Sabtu, 15 Juli 2017

Soal Plagiat yang Membingungkan

Notasi musik tak pernah bertambah.
Tapi lagu yang bisa digali darinya tak pernah habis.
Selalu ada lagu baru yang dicipta dan dinyanyikan.
@noffret


Kalau sedang blank, atau bingung mau menulis apa, saya suka membuka inbox e-mail. Biasanya, dari beberapa e-mail yang saya buka secara acak, ada hal-hal yang mampu mencetuskan sesuatu untuk saya tulis.

Seperti kemarin. Karena stres, saya tidak sempat memikirkan mau menulis apa di blog ini. Jadi, saya pun membuka inbox, dan memindai subjek atau judul-judul e-mail yang tampak menarik. Satu yang langsung membetot perhatian saya adalah e-mail dengan subjek “SIAPA YANG PLAGIAT?”

Penasaran ingin tahu isi e-mail itu, saya pun membuka dan membaca isinya. Ternyata, isi e-mail tersebut menyangkut Iwan Salman, penyanyi yang pernah saya tulis di blog. Isi e-mail itu lumayan panjang. Berikut ini saya tuliskan versi yang lebih ringkas.

Dari tulisan-tulisanmu di blog, sepertinya kamu tahu banyak tentang industri musik Malaysia. Saya juga sempat membaca uraianmu yang cukup detail mengenai Iwan Salman.

Dulu, Iwan pernah mencipta dan menyanyikan lagu dangdut berjudul “Sedang-sedang saja”. Nada lagu itu sangat mirip lagu “Tinak tin tana”, yang menjadi soundtrack film India berjudul Mann. Sebenarnya, siapakah yang plagiat dalam hal itu? Iwan yang meniru soundtrack film Mann, atau soundtrack itu yang meniru lagu milik Iwan?

Saya sangat penasaran mengenai hal ini sejak lama sekali, dan telah menanyakannya pada banyak orang, tapi tidak ada yang bisa memberi jawaban memuaskan. Siapa tahu kamu bisa menjawab rasa penasaran saya.


Saya bisa menjawab pertanyaan itu secara ringkas, tapi tidak akan cukup. Karenanya, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya harus menguraikan beberapa hal lebih dulu, termasuk siapa sebenarnya Iwan Salman, siapa sebenarnya pencipta lagu yang dipersoalkan tersebut, dan—akhirnya—siapakah yang plagiat terkait lagu itu.

Iwan Salman sebenarnya lahir di Medan, Sumatera Utara. Ayahnya orang Kelantan, Malaysia, sementara ibunya orang Sumatera. Sejak lahir sampai dewasa, Iwan hidup di Sumatera, Indonesia. Selama itu pula, dia menjadi komposer yang bekerja di balik dinding studio.

Ketika berusia 30 tahun, Iwan memutuskan untuk pindah ke Malaysia, dan menetap di Kuala Lumpur. Sejak itu pula, dia keluar dari bayang-bayang studio, dan menjadi penyanyi yang muncul ke hadapan publik, dan segera terkenal sebagai salah satu penyanyi Malaysia. Lagu pertamanya berjudul “Wulan”, ber-genre pop Melayu.

Dua atau tiga tahun setelah merilis album “Wulan”, Iwan pindah haluan ke musik dangdut, dengan menyanyikan lagu berjudul “Sedang-sedang saja”. Lagu itu segera populer, tidak hanya di Malaysia, tapi juga di beberapa negara lain, termasuk Indonesia dan India. Pada lagu “Sedang-sedang saja”, disebutkan penciptanya bernama Akur. Sampai di sini, ada hal yang perlu saya luruskan.

Selama ini, ada banyak orang—di Indonesia maupun Malaysia—menyangka bahwa Akur adalah nama lain Iwan. Persangkaan itu kemungkinan muncul, karena ada banyak lagu yang dinyanyikan Iwan yang penciptanya bernama Akur. Sebegitu identik nama itu dengan Iwan, sampai muncul asumsi bahwa Akur memang nama lain atau nama samaran Iwan. Padahal, Iwan dan Akur adalah dua orang yang berbeda.

Jadi, siapakah Akur?

Akur adalah orang Bandung, Jawa Barat. Nama aslinya Subur Tahroni, tapi biasa menggunakan nama Buy Akur untuk lagu-lagu yang diciptakannya. Dia tinggal di Kelurahan Jamika, Kecamatan Bojongloa Kaler, Bandung. Di lingkungannya, dia biasa disapa Kang Abuy.

Sekadar catatan, Buy Akur ini juga yang menciptakan lagu “Keong Racun” dan “Pacar Lima Langkah”. Dua lagu itu sangat populer, tapi banyak orang tidak tahu siapa penciptanya. Terkait lagu “Sedang-sedang saja” yang dinyanyikan Iwan, Buy Akur inilah yang menciptakannya. Cuma, entah kenapa, nama Buy Akur disingkat menjadi hanya “Akur”. Penyingkatan itu juga terjadi pada lagu-lagu lain ciptaan Buy Akur yang dinyanyikan Iwan.

Well, seperti yang disebut tadi, lagu “Sedang-sedang saja” sangat populer di beberapa negara, termasuk India. Popularitas lagu itu menarik perhatian Darshan Rathod, penata musik yang banyak menggubah lagu untuk soundtrack film India. Dia tertarik pada lagu “Sedang-sedang saja”, dan berencana mengadaptasinya.

Rencana Darshan Rathod terwujud dalam film Mann (dibintangi Aamir Khan, Manisha Koirala, Anil Kapoor, Sharmila Tagore, dan lain-lain.) Film Mann disutradarai sekaligus diproduseri oleh Indra Kumar. Darshan Rathod meminta pada Indra Kumar, agar membeli hak adaptasi lagu “Sedang-sedang saja” yang dinyanyikan Iwan, agar nada lagu itu bisa digunakan dalam film Mann.

Indra Kumar menyetujui rencana itu, dan menghubungi Iwan untuk mengurus pembelian hak adaptasi. Sampai di sini, ada hal yang juga perlu saya katakan.

Di kalangan para pencipta lagu, ada isu yang santer beredar—khususnya waktu itu—bahwa Iwan mengklaim lagu itu (“Sedang-sedang saja”) sebagai milik atau ciptaannya. Jadi, ketika produser film Mann membeli hak adaptasi lagu itu, Iwanlah yang menerima pembayarannya. Urusan itu lancar tanpa masalah, karena selama waktu-waktu itu memang banyak orang mengira bahwa “Iwan” dan “Akur” adalah orang yang sama!

Lalu bagaimana dengan Buy Akur, orang Bandung yang sebenarnya menciptakan lagu tersebut? Masih berdasarkan isu yang beredar di kalangan pencipta lagu, Buy Akur sama sekali tidak tahu menahu hal itu!

Inilah akar masalah yang menjadikan banyak orang rancu mengenai lagu “Sedang-sedang saja” dan “Tinak tin tana”. Dua lagu itu bisa dibilang muncul berbarengan, sehingga kalangan awam sulit memastikan lagu mana yang muncul lebih dulu. Orang-orang Malaysia dan orang-orang India saling menuduh yang lain menjiplak.

Kenyataan itu makin membingungkan, karena urusan pembelian hak adaptasi juga tidak dilakukan secara transparan. Buy Akur, sang pencipta lagu, tidak pernah terekspos media, sementara Iwan—sejauh yang saya tahu—juga tidak pernah memberi penjelasan pasti mengenai hal tersebut.

Akhirnya, isu yang muncul ke permukaan adalah soal plagiat. Sebagian kalangan mengira Iwan meniru lagu “Tinak tin tana”, sebagian lain mengira lagu “Tinak tin tana” yang meniru lagu “Sedang-sedang saja”. Padahal, berdasarkan kronologi yang terjadi, persoalan ini bukan plagiarisme, karena produser film Mann telah membeli hak adaptasi lagu itu secara resmi.

Dalam film Mann, lagu “Tinak tin tana” (yang merupakan adaptasi lagu “Sedang-sedang saja”) dinyanyikan oleh Alka Yagnik dan Udit Narayan, sementara dalam film ditampilkan (secara lipsync) oleh Aamir Khan dan Manisha Koirala.

Well, saya berharap jawaban yang cukup panjang ini bisa memuaskan kamu, ya, yang mengirim pertanyaan ini. Meski mungkin tidak penting-penting amat, setidaknya saya bisa menulis sesuatu untuk update blog ini. 😃

 
;