Kamis, 25 Mei 2017

Filsafat Sego Megono

Keadilan dalam hidup ini sederhana.
Kau memilih hidupmu tanpa merugikan orang lain, dan
tidak memaksakan pilihan hidupmu kepada orang lain.
@noffret


Kalau kalian ke Pekalongan, jangan lupa menikmati sego megono. Kalau-kalau ada yang belum tahu, sego megono bukan nama pendekar seperti Suro Menggolo. Sego megono adalah sebutan orang Pekalongan terhadap nasi megono. Dalam bahasa Jawa, nasi disebut sego. Dan apa itu megono? Megono adalah bumbu yang digunakan sebagai pelengkap untuk makan nasi putih.

Megono dibuat dari nangka muda yang dicacah sampai menjadi serpihan-serpihan kecil, lalu dimasak dan diolah, plus dicampur bumbu-bumbu tertentu, hingga jadilah megono. Fungsi sejati megono adalah menyedapkan nasi yang kita makan.

Bagi sebagian masyarakat Pekalongan, menikmati sego megono adalah hal terbaik untuk memulai hari baru. Karenanya, waktu sarapan pagi, banyak dari mereka membeli sego megono, dan dimakan dengan tempe goreng yang masih panas. Hanya nasi megono dan gorengan tempe panas saja, nikmatnya luar biasa. Setelah itu, ditutup dengan minum teh hangat. Benar-benar pagi yang sempurna!

Dulu, waktu masih tinggal bersama orang tua, saya juga sering sarapan dengan menu seperti itu, karena kebetulan di dekat rumah kami ada warung penjual nasi megono yang sangat enak. Hanya nasi megono, dimakan dengan tempe goreng panas.

Meski mungkin terdengar sederhana, rasanya memang sangat enak. Yang aneh, jika megononya dihilangkan, dan tinggal nasi sama tempe goreng saja, saya tidak mau makan! Soalnya tidak enak! Jadi, meski sifatnya hanya sebagai bumbu, megono memiliki peran penting dalam menjadikan aktivitas makan lebih nikmat.

Orang Pekalongan sering mengidentikkan megono dengan sifat “sedap”. Sepertinya memang itulah fungsi megono, menyedapkan nasi yang kita makan. Nasi putih, kan, rasanya hambar. Kalau cuma dimakan dengan tempe goreng, rasanya tetap hambar. Tapi dengan diberi megono, nasi putih yang semula hambar terasa lebih enak. Atau lebih sedap. Dan makan pun terasa lebih nikmat.

Sebegitu erat masyarakat Pekalongan dengan megono, nyaris semua warung atau rumah makan di Pekalongan dan sekitar (khususnya yang dimiliki orang Pekalongan) pasti menyediakan megono.

Di warung atau rumah makan, sajian sego megono tidak sesederhana yang saya ceritakan di atas (cuma sego megono dan tempe goreng). Di warung gulai, misalnya, kita bisa menikmati nasi gulai dengan tambahan megono. Begitu pula saat menikmati makan di warung atau rumah makan yang menyediakan aneka masakan, megono selalu bisa ditambahkan. Mau makan dengan apa pun, kita selalu bisa menambahkan megono ke dalamnya. Makan dengan sayur lodeh, misal, rasanya lebih nikmat jika ditambah megono.

Megono, dalam bayangan saya, adalah karunia alam semesta.

Meski dibuat dari bahan yang sama—cacahan nangka muda—megono bisa memiliki cita rasa berbeda. Hal itu dilatari cara mengolah dan aneka bumbu yang digunakan dalam membuat megono, yang bisa jadi berbeda-beda. Karenanya, meski sama-sama sego megono, cita rasa yang kita nikmati bisa berbeda. Yang unik, cita rasa megono yang mungkin nikmat bagi satu orang, belum tentu nikmat pula bagi orang lain. Meski banyak pula megono yang sama-sama disepakati sebagai megono yang enak.

Misalnya begini. Warung makan A menyediakan nasi megono. Bagi saya, mungkin megono di warung A sangat sedap. Tetapi, jika saya mengajak kawan ke warung A, belum tentu dia akan sepakat. Bisa jadi, bagi teman saya, megono di warung A biasa saja. Karena dia mungkin telah memiliki warung makan favorit yang menyediakan megono yang lebih sesuai selera lidahnya.

Atau sebaliknya. Teman saya memuji-muji megono di suatu warung makan yang dikunjunginya, lalu mengajak saya untuk ikut mencoba. Tetapi, ternyata, bagi lidah saya, megono di warung itu biasa-biasa saja. Jadi, meski sama-sama megono, dan meski sama-sama dihasilkan dari bahan yang sama, cita rasa yang dihasilkan bisa berbeda, dan menghasilkan penyuka yang berbeda.

Meski tidak selamanya juga begitu.

Kadang-kadang, ada megono yang memiliki cita rasa tertentu yang kebetulan disukai banyak orang. Saya suka, teman-teman saya suka, dan kebanyakan orang lain juga suka. Megono jenis ini biasanya dibuat dengan cita rasa yang sedap namun “moderat”, sehingga dapat sesuai dengan lidah siapa pun. Terkait hal ini, salah satu megono favorit saya adalah megono di rumah makan Mbak Yanna.

Rumah makan Mbak Yanna ada di Jalan Jenderal Soetoyo, di daerah perbatasan antara Pekalongan dan Batang. Omong-omong, Batang adalah kampung halaman Goenawan Mohamad. Iya, Goenawan Mohamad yang itu.

Jika kita dari arah Pekalongan kota, lalu masuk wilayah Setono, dan teruuuuuus mengikuti jalan yang ada di sana, nanti tembus Batang. Itu merupakan jalur alternatif menuju Batang, selain melalui jalan besar. Nah, di antara perbatasan Pekalongan dan Batang tersebut ada jalan yang dinamai Jalan Jenderal Soetoyo, dan di jalan itulah rumah makan Mbak Yanna berada. Karena di wilayah itu masih banyak sawah, rumah makan Mbak Yanna pun berhadapan dengan persawahan.

Kalau pas lewat sana, biasanya saya mampir makan di sana. Nasinya sesuai kualifikasi saya—ditanak dengan baik, dengan butir-butir nasi yang tidak menggumpal, dan tidak lengket. Sementara masakan di sana juga pas dengan lidah saya. Menu masakan yang disajikan di sana menu tradisional, termasuk sayur lodeh, sayur bening, masakan cumi, opor ayam, udang, olahan ikan, dan lain-lain semacamnya, termasuk megono.

Semua masakan yang disajikan sangat enak. Termasuk megononya, benar-benar mampu menyedapkan makanan. Nah, megono di rumah makan Mbak Yanna tampaknya juga disukai banyak teman saya, yang sama-sama sepakat kalau megono di rumah makan tersebut memang enak. Memilih menu masakan apa pun, rasanya lebih sedap dan lebih maknyus, jika ditambah megono.

Megono, dalam perspektif saya, adalah cara masing-masing kita dalam menatap kehidupan. Kita hidup dari olahan yang sama, tak jauh beda dengan megono. Sama-sama berasal dari cacahan nangka muda, megono bisa menghasilkan cita rasa yang berbeda, tergantung bagaimana mengolah dan menggunakan bumbu olahannya, dan masing-masing cita rasa megono memiliki penyuka sendiri-sendiri. Satu cita rasa megono yang enak bagi saya, belum tentu enak pula bagi yang lain. Begitu pula sebaliknya.

Hidup dan kehidupan kita tidak jauh beda dengan itu. Masing-masing orang dibekali fisik yang sama, otak yang sama, pikiran yang sama, bahkan hati yang sama. Namun, bumbu kehidupan kita bisa berbeda. Bumbu kehidupan kita adalah latar belakang, pengalaman, pergaulan, pendidikan, dan lain-lain, yang semuanya “mengolah” diri kita sedemikian rupa, hingga masing-masing kita mewujud dengan “cita rasa” berbeda.

“Cita rasa” pada manusia adalah kepribadian, cara berpikir, sampai bagaimana memandang dan menjatuhkan pilihan-pilihan dalam hidup. Dan seperti megono, yang enak bagi satu orang, belum tentu enak pula bagi orang lain. Karena masing-masing memiliki “bumbu olahan” atau pengalaman dan latar belakang berbeda, yang lalu menghasilkan kepribadian dan cara memandang hidup yang juga berbeda.

Selama ini, misalnya, kita sering mendeskripsikan atau mengidentikkan “kesuksesan” dengan kekayaan, popularitas, pangkat dan jabatan, serta hal-hal fisikal dan artifisial serupa. Artinya, kita baru menganggap seseorang sukses jika telah kaya-raya, atau menjadi tokoh terkenal, atau memiliki pangkat dan jabatan tinggi. Padahal, makna hakiki kesuksesan tidak sesempit itu. Karena kesuksesan, seperti megono, tergantung orang per orang yang “merasakan”. Yang enak bagimu, belum tentu enak bagi saya.

Memang ada—dan mungkin banyak—orang yang menganggap kekayaan atau kemewahan sebagai simbol kesuksesan. Artinya, kalau kau kaya dan menjalani hidup mewah, kau layak disebut sukses. Apalagi jika kau kaya, mewah, sekaligus terkenal. Bahkan calon mertuamu pun akan sepakat kalau kau memang sukses. Tetapi, jangan lupa, ada orang-orang yang mendefinisikan sukses tidak sebatas itu.

Ada orang-orang yang justru mencintai kehidupan sederhana, yang menilai kesuksesan pribadi tidak dengan skala kekayaan, tapi dengan skala kecukupan. Tidak menilai kesuksesan dengan kemewahan, tapi dengan kedamaian. Tidak menilai kesuksesan dari popularitas, tapi dari kemampuan menjalani hidup dengan cara yang ia pilih.

Definisi sukses orang per orang bisa berbeda, karena masing-masing orang menjalani kehidupan serta pengalaman berbeda, sehingga kita juga tidak bisa memaksakan suatu definisi sukses secara kaku.

Mungkin kita menganggap kemewahan adalah simbol kesuksesan. Mengapa? Mungkin karena kita menyukai hal-hal mewah, dan membayangkan keglamoran adalah kebahagiaan. Tapi apakah semua orang pasti seperti itu? Belum tentu! Orang yang menyukai hidup sederhana justru tidak nyaman jika dipaksa menjalani kehidupan mewah dan glamor.

Selama ini, misalnya, kita sering mendengar orang mengatakan, “Dia sudah sukses sekarang. Sudah jadi artis!” Atau varian kalimat semacam, yang semuanya mengarahkan pikiran kita untuk memahami bahwa “menjadi artis” adalah simbol bahkan bukti paling nyata kesuksesan.

Kalau kau ibu rumah tangga, dan menjadi artis, orang-orang akan menganggapmu sukses. Kalau kau supir bajaj, dan menjadi artis, orang-orang akan menganggapmu sukses. Kalau kau pedagang kaki lima, dan menjadi artis, orang-orang akan menganggapmu sukses. Pendeknya, kalau kau semula orang biasa, lalu menjadi artis, orang-orang akan menilaimu sukses.

Saya pikir, itu definisi sukses yang salah kaprah, bahkan sebentuk pemaksaan terhadap definisi kesuksesan. Jika menjadi artis adalah ukuran untuk menilai seseorang sukses atau tidak, sampai mati pun saya tidak akan sukses! Karena memang tidak ingin jadi artis! Ini kan kacau. Sistem nilai dan definisi sukses, jelas tidak seperti itu. Pasti ada sistem nilai yang lebih adil.

Dalam definisi saya, sukses mirip sego megono. Kita sama-sama makan nasi putih, dan itulah kehidupan kita. Sementara megono adalah bumbu yang menambah cita rasa nasi putih yang kita makan, dan itulah sebenarnya kesuksesan. Jadi, kesuksesan hanya “bumbu penambah cita rasa”, dalam hal ini “kepuasan dalam menjalani hidup”. Sebagaimana megono, masing-masing orang bisa berbeda dalam selera. Megono yang enak bagi saya, belum tentu enak bagi orang lain. Pun sebaliknya.

Ada orang yang menilai kemewahan sebagai simbol kesuksesan, silakan. Tetapi, marilah kita menyadari bahwa tidak semua orang harus seperti itu. Ada guru-guru yang bekerja penuh pengabdian, dan mereka menilai kesuksesan pribadi tidak dengan kemewahan apalagi keglamoran, melainkan dengan banyaknya anak didik yang mereka antarkan menjadi orang-orang yang lebih pintar.

Saat menyaksikan murid-murid lulus sekolah, guru-guru itu menatap penuh kebahagiaan, dan merasakan diri mereka telah menjadi guru yang sukses, manusia yang sukses. Mungkin mereka jauh dari kemewahan, dan menjalani hidup dalam kesederhanaan, tapi mereka merasa sukses, dan mereka tentu berhak untuk itu. Dengan kata lain, kesuksesan tidak sesempit yang mungkin kita pikirkan.

Begitu pula, ada orang yang menganggap popularitas atau menjadi artis sebagai simbol kesuksesan, juga silakan. Tetapi jangan paksakan sistem nilai yang sama kepada setiap orang. Karena orang yang mencintai kesunyian dan menjauhi ingar-bingar, justru tidak menginginkan popularitas, apalagi berharap menjadi artis. Ada orang yang senang menjadi pusat perhatian, pun ada yang senang menikmati hening di kesunyian.

Karenanya, definisi sejati kesuksesan sebenarnya bukan hal-hal yang dianggap orang lain terhadap diri kita, melainkan hal-hal yang membuat kita puas menatap kehidupan. Kesuksesan hakiki bukan semata benda-benda yang terlihat di luar diri kita, melainkan kepuasan batin yang ada di dalam diri kita. Karena, apa artinya menjadi artis, terkenal, dan kaya-raya, tapi batin gersang dan hidup jauh dari kedamaian?

Menjadi diri sendiri, menjalani kehidupan sesuai yang kita pilih, menikmati waktu dengan hal-hal yang kita cintai, itulah kesuksesan sejati. Karena sifatnya sangat relatif, maka setiap orang bisa memiliki cara berbeda dalam menjalani kehidupan, dan begitu pula cara orang mendefinisikan kesuksesan. Sebab megono—bumbu kehidupan—memang enak dan sedap, tapi setiap orang memiliki selera berbeda.

Kegemesan Bocah

Mbakyuuuuuuuuuu, mbakyu!

Kamu ituuuuuuuuuuh... sukanya menggodakuuuuuuuh!

....
....

Gemesssh.

Urusan Hidup

Hidup adalah urusan mempertemukan, persoalan mempertemukan, lalu mempertemukan lagi, dan terus mempertemukan.

Sabtu, 20 Mei 2017

Andai Saya Terlibat Kasus Chat Sex

Chat sex dengan pacar bukan kejahatan dan
tidak merugikan orang lain. Asal kau belum punya istri,
dan asal kau tidak sok alim atau sok suci.

Andai aku yang ketahuan chat sex, dan benar-
benar melakukannya, aku akan mengakui. Apa salahnya?
Bodo amat, wong paling chat sex ini!
@noffret 


Jika suatu hari—entah bagaimana asal usulnya—muncul berita di internet bahwa saya melakukan chat sex dengan seorang wanita, dan screenshot chat itu tampil sebagai bukti yang tak terbantah—dalam arti saya memang benar melakukan chat sex tersebut—lalu saya dipanggil polisi terkait beredarnya chat sex itu... apa yang akan saya lakukan?

Saya tidak perlu berpikir panjang untuk menjawab. Saya akan langsung mengakui!

Saya akan jujur mengakui, bahwa itu memang chat sex saya dengan seseorang. Wong paling chat sex saja, apa salahnya? No problem.

Kenapa saya bisa menganggap kasus bocornya chat sex sebagai “no problem”? Karena saya pikir itu memang bukan masalah!

Chat sex—sebagaimana aktivitas chatting umumnya—bukan kejahatan, dalam arti bukan pencurian apalagi perampokan, bukan pembunuhan atau perkosaan, pendeknya bukan sesuatu yang merugikan orang lain. Oh, well, saya melakukan chatting dengan pacar, dan dalam chatting itu terselip percakapan yang intim, apa salahnya? Wong paling chat sex ini!

Orang tidak bisa menyalahkan saya, hanya karena melakukan chatting dengan pacar, terlepas seintim apa pun isi chat kami! Wong kami sama-sama dewasa, dan kami pun melakukannya sebagai bagian keintiman kami berdua. Sekali lagi, di mana salahnya? Kalau kau saling rayu dengan pasanganmu, seintim apa pun rayu-rayuan kalian, saya tidak akan menyalahkan! Wong itu urusan pribadi kalian!

Jadi, sekali lagi, jika benar saya melakukan chat sex dengan seorang wanita, lalu isi chat sex itu beredar di internet dalam bentuk screenshot, dan saya dipanggil polisi untuk mempertanggungjawabkan hal itu, saya akan datang.

Persetan, saya akan datang! Wong paling urusan chat sex saja, kok bingung!

Kepada polisi yang memeriksa, saya akan berkata, “Mari kita persingkat saja, Pak Polisi, biar tidak buang-buang waktu. Saya tahu, Anda punya banyak urusan, dan saya juga sangat sibuk. Jadi, saya akan langsung saja mengakui, bahwa chat sex yang beredar itu memang benar saya yang melakukan. Saya melakukan chat sex itu dengan pacar, dan, Anda tahu, kami sudah sama-sama dewasa. So, ada masalah?”

Jika polisi—atau siapa pun—menyalahkan saya karena melakukan chat sex dengan pacar, terus terang saya akan tertawa.

Ini negara demokrasi. Orang bebas melakukan apa pun, asal tidak merugikan orang lain, termasuk tidak merugikan kucing, anjing, kerbau, ayam, kuda nil, genderuwo, atau kuntilanak! Saya dan pacar melakukan chat sex sebagai bentuk keintiman pribadi, dan kami sama-sama dewasa, dan melakukannya dengan kesadaran, dan tidak ada pihak lain yang dirugikan. Kalau itu dipermasalahkan, demokrasi macam apa yang kita junjung tinggi?

Mungkin polisi yang memeriksa akan mengatakan, “Sebenarnya, yang kami persoalkan—sehingga memanggil Anda ke sini—bukan chat sex yang Anda lakukan bersama pacar. Yang kami persoalkan adalah beredarnya rekaman atau transkrip chat sex Anda tersebut, sehingga meresahkan masyarakat.”

Jika menghadapi pernyataan seperti itu, saya akan menjawab, “Kalau begitu, Anda salah sasaran. Saya memang melakukan chat sex dengan pacar, tapi kami tidak pernah membocorkannya ke publik, apalagi sampai menyebarkannya di internet. Itu percakapan pribadi kami. Anda pikir kami gila, sampai menyebarkan percakapan pribadi yang memalukan semacam itu hingga masyarakat tahu? Ingat, kami sudah sama-sama dewasa, dan kami tentu memahami untuk menjaga privasi. Percakapan dalam chat sex itu termasuk area privasi kami, yang tentu akan kami jaga setengah mati. Kalau sekarang chat sex itu beredar hingga—menggunakan istilah Anda—meresahkan masyarakat, mestinya yang Anda buru adalah pihak yang membocorkan dan mengedarkan.”

Percakapan itu bisa saja berlanjut dan terus berlanjut. Pihak polisi yang memeriksa bisa saja bertanya banyak hal—terkait chat sex yang beredar—tapi yang jelas saya tidak akan terlalu pusing. Wong paling melakukan chat sex dengan pacar, apa salahnya?

Kenapa saya bisa menghadapi kasus chat sex itu dengan mudah, bahkan tanpa harus pusing? Latar belakangnya sederhana; karena saya selalu berusaha jujur menyatakan diri apa adanya!

Di blog, misalnya, saya mengatakan dengan jujur bahwa saya seorang perokok. Jadi, kalau sewaktu-waktu ada orang mendapati saya merokok, ya tidak masalah, karena saya memang perokok! Masih di blog, saya juga mengakui kadang menonton bokep. Kalau sewaktu-waktu saya kepergok nonton bokep, ya tidak masalah, karena nyatanya saya memang kadang nonton bokep. No problem.

Merokok, chat sex, juga nonton bokep, sebenarnya hal-hal biasa. Dalam arti, aktivitas-aktivitas semacam itu juga dilakukan banyak orang lain di sekeliling atau di sekitar kita. Akui sajalah, kita juga kadang-kadang melakukannya. Dan tidak perlu malu, karena kita memang manusia biasa. Yang kadang melakukan hal-hal baik, tapi juga kadang melakukan hal-hal “buruk”. Salah satunya melakukan chat sex dengan pacar. Tidak apa-apa. Itu manusiawi.

Yang menjadi masalah, kadang ada orang-orang sok suci yang menganggap diri mereka paling bersih, suci, mulia, tanpa dosa, bla-bla-bla, lalu ketahuan ternyata sama “mbeler” kayak kita-kita. Lhaaaah!

Meributkan rokok, menganggap rokok sumber penyakit, menuduh para perokok sebagai orang-orang tak bermoral, lalu—umpamakan saja—suatu hari dia ketahuan nyabu. Itu kan bangsat! Memaki-maki perokok seolah dirinya paling bener, belakangan malah ketahuan nyabu.

Atau, ada orang yang sok alim, suka meributkan orang pacaran, karena menurutnya pacaran adalah dosa dan bla-bla-bla, lalu—umpamakan saja—suatu hari dia ketahuan selingkuh. Itu juga bangsat! Meributkan orang pacaran seolah dia paling alim, belakangan malah ketahuan selingkuh.

Sama saja, ada orang meributkan bokep, menganggap penonton bokep sebagai “orang-orang munkar”, lalu—umpamakan saja—suatu hari dia ketahuan chat sex dengan wanita, dan meminta si wanita untuk mengirim foto telanjang. Itu piye, coba? Menuduh penonton bokep sebagai orang-orang rusak, tapi dia justru meminta wanita baik-baik untuk mengirimkan foto telanjangnya!

Orang-orang semacam itulah yang biasanya menghadapi masalah ketika “ketahuan belangnya”. Yaitu orang-orang yang berusaha mati-matian mengesankan diri mereka baik, benar, alim, bahkan suci—dan menganggap orang-orang yang tak seperti mereka salah dan berdosa—tapi belakangan terungkap kalau mereka ternyata sama seperti orang-orang lain. Yang juga bersalah dan berdosa.

Jadi, saya pikir, cara terbaik menjalani hidup bukan dengan cara mengesankan diri sebagai orang terbaik yang tidak mungkin melakukan kesalahan. Tapi berusaha menjalani kehidupan dengan baik, semampu yang kita bisa, dan tidak usah sibuk menyalah-nyalahkan orang lain. Karena, sebagaimana kita, orang lain juga manusia biasa. Mereka bisa salah, sebagaimana juga kita.

Cara paling mulia menjalani hidup juga bukan dengan cara mengesankan diri kita orang mulia yang tak mungkin jatuh dalam cela. Tapi berusaha menjalani kehidupan dengan cara mulia, semampu yang kita bisa, dan tidak usah sibuk merendah-rendahkan orang lain. Karena, sebagaimana kita, orang lain juga manusia biasa. Mereka bisa khilaf, sebagaimana juga kita.

Dan cara terpuji menjalani hidup bukan dengan cara mengesankan diri kita paling alim serta paling suci, yang tak mungkin berbuat dosa. Tapi berusaha menjalani kehidupan dengan terpuji, semampu yang kita bisa, dan tidak usah sibuk mengkafir-kafirkan orang lain. Karena mengadili manusia adalah tugas Tuhan, dan kita tidak perlu sok kuasa menggantikan peran Tuhan.

Jika kita bisa menjalani kehidupan dengan cara bersahaja—menyadari bahwa kita manusia biasa, yang bisa salah dan alpa—kita tidak akan panik apalagi sampai ketakutan, kalau sewaktu-waktu ketahuan melakukan kekhilafan atau kesalahan tertentu yang manusiawi. Bahkan, ketika kita ketahuan melakukan kesalahan atau kekhilafan, kita bisa berbesar hati mengatakan, “Terima kasih sudah mengingatkan. Aku memang kadang khilaf, seperti umumnya orang.” Sudah, tidak ada beban apa-apa.

Jadi, berhentilah bersikap seolah paling benar sendiri, paling alim atau paling suci sendiri, lalu sibuk menyalah-nyalahkan bahkan mengkafir-kafirkan orang lain. Karena bukan itu tugas manusia.

Tugas manusia adalah menjalani hidup sebaik dan semulia, semampu yang kita bisa, dan berusaha membenahi kekurangan yang kita miliki, atau kesalahan yang mungkin kita lakukan. Karena berbuat salah itu manusiawi. Tapi menganggap diri paling alim dan paling suci... oh, well, itu lebay!

Pemberian Terbaik

Ada banyak pencuri, salah satunya pencuri senyuman dari bibir kita. Dan di antara kehilangan yang perlu disadari adalah kehilangan senyum.

Hidup masih baik-baik saja, dan tak perlu khawatir, selama kita masih memiliki senyum di bibir. Untuk diri sendiri, juga untuk orang lain.

Pemberian terbaik di bawah langit mungkin senyuman. Diberikan tanpa mengurangi milik kita, memiliki manfaat yang baik, dan selalu terbalas.

Terpujilah orang-orang yang tersenyum. Dan terberkatilah mereka yang tersenyum kepada kita. Senyum memberitahu, dunia masih baik-baik saja.

Satu-satunya makhluk yang bisa tersenyum cuma manusia. Selama masih bisa tersenyum, kita masih manusia.

Kadang-kadang aku rindu pada senyum yang kumiliki dulu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Agustus 2016.

Malah Bingung

“Hai, butuh berapa retweet agar kita bisa kencan?”

“Nggak usah retweet-retweetan! Langsung aja, kita kencan!”

....
....

Guys, tolong, aku kudu piye?

Minggu, 14 Mei 2017

Kartu Jomblo dan Kekacauan Pikir Sandiaga Uno

Itu kehidupan privat kok diatur negara.
Menurut saya, itu kebijakan yang tidak jelas, tidak mutu—
kartunya buat apa? Nggak ada dalam pikiran saya ada jomblo
terus dikasih kartu gitu—menurut saya kurang kerjaan.
Harusnya bagaimana membuat Jakarta menjadi lebih baik.
Agus Pambagio

Yang terpenting adalah membuat warga Jakarta merasa bahagia.
Lu mau jomblo, mau enggak, yang penting bahagia.
Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama


Sandiaga Uno, Wakil Gubernur DKI terpilih, berencana meluncurkan program Kartu Jakarta Jomblo untuk anak-anak muda di DKI Jakarta yang tidak/belum memiliki pasangan. Sejujurnya, saya sulit membayangkan ide sekonyol itu bisa muncul dari pikiran Sandiaga Uno. Konyol, apalagi ide terkait urusan jomblo itu lahir dalam kapasitas Sandiaga Uno sebagai pejabat/pemimpin Jakarta.

Semula, saya pikir urusan “kartu jomblo” itu cuma bahan guyon atau canda-candaan. Ternyata benar-benar ditindaklanjuti secara serius, bahkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menggunakan ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) untuk memfasilitasi hal itu.

Lebih lanjut, Sandiaga Uno bahkan menjelaskan programnya—atau kekonyolannya—dengan menyatakan bahwa Kartu Jakarta Jomblo nantinya akan berlaku selama enam bulan. Enam bulan, menurutnya, merupakan periode waktu yang dimiliki oleh individu yang melajang untuk segera mendapatkan jodoh.

Ini yang dikatakan Sandiaga Uno kepada para wartawan, “Sebenarnya ada waktu yang fix gitu, enam bulan, atau mungkin bisa perpanjang jadi total setahun. Karena kalau enggak, dia harus keluar dari ekosistem itu. Dia enggak boleh nyaman menjomblo. Karena suatu saat kan harus berpasangan.”

Sekali lagi, saya—dan mungkin sekian banyak orang lain—sulit membayangkan ide sekonyol itu bisa keluar dari pikiran Sandiaga Uno. Oh, saya bahkan merasa akan mimisan! Bagaimana bisa seorang Wakil Gubernur DKI Jakarta memiliki pemikiran seperti itu? “Dia enggak boleh nyaman menjomblo,” katanya, “Karena suatu saat kan harus berpasangan.”

Kenyataan bahwa Wakil Gubernur DKI Jakarta memiliki pemikiran semacam itu, membuat saya sadar bahwa ternyata “kekacauan pikir” tidak hanya dialami orang-orang yang tinggal di desa atau di kota-kota kecil, tapi juga di kota besar, bahkan di ibu kota!

Karena urusan “kartu jomblo” ternyata benar-benar serius, saya pun gatal untuk merespons secara serius.

Mari kita mulai dengan premis ini; bahwa menjadi jomblo (lajang) adalah soal pilihan. Setiap orang berhak untuk menikah atau tidak menikah, dengan berbagai alasan dan latar belakang. Jika Sandiaga Uno—atau siapa pun—memilih untuk menikah, itu hak mereka. Tapi Sandiaga Uno—atau siapa pun—tidak bisa memaksa orang lain agar sama menikah seperti mereka.

Fakta bahwa Sandiaga Uno berencana menerbitkan Kartu Jakarta Jomblo, dengan jelas membuktikan pola pikirnya kacau, bahkan keliru. Dia mengira, bahkan meyakini, setiap orang ingin punya pasangan, ingin menikah, lalu beranak pinak. Padahal, tidak ada jaminan pasti seperti itu. Bagaimana kalau ternyata ada sekian banyak warga Jakarta yang memang ingin melajang, dan menganggap penerbitan Kartu Jakarta Jomblo sebagai bentuk intervensi?

Umpama saya warga Jakarta, dan memilih menjomblo atau melajang, saya akan marah dengan keberadaan Kartu Jakarta Jomblo. Penerbitan kartu itu—langsung maupun tak langsung—telah mencampuri urusan pribadi saya, sekaligus mengintervensi pilihan hidup saya.

Bahkan umpama saya memilih untuk menikah, dan berharap memiliki pasangan, saya tetap tidak bisa menerima Kartu Jakarta Jomblo, karena kartu itu jelas menghina akal sehat. Kasihan sekali warga Jakarta, mau mencari pasangan dan menikah saja harus difasilitasi pemerintahnya.

Itu kekacauan pikir Sandiaga Uno yang pertama, yaitu meyakini bahwa setiap orang—khususnya warga Jakarta—ingin punya pasangan, ingin menikah, dan ingin beranak pinak, padahal tidak ada jaminan pasti begitu.

Yang kedua, Sandiaga Uno tampaknya kacau dalam memilah mana urusan privat dan mana urusan publik. Punya pasangan dan menikah adalah urusan privat, urusan masing-masing orang. Kalau pun ada pihak lain yang boleh memasuki, tentu sebatas keluarga atau orang-orang terdekat. Sejak kapan pejabat publik—Wakil Gubernur—punya hak mencampuri urusan privat orang per orang?

Jauh lebih baik memikirkan urusan yang bersifat publik, yang sesuai tugas seorang pejabat publik, daripada mengurusi apakah Si A punya pasangan atau tidak. Jauh lebih baik memastikan warga Jakarta dapat menjalani hidup sehat, aman, dan tenteram, daripada mengurusi Si B masih jomblo atau punya pasangan. Akhirnya, jauh lebih baik mengurusi hal-hal penting seperti pendidikan, daripada sibuk mengurusi selangkangan!

Kekacauan pikir ketiga, Sandiaga Uno berdalih, bahwa penerbitan Kartu Jakarta Jomblo dimaksudkan untuk mencegah penurunan populasi, khususnya di Jakarta. Dalih itu benar-benar kacau sekaligus membingungkan, karena justru bertolak belakang dengan kenyataan. Masalah kependudukan di Jakarta bukan kurang penduduk, tapi terlalu banyak penduduk! Mencegah penurunan populasi apaan? Jakarta sudah menjadi salah satu kota paling padat di dunia!

Bahkan Thoman Pardosi, Ketua BPS Jakarta, sampai bingung dengan rencana penerbitan Kartu Jakarta Jomblo. Kepada BBC Indonesia, dia menyatakan, “Niatnya (penerbitan Kartu Jakarta Jomblo) kan menyelesaikan persoalan. Persoalannya kan kita kelebihan penduduk. Kalau kelebihan penduduk, kok mencari program yang menambah penduduk?”

Terkait statistik penduduk Jakarta, yang bertolak belakang dengan pemikiran Sandiaga Uno, kita bisa membaca artikel di BBC Indonesia (Kartu Jomblo dan 'Mak Comblang yang Salah Kaprah'), atau di situs Tirto (Jakarta Tak Butuh Kartu Jomblo). Dua artikel itu secara telak mementahkan pikiran Sandiaga Uno.

Selain itu, Sandiaga Uno tampaknya berpikir terlalu lugu, menganggap bahwa orang menikah pasti akan punya anak. Lugu—atau kacau. Karena orang yang menikah bisa saja tidak punya anak (misal karena alasan medis tertentu), atau sengaja memutuskan untuk tidak punya anak. Jadi, rencana penerbitan Kartu Jakarta Jomblo dengan jelas menunjukkan kekacauan berpikir Sandiaga Uno.

Memang, ada kemungkinan Sandiaga Uno mengeluarkan ide Kartu Jakarta Jomblo sebagai upaya politis—menarik minat anak-anak muda (khususnya anak-anak muda yang kurang mikir), yang memang mudah “dikibuli” dengan gimmick semacam itu. Terkait hal tersebut, situs Tirto punya artikel bagus yang perlu dibaca: Perjuangan Warga Jomblo yang Sandiaga Uno Perlu Tahu. (Saya sangat menyarankan kalian membaca artikel itu, agar lebih bisa memahami yang akan saya ocehkan berikut.)

....
....

Well, di dunia nyata maupun di dunia maya, memang ada orang-orang yang sengaja “memanipulasi” urusan jomblo untuk kepentingan dan keuntungan pribadi. Mereka tahu, salah satu cara menarik hati orang-orang—khususnya remaja dan anak muda—adalah dengan sering-sering membahas urusan jodoh atau pasangan. Jadi, mereka sengaja memanipulasi hal itu, demi agar disukai, agar tujuan mereka tercapai—apa pun tujuan mereka.

Karenanya, saya sengaja menggunakan istilah “memanipulasi”, karena memang itulah yang mereka lakukan—memanipulasi!

Orang-orang yang memanipulasi urusan jodoh, jomblo, pasangan, pernikahan, dan segala tetek bengeknya, sebenarnya tahu bahwa yang mereka ocehkan sering kali tidak benar. Tapi mereka tidak peduli, karena tujuan mereka memang bukan menyatakan kebenaran, melainkan agar disukai. So, mereka akan mengatakan hal-hal indah dan manis, yang memang ingin didengar orang lain, dan tak peduli kalau untuk itu mereka harus menutupi kenyataan sebenarnya.

Mengapa ada banyak orang yang mengatakan bahwa menikah itu menyenangkan, membuatmu bahagia, bahkan melancarkan rezeki? Bukan karena memang begitu kenyataannya, tapi karena orang-orang ingin diberitahu seperti itu!

Orang tidak percaya pada realitas, mereka hanya percaya pada yang ingin mereka percaya!

Mereka ingin percaya bahwa menikah itu menyenangkan, membahagiakan, dan melancarkan rezeki. Mereka ingin percaya itu! Karenanya, ketika ada orang yang mengatakan hal itu, mereka pun percaya... dan menyukai orang yang mengatakannya! Soal apakah ocehan itu terbukti kebenarannya, itu urusan lain. Yang penting, mereka ingin percaya seperti itu.

“Celah” itu dimanfaatkan beberapa orang untuk memanipulasi mereka, dengan mengatakan yang ingin mereka dengar. Maka muncullah orang-orang yang begitu rajin menyuruh-nyuruh orang lain menikah, dengan berbagai dalih, dengan berbagai alasan, bahkan dengan berbagai kebohongan. Mereka akan mengatakan apa pun—bahwa menikah akan membuatmu bahagia, tenteram, lancar rezeki, dan taik kucing lainnya—karena mereka tahu, orang-orang akan percaya. Bukan karena itu fakta, tapi karena orang-orang ingin percaya itu fakta!

Jadi, kalau kau ingin disukai orang-orang lain, caranya mudah. Katakan saja pada mereka, tentang hal-hal yang ingin mereka percaya!

Karena orang-orang ingin percaya bahwa menikah itu indah, katakan bahwa menikah itu indah. Karena orang-orang ingin percaya bahwa punya pasangan akan membuat bahagia, katakan bahwa punya pasangan akan membuat bahagia. Karena orang-orang ingin percaya bahwa pernikahan akan melancarkan rezeki, katakan bahwa pernikahan akan melancarkan rezeki. Lakukan itu terus menerus, dan cepat atau lambat kau akan menjadi sosok populer. Lebih lengkap, sosok populer-bangsat-pembual-bajingan!

Sekali lagi, kalau kau ingin disukai orang-orang lain, cukup katakan hal-hal yang ingin mereka percaya! Karena orang-orang tidak percaya pada realitas, mereka hanya percaya pada yang ingin mereka percaya!

Sebaliknya, cara mudah untuk tidak disukai orang-orang lain adalah mengatakan hal-hal yang bertolak belakang dengan yang ingin mereka percaya!

Orang-orang ingin percaya bahwa menikah itu indah, dan kau mengatakan sebaliknya. Orang-orang ingin percaya punya pasangan membuat bahagia, dan kau menunjukkan bukti-bukti sebaliknya. Orang-orang ingin percaya pernikahan akan melancarkan rezeki, dan kau menampar kesadaran mereka dengan realitas sebaliknya. Meski yang kaunyatakan benar—bahkan bisa dibuktikan—orang-orang akan sulit (bahkan tidak) percaya. Alih-alih percaya, mereka bisa jadi akan membencimu, karena kau melukai sesuatu yang ingin mereka percaya!

Sudah melihat betapa mengerikan urusan ini? Orang tidak percaya pada realitas, mereka hanya percaya pada yang ingin mereka percaya!

Sekarang kita paham, kenapa ada banyak keparat yang sangat pintar membual tentang indahnya perkawinan, tentang kebahagiaan punya pasangan, tentang rezeki lancar setelah menikah. Bukan karena memang itu realitasnya, tapi karena mereka ingin kau menyukai mereka! Itulah yang saya sebut manipulasi. Para pembual itu tidak mengatakan kebenaran. Mereka hanya mengatakan yang ingin kaudengar.

Berdasarkan kenyataan itu pula, sekarang kita juga mulai paham, kenapa nyaris tidak ada orang yang berani jujur mengatakan realitas, khususnya terkait perkawinan. Jawabannya jelas, karena menyatakan bahwa perkawinan tidak seindah yang dibayangkan orang-orang, hanya akan membuatmu tidak populer!

Meski setiap hari ada berita perceraian, kasus-kasus kejahatan dalam rumah tangga, dan semacamnya, nyaris tidak ada yang buka mulut untuk mengatakan kebenaran terkait perkawinan. Karena rata-rata orang ingin populer, ingin disukai, bahkan ingin dipuja. Mengatakan kebenaran yang bertolak belakang dengan keyakinan banyak orang—dalam hal ini realitas pahit perkawinan—hanya akan menyebabkanmu ditinggalkan.

Jadi, mereka lebih suka berbohong dan berdusta dan terus membual bahwa pernikahan begitu indah dan membuat bahagia, karena hanya dengan kebohongan semacam itulah mereka bisa memastikan mereka tetap populer dan disukai. Karena itu pula, sekarang kita paham kenapa ada orang yang menikah dan hidupnya keblangsak serta menyedihkan, tapi tidak malu mengatakan bahwa menikah sungguh indah dan menyenangkan.

Ada banyak pembual di sekitar kita, yang tidak mengatakan hal-hal bernilai apa pun, selain hanya mengatakan hal-hal yang ingin didengar orang-orang lain. Ada banyak pendusta di sekitar kita, yang tidak menyatakan kebenaran apa pun, selain hanya mengatakan hal-hal yang ingin dipercaya orang-orang lain. Karena dengan cara itu, mereka dapat meraih rasa senang dan simpati orang-orang lain, sehingga menjadikan mereka populer. Sekali lagi, itulah yang saya sebut manipulasi.

Sandiaga Uno pasti tahu kenyataan itu. Karenanya, saya curiga, rencana menerbitkan Kartu Jakarta Jomblo sebenarnya bukan dimaksudkan demi kemaslahatan warga, melainkan lebih ditujukan untuk maksud, rencana, dan kepuasan dirinya.

Budak-budak Evolusi

Kunang-kunang memancarkan cahaya indah tidak untuk tujuan apa pun, selain untuk menarik perhatian lawan jenis... dan sinyal untuk kawin.

Ikan-ikan yang memiliki tubuh cerah, cantik, dan indah, tidak ditujukan untuk apa pun, selain untuk menarik perhatian... agar bisa kawin.

Lebah jantan mempertahankan hidup dan menguatkan tubuhnya bukan untuk apa pun... selain untuk kawin. Setelah kawin selesai, mereka mati.

Bowerbird jantan bekerja siang malam membangun sarang yang indah. Bukan untuk apa pun, selain menarik perhatian betina... lalu kawin.

Keindahan bulu-bulu di tubuh burung merak tidak ditujukan untuk apa pun, selain untuk menarik perhatian lawan jenis... hingga mereka kawin.

Saat akan kawin, kucing betina mengumpulkan semua kucing jantan yang bisa dipanggilnya. Lalu memilih yang ia anggap calon terbaik.

Bagi sebagian besar makhluk hidup, hewan atau manusia, urip mung mampir kawin. Untuk tujuan penting itu, segala sebutan dan nama diciptakan.

Serangga Palingenia longicauda di Eropa hanya hidup 3 jam. Begitu lahir, mereka menari di atas sungai, mencari pasangan, kawin, lalu mati.

Bowerbird betina adalah hewan yang sangat matere. Untuk bisa mengawininya, bowerbird jantan menghabiskan waktu lama membangun sarangnya.

Landak betina adalah makhluk haus seks yang sok jual mahal. Jika jantannya tidak bisa memuaskan, dia akan pergi dan mencari pejantan lain.

Laba-laba jantan akan meninggalkan potongan penisnya dalam vagina si betina. Hanya dengan cara itu kesetiaan pasangan mereka dapat terjaga.

Setelah kawin, sepasang kalajengking akan menari. Jika si jantan dinilai tidak menari dengan benar, si betina akan membunuh dan memakannya.

Bagi hewan kepinding, perkawinan adalah kesakitan, penderitaan, bahkan kehinaan. Tapi mereka melakukannya... demi evolusi, demi reproduksi.

Lumba-lumba diangap hewan cerdas. Bagi mereka, kawin paksa bahkan perkosaan adalah hal biasa. Tujuan reproduksi menghalalkan segala cara.

Jerapah jantan harus pedekate ke jerapah betina sampai lama, bahkan rela meminum air kencing si betina. Demi cinta... dan tujuan reproduksi.

Burung cikalang akan bersusah-payah demi bisa membesarkan gelembung di lehernya, karena hanya dengan itu dia bisa menarik perhatian betina.

Setiap kali terjadi masalah dan perselisihan di dunia bonobo, kawin jadi solusi. Tujuan reproduksi lebih penting bagi mereka daripada visi.

Setelah kawin, organ kelamin lebah jantan akan meledak, dan mereka mati. Mereka lahir untuk menyiapkan penisnya, bereproduksi, lalu mati.

Kunang-kunang bisa mendeteksi jodohnya dari jarak puluhan kilometer. Kenyataan yang ajaib, feromon yang ajaib... perangkap yang ajaib.

Tujuan utama evolusi hanya satu: Reproduksi. Dan untuk mewujudkan tujuan itu, evolusi melakukan segala cara, perangkap, jebakan, dan cinta.

Satu-satunya alasan mengapa manusia tak pernah bosan membicarakan cinta, karena itulah cara evolusi menjebak dan membutakan mata mereka.

Harun Yahya menghabiskan hidupnya hanya untuk menentang teori evolusi, tanpa menyadari dirinya sendiri terperangkap dalam tuntutan evolusi.

Maafkan jika ini kasar. Kalau hidup kita hanyalah lahir, tumbuh besar, kawin, bereproduksi, tua, lalu mati... apa beda kita dengan binatang?

Entah kita setuju atau tidak dengan teori evolusi, kenyataannya manusia menghamba pada tujuan evolusi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Oktober 2014.
 

Tunjuk Satu Cinta

Well, kau tahu lanjutannya.

Rabu, 10 Mei 2017

Dua Bidadari

Kami, saya dan @chikifawzi, memang tidak bisa memilih
lahir dari orang tua yang seperti apa, tapi kami bisa memilih
ingin jadi orang yang seperti apa.
Isabella Fawzi

Apa pun yang terjdi, ibu saya tetap ibu saya.
Tetap sayang sama ibu. I love her.
Chikita Fawzi


Marissa Haque sedang menjadi topik percakapan sebagian orang, akhir-akhir ini, karena beberapa hal yang ia lakukan di media sosial. Ia terlibat pertengkaran—twitwar, saling ejek, apa pun—dengan beberapa orang di Twitter, dan orang-orang lain ikut memanaskan suasana. Sebagian dari mereka bahkan menyerang hingga mengecam Marissa Haque dengan aneka caci-maki.

Sebenarnya bukan hanya sekali Marissa Haque tersandung masalah seperti ini. Dulu, beberapa tahun lalu, Marissa Haque juga pernah menghadapi masalah serupa, dengan beberapa orang lain, dan media sosial—khususnya Twitter—juga “berdarah-darah” seperti sekarang.

Salah satu orang yang tempo hari terlibat ribut dengan Marissa Haque adalah Joko Anwar, sutradara yang sering ngoceh di Twitter. Pangkal soalnya—setidaknya yang saya tahu—sangat sepele. Yaitu karena kecintaan Marissa Haque yang sangat besar terhadap suaminya! Dan kecintaan itu, sayangnya, mungkin terlalu berlebihan, hingga Marissa Haque tanpa sadar terjebak pada perilaku yang lebay.

Joko Anwar menulis tweet, yang di dalamnya terdapat nama Ikang Fawzi (suami Marissa Haque). Tweet itu sebenarnya hanya guyon ala Joko Anwar seperti biasa, dan tidak dimaksudkan untuk apa pun selain bercanda. Kebetulan, Marissa Haque memasukkan nama “Ikang Fawzi” ke kolom pencari di Twitter. Karena tweet Joko Anwar tadi banyak di-retweet, maka otomatis Twitter menempatkan tweet Joko Anwar di tempat teratas untuk kata kunci “Ikang Fawzi”.

Sebenarnya, itu hal biasa, dan sama sekali bukan masalah. Tapi Marissa Haque menganggap itu masalah. Mungkin Marissa Haque berpikir, “Aku memasukkan nama suamiku ke mesin pencari di Twitter, kenapa malah tweet si Joko-entah-siapa ini yang nongol?”

Itulah awal mula “serangan” Marissa Haque terhadap Joko Anwar, hingga buntutnya sangat panjang. Marissa Haque menuduh sutradara itu “melakukan praktik SEO yang tidak benar, untuk mendompleng nama Ikang Fawzi”. Gara-gara itu pula, Marissa Haque sampai menghubungi temannya yang bekerja di situs Liputan6, untuk mengangkat berita tersebut.

Mungkin, antara bingung dan kesal campur mimisan, Joko Anwar pun menyerang balik Marissa Haque, hingga urusan itu makin ribut. Seiring dengan itu, Marissa Haque tidak hanya bermasalah dengan Joko Anwar, tapi juga dengan beberapa orang sekaligus, plus dengan topik berbeda—dari urusan pribadi sampai urusan politik.

Kalau dipikir-pikir, sungguh mengagumkan semangat wanita ini dalam mencari masalah dengan orang lain. Masalah dengan satu orang belum rampung, sudah bikin masalah dengan yang lain.

Ulah Marissa Haque itu pun kemudian memancing banyak pengguna media sosial—khususnya di Twitter—untuk ikut “urun rembug”. Namanya Twitter, urun rembug tidak dilakukan dengan senyum dan keramahan, tapi dengan serangan frontal. Maka kritik dan caci maki pun berdatangan ke akun Marissa Haque.

Sampai di sini, sebenarnya “biasa-biasa saja”, tidak ada yang istimewa. Orang mencari ribut dengan orang lain, menyerang lalu diserang balik, itu hal biasa, khususnya dalam kehidupan sosial, khususnya lagi di Twitter. Kalau kau mencari masalah dengan orang lain, tentu wajar kalau mendapat masalah. Kalau kau menyerang orang lain, wajar pula kalau diserang balik. Dalam hubungan sosial dengan orang lain, bisa dibilang hal-hal semacam itu tak terhindarkan.

Sayang, dalam hal ini, orang-orang yang menyerang Marissa Haque juga lebay, sama lebay seperti yang dilakukan Marissa Haque. Meski yang jelas bermasalah dalam hal itu hanya Marissa Haque, tapi orang-orang juga menyerang keluarganya (suami dan anak-anaknya). Padahal, anak-anak Marissa Haque sama sekali tidak ikut campur masalah yang dilakukan ibunya, bahkan tidak mencoba membela ibunya terkait masalah yang terjadi.

Ketika orang-orang menyerang Marissa Haque di media sosial, anak-anaknya diam, dan tidak berusaha membela ibu mereka, apalagi sampai menyerang orang-orang lain. Sikap itu merupakan bukti kalau mereka memang tidak ikut campur dengan masalah ibunya, yang—secara tak langsung—juga menyatakan bahwa mereka belum tentu mendukung sikap ibu mereka. Kita tahu, anak tidak selalu sepaham dengan ibunya, begitu pula anak-anak Marissa Haque.

Sayang, sekali lagi, orang-orang tidak berpikir sejauh itu. Bukannya membatasi serangan terhadap Marissa Haque, mereka juga menyerang anak-anaknya, bahkan suaminya. Bukan hanya di Twitter, serangan dan caci-maki mereka juga dilakukan di akun-akun keluarga Marissa Haque di luar Twitter. Di akun Instagram Chikita dan Bella—dua putri Marissa Haque—misalnya, orang-orang melontarkan kecaman dan caci-maki, padahal yang bermasalah hanya Marissa Haque.

Terkait hal itu, Chikita Fawzi dan Isabella Fawzi sudah berusaha memberi jawaban serta penjelasan di akun Instagram masing-masing, khususnya terkait ibu mereka. Penjelasan mereka begitu baik, bersahabat, dan tidak menyerang siapa pun. Saya sempat membaca curahan hati mereka, dan tersentuh, hingga merasa perlu mentranskripnya di sini. Semoga mereka berdua tidak keberatan.

Berikut ini transkrip curahan hati Isabella Fawzi.

Hai teman-teman, apa kabarnya? Selamat menyambut weekend, yaa! Semoga hari Jum’atnya lancar dan menyenangkan.

Oiya, terkait dengan segala keluhan yang ditulis di komen IG saya dari kemarin, saya bisa mengerti apa yang teman-teman rasakan. Kalau saya boleh saran, lebih baik unfollow atau block saja akun ibu saya, daripada waktu teman-teman jadi ikut terbuang untuk ikut mencaci-maki dan menyerang orang, buat apa?

Saya yakin teman-teman di sini orang yang cerdas dalam bersosial media. Lebih baik menghindar dari orang-orang negatif yang bisa bikin kita jelek juga. Karena meladeni orang yang marah sama seperti mengipaskan api jadi semakin besar. Kasihan waktu teman-teman dihabiskan hanya untuk seperti ini.

Kami, saya dan @chikifawzi, memang tidak bisa memilih lahir dari orang tua yang seperti apa, tapi kami bisa memilih ingin jadi orang yang seperti apa. Kami tidak marah jika mungkin ada yang membenci kami atas hal yang sebenarnya tidak kami perbuat. Tapi dengan segala kerendahan hati, saya akan mem-block komen apa pun yang menurut saya terlalu anarkis.

Karena saya dan adik saya telah tumbuh dewasa, dan memiliki kehidupan kami sendiri. Kami berdua tidak pernah menyerang orang. Untuk itu, tolong jangan kaitkan ulah ibu kami dengan kami, karena apa yang beliau lakukan tidak ada hubungannya dengan saya maupun Chiki.

Kami pasti akan memberitahu orang tua kami. Tapi sebagai orang tua, beliaulah yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya, dan bukan anak-anaknya. Jadi, tolong nyampahnya di IG ibu saya, ya. Jangan di IG saya, adek saya, dan ayah saya. Karena gak ngaruh juga buat Ibu. Kami bertiga gak pernah cari musuh! Peace yow, have a nice day!


Dan berikut ini transkrip curahan hati Chikita Fawzi.

Pernah dengar “Unconditional Love”? Cinta Tanpa Syarat? Saya belajar itu dari ayah saya. Ayah pernah bilang, “Nak, kamu kalau janji sama orang pasti selalu berusaha menepati, kan? Apalagi janji sama Allah. Ayah janji sama Allah pas ijab kobul, sama alm. opa kamu, untuk jaga ibu kamu, sampai maut memisahkan. Ayah gak akan mencederai janji ayah sama Allah.”

Ayah juga yang selalu mengingatkan, “No. 1 ibumu, no. 2 ibumu, no. 3 ibumu, baru ayahmu, Nak. Udah, jangan sayang-sayang amat sama ayah.”

Tapi aku jadi makin sayang sama ayah karena dari kecil menyaksikan ketulusan hati ayah yang penuh cinta ini. Yang hidupnya mencari ridho Allah saja, gak peduli di dunia babak belur perasaannya.

Saya sedih banget, ketika netizen menyerang ayah saya dengan segala prasangka dan asumsi mereka. Ayah saya tulang punggung keluarga, kok. Kerja keras buat bahagiain keluarga. Gak pernah nyerang orang. Sangat bersahabat. Saya sangat melihat usaha ayah melembutkan hati ibu. Ayah selalu mengingatkan, “Doa, Nak. Minta ke Allah untuk melembutkan hati. Hati ibumu hati Allah juga.”

Ketika ayah saya, sosok paling sabaaar di hidup saya, menjadi bahan celaan kalian yang tidak paham bagaimana kondisi sebenarnya, saya sedih. Lebih baik katain saya aja deh, buat hal-hal yang tidak pernah saya lakukan, sampai puas saya rela, tapi stop kata-katain ayah saya. Ayah saya orang baik. Kesabarannya luar biasa. Mungkin orang-orang yang pernah kenal ayah yang bisa paham tulisan saya di atas.

Allah gak pernah salah tetapkan takdir saya lahir dari siapa. Apa pun yang terjdi, ibu saya tetap ibu saya. Tetap sayang sama ibu. I love her. Mohon maaf untuk kata-kata ibu yang kurang berkenan. Mohon maaf jika ada salah-salah kata dari saya. Selamat beristirahat. Semoga kebenciannya gak dibawa sampai tidur, ya.


Jauh-jauh hari sebelum membaca curahan hati dua gadis Fawzi di Instagram, saya sudah tahu bahwa Ikang Fawzi lelaki yang baik, suami yang baik, sekaligus ayah yang baik. Karena itu pula, empat tahun lalu, saya sampai menulis di sini, bahwa kelebihan yang dimiliki Marissa Haque, sebagai istri, adalah cinta dan penghormatannya yang luar biasa terhadap sang suami.

Dan Marissa Haque jelas menghormati, bahkan memuja suaminya, karena kenyataannya Ikang Fawzi memang sosok istimewa. Dan lelaki istimewa itu ternyata juga mampu mendidik dua putrinya hingga sebaik ayah mereka.

Berbeda dengan kebanyakan pasangan artis yang mudah kawin-cerai, pasangan Ikang Fawzi dan Marissa Haque mampu mempertahankan perkawinan mereka hingga 31 tahun, dan tampaknya akan terus langgeng sampai—meminjam istilah Ikang Fawzi—maut memisahkan. Mereka tidak hanya mampu mempertahankan perkawinan dengan baik selama tiga dekade, tapi juga mampu membesarkan dua putri yang tumbuh dengan baik, dengan sifat yang baik, dengan gaya hidup yang baik. Untuk ukuran keluarga artis, itu benar-benar prestasi yang langka.

Prestasi dan keberhasilan itu tidak bisa dilepaskan dari sosok Ikang Fawzi, yang menjadi kepala keluarga. Sebagai suami, dia memiliki kesabaran luar biasa. Kenyataan itu mudah dibuktikan dari sikap Marissa Haque kepadanya, yang begitu mencintai, bahkan memujanya. Sebagai ayah, Ikang Fawzi juga mampu menjadi ayah yang baik, hingga dapat mendidik dua putrinya sebegitu baik. Sekali lagi, kenyataan itu mudah dibuktikan, dari sikap dan penghormatan Bella serta Chikita pada sosok sang ayah.

Melihat kenyataan ini, tentu wajar kalau Marissa Haque sangat memuja keluarganya. Karena, bisa dibilang, dia memiliki segala yang diinginkan seorang wanita. Sebagai istri, dia memiliki suami yang baik bahkan hebat. Sebagai ibu, dia memiliki anak-anak dengan budi pekerti mengagumkan. Wanita mana, dan ibu mana, yang tidak mabuk dengan karunia semacam itu?

Karena rasa cinta sekaligus kekaguman besar pada suami serta keluarga pulalah, yang menjadikan Marissa Haque kadang jadi lebay. Dia sangat membanggakan keluarganya—suaminya, anak-anaknya—secara berlebihan, hingga kadang membuat orang lain risih. Seperti yang terjadi di Twitter, tempo hari. Persoalannya sepele, yakni karena rasa cinta Marissa Haque yang berlebihan terhadap diri, suami, dan keluarga.

Dan beruntunglah Marissa Haque, juga Ikang Fawzi, karena memiliki dua putri dengan hati setulus bidadari. Setidaknya, kekaguman Marissa Haque terhadap mereka bukan kekaguman tanpa dasar, meski dilakukan secara berlebihan.

Noffret’s Note: Asumsi

Komunikasi sering menghadirkan “lubang”. Jika lubang tidak ditutup dengan benar, maka muncullah asumsi. Pemahaman keliru berasal dari situ.

Banyak orang meyakini sesuatu bukan berdasarkan fakta sebenarnya, melainkan berdasarkan asumsinya sendiri yang keliru, lalu terus keliru.

Asumsi tidak pernah benar, sampai dibuktikan sebaliknya.

Setiap asumsi membutuhkan klarifikasi dan verifikasi. Sayangnya, pemilik asumsi malas melakukannya, dan lebih suka mempercayai asumsinya.

Orang yang mengatakan, “Si Anu itu begini”. Sebenarnya, tidak pernah ada jaminan bahwa Si Anu memang benar “begini” selama itu hanya asumsi.

Banyak orang tersesat, keliru, salah paham, meyakini tanpa dasar, dan selama bertahun-tahun terus begitu. Hanya karena asumsi yang keliru.

Bahkan komunikasi yang dijawab dan dijelaskan pun kadang masih meninggalkan “lubang” untuk lahirnya asumsi. Apalagi yang tidak.

Asumsi berbahaya, karena menular. Juga merusak, karena korban salah-asumsi tidak pernah ditanya, hingga tidak bisa menjawab dan menjelaskan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 Maret 2017.

Telegram Seorang Bocah

Mbak, aku kangen. Aku kudu piye?

Jumat, 05 Mei 2017

Takdir Terbaik

Yang paling kurisaukan dari perkawinan tanpa persiapan
bukanlah perkawinan itu sendiri. Melainkan nasib anak-anak
yang kelak mereka miliki.
@noffret


Diriwayatkan oleh Soe Hok Gie, bahwasanya seorang filsuf Yunani berkata, “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda. Dan yang tersial adalah umur tua.”

Di antara banyak kalimat Soe Hok Gie, kalimat itu termasuk yang terkenal, dan sering dikutip di banyak ucapan atau tulisan. Dalam hal itu, Soe Hok Gie termasuk pemilik takdir yang baik, karena—meski dilahirkan—setidaknya dia mati muda.

Sejujurnya, saya menyepakati kenyataan itu. Bahwa takdir terbaik adalah tidak dilahirkan. Tetapi, kita tahu, itu hanya angan-angan, karena faktanya kini saya sudah dilahirkan, bahkan tumbuh dewasa. Kalau boleh meminta, saya ingin seperti Soe Hok Gie. “Dilahirkan, tapi mati muda.”

Melahirkan adalah pilihan, tapi dilahirkan adalah takdir. Berapa banyakkah orang berakal yang memahami kenyataan penting itu? Sekali lagi, melahirkan adalah pilihan, tapi dilahirkan adalah takdir!

Seorang wanita, atau sepasang suami istri, memiliki pilihan bebas. Memilih punya anak, memilih tidak punya anak, memilih punya sedikit anak, atau memilih punya banyak anak. Itu kehendak dan pilihan yang mereka miliki. Bahkan, suatu teknik tertentu dapat memungkinkan mereka untuk memilih punya anak perempuan atau anak laki-laki.

Jika mereka memilih untuk punya anak, mereka juga bisa memilih di mana akan melahirkan si anak, bagaimana si anak dilahirkan, akan diberi nama siapa, hingga memilih bagaimana mereka akan mendidik si anak. Semuanya adalah pilihan.

Tapi dilahirkan...? Itu takdir, bukan pilihan.

Seorang anak tidak bisa memilih dilahirkan oleh pasangan mana, tidak bisa memilih lahir di mana, bahkan tidak bisa memilih nama yang akan digunakannya. Semuanya sudah menjadi pilihan si orang tua, dan si anak hanya menerima. Mau tidak mau.

Beruntunglah seorang anak, jika ia kebetulan dilahirkan pasangan orang tua yang baik, yang dapat membesarkan dan mendidik secara baik, yang dapat menghidupi secara layak, hingga si anak dewasa, hingga ia sangat bersyukur karena telah menjalani kehidupan yang begitu baik.

Sebaliknya, sungguh sial seorang anak, jika ia kebetulan dilahirkan pasangan orang tua yang buruk, yang membesarkan dan mendidik secara buruk, yang tidak dapat menghidupi secara layak, hingga si anak dewasa, hingga ia merasa kehidupannya adalah jalan panjang penuh luka dan kutukan.

Melahirkan adalah pilihan, tapi dilahirkan adalah takdir. Dalam hal ini, kita melihat bahwa nasib seorang anak—seorang manusia yang dilahirkan—benar-benar sangat gambling, karena si anak tidak pernah tahu akan lahir dari orang tua mana, dan akan menjalani kehidupan seperti apa. Itu, dalam pandangan saya, adalah bentuk judi paling mengerikan dalam kehidupan manusia.

Karena, faktanya, tidak semua orang tua pasti baik. Akuilah fakta itu, dan berhentilah menipu diri sendiri. Di mana-mana, kita membaca berita orang tua yang mengeksploitasi anaknya, ayah yang memperkosa putrinya, ibu yang mengubur hidup-hidup anaknya, orang tua yang menelantarkan anak-anak mereka, dan setumpuk kejahatan lain yang semuanya dilakukan orang tua kepada anak.

Itu contoh-contoh kejahatan yang jelas jahat—dari pembunuhan, perkosaan, hingga penganiayaan. Padahal, perilaku orang tua terhadap anak, yang juga bisa disebut kejahatan, tidak sebatas itu. Ada setumpuk perilaku lain yang dilakukan orang tua kepada anak, yang sebenarnya kejahatan, tapi dianggap hal biasa, atau tidak disadari sebagai kejahatan. Dari memukul atau melakukan tindak kekerasan lain, sampai mempermalukan si anak di depan orang-orang lain.

Hubungan atau relasi antara orang tua dan anak memang dibangun dari fondasi yang kacau—untuk tidak menyebut keliru. Kita pasti sering mendengar ajaran yang menyatakan, “Anak-anak wajib menghormati orang tua.” Kita sepakat, itu ajaran yang baik. Yang masih jadi masalah, kenapa tidak ada ajaran serupa yang ditujukan pada orang tua? Kenapa anak-anak dituntut menghormati orang tua, tapi orang tua tidak dituntut menghormati anak?

Jika dipikirkan secara mendalam, ajaran itu lahir karena mengasumsikan bahwa semua orang tua pasti baik. Padahal, kenyataannya, tidak semua orang tua pasti baik! Orang tua, sebagaimana manusia umumnya, ada yang baik juga ada yang tidak. Mengasumsikan semua orang tua pasti baik jelas keliru, sama keliru mengasumsikan semua orang tua pasti buruk!

Jadi, ajaran tentang “menghormati” itu jelas timpang, sekaligus tidak adil. Anak dituntut menghormati orang tua, tapi orang tua tidak dituntut hal yang sama. Akibatnya, orang tua merasa bebas bahkan sewenang-wenang memperlakukan anaknya. Di sisi lain, anak yang mencoba melawan akan dicap sebagai anak durhaka. Oh, well, kenapa selama ini kita tidak pernah mendengar istilah “orang tua durhaka”?

Lebih jauh, orang tua kerap menggunakan dalih melahirkan dan membesarkan, sebagai alasan logis kenapa anak harus tunduk kepada orang tua. “Kami yang melahirkan dan membesarkanmu, jadi kau harus menuruti kami!”

Dalih itu, sebenarnya, kacau—untuk tidak menyebut keliru. Melahirkan adalah soal pilihan, sementara dilahirkan adalah takdir!

Jika orang tua menggunakan dalih “telah melahirkan” si anak, memangnya siapa yang minta dilahirkan? Dengan mengatakan pada si anak bahwa orang tua telah melahirkan dan membesarkan, itu sama saja menjatuhkan tanggung jawab kelahiran pada si anak. Padahal yang menjadikan si anak lahir adalah pilihan orang tua.

Sebelum si anak lahir, orang tua memiliki pilihan. Untuk melahirkan (punya anak) atau tidak. Jika orang tua memilih untuk melahirkan dan punya anak, maka tanggung jawab ada pada orang tua, bukan pada si anak. Dengan kata lain, orang tua tidak bisa menggunakan dalih “telah melahirkan dan membesarkan”, karena dalih itu sama saja mengatakan bahwa si anak bertanggung jawab atas kelahirannya. Padahal, kelahiran anak adalah kehendak dan pilihan orang tua.

Kita pasti sering mendengar ada pasangan yang sedih, bingung, dan sampai berikhtiar/berobat ke sana kemari, karena belum memiliki anak, padahal telah menikah bertahun-tahun. Kenyataan itu dengan jelas membuktikan bahwa orang tualah yang memilih untuk punya anak.

Jika orang tua memang tidak menginginkan anak, kondisi tidak punya anak justru akan mereka syukuri. Tapi tidak, mereka malah bingung, stres, bahkan frustrasi, karena belum juga punya anak. Jelas, mereka ingin punya anak!

Gebleknya, begitu si anak lahir dan tumbuh besar, mereka berpikir dan bersikap seolah si anak yang minta dilahirkan! Sejak kecil si anak dididik, “Karena orang tua telah melahirkan dan membesarkanmu, maka kau harus patuh, tunduk, hormat, dan mengikuti semua perintah orang tuamu.” Padahal... siapa yang meminta dilahirkan?

Tentu saja si anak harus—bahkan wajib—menghormati orang tua, sebagaimana orang tua juga harus menghormati anak. Tapi orang tua tidak bisa memaksakan dalih “telah melahirkan”, karena kenyataannya si anak tidak minta dilahirkan, karena melahirkan anak atau tidak adalah soal pilihan! Wong memilih sendiri untuk melahirkan anak, tapi menimpakan tanggung jawab pada si anak. Tanggung jawab ada pada pihak yang memilih, bukan pada takdir yang dipilih.

Yang lebih berbahaya dari itu, adalah cara berpikir kebanyakan orang tua terhadap anak-anaknya. Kita pasti sering mendengar istilah “anak adalah investasi”. Sekilas, istilah itu mungkin terdengar benar. Tetapi, sebenarnya salah bahkan berbahaya!

Ketika orang tua menganggap anak sebagai investasi, saat itu pula mereka tidak lagi menilai si anak sebagai manusia utuh, melainkan hanya sebagai benda yang dapat mereka kendalikan sesuai keinginan. Dari situlah kemudian munculnya pemaksaan orang tua agar si anak belajar di sekolah mana, kuliah di perguruan tinggi apa, sampai harus bekerja di bidang apa. Anak tidak memiliki pilihan atau kehendak bebas sebagai manusia, karena posisinya hanya menjadi “investasi” orang tua. Karena hanya sebagai investasi, maka anak harus bisa menghasilkan “keuntungan” bagi orang tua. Dari keuntungan materi sampai keuntungan dalam bentuk prestise.

Dan, omong-omong, dari situ pulalah kemudian lahir pepatah terkenal tapi ngawur berbunyi, “Banyak anak banyak rezeki.”

Kalau kau punya anak, dan menganggap anak-anakmu sebagai investasi, tentu saja pepatah itu benar. Banyak anak banyak rezeki. Karena semakin banyak anakmu, semakin banyak pula investasimu. Semakin banyak investasimu, semakin besar pula potensi keuntungan yang kelak kaudapatkan.

Tetapi... serendah itukah manusia menjalani kehidupan? Senista itukah orang tua memandang anak-anaknya? Hanya sekadar sebagai investasi? Itu jelas kenyataan yang amat pahit sekaligus mengerikan, khususnya bagi anak-anak, karena ternyata mereka tidak dinilai sebagai manusia oleh orang tua mereka sendiri, melainkan hanya sebagai investasi.

Jika benar begitu kenyataannya, maka pantas kalau ada orang tua yang merasa berhak memaksa anaknya kuliah di bidang bisnis, padahal si anak ingin menjadi pelukis. Karena orang tua tidak memandang anaknya sebagai manusia yang memiliki pilihan dan kehendak untuk menentukan kehidupan sendiri, melainkan sebagai investasi yang harus mendatangkan keuntungan. Orang tua merasa berhak atas nasib si anak, dan orang tua pun memastikan si anak menghasilkan untung, meski untuk itu si anak mungkin menjalani kehidupan dengan perasaan terkekang dan tertekan.

Jika benar begitu, alangkah malang nasib anak-anak, dan alangkah nista para orang tua! Orang tua ingin dihormati sebagai manusia, tapi mereka memperlakukan anak-anak hanya sekadar sebagai benda. Dan kelak, sebagaimana bentuk warisan kebodohan lainnya, anak-anak itu pun akan tumbuh menjadi orang tua, untuk kemudian sama memperlakukan anak-anaknya seperti dulu mereka diperlakukan. Tidak menganggap anak-anak sebagai manusia, tapi sebagai benda.

Karena buah jatuh tak pernah jauh dari pohonnya.

Melahirkan adalah pilihan, tapi dilahirkan adalah takdir. Dan takdir terbaik, sebagaimana kata Soe Hok Gie, adalah tidak dilahirkan. Sepertinya memang benar, jika dilahirkan hanya untuk menjadi investasi bersifat kebendaan bagi orang tua yang telah melahirkan.

Tapi sayang seribu sayang, anak-anak yang telanjur dilahirkan tak pernah bisa kembali, dan mau tak mau harus menerima kenyataan.

Penipuan Atas Nama Pernikahan

Orang-orang yang suka ngibul dan membohongi orang lain tentang pernikahan, silakan membaca ini » Kambing Hitam Pernikahan

Orang-orang meributkan “minimal usia” untuk perkawinan, tapi tidak ada satu pun yang meributkan “minimal kemampuan” untuk perkawinan.

Kalau saja orang-orang mau berpikir, seharusnya mereka heran mendapati begitu banyak orang yang suka menyuruh-nyuruh orang lain cepat kawin.

Orang-orang tidak mau menjelaskan penderitaan dalam perkawinan, dan berdalih itu aib. Tapi mereka terus ngibul tentang indahnya perkawinan.

Orang tidak bisa bebas naik kendaraan tanpa punya SIM. Tapi orang bisa bebas menikah dan punya anak tanpa kemampuan. Tragis dan menyedihkan.

Orang-orang menikah bermodal kenaifan, lalu menjalani kehidupan menyedihkan. Setelah itu ngoceh dan ngibul, “Nikah itu enak.” | Taik kucing!

Yang diinginkan orang-orang yang suka menyuruhmu cepat menikah cuma satu. Yaitu agar kau menjalani kehidupan menyedihkan seperti mereka.

Kenapa aku terkesan suka menyerang orang-orang yang telah menikah? Karena mereka dulu yang memulai! Kenapa mereka tidak tutup mulut saja?

Orang-orang yang suka menyuruh-nyuruh orang lain cepat kawin itu harus disadarkan, bahwa penipuan dan kejahatan mereka harus dihentikan.

Menyuruh-nyuruh orang lain cepat kawin itu kejahatan yang mengerikan, karena merusak privasi orang lain, sekaligus menjerumuskan orang lain.

Orang-orang yang belum menikah terus dikibuli indahnya pernikahan tanpa diingatkan penderitaan dan kesengsaraan di dalamnya. Itu penipuan!

Menyuruh-nyuruh orang lain cepat menikah adalah sejenis penipuan yang dilegalkan, bahkan dianggap kebaikan. Di mataku, itu menjijikkan!

Selama bertahun-tahun, orang-orang merasa bebas menipu, menyuruh-nyuruh orang lain cepat menikah. Sudah saatnya para penipu itu dihentikan.

Yang paling kurisaukan dari perkawinan tanpa persiapan bukanlah perkawinan itu sendiri. Melainkan nasib anak-anak yang kelak mereka miliki.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Oktober 2016.

Yang Sudah Kawin Jangan Baper, ya...

Jika orang berusaha membuktikan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dibuktikan, maka artinya tidak begitu.

Hahaha... piye? » @kompascom Pasangan Bermasalah Justru Sering Pamer Kemesraan di Media Sosial. http://kom.ps/AFvuvC

Omong-omong soal hoax, orang yang suka memajang foto dengan pasangan di sosial media sambil mengesankan mereka bahagia, itu HOAX.

Kalau menemukan orang memajang foto dengan pasangannya, dan mengaku bahagia, jangan tertipu. Kasihani saja. Mungkin mereka sedang putus asa.

Kalau kau mengunggah foto-fotomu yang sedang sendirian, bebas, dan bahagia, tambahkan kalimat, “Yang sudah menikah, jangan ngiri, ya.”


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Januari 2017.

Senin, 01 Mei 2017

Doktrin Dusta Perkawinan

Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan.
Soe Hok Gie


Di catatan sebelumnya (Lolong Serigala pada Rembulan), saya menulis tentang cara orang tua saya dalam mendidik anak-anaknya, termasuk saya. Jika kalian jeli, catatan itu sebenarnya mengungkapkan latar belakang kenapa saya tidak percaya—dan sulit diyakinkan—pada doktrin perkawinan. Latar belakang itu pula yang membuat saya begitu gigih menentang siapa pun yang suka “membohongi” orang-orang tentang “indahnya perkawinan”.

Saat dewasa kini, seiring pikiran makin matang, saya memahami bahwa perlakuan orang tua saya yang begitu buruk pada anak-anaknya, dilatari oleh kondisi hidup yang sangat menekan dan serbakekurangan. Kenyataan itu tentu membuat mereka (orang tua saya) kerap stres dan frustrasi, yang menjadikan mereka sulit berpikir jernih, sekaligus mudah emosi.

Saya percaya, orang tua saya—sebagaimana orang-orang tua lain—adalah manusia-manusia baik, yang tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tapi “ingin” sering kali berhadapan dengan “realitas”. Orang tua memiliki anak, dan ingin memberikan yang terbaik untuk si anak. Sayangnya, keinginan sering harus berbenturan dengan realitas yang tidak memungkinkan terjadi. Akibatnya, alih-alih memberikan yang terbaik, orang tua justru memberikan yang terburuk.

Itu kenyataan umum yang sebenarnya mudah kita lihat dan temukan di sekitar, kalau saja kita cukup peka.

Jika saya duduk tenang, dan membiarkan pikiran flashback ke masa lalu, saya bisa melihat semua peristiwa yang terjadi bertahun-tahun lalu, sejelas saya menonton layar bioskop. Termasuk peristiwa-peristiwa yang terkait orang tua saya, bertahun-tahun lalu. Meski ayah saya telah meninggal bertahun lalu, misalnya, saya bisa mengingat sosoknya dengan jelas, semua yang ia lakukan, yang saya saksikan saat ia masih hidup, hari demi hari... seolah saya benar-benar sedang melihatnya sekarang.

Saya mengakui, ayah saya manusia yang baik. Melihatnya hidup di masa lalu, dia bekerja begitu keras, siang malam tanpa kenal lelah, demi menghidupi keluarga, demi berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tetapi, kondisi yang menghimpit dan begitu menekan—kemiskinan yang kami jalani—juga menjadikan ayah saya mudah emosi. Itu sesuatu yang manusiawi. Dia tentu stres dan frustrasi menghadapi hidup yang terus penuh tekanan. Hal itu, tanpa disadarinya, menjadikan dia memperlakukan anak-anaknya—khususnya saya—dengan begitu buruk.

Akibatnya, meski sebenarnya dia ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, tapi hasilnya justru bertolak belakang. Dia bekerja keras dengan niat untuk menghidupi keluarga. Tapi karena kondisi terus menerus penuh kekurangan, dia pun frustrasi. Hasilnya, bukan memberikan yang terbaik sebagaimana yang dia bayangkan, dia justru memberikan yang terburuk. Dia mudah marah, dan saya kerap menjadi sasaran kemarahannya.

Sudah memahami yang saya maksud? Manusia yang semula sangat baik, bisa menjadi begitu buruk, ketika dihadapkan pada tekanan terus menerus yang tidak bisa ia selesaikan. Kemiskinan, kekurangan, dan kondisi serbasusah yang kami alami, adalah hal-hal yang tidak bisa diselesaikan ayah saya. Hasilnya, orang yang sebenarnya baik bisa berlaku sedemikian buruk pada anak-anaknya, meski mungkin ia tidak menyadari.

Ketika hal semacam itu terjadi, siapakah yang menjadi korban? Jawabannya jelas, anak-anaknya! Saya tahu betul hal itu, karena saya menjadi korban dalam hal ini! Saya adalah korban orang tua yang sebenarnya baik, tapi berubah buruk akibat kemiskinan dan himpitan hidup.

Selama bertahun-tahun, khususnya saat dewasa, saya sering bertanya dalam hati dan berpikir, “Mengapa orang tua saya menikah dan punya anak-anak, padahal kondisi hidup mereka tidak memungkinkan untuk itu?” Mereka tentu menyadari keadaan dan kehidupan yang mereka jalani, yang serbakekurangan. Tapi mengapa mereka berani melahirkan anak-anak, yang tentu akan semakin membebani hidup mereka?

Sejujurnya, saya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Dan begitu mulai memahami jawabannya, saya benar-benar marah campur mau muntah.

Orang tua saya menikah dan punya anak, setidaknya karena tiga hal atau tiga latar belakang. Pertama, mereka memang ingin menikah dan punya anak, karena dorongan atau fitrah manusiawi. Kedua, mereka terdoktrin untuk segera menikah, karena percaya bualan orang-orang bahwa menikah akan membuat mereka bahagia dan lancar rezeki. Ketiga, mereka memiliki anak-anak tanpa berpikir panjang, karena percaya “setiap anak memiliki rezeki sendiri”.

Latar belakang itu pulalah yang selama ini menjerat dan memerangkap jutaan—oh, well, miliaran—orang untuk menikah dan punya anak-anak, tanpa berpikir panjang. Dan meski realitas terus membuktikan bahwa doktrin perkawinan tidak selalu benar, orang-orang terus mendoktrin dan mendoktrin, terus berbohong dan berbohong, terus berdusta dan berdusta.

Menikah akan membuatmu bahagia dan lancar rezeki, kata mereka. Tapi saya kesulitan menemukan kebenaran doktrin itu, karena orang tua saya tidak begitu, karena lingkungan saya tidak begitu, karena teman-teman saya tidak begitu, karena orang-orang yang saya kenal tidak begitu. Bagaimana bisa saya mempercayai sesuatu yang jelas-jelas bertolak belakang dengan kenyataan...?

Mereka juga mengatakan, agar orang tidak perlu khawatir punya anak, karena anak-anak memiliki rezeki sendiri-sendiri. Sekali lagi, saya kesulitan menemukan kebenaran doktrin itu, karena nyatanya saya menjalani masa kecil yang amat pahit. Sedemikian pahit, hingga rasanya ingin menggampar cocot siapa pun yang masih membual bahwa “anak-anak memiliki rezeki sendiri”.

Kalau memang anak-anak memiliki rezeki sendiri, kenapa dulu saya menjalani kehidupan masa kecil—bahkan sampai dewasa—yang begitu pahit dan menyedihkan? Rezeki keparat macam apa yang melemparkan saya ke jalanan, menyabung nyawa demi mendapat receh tak seberapa, padahal saya masih anak-anak? Dan bagaimana dengan jutaan anak lain yang juga mengalami nasib seperti saya? Bagaimana dengan jutaan anak yang kini terdampar di jalanan, di mana-mana, kelaparan, dan kesepian?

Mereka punya rezeki sendiri-sendiri? Oh, well, bastard, katakan itu pada mereka!

Jutaan anak malang itu—yang kelaparan, yang menyabung nyawa demi bisa makan—yang bisa kita temukan di mana pun, adalah hasil kebodohan yang dibangun oleh doktrin dusta perkawinan. Anak-anak itu tidak minta dilahirkan, tapi mereka dilahirkan hanya untuk menghadapi penderitaan, penderitaan, dan penderitaan...

Jadi, di mana rezeki yang katanya “setiap anak memiliki rezekinya sendiri”?

Itulah latar belakang yang membuat saya tidak percaya, dan sulit diyakinkan, oleh doktrin perkawinan. Karena tidak sesuai kenyataan, bahkan bertolak belakang. Yang membuat saya marah, masih adaaaaaaa saja bangsat-bangsat yang terus mencoba menipu orang-orang, berusaha ngibul tentang indahnya perkawinan, hingga anak-anak malang terus dilahirkan dan terus dilahirkan. Anak-anak malang itulah yang saya tangisi, yang terus saya tangisi. Anak-anak malang itu dilahirkan tanpa meminta, lalu menjalani hidup dalam jurang luka, karena kebodohan orang tua mereka.

Yang lebih ironis, bangsat-bangsat yang hobi menyuruh dan memprovokasi orang-orang lain cepat menikah—dengan iming-iming kebahagiaan dan segala macam—justru menjalani kehidupan yang menyedihkan. Apa yang lebih bejat dibanding itu? Mereka menikah dan menjalani hidup keblangsak, lalu berusaha menipu orang-orang lain agar sama keblangsak seperti mereka. Itu benar-benar bejat dan biadab, sesat sekaligus menyesatkan, asu seasu-asunya!

Dulu, ibu saya—sebagaimana umumnya ibu-ibu lain—suka menyindir dan menyuruh saya agar menikah. Ketika saya mulai tidak tahan, saya pun berkata pada ibu saya, “Tolong tunjukkan satu saja orang yang menikah dan hidupnya bahagia, agar aku bisa bercermin kepadanya, sehingga tergerak untuk menikah.”

And you know what...? Ibu saya kebingungan! Dia tidak bisa menunjukkan satu pun! Jika kalian menempati posisi saya, apakah mungkin kalian masih tertarik untuk menikah? Ibu saya sendiri—yang melahirkan saya, dan yang mendorong saya agar menikah—tidak mampu menunjukkan satu orang pun yang menikah dan hidupnya bahagia! Apa yang lebih mengerikan dari itu?

Tentu saya percaya, ada orang-orang di luar sana yang menikah, dan hidup mereka bahagia. Tetapi, sayang seribu sayang, saya belum pernah menemukan satu orang pun di sekeliling saya, atau yang saya kenal, yang menikah dan hidupnya bahagia.

Karena itu pulalah, saya berani membuat tantangan terbuka di sini, “Jika ada lelaki yang telah menikah tiga tahun, dan dia berani bersumpah kepada saya, bahwa hidupnya lebih bahagia setelah menikah dibanding ketika masih lajang, maka saya akan bersumpah kepadanya untuk segera menikah seperti dirinya.”

Tantangan terbuka itu telah dibaca ribuan orang, baik oleh orang-orang yang mengenal saya di dunia nyata, maupun oleh orang-orang di luar sana yang hanya mengenal saya di dunia maya. Yang jelas, meski saya telah membuat tantangan itu sekian tahun lalu, sampai saat ini tidak ada satu orang pun yang berani menjawabnya.

Jadi, bagaimana dengan doktrin perkawinan? Kalau memang perkawinan akan membuatmu tenteram, bahagia, lancar rezeki, dan bla-bla-bla, tolong tunjukkan kepada saya. Tidak usah banyak bacot! Tunjukkan saja buktinya! Kalau memang anak-anak memiliki rezeki sendiri—sebagaimana doktrin yang kalian yakini—mari kita lihat anak-anak di jalanan, yang menjalani nasib seperti saya kecil dulu. Bagaimana, dan di mana, rezeki mereka?

Ngoceh itu mudah, bahkan bangsat paling idiot pun bisa melakukan. Yang sulit adalah membuktikan kebenaran yang kita ocehkan. Membual bahwa menikah itu indah, membahagiakan, dan taik kucing lainnya, itu mudah. Yang sulit adalah membuktikannya. Mendoktrin orang-orang bahwa setiap anak memiliki rezeki sendiri, itu mudah. Yang sulit adalah memastikan bahwa doktrin itu benar.

Jadi, kepada siapa pun yang mengatakan bahwa menikah akan membuatmu bahagia dan lancar rezeki, saya ingin bertanya. Mengapa orang tua saya begitu miskin, tertekan, dan menjalani kehidupan serbakekurangan? Dan bagaimana dengan jutaan pasangan lain, yang menjalani nasib serta kehidupan menyedihkan, padahal mereka menikah sebagaimana yang kalian doktrinkan?

Jika setiap anak memiliki rezeki sendiri, sehingga orang tidak perlu khawatir punya anak-anak, saya ingin bertanya. Mengapa masa kecil saya begitu pahit, bahkan mengerikan, akibat kemiskinan orang tua, hingga saya harus menyabung nyawa demi bisa jajan, padahal waktu itu saya masih anak-anak? Dan bagaimana dengan jutaan anak lain, yang kini sama-sama menjalani masa kecil begitu pahit, kelaparan, kesepian, karena orang tua mereka tak mampu memberi makan?

Jika tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan penting itu, tutuplah cocotmu, dan berhentilah menipu orang-orang lain yang tidak tahu. Jauh lebih baik ada anak-anak yang tidak pernah dilahirkan, daripada mereka dilahirkan hanya untuk menghadapi hidup yang penuh luka dan penderitaan.

Saya tahu betul yang saya katakan. Karena saya mengalaminya.

Akar Kerusakan Manusia

Setiap melihat anak-anak malang seperti di bawah ini, aku ingin menggampar cocot orang-orang yang suka menyuruh menikah tanpa persiapan.
—Twitter, 12 Maret 2017


Bocah 5 SD Urus 3 Adiknya Usai Ayah Meninggal dan Ibunya Kabur,
Videonya Bikin Nangis http://obq.li/y5j  #KASKUSNews
@kaskus

Alasan Miskin, Pasutri di Bogor Kompak Bunuh Anaknya
Dengan Gantungan Baju http://obq.li/j5G  #KASKUSNews
@kaskus


Jadi, hei, keparat-keparat yang suka menyuruh orang menikah tanpa persiapan, sampai kapan kita akan melahirkan anak-anak malang dan terluka?
—Twitter, 12 Maret 2017

Orang yang suka menyuruh dan memprovokasi orang lain cepat menikah tanpa persiapan, adalah sebejat-bejatnya manusia » http://bit.ly/2iSI1ZY
—Twitter, 12 Maret 2017

Kalau orang menikah tanpa persiapan dan kesadaran, dia tidak hanya merusak diri sendiri, tapi juga merusak kehidupan orang-orang lainnya.
—Twitter, 24 November 2016

Jika orang mau berpikir sebenar-benar berpikir, akar kerusakan manusia dan kehidupan dimulai dari perkawinan tanpa persiapan dan kesadaran.
—Twitter, 24 November 2016


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Penipuan Paling Menjijikkan

Orang senang mengatakan, “Jangan membuka aib pasangan/perkawinan.” Sebagai gantinya, mereka ngibul tentang indahnya perkawinan.

Jika orang-orang yang telah menikah merasa malu/enggan mengatakan kondisi sebenarnya perkawinan, maka diamlah. Jangan membohongi orang lain.

Memprovokasi orang lain agar cepat menikah dengan iming-iming bahagia, tapi dirinya sendiri hidup keblangsak... itu penipuan menjijikkan.

Perkawinan itu baik, dan mulia. Tapi jadi menjijikkan karena digunakan segelintir orang untuk melakukan pembohongan dan pembodohan.

Yang bahagia dalam perkawinannya, menikmati hidupnya. Yang menyesali perkawinannya, sibuk memprovokasi orang-orang lain cepat menikah. Haha!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Maret 2017.

Rabu, 26 April 2017

Lolong Serigala pada Rembulan

“The little boy was already dead... in the snow. His heart was
already dead. He cannot be described now, except as a monster.”
Quote from Hannibal Rising

“Di balik tubuh dewasa saya, ada anak kecil terluka yang tak pernah 
berhenti menangis. Di balik kehidupan saya yang tampak normal dan biasa, ada
jiwa yang berdarah, hati yang bernanah... sebuah luka yang terus menganga.”
Quote dari Korban Broken Home


Ibu saya menggemari ceramah Mamah Dedeh. Kita tahu, Mamah Dedeh berceramah dengan gaya seorang wanita yang berbicara kepada sesama wanita. Topik ceramahnya pun sering kali membahas kehidupan wanita, kehidupan ibu, masalah keluarga, urusan dengan suami, mendidik anak, dan semacamnya. Karenanya pula, jamaah Mamah Dedeh juga kebanyakan wanita, termasuk ibu saya.

Daya tarik Mamah Dedeh adalah kemampuannya dalam mengangkat topik-topik sederhana—dalam kehidupan sehari-hari, yang lekat dengan kehidupan wanita—lalu dibahas dengan baik dan bijak, serta mencerahkan, khususnya bagi kaum wanita.

Tentang mendidik anak, misalnya. Mamah Dedeh tidak menyodorkan teori-teori rumit yang sulit dipahami orang awam. Sebaliknya, Mamah Dedeh menjelaskan topik mendidik anak dengan uraian yang mudah dipahami, dengan contoh-contoh sederhana, sehingga jamaahnya bisa langsung mengerti.

Selama menyimak ceramah-ceramah Mamah Dedeh, ibu saya seperti mendapat pencerahan, dan dia mulai introspeksi. Sejak itu pula, dia mulai menyadari bahwa cara dia mendidik anak-anaknya—termasuk saya—ternyata sangat keliru, bahkan sangat salah! Karena itu, selama ini, ibu saya diam-diam menyesal karena telah mendidik serta membesarkan anak-anaknya dengan cara yang ia anggap benar, tapi ternyata sama sekali tidak benar.

Saya tahu kenyataan itu, karena ibu saya mengatakan dan mengakuinya sendiri.

Suatu hari, kami berkunjung ke rumah adik saya yang telah berkeluarga. Ceritanya, adik saya waktu itu punya hajatan, dan ibu, beberapa famili, serta saya, datang ke sana. Di mobil, dalam perjalanan pulang, ibu saya bercerita pada famili, bahwa dia kerap menasihati adik saya tentang cara mendidik anaknya (adik perempuan saya telah punya satu anak laki-laki).

Adik perempuan saya mendidik anaknya, persis seperti ibu kami dulu mendidik anak-anaknya (saya dan adik-adik). Selama ini, saya diam-diam menyaksikan dan menyadari hal itu. Saat melihat adik saya berinteraksi dengan anaknya, saya seperti melihat ibu dulu ketika berinteraksi dengan saya. Tetapi, selama ini, saya hanya diam. Bagaimana pun, itu anak adik saya—bukan anak saya. Jadi, meski sebenarnya tidak setuju dengan cara dia mendidik anaknya, saya merasa tidak punya hak untuk bersuara.

Rupanya, ibu juga menyadari hal itu. Dia melihat cara adik saya mendidik anaknya, serupa seperti dulu cara ibu mendidik kami (anak-anaknya). Ibu pun menasihati adik saya agar tidak mendidik anaknya dengan cara seperti itu. Karena itu cara mendidik yang—ternyata—salah.

Tetapi, meski telah dinasihati, adik saya sepertinya sulit mengubah cara dalam mendidik anaknya. Bagaimana pun, seperti kata peribahasa, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Dalam percakapan di mobil waktu itu, saya pun berkata pada ibu, bahwa cara adik saya mendidik anaknya, adalah hasil “cetakan” yang telah dibuat ibu kepadanya dulu. Bagaimana seorang ibu mendidik anaknya, maka seperti itu pula cara si anak akan mendidik anaknya kelak. Karena, sekali lagi, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dan lingkaran setan selalu dimulai dari kebodohan.

Saya tidak menyalahkan adik saya, sebagaimana saya juga tidak menyalahkan ibu saya. Tetapi, sekarang, saya ingin mengakui kenyataan mengerikan ini. Bahwa saya, sampai saat ini, masih memendam amarah dan luka—amarah dan luka—akibat cara ibu saya yang salah dalam mendidik dan membesarkan. Dan mungkin amarah serta luka di dalam diri saya akan terus terbawa hingga kematian kelak. Karena begitu dalam luka yang telah tergurat....

....
....

Sedari kecil, setidaknya saat SMP, saya sudah mulai menyadari bahwa perlakuan orang tua saya kepada kami (anak-anaknya) bukanlah perlakuan yang benar, bukan cara mendidik yang benar, bukan cara membesarkan anak yang benar. Tetapi, saya bisa apa...? Saya masih kecil, sementara mereka orang tua saya. Dan orang tua mana pun selalu memiliki kecenderungan merasa benar, khususnya di depan anak-anaknya.

Mana mungkin saya berkata pada orang tua saya, “Hei, cara kalian mendidik kami sama sekali tidak benar!”

Bahkan kalau pun saya mengatakan hal itu, apakah mungkin orang tua saya akan mendengarkan? Jawabannya jelas, tidak! Mereka orang tua kami, mereka merasa memiliki hak atas kami, dan mereka meyakini cara mendidik serta membesarkan yang mereka terapkan kepada kami—anak-anaknya—pasti benar. Karena seperti itulah kebanyakan orang tua berpikir.

Jadi, sedari kecil, saya menghadapi perlakuan yang sangat tidak menyenangkan sekaligus salah dari orang tua. Saya anak paling besar. Karenanya, sayalah yang paling menanggung akibat didikan yang salah, yang diterapkan dalam membesarkan saya dan adik-adik. Tidak perlu saya jelaskan secara gamblang bagaimana cara mereka membesarkan kami. Yang jelas, ketika tumbuh dewasa, sayalah yang paling menanggung “kerusakan” akibat perlakuan salah mereka.

Sebagai manusia, ayah dan ibu saya mungkin orang baik. Tetapi, sebagai anak, saya tahu mereka bukan orang tua yang baik. Dalam arti, mereka mendidik dan membesarkan kami—anak-anaknya—dengan cara yang salah, bahkan sangat salah, tapi merasa benar, dan terus melakukannya sampai kami besar. Akibatnya, didikan serta cara membesarkan yang salah itu kemudian—diam-diam—justru menciptakan efek kerusakan.

Ironisnya, ibu saya baru menyadari kenyataan itu sekarang, ketika anak-anaknya telah besar dan dewasa. Ayah saya bahkan mungkin tidak sempat menyadari kesalahannya dalam mendidik kami, karena dia telah meninggal bertahun lalu. Ibu pun baru menyadari kesalahannya yang fatal dalam mendidik kami, setelah dia rajin menyimak ceramah Mamah Dedeh. Kalau saja dia tidak menyimak ceramah Mamah Dedeh, bisa jadi ibu tidak akan menyadari kesalahannya, bahkan kelak sampai mati.

Jadi, sekarang ibu saya sudah menyadari kesalahannya. Tetapi, sayang seribu sayang, kesalahan yang telah ia lakukan bertahun-tahun lalu telah menciptakan kerusakan yang amat parah dalam diri dan mental saya. Kini, saat telah dewasa, saya menyadari tidak utuh sebagai manusia—ada bagian dalam batin saya yang terluka sedemikian parah, hingga mungkin tidak akan pernah sembuh, bahkan sampai akhir hayat kelak.

Itulah luka... luka yang sering saya sebut-sebut... luka yang kadang membuat saya begitu rapuh... luka yang membuat saya sedemikian marah dan murka... luka yang diguratkan oleh orang tua saya sendiri.

Bertahun-tahun lalu, saat saya masih SMP, dan terdampar di jalanan karena kehidupan yang amat miskin, kadang-kadang saya duduk sendirian di tengah malam, di alun-alun yang sepi, lalu menangis... dan berpikir, “Aku tidak minta dilahirkan ke dunia ini. Tapi aku dilahirkan hanya untuk menanggung luka dan penderitaan... luka dan kesengsaraan... luka dan kepahitan... luka dan amarah...”

Dan kata-kata itu bagai mantra yang terus terulang dalam batin saya, karena seperti itulah kehidupan yang saya jalani, hari demi hari, saat saya seharusnya tumbuh ceria seperti anak-anak yang lain, tapi justru dilukai... dilukai... dan dilukai.

Menjalani kehidupan waktu itu, saya membayangkan diri saya adalah serigala yang melolong pada rembulan setiap malam, mencari jawab atas pertanyaan yang tak pernah terjawab, meneriakkan luka yang tak pernah usai.

Dan luka yang tak pernah usai itu, menjadikan saya begitu peka dan sensitif. Sebagai pribadi, saya menyadari ada luka yang menganga mengerikan di dalam batin saya—sebentuk luka yang amat perih. Karenanya, begitu tersentuh sedikit saja, luka itu menciptakan sakit luar biasa, yang membuat saya ingin menjerit.

Bahkan kini, saat dewasa, saya kadang masih menangis sendirian, saat tiba-tiba luka di dalam batin saya terasa perih, saat memori dari masa lalu menyeruak ke dalam pikiran, dan saya merasa begitu marah sekaligus pedih. Marah atas perlakuan orang tua saya sendiri di masa lalu, dan pedih merasakan kerusakan yang saya alami.

Karena itu pula, di dunia nyata maupun di dunia maya, saya sulit didekati siapa pun—kecuali orang yang benar-benar saya percaya—karena saya selalu takut dilukai. Di sisi lain, saya selalu tak bisa menahan amarah setiap kali orang melukai saya, dan luka yang ditimbulkannya akan memunculkan monster tersembunyi di dalam diri saya. Sudah terlalu banyak luka yang tergurat dalam batin, dan—demi iblis di neraka—saya tidak ingin menambahinya.

Selama bertahun-tahun, tanpa diketahui siapa pun, saya terus berusaha mengobati luka-luka di dalam batin saya, amarah di jiwa saya, demi bisa hidup normal. Selama bertahun-tahun, setiap hari, saya mengonsumsi berbutir-butir pil sakit kepala setiap kali “monster” di dalam diri saya mendesak ingin keluar.

“Sakit kepala” sebenarnya eufemisme yang sengaja saya gunakan untuk menutupi kondisi yang saya rasakan, yakni amarah mengerikan akibat luka yang tak juga sembuh. Pil yang saya konsumsi setiap hari memang ditujukan untuk meredakan sakit kepala. Tetapi, sebenarnya, saya mengincar suatu zat di dalamnya, yang ditujukan untuk meredakan ketegangan, agar perasaan saya kembali nyaman.

Apakah ibu saya tahu semua ini? Tidak, karena dia tak pernah bertanya!

Selama ini, dia mungkin mengira cara mendidiknya yang salah bertahun-tahun lalu dapat dianggap “baik-baik saja”, toh dia mendapati saya tumbuh seperti manusia umumnya. Tetapi, tanpa disadarinya, cara dia mendidik saya yang salah bertahun-tahun lalu tidak hanya menciptakan sesosok manusia... tapi juga sesosok monster yang tak terlihat. Cara dia membesarkan saya telah menciptakan kerusakan permanen di diri saya... sebentuk kerusakan yang mungkin akan terbawa sampai ke surga... atau neraka.

....
....

Adik lelaki saya saat ini bekerja sebagai akuntan. Kita tahu, pekerjaan sebagai akuntan adalah bekerja mengurus angka-angka akuntansi. Untuk mendapat pekerjaan tersebut, adik saya harus kuliah bertahun-tahun, termasuk kuliah di STAN.

Hanya untuk mengurus angka-angka saja, orang harus belajar dan kuliah selama bertahun-tahun, hingga di perguruan tinggi yang sangat terpercaya. Mengapa? Karena mengurus angka-angka akuntansi membutuhkan pengetahuan, kemampuan, sekaligus kecermatan.

Sekarang bayangkan, jika untuk mengurus angka-angka yang disebut akuntansi saja membutuhkan proses pembelajaran dan kuliah bertahun-tahun, apalagi mengurus anak-anak yang akan tumbuh menjadi manusia...?

Ironisnya, amat sangat... sangat sedikit orang yang memahami kenyataan penting itu.

Untuk menjadi akuntan dan mengurus akuntansi, orang perlu belajar bertahun-tahun. Untuk menjadi pengacara dan mengurus hukum, orang perlu belajar bertahun-tahun. Untuk menjadi dokter dan mengurus kesehatan, orang perlu belajar bertahun-tahun. Untuk menjadi guru dan mendidik murid di sekolah, orang perlu belajar bertahun-tahun. Tapi untuk menjadi orang tua dan membesarkan anak-anak... mereka sama sekali tidak belajar!

Demi Tuhan, apa yang lebih mengerikan dari itu...?

Ada jutaan—oh, well, miliaran—orang yang begitu pede melahirkan anak-anak, lalu membesarkan dan mendidik anak-anaknya, padahal mereka tidak memiliki pengetahuan memadai, tidak memiliki pemahaman yang mumpuni, pendeknya tidak memiliki kompetensi dalam mendidik dan membesarkan anak. Maka anak-anak itu pun tumbuh di bawah didikan yang keliru, di bawah asuhan yang keliru, dengan cara membesarkan yang keliru.

Seperti yang saya alami. Seperti yang dilakukan orang tua saya kepada anak-anaknya.

Bisa dibilang, orang tua saya—dan miliaran orang tua lain di dunia—memiliki anak-anak bukan dengan kesadaran dan pengetahuan, melainkan sebagai hasil eksperimen mengerikan.

Mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang mendidik dan membesarkan anak, melainkan hanya bermodal keyakinan bahwa mereka bisa melakukan. Apa yang lebih mengerikan dari itu? Ini urusan membesarkan manusia, bukan urusan angka-angka keparat di layar komputer! Tapi mereka melakukan tanpa belajar dan tanpa pengetahuan, melainkan hanya bermodal nekad!

Sekali lagi, saya tidak menyalahkan orang tua saya. Karena, bagaimana pun, orang tua saya adalah hasil didikan orang tuanya. Meski saya tidak melihat bagaimana mereka dulu saat masih kecil, tapi saya yakin cara mereka dididik orang tuanya sama persis seperti cara mereka mendidik saya. Sebuah lingkaran setan yang diawali dari kesalahan yang dianggap benar. Cara mendidik dan membesarkan yang sebenarnya keliru, tapi diyakini benar.

Mungkin saya patut bersyukur, karena setidaknya ibu kini menyadari kesalahannya, mengakui bahwa cara mendidik dan membesarkan anak yang dulu dilakukannya adalah kesalahan, dan sekarang dia menyesal.

Tetapi, seperti yang sering dikatakan orang, penyesalan selalu datang di belakang. Dan penyesalan itu, sayangnya, telah menciptakan begitu banyak kerusakan. Saya tahu betul hal itu. Karena sayalah korbannya, sayalah yang menanggung kerusakan terbesar. Dan kini, setiap malam, saya masih kerap membayangkan diri sebagai serigala yang kesakitan, lalu melolong sendirian di tengah kegelapan... pada hening rembulan.

 
;