sambil Guling-guling!

Judul keparat apa itu? Okelah, orang mungkin bisa menulis tentang “9 hal yang membuat cewek menangis”. Itu ilmiah, dan bisa diterima akal sehat. Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa “nomor 6 akan membuatmu mimisan sambil guling-guling”? Biasanya, artikel berjudul “9 Hal” semacam itu akan dipecah menjadi 9 halaman, agar pembaca terus melakukan klik.

Judul dan praktik seperti itu benar-benar parah. Dalam konteks clickbait, itu bahkan layak disebut simbahnya clickbait!

Well, selain judul yang tidak relevan, praktik tercela yang juga dilakukan sebagian situs berita di internet adalah “memecah satu artikel dalam beberapa halaman”. Saya perlu ngemeng khusus soal ini, agar tidak ada yang salah paham.

Ada kalanya, suatu situs menerbitkan artikel yang sangat panjang. Sebut saja, artikel itu mencapai 10 halaman ketika ditulis di MS Word. Ketika artikel panjang semacam itu diunggah ke situs, bisa jadi hasilnya sangat panjang, dan pembaca harus melakukan scroll berkali-kali untuk membaca artikel seutuhnya. Pada beberapa kasus, artikel yang sangat panjang bisa membuat proses loading tidak lancar, khususnya jika situs bersangkutan menggunakan server yang tidak bagus. Hasil akhirnya, pengunjung/pembaca bisa terganggu atau tidak nyaman.

Untuk mengantisipasi hal semacam itu, ada situs-situs yang berpikir untuk memecah artikel panjang menjadi 2 atau 3 halaman. Tujuannya untuk membuat pembaca lebih nyaman—baik saat membuka halaman, maupun saat membaca artikel bersangkutan. Dalam hal ini, bisa dibilang tidak masalah, dan kita menghargai itikad baik situs bersangkutan yang memang bertujuan membuat pengunjung nyaman.

Tetapi, ada pula situs-situs tertentu yang benar-benar bangsat! Mereka memecah artikel hingga beberapa halaman, tapi bukan bertujuan membuat pengunjung nyaman. Sebaliknya, yang mereka lakukan justru membuat pengunjung tidak nyaman!

Saya sering mendapati berita di suatu situs, yang memuat artikel pendek (atau tak seberapa panjang) tapi dipecah hingga 3, 4, 5, bahkan kadang sampai 9 halaman. Padahal, artikel itu sangat pendek! Sebegitu pendek, hingga masing-masing halaman hanya memuat satu atau dua paragraf! Itu benar-benar parah! Yang lebih parah, berita yang dipecah dalam beberapa halaman itu tidak penting-penting amat—biasanya hanya berita yang sekadar membuat pembaca penasaran!

Dalam konteks yang sedang kita bicarakan, praktik memecah satu artikel pendek dalam beberapa halaman semacam itu disebut clickbait. Yaitu upaya “memaksa” pengunjung/pembaca untuk terus melakukan klik dan klik, yang tujuannya keuntungan bagi situs bersangkutan. Karena itu pula, rata-rata situs yang melakukan praktik tercela semacam itu biasanya memiliki iklan sangat banyak, hingga satu klik membutuhkan waktu loading lama, akibat banyaknya iklan. Itu benar-benar memboroskan waktu pembaca secara sia-sia.

Well, sekarang kita paham apa yang disebut clickbait, dan bagaimana sebagian media sengaja “memanipulasi” pembaca melalui (judul-judul) berita yang mereka suguhkan. Itulah kenapa praktik semacam itu harus diperangi. Karena menjadikan media-media mandul (tidak kreatif, atau kreatif dengan cara yang salah), sekaligus menyesatkan pembaca, dan membuang waktu pembaca secara sia-sia.

Sudah saatnya media-media belajar dan berbenah untuk menulis dan menyuguhkan berita secara waras, yang mendidik dan mencerdaskan pembaca, bukan malah sebaliknya. Juga sudah saatnya bagi kita untuk mampu memilah dan memilih mana yang layak dibaca, serta mana yang patut dibuang. Karena membaca sesuatu yang tidak memberi manfaat hanya membuang-buang waktu, energi, biaya, serta umur kita.

Karena clickbait seperti lintah—mereka mengisap hidup kita, tanpa kita sadari. Mereka mendapatkan keuntungan dari pengisapan yang mereka lakukan, sementara kita tak mendapat apa pun, selain waktu dan energi yang terbuang.

Inilah 20 Hal yang Harus Kamu Tahu Seputar Hidup Sehat, Nomor 19 Bisa Membuatmu Kejang-kejang Sampai Mati!

Sudah pakai “Inilah”, masih pakai tanda seru di akhir judul.

Percaya atau tidak, setiap kali kau mendapati artikel yang judulnya diawali “Inilah”, apalagi diakhiri tanda seru (!), hampir bisa dipastikan penulisnya seorang pemula. Dan hampir bisa dipastikan isinya tak layak baca.

Penulis profesional—dan waras—tidak melakukan hal setolol itu.

Rabu, 25 Oktober 2017

Fragmen Hidup Asia Carrera

Masalah hidup kita, per orang, adalah kenyataan bahwa perjalanan
tak selalu sesuai skenario siapa pun. Alur yang liar, akhir tak terduga.
@noffret


“Orang-orang mungkin mengira aku menyesali yang telah kulakukan. Tetapi, asal kau tahu, aku tidak pernah sebahagia ini seumur hidup, karena berhasil memperoleh yang kuimpikan dari jerih payah sendiri. (Sekarang) Aku memiliki pekerjaan yang menyenangkan, dan pada akhirnya aku dapat kembali bermain piano, melukis, menulis, dan membalas surat-surat banyak orang.”

Kalimat itu dinyatakan Asia Carrera, wanita yang namanya pernah identik dengan film porno, bahkan hingga kini masih dianggap salah satu legenda di industri film porno dunia. Kini, setelah pensiun dari industri tersebut, Asia Carrera menjalani kehidupan yang ia pilih, dan menikmati hal-hal yang ia sukai—melukis, menulis, bermain piano—dan mungkin percaya suatu hari kelak dia akan mati dengan bibir tersenyum, karena puas menatap kehidupan yang ia tinggalkan.

Menatap Asia Carrera sama seperti menatap fragmen kehidupan manusia, yang kadang lebih dramatis dan lebih paradoks dari kisah novel mana pun yang pernah kita baca.

Orang-orang tahu, Asia Carrera adalah aktris film porno, yang telah membintangi lebih dari 400 judul (jumlah tepatnya, menurut IAFD, 407 judul). Tetapi, mungkin tidak semua orang tahu, bahwa Asia Carrera juga anggota Mensa.

Mensa adalah organisasi khusus untuk orang-orang yang memiliki IQ tinggi. Organisasi yang berbasis di Inggris itu didirikan pada 1946 oleh Roland Berrill dan Dr. Lancelot Ware. Sampai saat ini, Mensa terus aktif menjadi organisasi yang berisi orang-orang paling pintar di muka bumi, dan anggotanya telah mencapai sekitar 100.000 orang yang berasal dari seluruh dunia. Asia Carrera adalah anggota organisasi tersebut.

Untuk bisa diterima di organisasi Mensa, seseorang perlu menyelesaikan setumpuk tes atau ujian yang—bahkan baru melihatnya saja—bisa membuat sebagian orang stres mendadak. Karenanya, bahkan meski seseorang memiliki IQ sangat tinggi, tidak ada jaminan bisa masuk Mensa. Organisasi itu benar-benar sangat eksklusif, dan benar-benar memastikan anggotanya memang genius. Dalam hal ini, Asia Carrera memiliki IQ 156. Sebagai perbandingan, Einstein memiliki IQ 160. Fakta bahwa Asia Carrera bisa masuk Mensa, membuktikan dia memang genius.

Pertanyaannya, bagaimana bisa seorang wanita genius ber-IQ 156 menjadi aktris film porno?

Pertanyaan rumit itu membutuhkan jawaban sangat panjang, dan kita harus flashback ke puluhan tahun lalu, ketika Asia Carrera masih remaja....

....
....

Nama asli Asia Carrera adalah Jessica Steinhauser. Ia lahir di New York, AS. Ayahnya berasal dari Jepang, sementara ibunya berasal dari Jerman. Asia Carrera adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ia tumbuh besar di Little Silver, New Jersey, dan keluarganya dikenal sebagai keluarga berpendidikan. Ayah Asia Carrera adalah lulusan Caltech University, yang memperoleh beasiswa penuh pada bidang Matematika dan Fisika.

Latar belakang intelektual pula, yang menjadikan keluarga Asia Carrera akrab dengan hal-hal beradab. Di rumah, Asia Carrera dan adik-adiknya akrab dengan buku dan aneka majalah. Sesekali, mereka pergi menyaksikan pertunjukan musik di Carnegie Hall.

Asia Carrera bersekolah di Little Silver School District, yang lalu berlanjut ke Red Bank Regional High School. Di luar aktivitasnya bersekolah, Asia Carrera dikenalkan orang tuanya pada alat musik piano. Mereka mengundang seorang guru piano ke rumah, yang mengajari anak gadis mereka untuk bermain piano. Benar-benar khas keluarga beradab!

Ketika bersentuhan dengan piano itulah, Asia Carrera merasakan getaran di hatinya, sesuatu yang tidak pernah ia temukan di tempat lain. Saat ia meletakkan jari-jarinya ke tuts piano, dan mendentingkan nada, ia tahu sedang menyentuh sesuatu yang paling dicintainya. Kelak, Asia Carrera menyadari, tidak ada yang lebih dicintainya di muka bumi, selain saat-saat bermain piano.

Kehidupan Asia Carrera mungkin akan menyenangkan, kalau saja tidak menghadapi kekerasan orang tua. Ayah dan ibunya sangat keras mendidik anak-anak, dan tidak segan menghukum dengan cara menyakitkan. Memang benar, mereka orang-orang berpendidikan, tetapi—meminjam istilah Asia Carrera—“mereka sangat kuno” atau konservatif. Karena hal itu pula, orang tuanya pun kerap memaksakan kehendak pada anak-anaknya.

Dalam urusan sekolah, misal, Asia Carrera dan adik-adiknya harus mendapatkan nilai A. Tidak ada toleransi, dan tidak ada pengecualian. Jika Asia Carrera mendapatkan nilai B, dia akan dihukum tidak boleh keluar rumah. Itu artinya, Asia Carrera tidak bisa bertemu dan bermain dengan teman-temannya. Jika Asia Carrera mendapatkan nilai di bawah B, hukumannya bisa omelan sampai tamparan dan pukulan.

Kenyataan semacam itu telah dihadapi Asia Carrera sejak kecil. Karenanya, belakangan ia mengakui, “Orang-orang mungkin mengira aku sangat cerdas karena menyukai belajar. Tidak, aku hanya beruntung karena kebetulan lahir dengan mewarisi gen yang baik (maksudnya, ayah dan ibunya sama-sama cerdas). Selain itu, aku juga cerdas akibat tekanan orang tuaku yang sangat keras.”

Orang tua Asia Carrera menginginkan anak mereka masuk Harvard, dan kelak bisa berprofesi sebagai dokter atau pengacara. Tetapi, Asia Carrera tidak menginginkan hal itu. Ia hanya ingin bermain piano, sesuatu yang dicintainya. Dalam hal itu, Asia Carrera tidak pernah berani menyatakan isi hatinya. Bagaimana pun, ia tahu, lebih baik diam di hadapan orang tuanya, daripada harus menerima tamparan.

Jadi, ketika anak-anak lain bisa bersenang-senang bersama temannya, Asia Carrera harus duduk di ruang belajar. Ketika anak-anak lain menonton film di bioskop, Asia Carrera masih harus belajar. Ketika anak-anak lain mendatangi undangan pesta, Asia Carrera tetap belajar. Ketika anak-anak lain mulai pacaran, Asia Carrera tetap suntuk dengan aktivitas belajar.

Sebagai gadis yang tumbuh remaja, bagaimana pun Asia Carrera sangat tertekan dengan kondisi yang dihadapinya. Dia ingin seperti teman-temannya—bermain, berkumpul bersama teman, menonton film ke bioskop, atau sesekali menghadiri pesta—bukan terus menerus belajar. Tetapi, setiap kali ia mencoba mengutarakan hal itu, ayahnya hanya menjawab, “Kau akan mendapatkan semua kauinginkan, setelah kuliah di universitas terbaik!”

Kadang-kadang, didorong emosi yang meledak-ledak—seperti umumnya remaja—Asia Carrera nekat melakukan sesuatu yang juga dilakukan anak-anak sebayanya, yaitu keluar rumah diam-diam. Malam hari, ketika orang tuanya telah tidur, Asia Carrera mengendap-endap keluar rumah, untuk menemui temannya. Beberapa kali dia selamat, dan bisa menikmati kebahagiaan dengan bebas. Tapi ada kalanya orang tua mengetahui, dan dia harus menghadapi hukuman yang kejam.

“Aku sempat terpikir untuk bunuh diri, beberapa kali,” ujar Asia Carrera mengenang masa-masa itu. Dibanding anak-anak lain, Asia Carrera menyadari, dia menjalani masa kecil yang sangat tidak bahagia. Kekerasan dan kekejaman orang tua begitu menekan batinnya.

Akhirnya, saat berusia 16 tahun, Asia Carrera memutuskan sesuatu yang sangat penting. Ia kabur dari rumah!

Asia Carrera menceritakan, “(Selama waktu-waktu itu) Aku tinggal dan menetap di mana aku mendapat tumpangan. Kadang tinggal bersama pengamen jalanan, bersama teman, bersama orang asing—di hotel, atau juga di tenda.”

Untuk bertahan hidup, ia tentu harus makan. Asia Carrera menyadari, ia harus bekerja untuk mendapat uang, agar bisa makan dan bertahan hidup. Yang menjadi masalah, waktu itu usianya 16 tahun, dan tidak ada tempat di Amerika yang cukup gila untuk mempekerjakan anak perempuan berusia 16 tahun. Akibatnya, Asia Carrera kerap menjalani hari-hari tanpa uang sepeser pun, dan kebingungan bagaimana harus mengisi perut yang kelaparan.

Setelah kabur dari rumah, Asia Carrera tidak melanjutkan sekolah. Dia tentu paham, orang tuanya akan mencari ke sekolah, dan dia tidak ingin itu terjadi. Namun, ketika sangat kelaparan, Asia Carrera nekat mendatangi sekolahnya, dan diam-diam menemui beberapa teman untuk, “mengemis doritos (makanan ringan) dari mereka.”

Beberapa teman baiknya memahami yang terjadi, dan mereka pun murah hati memberikan makanan untuk Asia Carrera, serta tutup mulut jika ada guru yang menanyakan dirinya.

Meski begitu, lama-lama Asia Carrera tidak enak jika terus merepotkan teman-temannya. Dan pada masa-masa itulah, “aku terpaksa bercinta dengan orang asing—meski sebenarnya tidak menginginkan—demi bisa mendapat makanan yang layak dan tempat untuk bermalam.”

Di waktu lain, Asia Carrera juga terpaksa mengemis, demi mendapat uang untuk makan, atau mengais sampah yang bisa ia temukan. Bahkan ketika harus menghadapi kenyataan yang amat pahit semacam itu, Asia Carrera mengatakan, “Aku lebih senang melakukan hal itu (mengemis) daripada harus kembali ke rumah.”

Sampai kemudian, pemerintah setempat mengetahui keberadaan Asia Carrera yang hidup liar sendirian, tanpa pengasuh. Karena usia Asia Carrera waktu itu belum 18 tahun, pemerintah menitipkan Asia Carrera ke sebuah keluarga asuh. Mungkin, kisah ini akan sangat bagus kalau keluarga asuh yang menampung Asia Carrera begitu baik, hingga Asia Carrera betah di sana. Sayang, kenyataan sering tak seindah kisah sinetron.

“Keluarga asuhku sama seperti keluargaku sendiri,” ujar Asia Carrera menceritakan. “Mereka sangat keras, dan aku tidak pernah diperbolehkan keluar.”

Untuk kedua kali, Asia Carrera menghadapi kehidupan yang penuh tekanan. Hidup bersama keluarga asuh sama seperti mengulang hidup bersama orang tuanya sendiri. Tetapi, meski begitu, ia memilih bertahan bersama keluarga asuhnya, daripada pulang kepada keluarga kandungnya. Selama bersama keluarga asuh pula, Asia Carrera meneruskan sekolah, hingga lulus SMA.

Ketika akhirnya berusia 18 tahun, Asia Carrera kembali melakukan yang dulu pernah ia lakukan. Kabur dari rumah!

“Aku punya sedikit uang waktu itu,” kisah Asia Carrera mengenang, “tapi hanya cukup hingga musim gugur mendatang, dan itu artinya sebentar lagi.”

Sadar bahwa dirinya akan mengulang masa-masa kelaparan yang sangat mengerikan, Asia Carrera memutar otak bagaimana cara menemukan kehidupan yang lebih baik. Upayanya menemukan hasil. Ia mendaftar kuliah di Rutgers University, dan berhasil mendapatkan beasiswa penuh.

Alasan Asia Carrera mendaftar ke Rutgers University hanya karena dua hal. Pertama, universitas itu menyediakan beasiswa penuh bagi anak-anak pintar, dan Asia Carrera memenuhi “standar pintar” yang ditetapkan di sana. Kedua, kampus itu juga menjanjikan makanan hangat dan tempat tidur gratis. “Jadi, aku tidak perlu mengemis di jalanan, atau menjajakan tubuh pada orang asing demi bertahan hidup.”

Karena motivasi kuliahnya hanya untuk makan dan tidur gratis, Asia Carrera pun tidak betah kuliah di sana. Sebelum lulus, ia memutuskan untuk keluar. Setelah itu, ia bekerja di sebuah bar, sebagai pengantar minuman.

Pada waktu itu, Asia Carrera masih menggunakan nama Jessica Steinhauser, nama lahirnya. Suatu malam, pemilik bar menemuinya, dan berkata, “Jessica, kau mau mendapat seratus dolar?”

Seratus dolar pada masa itu sangat besar, dan Asia Carrera berbinar. “Apa yang harus kulakukan?”

Malam itu, seorang miliuner mengadakan pesta di bar tempat Asia Carrera bekerja. Ia mentraktir teman-temannya minum di sana, dan mereka menempati satu ruangan khusus. Wanita mana pun yang mengantarkan minum ke ruangan tersebut akan dibayar 100 dolar oleh sang miliuner, dengan syarat mengenakan pakaian minim. “Pakaian minim” versi bar berarti “hanya mengenakan bra dan celana dalam”.

Jadi, itulah yang dikatakan pemilik bar kepada Asia Carrera, “Kau hanya perlu membuka pakaianmu, antarkan minuman ini ke sana, dan dapatkan seratus dolarmu.”

Meski tugas itu terkesan ringan, Asia Carrera mengaku berdebar. Bagaimana pun, dia belum pernah melakukan hal semacam itu. Tetapi iming-iming seratus dolar begitu menggoda. Akhirnya, Asia Carrera mengambil sebotol vodka, menenggaknya, lalu melepas pakaian. Setelah itu, ia masuk ke ruangan pesta sang miliuner, dengan minuman di atas nampan.

Yang ia saksikan di sana tak pernah bisa dilupakannya, dan Asia Carrera menceritakan, “Saat memasuki ruangan pesta, aku melihat banyak sekali penari striptease yang disewa orang itu, dan mereka (para penari tersebut) mendapatkan uang seperti memunguti sampah.”

Malam itu, Asia Carrera tidak hanya mendapatkan seratus dolar sebagaimana yang dijanjikan. Ia bahkan mendapatkan 300 dolar. “Tak perlu dikatakan, aku sangat senang. Aku tidak pernah memiliki uang sebanyak itu seumur hidupku.”

Peristiwa itu bukan hanya memberi kegembiraan bagi Asia Carrera—karena bisa mendapatkan uang banyak—tapi juga membuka matanya tentang cara mendapatkan uang banyak. Sejak itu pula, Asia Carrera memutuskan untuk menjadi penari. Penghasilannya seribu dolar per minggu. “Aku masih menyimpan dolar pertama yang kuperoleh dari menari.”

Kecantikan, keindahan tubuh, dan sikapnya sebagai orang cerdas yang menawan, menjadikan Asia Carrera segera populer di kalangan para penggemar clubbing, dan dalam waktu singkat dia menjadi penari dengan bayaran paling tinggi di sana.

Suatu malam, dia terlibat percakapan menyenangkan dengan seorang pengunjung bar—seorang pria yang tampak berpendidikan.

“Kau sangat cantik,” ujar pria itu. “Kenapa kau menghabiskan hidupmu di tempat seperti ini?”

“Kau bisa mengusulkan tempat lain yang lebih baik?” sahut Asia Carrera.

Si pria menyatakan, “Di luar sana ada majalah-majalah yang membutuhkan wanita indah sepertimu, dan mereka bersedia membayar mahal kalau kau mau tampil di majalah mereka.”

Asia Carrera tertarik. Maka, suatu hari, dia pergi ke toko, dan membeli majalah pria dewasa. Ia mendapati majalah itu memuat foto-foto wanita berbusana minim yang seksi. Asia Carrera menulis surat dan mengirimkan fotonya ke alamat yang tertera di majalah, dan menawarkan dirinya untuk menjadi sampul majalah tersebut.

Tidak perlu menunggu lama, Asia Carrera sudah mendapat balasan. Pihak redaksi majalah merespons tawarannya dengan baik, dan mereka meminta Asia Carrera untuk mengikuti sesi pemotretan di New York.

Karier baru pun dimulai. Sejak itu, Asia Carrera mulai menapakkan jejaknya sebagai fotomodel majalah. Pose-posenya di majalah dimulai dari yang berpakaian sopan sampai telanjang. Asia Carrera menikmati pekerjaannya. Dan, tentu saja, uangnya.

Pekerjaan sebagai fotomodel membawa Asia Carrera berkenalan dengan Bud Lee, seorang pembuat film porno yang tinggal di Los Angeles. Karena tertarik, Asia Carrera terjun ke dunia tersebut, dan menghasilkan beberapa film porno di bawah arahan Bud Lee. (Belakangan, Asia Carrera bahkan menikah dengan Bud Lee, meski berakhir perceraian.)

Sejak masuk industri film porno itulah, dia mulai menggunakan nama Asia Carrera, dan sejak itu dia memantapkan diri untuk menjalani profesi barunya. Selepas kerjasama dengan Bud Lee, Asia Carrera masih terus menghasilkan film-film lain, hingga total film yang dibintanginya mencapai lebih 400 judul. Ia telah menorehkan sejarah di dunia film porno, dan namanya pun kukuh menjadi legenda.

Setelah bercerai dengan Bud Lee, Asia Carrera menikah lagi dengan seorang pengarang, bernama Donald Lemmon. Sejak menikah dengan Don Lemmon pula, Asia Carrera meninggalkan kariernya di dunia film porno.

Asia Carrera dan pasangannya lalu menetap di St. George, Utah, dan di sana pula Asia Carrera melahirkan anak pertama, seorang perempuan, bernama Catalina, pada 4 Maret 2005. Satu tahun kemudian, Asia Carrera mengandung anak kedua. Tepat saat usia kandungannya mencapai 8 bulan, tragedi terjadi. Don Lemmon tewas karena kecelakaan, dan Asia Carrera merasa kehilangan seseorang yang amat dicintainya.

....
....

Kini, Asia Carrera hidup bersama dua anaknya yang mulai tumbuh remaja. Selain menjalani kebersamaan dengan mereka, Asia Carrera juga melanjutkan kuliahnya yang dulu terputus. Dan di sela-sela kesibukannya, dia bermain piano, sesuatu yang sangat dicintainya dalam hidup. Sementara kecerdasannya ia manfaatkan untuk bekerja sebagai stock-analyst.

“Aku telah selesai berkarya di—kau tahu—fuck-the-world,” ujar Asia Carrera. “Aku telah menabung dan berinvestasi untuk masa depan, dan aku akan menyelesaikan studi dengan suka cita... Dan jika suatu hari nanti aku meninggal dunia, aku telah menyisihkan uang untuk membantu dan menghidupi anak-anak telantar dan korban kekerasan rumah tangga. Itulah harapan terakhirku.”

Sedikit dan Banyak

Semakin sedikit yang di atas, semakin banyak yang di bawah.

Sepertinya memang begitu.

Sabtu, 21 Oktober 2017

Tamu Tak Diundang

Memasuki waktu Indonesia bagian minum teh
dengan perasaan mbah-mbuh.
@noffret


Hari Sabtu beberapa bulan kemarin, karena banyak pekerjaan dan juga stres, saya baru tidur pukul 07.00 pagi. Ketika sedang terlelap dalam istirahat yang damai, saya terbangun karena mendengar pintu diketuk-ketuk sangat keras, dan terdengar orang memanggil-manggil, “Permisi...! Assalamualaikum...! Permisi...!”

Dengan jengkel karena istirahat terganggu, saya bangkit dari tempat tidur, dan membatin, “Siapa yang bertamu subuh-subuh begini?”

Sebenarnya, waktu itu sudah pukul 11.00 siang. Jadi, saya sudah tidur sekitar 4 jam. Dengan mata yang masih kriyep-kriyep, saya melangkah ke depan, membuka pintu rumah, dan mendapati laki-laki berusia 30-an. Dia memakai topi, memegangi setumpuk kertas, sementara di dadanya terlihat kartu nama yang dipasang vertikal, seukuran bungkus rokok.

Mendapati saya membukakan pintu, laki-laki itu berkata, “Maaf, Pak, mengganggu.”

“Ya?” saya menyahut ogah-ogahan. Badan rasanya masih ngajak tidur.

“Saya dari biro kelistrikan, Pak,” ujar laki-laki tadi. “Maaf, saya boleh masuk?”

Saya pun mengangguk, dan mempersilakannya masuk. Kami duduk di ruang tamu. Dia masih dengan topi di kepalanya, dan saya dengan mata yang masih kriyep-kriyep. Seharusnya saya membasuh muka agar lebih segar, tapi seharusnya tamu-entah-siapa ini memberitahu dulu kalau mau datang. Saya tidak biasa menerima tamu dadakan!

Laki-laki tadi mulai berbicara, tentang PLN, tentang listrik, juga tentang kenaikan tarif listrik, dan lain-lain, yang intinya soal listrik. Sepertinya dia berusaha menjelaskan maksudnya sedetail mungkin, agar saya—yang tampak belum sadar karena baru bangun tidur—benar-benar memahaminya.

Tapi saya malah tidak sabar mendengarnya bicara bertele-tele. Saya bilang kepadanya, “Langsung saja, Mas. Jelaskan saja intinya.”

Dia terlihat menarik napas, dan kembali memulai, “Begini, Pak...”

“Pertama-tama, tolong berhenti memanggil saya ‘Pak’. Anda lebih tua lima puluh tahun dari saya.”

Dia tampak bingung dan salah tingkah. “Oh, maaf...”

Untuk membuatnya agak rileks, saya bertanya, “Anda merokok, Mas?”

“Tidak, Mas.”

“Bagus. Tapi saya baru bangun tidur, dan mulut saya asem. Anda tidak keberatan saya merokok?”

“Silakan.”

Saya meraih bungkus rokok mentol di meja, dan menyulutnya. Setelah mengisapnya sesaat, saya berkata, “Lanjutkan yang tadi.”

Dia kembali bicara, kali ini tanpa bertele-tele seperti tadi. “Saya ditugaskan untuk mendatangi rumah-rumah di kawasan ini, terkait penggunaan listrik. Seperti kita tahu, tarif listrik naik akhir-akhir ini, dan banyak orang merasa keberatan, akibat kenaikan yang terjadi sangat besar. Karena itu, mulai bulan depan, kantor saya berencana memasang alat di masing-masing rumah secara serentak, yang ditujukan untuk menghemat pemakaian listrik, agar masyarakat tidak terlalu keberatan dalam membayar listrik. Dengan alat yang akan dipasang ini, tarif listrik nantinya bisa turun sampai empat puluh persen.”

Saya mulai tertarik.

Laki-laki itu kembali berbicara, “Untuk itulah, saya ke sini, menemui Anda juga masyarakat yang lain, untuk memberitahukan soal pemasangan alat tersebut. Kalau Anda ingin alat itu dipasang, agar nantinya pemakaian listrik lebih hemat, Anda bisa datang langsung ke kantor kami. Di sana Anda bisa langsung membelinya, dan nantinya petugas kami yang akan memasangkan.”

Saya bertanya, “Berapa harga alat itu, Mas?”

“Satu juta lima ratus ribu rupiah,” jawabnya.

“Kok mahal sekali?”

“Alat itu berfungsi untuk selamanya,” dia menjelaskan. “Nantinya, setelah alat tersebut dipasang, tarif listrik Anda akan turun cukup banyak, karena fungsi alat tadi menghemat pemakaian listrik. Jika sewaktu-waktu alat itu rusak atau mengalami masalah, Anda bisa datang ke kantor kami untuk diganti, dan tidak perlu bayar lagi. Jadi fungsinya seumur hidup.”

Saya mengangguk-angguk.

Dia melanjutkan, “Kalau memang Anda merasa keberatan dengan harga alat tersebut, Anda bisa mendapat keringanan dengan membawa KTP dan Kartu Keluarga ke kantor kami. Nantinya, Anda akan mendapat potongan hingga lima ratus ribu, jadi tinggal membayar satu juta rupiah.”

Kembali saya mengangguk-angguk, sambil heran. Kalau tujuannya untuk mendapat keringanan, kenapa tidak membawa surat keterangan miskin sekalian? Tapi saya diam saja, dan membiarkan dia terus ngoceh.

“Omong-omong, Mas,” ujarnya, “listrik di rumah ini ditujukan untuk apa saja, ya?”

Saya pun menjelaskan dengan apa adanya. Dia tampak menulis sesuatu di tumpukan kertas. Lalu dia bertanya berapa biaya listrik yang saya bayar setiap bulan. Lagi-lagi saya menjawab apa adanya. Dia kembali menulis sesuatu.

“Apakah pernah kena segel?” ia bertanya.

Saya menyahut bingung, “Apa itu, kena segel?”

“Anu, kena segel adalah istilah untuk orang yang menunggak pembayaran listrik, lalu PLN memutus aliran listrik sampai biaya tunggakan dilunasi.”

“Tidak pernah,” saya menjawab.

Dia mengangguk senang. Lalu kembali bertanya, “Anda asli orang sini, Mas?”

“Bukan.”

“Tapi Anda sudah lama tinggal di sini?”

“Ya.”

Kembali dia mengangguk. Setelah itu, dia kembali berceramah, “Nah, seperti yang tadi saya jelaskan, saya ditugaskan untuk menemui masyarakat sekitar daerah ini, untuk memberitahukan keberadaan alat penghemat listrik yang akan mulai dipasang bulan depan. Kebetulan, kami juga diminta memilih lima orang untuk mendapatkan alat tersebut secara gratis. Lima orang, yang akan menjadi orang-orang pertama yang menerima alat tersebut, sengaja kami pilih dari orang-orang yang tidak pernah menunggak listrik seperti Anda, juga untuk orang-orang asli daerah ini atau yang telah lama tinggal di sini.”

Saya mengangguk.

Dia melanjutkan, “Karena Anda termasuk lima orang yang terpilih, Anda tidak perlu datang ke kantor kami. Saat ini kami sudah membawa alatnya, dan bisa langsung dipasang. Seperti yang saya sebut tadi, Anda juga tidak harus membayar alat tersebut, selain hanya membayar pajaknya.”

“Berapa yang harus saya bayar?”

Dia mengambil selembar kertas terlipat, dan menunjukkan sederet angka. Saya melihat angka yang tercetak di kertas sebesar Rp249.900.

Sementara kami berbicara dari tadi, pintu rumah saya terbuka, dan saya melihat beberapa orang lain—pria juga wanita—yang tampak hilir mudik, berpenampilan sama, mendatangi rumah-rumah tetangga saya. Mereka tentu juga menawarkan hal yang sama ke orang-orang lain.

Saya berkata pada laki-laki yang ada di rumah saya, “Tadi Anda bilang untuk mengambil alat penghemat listrik di kantor. Maksudnya, di kantor PLN?”

“Kantor kami di Dxxx, Mas,” jawabnya. “Anda juga tidak perlu datang ke kantor, karena Anda masuk sebagai lima orang pertama yang bisa mendapatkan alat tersebut secara gratis, selain hanya membayar pajak.”

“Kenapa kantor Anda tidak di kantor PLN?” saya kembali bertanya. “Anda dari PLN, kan?”

“Bukan, Mas, saya dari biro kelistrikan, namun kami telah mendapat izin dari PLN.”

“Jadi, kantor Anda di Dxxx?”

Dxxx adalah kawasan bisnis modern yang kerap digunakan untuk berbagai kepentingan usaha. Ada banyak toko dan kantor di sana—permanen maupun yang sekadar mengontrak beberapa minggu atau bulan. Karena tergolong kawasan mewah, Dxxx jarang didatangi masyarakat kebanyakan. Tapi saya tahu Dxxx juga menjadi lokasi yang kerap digunakan pihak-pihak tertentu untuk melakukan bisnis tidak jelas.

Setelah tahu laki-laki tadi berkantor di Dxxx, saya menegaskan, “Jadi, Anda bukan dari PLN?”

Dia menjawab dengan sabar, “Seperti yang tadi saya bilang, saya dari biro kelistrikan kantor saya, namun kami telah mendapat izin dari PLN.”

Saya meminta izin untuk melihat kertas-kertas yang dari tadi dipeganginya. Dia menunjukkannya, dan saya lihat itu hanya kertas-kertas fotokopian biasa, yang—bahkan sekilas lihat—sudah jelas tidak penting. Ada gambar tegangan tinggi yang mirip logo PLN, dan keterangan-keterangan tidak jelas yang pembuatannya tidak bisa dibilang profesional.

Saya bilang kepadanya, “Saya menunggu pemberitahuan resmi dari PLN saja.”

Dia menyahut, “Kalau begitu, Anda nantinya harus membayar satu juta lima ratus, seperti masyarakat yang lain.”

“Tidak masalah.”

Dia masih berusaha. “Padahal ini kesempatan yang hanya ditujukan untuk lima orang, Mas. Dengan menjadi orang pertama, Anda tidak perlu datang ke kantor, tidak perlu membayar apa-apa, selain hanya membayar pajak alatnya.”

Saya menegaskan, “Biar saya menunggu pemberitahuan resmi dari PLN.”

Mungkin karena menyadari saya tidak bisa lagi dirayu, akhirnya dia berhenti berusaha, dan pamit.

Setelah tamu tadi pergi, saya menghabiskan rokok yang tinggal sedikit, dan berpikir.

Benar-benar cerdik, pikir saya membayangkan orang tadi. Dia mungkin hanya pion—pekerja yang menjalankan tugas di lapangan—yang digerakkan orang-orang di atasnya. Penjualan secara door to door semacam itu memang kerap disalahgunakan, dan modus yang tadi digunakan benar-benar cerdik.

Masyarakat, akhir-akhir ini, sedang dipusingkan masalah kenaikan biaya listrik akibat pencabutan subsidi. Kenaikan yang terjadi bisa sangat besar, dan itu telah menjadi problem sosial sejak beberapa waktu lalu. Rupanya ada orang yang melihat hal itu sebagai peluang, dan menciptakan alat entah apa, yang disebut bisa menghemat pemakaian listrik, sehingga biaya listrik dapat turun, dan bla-bla-bla. Tetapi, jika alat itu benar-benar seperti yang diklaim—yang tentu memberi manfaat besar—kenapa harus repot-repot menjual secara door to door?

Orang tadi mengatakan berkantor di Dxxx, yang biaya sewanya tentu sangat mahal. Kalau alat yang mereka jual memang bermanfaat, jauh lebih baik menyewa stan di swalayan yang didatangi banyak orang, dan memamerkan alat tersebut secara langsung, sehingga orang-orang bisa langsung melihat dan berkonsultasi. Biaya sewa di swalayan tentu setara—atau bahkan lebih murah—dibanding biaya sewa kantor di Dxxx. Kalau memang alat itu bermanfaat, seperti yang diklaim, orang-orang pasti akan tertarik membeli.

Tapi mereka justru berkantor di Dxxx, dan menawarkan barangnya secara door to door, serta “menyaru” sebagai petugas PLN. Saat pertama kali menemui laki-laki tadi, saya benar-benar yakin dia petugas PLN, meski dia tidak mengatakan hal itu. Dia berbicara tentang listrik di rumah saya, dan seketika saya mengasosiasikan dia sebagai petugas PLN. Orang-orang lain—khususnya tetangga-tetangga saya—juga pasti akan berpikir seperti itu.

Kalau ada orang asing datang ke rumahmu, dengan penampilan seperti petugas PLN, dan membawa polpen serta kertas untuk mencatat, plus kartu nama yang mencolok tergantung di dadanya, lalu dia berbicara tentang listrik di rumahmu, mau tak mau kau akan berpikir dia petugas PLN. Itu teknik halus untuk mengelabui. Kalau pun ada orang memperkarakannya, dia bisa mudah berdalih, “Saya tidak mengatakan saya petugas PLN! Kalau Anda mengira saya petugas PLN, itu urusan Anda!”

Benar, dia tidak mengatakan dirinya petugas PLN. Tapi dia berpenampilan dan bersikap seperti petugas PLN, mengatakan dirinya “dari biro kelistrikan kantor saya”, lalu membicarakan listrik di rumah kita. Orang awam, atau yang tidak berpikir panjang, kemungkinan besar akan langsung mempersepsikan dia petugas PLN.

Lalu dia menawarkan alat seharga 1,5 juta rupiah. Ketika saya bilang mahal, dia berusaha menurunkan menjadi 1 juta rupiah, dengan syarat, “Anda datang ke kantor kami, dengan membawa KTP dan Kartu Keluarga.”

Itu saja sudah janggal, kan? Apa hubungan KTP dan KK dengan penurunan harga alat penghemat listrik? Mungkin akan lebih masuk akal, kalau misal dia mengatakan, “Anda bisa mendapatkan harga lebih murah, kalau datang ke kantor kami dengan membawa surat keterangan tidak mampu dari kelurahan.”

Dan kenapa dia menegaskan “harus datang ke kantor kami”? Itu persuasi untuk menunjukkan bahwa proses mendapatkan alat yang ia tawarkan tidak mudah. Karena saya harus pergi ke kantornya untuk mendapatkan alat tersebut, sehingga saya akan berpikir itu merepotkan.

Lalu, setelah saya tampak tidak terpengaruh untuk segera memiliki alat yang ditawarkannya, dia menggunakan teknik terakhir, yaitu menyatakan bahwa saya termasuk lima orang yang dipilih untuk mendapatkan alat itu secara gratis, dan hanya membayar pajaknya. Besarnya pajak hanya Rp249.900.

Benar-benar teknik closing yang hebat, pikir saya.

Mula-mula, dia berbicara tentang kenaikan biaya listrik yang membebani. Setelah saya sepakat dengannya tentang itu, dia menawarkan solusi—alat yang menurutnya dapat menghemat pemakaian listrik hingga 40 persen. Ketika saya mulai terlihat tertarik, dia menyebutkan harganya yang mahal (1,5 juta rupiah).

Saat saya bilang harga itu mahal sekali, dia menawarkan alternatif penurunan harga, asal saya mau datang ke kantornya dengan membawa KTP dan KK. Karena saya menilai itu ribet, dan saya terlihat tak tertarik, dia menawarkan solusi yang benar-benar hebat. Dia menawari saya untuk mendapatkan alat itu secara gratis, dan akan langsung dipasang saat itu juga, dan saya hanya membayar pajak yang tak seberapa.

Dengan mata yang masih kriyep-kriyep dan kesadaran yang belum utuh karena bangun tidur, bisa jadi saya akan manggut-manggut dengan tawarannya. Siapa yang tidak senang mendapatkan alat hebat—yang dapat menurunkan biaya listrik sampai 40 persen—secara gratis, dan hanya perlu membayar pajak yang tidak terlalu besar? Dengan teknik persuasi mantap, orang tadi benar-benar meyakinkan, dan saya nyaris tergiur. Tidak menutup kemungkinan, orang-orang lain juga tergiur dengan tawaran itu.

Untung, tadi saya merokok. Meski mungkin terdengar tidak berhubungan, merokok membantu saya berpikir lebih logis. Setidaknya, rasa mentol dari rokok yang menyengat lidah saya membantu membangunkan kesadaran, meski mata masih kripyep-kriyep. Dengan kesadaran yang lebih baik, saya bisa menganalisis tawaran yang saya hadapi dengan lebih baik, dan—bisa jadi—selamat dari penipuan.

Kenyataannya, sering ada orang-orang yang datang ke lingkungan saya, berpenampilan seperti petugas dari kantor anu, lalu menjelaskan hal-hal tertentu, yang ujung-ujungnya menawarkan barang. Mula-mula, mereka memasang harga yang tinggi, lalu diturunkan sedikit, sampai akhirnya mematok harga yang relatif terjangkau. Yang jelas, ujung-ujungnya, barang yang mereka jual sebenarnya bukan barang penting, yang tentu harganya memang tidak seberapa. Itu modus yang telah sering saya temui, melalui orang-orang yang pernah datang ke tempat saya tinggal.

Laki-laki tadi—yang datang ke rumah saya—mengatakan bahwa “bulan depan akan dilakukan pemasangan alat secara serentak”, seolah-olah menegaskan itu memang kebijakan dari PLN. Kenyataannya, sampai beberapa bulan hingga sekarang, tidak ada pemberitahuan pemasangan alat apa pun dari PLN.

Dan selama kami bercakap-cakap, bahkan sampai lama, dia sama sekali tidak menunjukkan alatnya, atau gambar alatnya, atau ilustrasi alatnya. Kalau alat yang dia tawarkan memang bagus, mestinya dia akan langsung menunjukkan, biar saya bisa melihat, bisa meraba, sehingga lebih mungkin untuk tertarik.

Yang saya kasihani dari hal semacam ini adalah orang-orang awam yang mudah dikelabui dengan teknik persuasi meyakinkan seperti tadi. Hanya karena mengira orang yang datang adalah petugas PLN, mereka pun merasa mau tak mau harus menerima tawaran yang diberikan, lalu memasang alat entah apa di rumahnya, dan terpaksa membayar mahal untuk sesuatu yang sebenarnya tidak jelas.

Dunia, akhir-akhir ini, sepertinya memang makin tidak jelas.

Mengejar Bayang-bayang

Ada yang pulang hari ini, ada yang datang tadi pagi.
Mungkin, akan ada yang tinggal malam nanti.
—Twitter, 6 September 2016

Yang ingin diingat kadang terlupa, yang ingin dilupakan kadang terus
terkenang. Mengejar bayang-bayang memang sungguh melelahkan.
—Twitter, 5 September 2016

Ada yang perlu diingat, ada yang perlu dilupa. Meski kita sering kesulitan
membedakan dan memisahkan keduanya. Seperti ingatan terlupa.
—Twitter, 5 September 2016

Ada yang perlu disentuh, ada yang cukup dipandangi dari jauh. Tidak
semua hal harus didekati untuk dikenali. Yang jauh kadang lebih utuh.
—Twitter, 5 September 2016

Ada yang perlu dimiliki, ada yang cukup dikagumi. Jika kita
melanggar hukum tak terlihat ini, luka dan lara dimulai.
—Twitter, 5 September 2016


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Kinaryosih adalah Mbakyu

Barusan nonton Mendadak Dangdut untuk kesekian kali.
Jadi cekikikan sendiri. Titi Kamaaaaaaaaal, Titi Kamal.
—Twitter, 16 Maret 2016

Menyaksikan Titi Kamal menyanyi dangdut adalah peristiwa
yang hanya terjadi 7000 tahun sekali. Thank you, Rudi Soedjarwo.
—Twitter, 16 Maret 2016

Sejauh ini, film Indonesia kontemporer yang membuatku terkesan
cuma Mendadak Dangdut. Dan Kinaryosih adalah mbakyu.
—Twitter, 17 Agustus 2016


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Kamis, 19 Oktober 2017

Anies Baswedan dan Soal Pribumi

Karena, pada akhirnya, mau tak mau, bagaimana pun caranya,
orang harus berhadapan dengan dirinya sendiri.
@noffret


Menulis catatan ini membuat saya merasa latah. Tapi bagaimana lagi? Otak saya gatal, dan saya butuh muncrat... dalam wujud kata-kata. Jadi, saya terpaksa menulis catatan ini. Kalau ada yang baca ya silakan, kalau tidak ada ya tidak apa-apa. Lagian tidak penting-penting amat.

Well, ribut-ribut soal pribumi yang berawal dari pidato Anies Baswedan kemarin, bisa dibilang lucu yang ironis. Setidaknya, menurut saya begitu. Lucu, karena reaksi yang timbul akibat satu kata bisa sedemikian besar dan sebegitu heboh, bahkan belakangan saya dengar Anies Baswedan sampai dilaporkan ke polisi gara-gara menyebut kata pribumi. Sumpah, bagi saya itu lucu.

Tapi juga ironis... karena, dalam hal ini, saya membayangkan Anies Baswedan—dan para pendukungnya yang sadar—mungkin agak bingung bagaimana menghadapi masalah yang “lucu” ini.

Ketika Anies Baswedan diributkan banyak orang hanya karena menyebut kata pribumi dalam pidatonya, keributan itu sebenarnya berlebihan. Wong isi pidato itu berlembar-lembar, dan di dalamnya hanya ada satu kata pribumi. Lebih dari itu, Anies Baswedan menyebut atau menggunakan kata pribumi tidak dalam maksud rasis, melainkan meletakkannya pada konteks zaman penjajahan.

Jadi, menurut pendukung Anies Baswedan, meributkan satu kata “pribumi” dari berlembar-lembar teks pidato sama artinya mencabut kata itu dari konteks. Jelas tidak adil. Anies Baswedan ngomong sampai berbusa-busa, lalu kita hanya menarik satu kata dari omongannya, kemudian meributkan sembari menyalah-nyalahkannya. Sangat tidak adil, dan tidak berpendidikan!

Saya setuju. Oh, well, sangat setuju.

Tetapi... bukankah hal itu pula yang terjadi pada Ahok, sekian waktu yang lalu?

Kalau-kalau kalian amnesia, mari saya ingatkan. Ahok ngomong panjang lebar, beramah-tamah dengan warga, membahas program-programnya sebagai pemimpin Jakarta, dan kebetulan dalam omongan yang panjang lebar itu terselip kata “Al-Maidah”. Dalam omongan Ahok, sebenarnya, kata Al-Maidah bukan hal substansial, karena substansi omongan Ahok waktu itu adalah program yang ia sampaikan pada warga.

Tapi apa yang terjadi kemudian? Kata “Al-Maidah” dicabut dari omongan Ahok yang panjang lebar, lalu dihakimi habis-habisan, tanpa peduli bahwa itu keluar konteks. Buntutnya bahkan sangat panjang. Muncul demo berjilid-jilid, sampai Buni Yani—yang dianggap biang kerok—harus berhadapan dengan pengadilan, sementara Ahok masuk penjara.

Lucu? Ironis? Mungkin.

Dan hal itulah yang sekarang saya lihat pada ribut-ribut “pribumi” yang diomongkan Anies Baswedan. Bedanya, tentu saja, Anies Baswedan hanya dihujani kritik, tanpa ada demo berjilid-jilid, dan—insya Allah—dia juga tidak masuk penjara.

Yang ingin saya tahu, apakah Anies Baswedan menyadari bahwa yang sekarang menimpanya adalah semacam karma—“hukuman setimpal atau serupa”? Atau, mari kita gunakan istilah yang lebih islami. Teguran. Apakah Anies Baswedan menyadari bahwa ribut-ribut-soal-pribumi semacam teguran untuknya?

Sampai detik ini, saya tetap tidak percaya Ahok menista agama. Kalian boleh beda pendapat, dan itu hak kalian. Ini negara demokrasi, dan berbeda pikiran adalah hal biasa, jadi tidak usah ribut!

Saya ulangi. Sampai detik ini, saya tetap tidak percaya Ahok menista agama. Alasannya sederhana, dan masuk akal. Pertama, karena saya menyaksikan pidato atau ocehan Ahok seutuhnya, dan saya tahu betul di mana konteks kata Al-Maidah yang disebut Ahok. Meski menontonnya berulang-ulang, saya tetap yakin bahwa Ahok tidak beritikad buruk atau bermaksud menista agama.

Kedua, jika kita memang ingin menilai Ahok secara minor, jauh lebih masuk akal untuk percaya bahwa Ahok hanya “keselip lidah”, daripada “menista agama”. Ingat, Ahok sadar dirinya minoritas, dan berharap tetap dipilih sebagai pemimpin. Dalam posisi semacam itu, mungkinkah dia akan menista agama mayoritas, yang ia harapkan menjadi pendukungnya?

Dua latar belakang itu saja, bagi saya, mementahkan tuduhan Ahok menista agama. Karenanya, saya begitu yakin bahwa Ahok sebenarnya tidak bersalah. Bahkan meski sekarang dia mendekam di penjara.

Yang ingin saya tahu... apakah Anies Baswedan juga menyadari kenyataan itu? Tentu saja ini pertanyaan sejuta dolar yang tak mungkin terjawab.

Tetapi saya yakin, masing-masing kita—setidaknya yang cukup waras—masih memiliki akal sehat, dan nurani untuk menyadari mana yang benar dan mana yang salah. Meski definisi benar dan salah kadang bisa berbeda versi.

Well, lupakan soal itu. Kita kembali saja pada soal pribumi yang diributkan.

Seperti yang dibilang tadi, istilah pribumi yang disebut Anies Baswedan sebenarnya tidak penting-penting amat, toh nyatanya ada tokoh atau pejabat lain yang juga menyebut-nyebut kata yang sama dalam ucapan atau pidato mereka. Lebih dari itu, Anies Baswedan juga sudah menjelaskan, bahwa kata pribumi yang ia sebut dalam pidato terkait konteks zaman penjajahan.

Jadi, bagi saya, masalah itu sudah selesai.

Tetapi, yang menarik di sini, masih banyak orang yang menganggap masalah itu belum selesai. Karenanya, seperti yang dibilang tadi, persoalan ini lucu sekaligus ironis. Lucu, karena sesuatu yang sebenarnya tidak penting-penting amat, terus dipersoalkan dan dibahas seolah sesuatu yang amat sangat penting. Dan ironis... karena ya itu tadi, saya teringat Ahok!

Sekarang, mari kita berpikir secara akademis.

Terkait istilah pribumi yang disebut Anies Baswedan dalam pidatonya, mungkinkah dia memang sengaja mengagungkan ras pribumi? Asumsikan saja bahwa yang disebut “pribumi” adalah orang-orang yang memiliki akar di Nusantara, semisal orang Jawa, orang Sumatra, orang Maluku, dan semacamnya. Dalam konteks itu, apakah Anies Baswedan termasuk pribumi?

Ingat, dia orang Arab, yang tentu tidak termasuk “pribumi” dalam konteks yang tadi kita asumsikan. Jadi, dalam hal ini, tidak mungkin kalau Anies Baswedan bermaksud mengagungkan suatu ras sambil merendahkan atau mengesampingkan ras lain. Karenanya, saya percaya pada penjelasan Anies Baswedan, bahwa istilah itu muncul dalam pidatonya, semata-mata terkait konteks zaman penjajahan. Anies Baswedan tidak bermaksud rasis.

Tapi orang-orang tidak peduli, eh? Meski sudah dijelaskan dengan gamblang, meski teks-teks pidatonya sudah disebar agar siapa pun bisa membaca dan tidak salah paham, orang-orang masih ribut... dan terus ribut. Belakangan, saya bahkan membaca berita di Media Indonesia, bahwa Anies Baswedan terancam pidana gara-gara ucapannya.

Oh, well, apakah kalian teringat sesuatu?

 
;